
Menjelang siang...
Hujan gerimis datang membasahi tanah Angkasa. Aku pun masih berdiam diri di rumah kecantikan istana seraya menyeruput teh hijau khas negeri ini. Aku terdiam memikirkan hal yang terjadi tadi. Tak kusangka mereka akan berseteru karena perbedaan pendapat tentang hasil negosiasi. Tapi, aku tidak bisa menyalahkan keduanya. Aku harus melihat dari sudut pandang yang berbeda mengenai hal ini.
Semalam Cloud telah memaparkan padaku pembicaraan apa saja yang terjadi saat dia datang ke Asia. Dia bertemu dengan raja terlebih dulu untuk meminta bunga malaikat itu. Tapi, karena area di mana bunga malaikat itu tumbuh sudah diberikan kepada Zu, raja juga harus meminta izin kepada si pemilik tanah untuk memberikan bunganya. Dan pada akhirnya keduanya bertemu dengan didampingi raja. Cloud pun menuturkan tujuannya datang ke Asia. Tapi Zu secara terang-terangan menolaknya.
Saat Zu menolak untuk memberikan bunga malaikat tersebut, Cloud bilang dia mulai kehilangan kepercayaan dirinya sebagai negosiator handal milik Angkasa. Tapi dia juga mencoba memahami sudut pandang Zu saat itu. Dia tidak bisa menyalahkan Zu begitu saja karena menolak negosiasinya. Karena Cloud pun tahu bagaimana hubunganku dengan Zu sebelumnya. Zu malah menawarkan kepada Cloud jika lebih baik meminta kepada Arthemis dibandingkan ke Asia. Dan karena hal itulah membuat Cloud jadi pesimis.
Pada akhirnya sang raja menengahi permasalahan yang terjadi dengan menasehati putra sulungnya. Tapi Zu masih bersikeras. Dia berdalih sedang dibebastugaskan sehingga tak patut untuk membicarakan masalah kerajaan. Kekerasan hati Zu membuat raja tidak enak hati sendiri kepada Cloud. Raja pun mencabut pembebastugasannya terhadap Zu. Pada akhirnya negosiasi menghasilkan jika harus aku sendiri lah yang datang ke sana untuk mengambil bunganya. Jika tidak, Zu pun tidak merasa masalah.
Sungguh aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisahku ini. Aku seperti terombang-ambing dalam lautan penantian yang tak berujung. Aku memilih tetap berada di Angkasa, sedang putra mahkota Asia begitu menginginkanku untuk menjadi istrinya. Mungkin saja jika waktu itu tidak terbakar cemburu karena perkataan Jasmine, mungkin aku masih berada di sana dan bahagia bersamanya. Karena di Angkasa, Ratu Moon tidak menyukaiku. Bagaimana mungkin bisa hidup tenang bersama anaknya jika ibunya saja tidak menyukaiku?
Mungkin lebih baik aku bergegas ke Asia.
Hujan masih turun membasahi bunga-bunga di taman rumah kecantikan istana. Tapi aku sudah ingin bergegas ke Asia. Mungkin lebih cepat lebih baik untuk mendapatkan bunga itu. Karena waktu yang kami miliki tidaklah banyak, hanya tinggal lima hari lagi. Angkasa tidak mempunyai banyak waktu untuk menyelamatkan raja. Pihak tabib istana juga belum ada kabarnya tentang saran yang kuajukan. Mungkin ratu tidak menyetujuinya sehingga para tabib pun tak berdaya menerimanya.
Ya, sudahlah. Aku jalani saja cerita ini mau dibawa ke mana. Aku mencoba terus berpikiran positif walaupun nyatanya sedang terombang-ambing dengan keadaan. Semoga saja Tuhan memberiku jalan di saat situasi tidak memungkinkan sekalipun. Siapapun dia yang akan menjadi suamiku kelak, aku harus bisa menerimanya. Karena kuyakin itu adalah pilihan yang terbaik dari Tuhan untukku.
Beberapa menit kemudian...
__ADS_1
Aku melangkahkan kaki menuju lantai dua istana. Aku ingin menemui Cloud di ruang kerjanya. Namun, baru saja ingin menaiki anak tangga, kulihat Rain berada di ujung sana. Raut wajahnya kusam seperti habis menangis. Entah benar atau tidak, lebih baik kutanyakan saja padanya.
"Rain!"
Kujinjing sedikit gaunku lalu berjalan cepat ke arahnya. Aku pun tersenyum kepada putra bungsu kerajaan ini. Tapi, hal yang kuterima tidaklah sesuai harapan. Rain ternyata hanya melihatku sejenak lalu mengalihkan pandangan. Dan dia berlalu begitu saja dariku.
Rain ....
Saat itu juga aku tersadar jika sesuatu telah terjadi padanya. Aku tidak tahu apa, tapi aku terus saja memanggil namanya. Dan selama kupanggil, dia tidak menjawabku. Dia terus saja berjalan meninggalkanku. Membuatku berpikir ulang tentang apa yang terjadi hari ini padanya.
Apakah ratu telah membicarakan hal yang bukan-bukan tentangku kepada Rain?
Rain, sebenarnya apa yang terjadi?
Langkah demi langkah semakin kupercepat hingga akhirnya sampai di halaman kediamannya. Rain pun masuk ke dalam rumah dan membiarkan pintunya tetap terbuka. Sepertinya dia tidak keberatan jika aku mengejarnya. Sehingga aku terus saja masuk ke dalam rumahnya. Hingga akhirnya dia duduk di pelataran teras belakang rumahnya. Dia duduk sambil menundukkan wajahnya. Saat itu juga kutahu jika hatinya sedang terluka.
Sepertinya telah terjadi sesuatu yang menyakitkan hatinya.
Pelan-pelan aku melangkahkan kaki ini untuk mendekatinya. Kuambil segelas air minum terlebih dahulu lalu kuletakkan di atas mejanya. Saat itu juga kulihat Rain menatapku. Aku pun segera duduk di sisinya. Aku ingin mendengarkan ceritanya.
__ADS_1
"Rain ...." Aku pun menyentuh tangannya, berharap dia mau menceritakan padaku tentang hal apa yang terjadi hari ini.
Beberapa menit kemudian...
Langit perlahan-lahan terang setelah gerimis datang. Aku pun masih duduk di sisi seorang pangeran menyebalkan yang selalu saja membuatku kesal dengan tingkah bodohnya. Tapi kini perasaan itu telah berubah semenjak dia menyatakan cintanya padaku. Dan harus kuakui jika aku juga mencintainya. Dialah Rain Sky, putra bungsu dari kerajaan Angkasa.
Rain masih diam. Dia hanya menghabiskan segelas air minum yang kuberikan. Tapi kini napasnya terdengar lebih teratur jika dibandingkan tadi. Sepertinya hatinya mulai menerima terhadap situasi yang terjadi. Aku pun masih duduk diam di sisinya. Berharap dia mau menceritakannya sendiri kepadaku.
"Maaf." Satu kata itu dia ucapkan padaku.
"Rain, ada apa?" Aku pun segera bertanya dengan lembut kepadanya.
Dia menelan ludah. "Maaf jika kami selalu merepotkanmu, Ara." Dia meminta maaf kepadaku lagi.
Aku jadi tak habis pikir dengan permintaan maafnya yang berulang ini. Lantas aku lebih mendekat kepadanya. Aku usap punggungnya seraya memegang tangannya. Aku mencoba menenangkannya dari sesuatu yang baru saja terjadi. Aku harap usapanku ini dapat meredakan gemuruh yang ada di dalam hatinya.
Rain, katakanlah apa yang sebenarnya terjadi padamu.
Aku pun masih menunggunya bicara. Aku terus menunggu sampai dia dengan suka rela menceritakannya padaku. Biarlah semilir angin di pelataran teras belakang kediamannya ini menjadi saksi atas kesetiaanku. Aku rela jika harus menunggu.
__ADS_1