Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Surprise


__ADS_3

Jasmine menghela napasnya. "Se-sebenarnya ... ak-aku ... ti-tidak pernah mengandung anak dari pangeran Zu." Dia mengatakannya padaku.


"Apa?!!" Saat itu juga aku terkejut.


"Be-benar, Nona. Ak-aku ... diminta oleh ibu ratu untuk mengatakannya padamu." Dia berterus terang padaku.


"Ibu ratu?!" Saat itu juga aku menoleh ke arah Zu.


"Ibu suriku, Ara. Tapi kini dia sudah berada di penjara." Zu menjelaskan padaku.


"Apa?!!"


Entah kata apa yang harus kuucapkan saat mendengar kabar ini. Ternyata Ratu Asia telah dimasukkan ke penjara. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena waktu Zu datang ke Angkasa juga aku tidak banyak bertanya. Tapi kini kabar yang mengejutkan kuterima. Sungguh tak bisa kupercaya.


"Katakan sudah sejauh mana hubungan kita selama ini." Zu meminta Jasmine untuk mengatakan hubungan mereka.


Kulihat Jasmine meneteskan air matanya. Mungkin dia malu terhadap perbuatannya sendiri di waktu itu. Aku tidak bisa membaca isi hatinya. Tapi yang kutahu saat ini Zu begitu tegas kepada Jasmine, seperti tidak mempunyai perasaan sama sekali. Apa mungkin mereka hanya bersandiwara di depanku? Rasanya juga tak mungkin.


"Aku ... aku dan Pangeran Zu tidak pernah melakukan apa-apa, Nona. Aku memang mencintainya, tapi dia tidak mencintaiku. Dia juga belum pernah menyentuhku selain menolongku waktu itu. Kami tidak pernah sedekat Nona." Jasmine menuturkan.


Saat mendengarnya, saat itu juga kutelan ludahku ini. Rasanya pernyataan yang Jasmine berikan sudah cukup untuk membuktikan jika Zu tidaklah bersalah atas kesalahpahaman yang terjadi dulu. Semua ini terjadi karena ratu yang tidak menyukaiku. Tapi, aku harus bagaimana untuk menanggapinya? Aku merasa bingung sendiri. Titah raja telah dikeluarkan, tidak mungkin aku mengkhianatinya.


"Pangeran, aku rasa sudah cukup." Aku meminta Zu untuk menghentikannya.

__ADS_1


"Ara?"


"Aku sudah mengerti. Terima kasih," kataku kepada Zu. "Putri Jasmine, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Baik-baiklah di sini. Semoga kesalahpahaman tidak akan terjadi lagi." Aku beralih kepada Jasmine.


"Nona ...?" Saat itu juga kulihat mata Jasmine berkaca-kaca.


Aku tersenyum padanya lalu beralih kembali kepada Zu. "Ayo, Pangeran. Masih ada hal yang harus kita lakukan." Aku meraih tangannya lalu mengajaknya pergi.


Aku menarik tangan Zu agar dia menyudahi hal ini. Aku tidak tega melihat Jasmine begitu tersudut dengan banyak permintaan Zu. Aku juga wanita yang mempunyai perasaan dan hati. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika berada di posisinya. Pastinya akan malu sekali sampai merasa hilang harga diri. Maka dari itu aku menghindarinya. Kupegang tangan Zu lalu mengajaknya masuk ke dalam istana.


Zu sendiri tampak senang dengan hal yang kulakukan ini. Padahal hal yang kulakukan agar dia berhenti membuat Jasmine malu. Jasmine sudah berterus terang jika mencintainya. Dan aku harus menghargai perasaannya dengan tidak membiarkan Zu semakin menyudutkannya. Sebisa mungkin menjadi penengah dari mereka. Dan aku telah melakukannya.


Makan siang di istana Asia...


Biru langit, indah sekali.


Dasarnya juga jatuh dan berlapis dua, sehingga tidak menerawang saat kukenakan. Dan aku menyanggul rapi rambutku dengan poni di depannya. Tak lupa kubiarkan panjang di bagian sisinya agar wajahku terlihat lebih tirus. Dan ya, aku juga menyemprotkan parfum yang kubawa dari Angkasa sebagai pengobat rindu dengan kedua pangeranku. Aroma cokelat pekat yang disukai oleh mereka.


Kini aku duduk di pelataran teras depan istana. Aku akan segera berangkat ke perbatasan Asia dan Negeri Bunga. Setelah pertemuan tadi dengan Jasmine, aku hanya diam dan memikirkannya. Aku belum bisa menanggapi tentang kebenaran yang dia katakan. Aku masih berusaha menjaga hati ini agar tidak goyah ke Zu kembali. Karena bagaimanapun titah raja telah dicetuskan dan aku tidak boleh mengkhianati.


Dalam urusan hati, terkadang manusia bisa salah persepsi. Mungkin begitu juga denganku saat ini yang merasa tidak apa-apa jika menikah dengan kedua pangeran Angkasa. Padahal kalau dipikir-pikir, aku tahu benar jika mereka akan tersakiti. Pria mana yang ingin berbagi istri dengan saudaranya sendiri? Rasa-rasanya hal itu mustahil sekali.


Sekalipun telah berstatus suami-istri dengan keduanya, tetapi tetap saja seorang pria tidak ingin diduakan oleh wanita yang dicintainya. Dan inilah yang membuatku buta. Aku mencoba untuk tidak memedulikannya. Aku begitu serakah. Ya, aku serakah karena ingin memiliki kedua pangeran Angkasa.

__ADS_1


Di lain sisi Zu masih menantiku di sini. Dia juga telah menyatakan perasaannya yang tidak pernah berubah. Dia bersikeras untuk memperjuangkanku walaupun tahu aku akan menikah. Entah julukan apa yang harus kuberikan padanya, sepertinya pertimbangan ini membuatku goyah.


Shu sendiri, adik Zu terlihat tidak peduli dengan sikap kakaknya. Mungkin dia telah lelah menghadapi sikap Zu yang terlalu bersikeras dan memaksakan kehendak. Sampai detik ini aku pun belum melihatnya kembali ke istana. Mungkin dia banyak urusan sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengurusi kakaknya. Dan ya, aku merasa Zu dan adiknya seperti Cloud dan Rain. Mempunyai sifat yang berlawanan bak siang dan malam.


"Selamat siang." Tiba-tiba seorang nenek bermahkota mendatangiku.


"Selamat siang." Aku pun segera berdiri. "Salam bahagia untuk Nenek."


Tak tahu siapa gerangan, aku beri salam saja kepadanya. Karena kulihat dia mengenakan mahkota.


"Manis sekali. Apakah kau Ara dari Angkasa?" tanyanya padaku.


Eh, dia tahu namaku? "Em benar, Nenek. Aku Ara dari Angkasa. Kalau boleh tahu, siapakah Nenek?" Aku balik bertanya dengan sopan.


Nenek bermahkota itu tersenyum kepadaku. Dia kemudian mengusap pipiku. "Aku tak menyangka jika pilihan cucuku akan jatuh kepadamu," katanya yang membuatku terkejut seketika.


Ap-apa?! Cucu?! Itu berarti?!!


Bukan main terkejutnya aku saat menyadari siapa gerangan yang ada di hadapanku ini. Ternyata nenek bermahkota adalah nenek Zu dan juga Shu. Itu berarti dia adalah anggota utama keluarga kerajaan. Aku pun menelan ludah saat mengetahuinya. Tak kusangka kami akan bertemu secepat ini.


Apakah dia datang untuk meyakinkan hatiku atas Zu?


Entah bagaimana ceritanya dia bisa datang kemari. Aku pun jadi bingung dengan segala kejutan yang Zu berikan padaku. Rasa-rasanya dia telah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatanganku. Aku pun tak menyangka akan menerima ini. Bagai kado spesial untukku.

__ADS_1


Menjelang siang tadi Jasmine datang dan mengutarakan hal yang sesungguhnya terjadi dulu. Dan sekarang neneknya datang menghampiriku. Sungguh dia adalah tipikal pria yang sulit dilarang. Dia masih saja bersikeras untuk mendapatkanku.


__ADS_2