Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Refused


__ADS_3

Satu ranjang dua cinta. Mustahil terjadi di manapun juga. Tapi, aku tidak dapat menolaknya jika memang sudah ditakdirkan seperti itu. Apalah daya dan kuasaku sebagai manusia biasa.


"Baik. Aku akan menjauh darimu." Dia segera duduk menjauh dariku.


Pangeran ....


Saat itu juga aku merasa tidak enak hati sendiri. Perkataannya seolah menyiratkan kekecewaan terhadap penolakan yang kulakukan berulang kali. Tapi aku juga tidak dapat menerimanya kembali walaupun kebenaran telah ditunjukkannya. Titah raja telah dikeluarkan dan membuatku terikat dengan itu semua. Tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Terkecuali Ratu Angkasa sendiri yang membatalkannya. Mungkin saja keputusan itu bisa goyah.


Pangeran, maafkan aku.


Aku pun duduk sambil mengalihkan pandangan darinya. Aku melihat ke luar jendela kereta sambil menikmati pemandangan yang ada. Aku mencoba untuk tidak menghiraukan keberadaannya. Aku bersikap biasa saja. Walaupun sejujurnya hatiku tak enak melakukannya.


Beberapa jam kemudian...


Entah sudah berapa lama melakukan perjalanan, akhirnya kami sampai juga di kaki sebuah pegunungan. Sejak tadi aku hanya diam di kereta bersamanya. Dia juga diam dan hanya menoleh sesaat ke arahku. Seperti ingin mengajak bicara tapi merasa segan. Dan ya, sepertinya hal itu tidak perlu terjadi lagi, karena kami sudah sampai di tempat tujuan.


"Ara, sudah sampai."


Zu mempersilakanku turun dari kereta kuda. Aku pun turun tanpa dibantu olehnya. Sedang para pengawalnya segera membawakan barang-barang kami naik ke atas gunung. Sehingga tinggal aku dan Zu lah di kaki gunung ini. Tentunya dengan beberapa pasukan khusus yang berjaga.


"Selamat datang, Pangeran Zu." Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan Zu.


Langit sudah sore. Mungkin ada sekitar pukul lima waktu duniaku. Semburat merah juga telah menghiasi angkasa. Sepertinya tak lama lagi matahari akan terbenam. Tak terasa juga perjalanan kami ke sini. Ternyata hari sudah sore saja.


"Selamat sore, Paman. Aku ingin berkemah bersama beberapa orang. Ini daftarnya." Kulihat Zu memberikan selembar kertas yang digulung kepada pria paruh baya itu.


"Silakan, Pangeran. Kebetulan cuaca sedang bagus. Kami akan menyiapkan segala keperluan perkemahannya." Pria paruh baya itu mempersilakan.


Zu mengangguk. Dia kemudian menoleh ke belakang, ke arah pasukan khusus yang berjaga. "Pinjamkan aku kuda kalian. Aku akan naik ke atas bersama Ara," katanya, yang mana membuat salah satu pasukan khusus pindah ke kuda pasukan lain.

__ADS_1


"Pangeran, cuma satu?" Aku pun bertanya karena ternyata hanya satu kuda yang disiapkan.


"Kau keberatan? Baiklah, aku akan meminta lagi agar mereka berdesakan menaiki kuda ke atas gunung." Zu menjawabnya.


"Tu-tunggu!"


Saat itu juga aku menahannya. Kulihat kuda-kuda pasukan khusus itu hanya ada lima. Jika kupakai dua, berarti dua orang harus menaiki kuda yang sama. Pasti kudanya akan keberatan karena badan para pasukan khusus besar-besar. Sedang badanku ... mungil, langsing, pendek lagi. Rasanya tidak membuat kudanya keberatan.


"Kenapa?" Zu bertanya padaku dengan tatapan menyudutkan.


"Em ...." Aku pun seperti tidak enak hati mengatakannya.


"Kita satu kuda saja ya? Nanti aku akan menjaga jarak darimu." Dia berjanji padaku.


Pangeran ....


Aku pikir dia akan marah setelah penolakan yang kulakukan berkali-kali. Tapi ternyata dia masih bisa bersabar dengan semua hal yang kulakukan ini. Dia tetap bersikap lembut padaku. Dan hal itu membuatku hatiku sedikit terenyuh.


Aku pun mengangguk. Lalu tak lama dia mengambilkan kuda untuk kunaiki. Dia pun membantuku untuk naik ke atas kudanya. Lalu akhirnya kami menaiki kuda yang sama.


Hati oh hati. Jaga kondisimu.


Kami pun mulai melaju, menaiki gunung perbatasan ini. Tanpa peduli apa yang dipikirkan orang lain lagi. Aku jalani saja apa yang ada. Toh, dia juga sudah menjamin keselamatan dan kehormatanku selama di Asia.


Sesampainya di area perkemahan, perbatasan Asia dan Negeri Bunga...


Sepanjang jalan hatiku dag-dig-dug tak karuan karena duduk di depannya. Tapi, dia menepati janjinya untuk menjaga jarak dariku. Namun, tetap saja getaran-getaran aneh itu kurasakan. Apalagi rambut kugulung rapi seperti ini. Pastinya ada saja helaan napasnya yang sampai ke tengkuk leherku. Dan hal itu membuatku merinding sendiri. Seolah membangkitkan gairah cintaku ini.


Zu sepertinya berubah sikap semenjak kuingatkan tentang dokumen perjanjian yang telah dia tanda tangani bersama ayahnya dan juga Cloud. Walaupun kutahu pasti dia tidak menginginkannya. Dia hanya mengondisikan hatinya agar lebih bersikap formal kepadaku, layaknya seorang pangeran terhadap tamu kerajaan. Aku pun merasa tak enak hati sendiri padanya. Tapi mau bagaimana lagi, aku calon istri kedua pangeranku. Aku tidak boleh ke lain hati. Cukup sudah dua, masa ingin menambah tiga. Apa jadinya?

__ADS_1


"Kita sudah sampai, Ara."


Tak berapa lama aku sampai juga di sebuah area yang dipenuhi pepohonan menjulang tinggi. Kulihat keadaan sekitar tampak lapang karena pepohonannya tidak berdekatan. Tetapi tetap saja kalau pagi ataupun siang, cahaya matahari sepertinya kesulitan untuk masuk ke sini. Karena pepohonannya begitu tinggi. Dan karena sekarang hari sudah sore, penglihatanku terhalang dan membutuhkan lebih banyak cahaya.


"Pangeran, tempatnya seram sekali." Aku pun bergidik takut di depannya.


"Tidak perlu khawatir. Kita akan menemui Lee terlebih dahulu," katanya seraya membantuku turun dari kuda.


"Lee?"


"Ya. Saudara tiriku," jawabnya.


"Oh." Aku pun mengangguk.


Kami akhirnya berjalan bersama sedang para pasukan khusus tetap menaiki kudanya masing-masing. Mereka mengeluarkan pedang, seolah-olah sedang berjaga-jaga dari bahaya. Aku tak tahu mengapa mereka seperti itu. Kuikuti saja langkah kaki Zu pergi. Aku mengekor padanya.


Beberapa menit kemudian...


Entah sudah berapa ratus meter kami melangkah, akhirnya sampai juga di depan sebuah rumah pohon yang ada di sini. Kulihat ada seorang pria berpakaian prajurit yang sedang menghidupkan obor di sekelilingnya. Zu pun mengajak ku untuk menemuinya.


"Salam Pangeran." Pria itu memberi salam kepada Zu.


Tak tahu siapa, tapi wajahnya cukup tampan di pandangan mataku. Matanya sipit dengan bibir sedikit tebal yang merekah indah. Tubuhnya juga kekar dan maskulin sekali. Sepertinya usianya tidak jauh berbeda dari Zu.


"Bagaimana keadaan di sekitar perbatasan Lee?" tanya Zu kepada pria itu.


Lee? Jadi ini saudara tirinya?


Pria yang kami temui ternyata bernama Lee. Tingginya hampir sama seperti pangeran di sampingku. Hanya saja ketampanannya sesuai selera masing-masing yang menilainya. Tapi kalau aku pribadi, lebih menyukai Zu dibanding Lee. Entah mengapa. Mungkin karena pernah mengukir hari bersamanya, jadinya lebih merasa dekat. Sedang Lee masih terasa asing untukku.

__ADS_1


__ADS_2