Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Wait!


__ADS_3

Aku berpikir sejenak. Rasa-rasanya risiko besar akan kutanggung jika hal ini sampai kuteruskan. Tapi, hasrat itu tengah bergejolak di dalam dadaku. Aku menginginkannya. Menginginkan sesuatu dari pria yang kucintai.


"Rain, kau tahu apa yang harus kau lakukan." Aku pun berbisik lembut di telinganya.


Rainku tersenyum. Menunduk seraya tersenyum manis sekali. Dia kemudian menatapku. "Aku mencintaimu, Ara. Aku milikmu, sekarang dan selamanya," katanya, lalu lampu ruangan ini pun dimatikan.


Kami akhirnya gelap-gelapan di dalam ruangan. Tidak ada satupun yang tahu jika kami ada di dalam ruangan ini. Dan tidak ada satupun yang tahu apa yang kami lakukan di sini. Aku sangat mencintainya. Dan mungkin cintaku sudah membutakan segalanya. Otakku tidak lagi bisa berpikir saat mendapat belai kasih sayang darinya. Biarlah ruangan gelap ini menjadi saksi atas apa yang kami lakukan di sini. Karena kutahu aku mencintainya, dia mencintaiku.


Rain, miliki aku malam ini.


Esok harinya...


Suara ayam jantan berkokok terdengar lantang di telingaku. Sepertinya hari sudah pagi setelah melewati malam bersama pangeranku. Bersama seorang pria yang selalu ada untukku. Malam yang indah pun kami lalui bersama tanpa peduli terhadap apa yang akan terjadi nanti. Aku pun tersenyum mengingat kejadian semalam. Di mana aku dan dirinya memadu kasih di tempat yang gelap dan sempit. Sensasi itu tidak akan pernah kulupakan selamanya. Karena aku begitu mencintainya.


Benar apa kata orang, cinta itu buta. Seperti apa yang kurasakan saat ini. Dan entah mengapa getaran kepada Rain terasa lebih kuat dibanding ke yang lain. Mungkin karena seringnya bertemu dan berkomunikasi menjadikan jalinan ini begitu erat. Dan hati kami juga saling terikat tanpa disadari. Ya, mungkin jika diurutkan, si bungsu tetaplah yang nomor satu. Namun sayangnya, aku harus berbagi kasih demi kerukunan di antara putra mahkota. Jadi ya sudah, jalani saja yang ada.


"Hah ... badanku terasa pegal."


Aku beranjak bangun lalu mengurut pundakku sendiri. Tak berapa lama kusadari jika ternyata sedang berada di kamar Rain. Aku tertidur di kamarnya semalam.


"Astaga!"


Saat itu juga aku panik. Lekas-lekas bangun lalu mencari gaunku. Aku pun melewati cermin besar yang ada di sini. Dan ternyata...


"Dasar hujaaan!!!"


Kulihat tanda merah di dadaku begitu banyak. Kusadari jika dialah yang menciptakan tanda merah ini. Aku juga kini hanya mengenakan baju tidur yang tanpa rompi. Sehingga lenganku bisa terlihat dengan jelas. Kusadari jika dia yang telah melakukannya semalam.

__ADS_1


"Astaga. Bagaimana jika Cloud tiba-tiba datang?!"


Karena panik, aku segera bergegas ke kamar mandi lalu membersihkan diri. Aku tak peduli lagi Rain sedang ada di mana dan bersama siapa. Sebelum semuanya terlambat dan menimbulkan masalah, aku harus lekas-lekas kembali ke istana. Aku harus absen terlebih dahulu. Ya, anggap saja seperti itu. Daripada dicari dan ketahuan berada di sini, pastinya lebih membahayakan lagi.


Setengah jam kemudian...


Aku sudah selesai mandi, tapi mengenakan gaun yang semalam kupakai. Sebenarnya di kamar Rain ada gaun yang telah dipersiapkan. Tapi untuk meminimalisir kecurigaan, lebih baik kupakai gaun yang semalam. Aku juga mengenakan pelembab milik Rain agar wajahku tidak terlalu pucat. Setelahnya bergegas menyisir rambut yang masih basah. Aku harus segera keluar dari kediamannya ini.


"Selesai."


Kuambil sepatuku lalu keluar dari kamar si bungsu. Kulangkahkan kaki menuju pintu keluar kediamannya. Namun, baru saja sampai di ruang makan, aku melihat dari kaca jendela ada seorang pria berseragam kerajaan putih berjalan ke rumah ini. Dan dia sudah sampai di depan pintu.


"Aduh, gawat!"


Dialah Cloud. Pagi-pagi sudah datang ke rumah adiknya. Pastinya dia ingin mencariku. Siapa lagi, bukan? Itu berarti aku kepergok olehnya sedang berada di sini. Aku harus segera bersembunyi agar tidak ketahuan olehnya. Tapi, itu akan sangat membahayakan jika sampai ketahuan. Satu-satunya cara agar tetap aman adalah mencari alasan agar dia tidak berpikiran macam-macam padaku. Tapi alasan apa? Bukankah raja telah melarang kami untuk tinggal bersama lagi?


Lantas kulangkahkan kaki ini sambil menarik napas panjang-panjang. Suara langkah kakinya pun semakin mendekati keberadaanku. Aku pun menampakkan diri di hadapannya. Kami bertemu di ruang tamu rumah ini.


"Cloud?"


"Ara, kau di sini?" Dia tampak terkejut melihatku.


"Em, ya. Aku sedang mencari Rain. Aku kira dia di sini." Aku beralasan padanya.


Cloud tampak mengernyitkan dahinya. Mungkin dia curiga padaku. "Rain sedang bersiap-siap untuk ke Terusa. Dia berlatih bersama pasukannya sekarang." Cloud mengatakannya padaku.


"Oh, aku tidak tahu, Cloud. Kau sendiri ada apa ke sini?" Aku balik bertanya, mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


Cloud menoleh ke belakang sejenak lalu beralih kembali padaku. "Aku memang mencarimu. Tapi kau tidak ada di ruanganmu. Aku ingin memberi tahu jika ibu memintamu untuk berangkat ke Negeri Bunga sekarang. Pihak Bunga juga sudah mengirimkan ulang surat permohonannya." Cloud menjelaskan padaku.


Astaga ....


Saat itu juga aku baru ingat jika ada tugas yang diberikan ratu. Aku benar-benar lupa karena semalam. Seharusnya kemarin aku sudah berangkat, tapi malah tidak jadi karena membantu keduanya. Dan mungkin kemarin masih dimaklumi oleh ratu. Sedang sekarang tidak ada negosiasi lagi.


"Em, baik. Aku siap-siap dulu, Cloud." Aku pun beranjak pergi.


Kami berpapasan. Aku segera melangkahkan kaki agar dia tidak banyak bertanya padaku. Apalagi sampai mengecek bagian tubuhku ini. Bisa-bisa apa yang kami lakukan semalam ketahuan olehnya.


Ayo, Ara. Cepat! Cepat!


Entah mengapa langkah kakiku terasa berat sekali. Saat melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah Rain, saat itu juga kakiku seperti tidak dapat digerakkan lagi. Seolah tertarik magnet bumi. Dan sepertinya Cloud pun menyadari.


"Ara, tunggu!" Dia memanggilku.


Saat itu juga jantungku dag-dig-dug tak karuan karena dipanggilnya. Aku pun berhenti melangkahkan kaki. Dengan harap-harap cemas berbalik menghadapnya. Entah apa yang akan dia bicarakan kembali.


"Ara!" Dia berjalan mendekatiku.


Jantungku serasa ingin copot karenanya.


Dia tiba di hadapanku. "Kau seperti ... menghindari sesuatu. Apa terjadi sesuatu padamu?" tanyanya padaku.


Saat itu juga laju jantungku berdetak semakin kencang. Aku khawatir sekali. Sangat khawatir dia memeriksa tubuhku ini. Bagaimanapun Cloud tidak mudah untuk dibohongi. Dia dapat membaca gerak-gerik lawan bicaranya. Apalagi yang mencurigakan. Dan kini dia mencurigaiku. Entah alasan apa yang harus kukatakan padanya. Aku takut sekali.


Cloud, jangan bertanya, tolong. Aku bisa-bisa pingsan di tempat ini.

__ADS_1


Dia memerhatikanku, memerhatikan raut wajah ini. Dan sungguh aku takut sekali.


__ADS_2