Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Design


__ADS_3

"Itu bukan apa-apa, Lara. Jika sedang ada, memang harusnya berbagi," kataku seraya menepuk pundaknya.


Lara mengangguk. Dia kemudian tersenyum padaku. Senyuman tulus yang diberikan seorang pelayan untuk pekerja istana sepertiku. Aku pun tersenyum kepadanya. Berharap dia tidak terlalu memandangku sebagai tamu kehormatan istana. Aku ingin diperlakukan biasa saja.


Kami akhirnya meneruskan perjalanan pulang siang ini. Aku harap pekerjaanku dapat terselesaikan dengan baik. Ya, aku berharap semuanya berjalan lancar tanpa kendala. Agar bisa kembali ke Angkasa dengan membawa kabar gembira.


Sore harinya...


Aku sedang duduk di pelataran teras gazebo sambil menyeruput kopi khas negeri ini. Pekerjaanku belum selesai, tapi aku ingin beristirahat sejenak agar tidak terlalu letih. Bunga-bunga di taman istana pun seolah mengembalikan semangat bekerjaku. Aku siap bekerja kembali.


"Rasa kopi negeri ini khas sekali. Seperti ada aroma cokelatnya."


Kuseruput lagi kopiku sambil menikmati embusan angin sore ini. Saat itu juga entah mengapa bayangan Xi terlintas di benakku. Pria berwajah tirus nan tinggi itu seolah mulai menghantuiku. Apalagi kata-katanya saat pertemuan tadi, membuatku semakin penasaran akan jati dirinya. Benarkah dia berbeda dengan ayah dan kakeknya?


Pertemuanku tadi siang dengan dirinya menghasilkan suatu kesimpulan tentang hubungan kedua negeri. Ternyata Raja Sky pernah mengirimkan surat perdamaian untuk Arthemis. Tapi sayang, surat itu ditolak mentah-mentah oleh penguasa negerinya. Sehingga memunculkan spekulasi jika memang Arthemis lah yang bersikeras melakukan perang dingin ini. Entah mengapa mereka bisa seperti itu.


Aku sendiri melihat Xi sebagai sosok pangeran yang baik. Hanya saja perlakuan yang dia berikan padaku dan Rose tampak berbeda sekali. Di depan Rose dia lebih banyak diam, sedang di depanku bisa dibilang agresif. Dalam arti kata dia tidak sungkan untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Bagai teman dekat yang sudah lama tak bertemu.


"Baiklah, saatnya merancang dekorasi ruangan pesta."

__ADS_1


Karena tak ingin membuang-buang waktu, lekas saja kulangkahkan kaki ini menuju kamarku. Tak lupa kuhabiskan kopiku terlebih dulu karena sayang jika masih tersisa. Aku pun dengan segera kembali ke istana karena akan merancang dekorasi ruangannya. Semoga saja Putri Rose gembira dengan hasilnya.


Tugas terakhirku di negeri ini adalah merancang dekorasi untuk ulang tahun Rose. Ulang tahunnya sendiri akan dirayakan minggu depan. Sekitar tiga sampai empat hari lagi. Tapi pihak istana sudah meminta untuk dipersiapkan lebih awal. Mungkin saja pesta perayaannya akan besar-besaran. Jadinya meminta dekorasi lebih awal. Dan sebagai perancang, aku hanya menjalankan tugasku. Selebihnya biarkan sang ahli yang menanganinya.


"Akhirnya sampai juga."


Tak lama kemudian aku pun sampai di dalam kamar. Aku segera duduk di depan meja yang berdekatan dengan jendela. Kamar berukuran sedang dengan kamar mandi di dalam ini mungkin luasnya sekitar 5x7 meter. Dan kamar ini cukup untuk aku seorang. Tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu kecil. Pas ditempati.


Yang kusuka dari kamar ini adalah jika membuka jendela kamarnya, langsung berhadapan dengan kolam air mancur yang dikelilingi bunga-bunga indah. Sehingga seringkali aku membuka jendela sekalipun hari sudah malam. Entah mengapa di sini aku tidak merasa takut sama sekali. Apalagi sebentar lagi akan bulan purnama. Pastinya pantulan cahaya bulan di kolam akan terlihat sangat indah. Dan aku menantikannya.


"Putri Rose menyukai warna merah dan hitam. Kenapa hampir sama seperti Rain ya?"


"Mungkin aku membutuhkan banyak balon nanti."


Lantas segera kubuat rancangan dekorasi ruangan untuk pesta ulang tahun putri negeri ini. Targetku dua hari sudah selesai. Satu hari merancang, satu hari merealisasikan. Sehingga tersisa cukup waktu untuk menunggu busana jadi. Setelah itu lekas kembali ke negeri kedua pangeranku untuk melepas rindu.


Esok harinya...


Ini adalah hari kelimaku berada di istana Negeri Bunga. Dan hari ini juga aku kembali ditemani Lara dalam mendekorasi istana. Semalam aku begadang suntuk untuk membuat sketsa kasar ruangan utama istana. Sehingga kini mataku sedikit sembab karena kurang tidur. Tapi tak apalah, nanti jika semuanya sudah selesai aku bisa membayar kurang tidurku. Saat ini aku harus bekerja kembali untuk mengharumkan nama negeri. Semoga saja pekerjaanku lancar dan tanpa kendala.

__ADS_1


"Nona, semua orang-orang yang dibutuhkan sudah hadir." Lara datang mengabarkan padaku.


Gadis muda berbusana pelayan itu menghampiriku. Aku memang memintanya untuk membantuku hari ini. Dan ternyata, dia kerjanya cepat sekali.


"Baik. Aku akan segera menemui mereka."


Aku masih duduk di depan meja yang ada di ruang utama istana. Sedang sebelumnya, aku meminta Lara untuk memanggilkan orang-orang yang kubutuhkan untuk membantuku. Dari tukang kebun, penjaga kebersihan, sampai belasan pelayan wanita kuminta datang untuk melakukan rapat sebentar. Karena aku akan menjelaskan apa saja yang harus mereka lakukan untuk mendekorasi ruangannya. Dan ya, sekarang sudah tiba saatnya untukku menjelaskan kepada mereka. Jadi mari kita mulai saja.


Satu jam kemudian...


Briefing selesai. Hari ini aku akan dibantu dua puluh lima orang untuk mendekorasi ruang utama istana. Dimana sebagian mereka ada yang mengangkat barang-barang hiasan, dan sebagian lain ada yang ikut menghias ruangan. Aku sendiri menjadi mandor kali ini. Tugasku mengawasi dekorasi agar berjalan dengan lancar. Dan ya, untungnya saja gaun yang kukenakan berdasar jatuh dan menyerap keringat. Karena kalau tidak, mungkin aku harus cepat mengganti gaun lagi. Maklum, kerja di lapangan banyak mengeluarkan keringat.


"Sepertinya semua sudah sesuai dengan yang diinginkan oleh putri."


Gaun yang kukenakan berwarna pink dengan bagian bahu yang sedikit terbuka. Semua perhiasan mulai dari anting, kalung, gelang dan cincin pemberian dari kedua pangeranku masih kupakai. Sedang sepatunya kukenakan hak yang tidak terlalu tinggi, hanya sekitar tiga senti dengan warna pink silver mendominasi. Dan aku rasa dandananku kali ini menambah aura kecantikanku dari dalam.


Make up minimalis kukenakan dengan polesan lipglos tipis pada bibirku. Hari ini memang sengaja berdandan lebih minimalis agar tidak terlalu mencolok pandangan. Dan ya, sepertinya dandananku hari ini membuatku merasa lebih muda dari usia sebenarnya.


"Nona, apakah tirai ini harus dilepas juga?" tanya seorang pelayan pria kepadaku. Dia tampak kesulitan melepas tirai jendela istana yang tersimpul rumit.

__ADS_1


"Iya, itu juga dilepas. Bisakah?" Aku bertanya padanya.


__ADS_2