Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Sign?


__ADS_3

"Siapa Ara? Apa yang kau lihat?" Rain bertanya padaku dan memperhatikan apa yang kulihat ini.


Aku pun menoleh ke arah Rain yang duduk di sampingku. Namun, saat itu juga kulihat ada seorang pria berjubah hitam tengah berada di belakangnya. Dia memakai hodie yang menutupi kepalanya.


"Rain, awas!!!" Saat itu juga pedang secepat kilat menyambar Rain dari arah belakang. Rain pun tumbang di hadapanku. "Tidaaaaaakkkk! Rain!!!" Aku pun menjerit melihatnya.


Sosok berbaju hitam itu melepas penutup kepalanya. "Xi?!!" Aku terkejut saat melihat Xi di balik jubah hitam itu. Namun, aku tidak menghiraukannya. Aku fokus ke Rain yang sudah terbujur di hadapanku.


"Rain! Rain!!!" Hatiku sakit sekali melihatnya. Aku pun menangis sekencang-kencangnya. "Tolooongg!!!" Aku berteriak sekencang mungkin sambil menangisi Rain.


.........


"Hah! Hah! Hah!"


Jantungku berdegup kencang. Air mata itu ternyata benar-benar menetes membasahi pipiku. Rasanya perih sekali melihat kejadian itu. Aku pun terbangun dengan terengah-engah. Ternyata baru saja mengalami mimpi buruk malam ini. Kejadian itu seperti nyata terjadi. Tak tahu mengapa aku bisa memimpikan hal itu malam ini. Benar-benar aneh sekali.


Kuusap wajah dan kepalaku ini. "Astaga ... kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?"


Aku tak tahu. Sungguh tak tahu apa maksud dari mimpiku. Detak jantungku berpacu cepat tak beraturan lagi. Rasanya aliran darah di tubuhku begitu deras dan tak terkendali. Melaju ke seluruh pembuluh darahku.


Ya Tuhan, apa maksudnya mimpi ini?

__ADS_1


Kuhirup udara dalam-dalam, mencoba menenangkan hati dan pikiran. Tapi, entah mengapa mimpi itu seolah terus menghantui. Seperti sebuah firasat yang harus kuwanti-wanti dari sekarang. Tentunya berkenaan dengan Rain. Aku khawatir sesuatu terjadi padanya.


Lima menit kemudian...


Aku duduk di kursi kamar sambil meminum susu hangat yang dibawakan pelayan. Aku terbangun pada hari yang sudah hampir berganti. Mungkin saja saat ini sudah pertengahan malam waktu Bunga dan sekitarnya. Rasanya ingin sekali mengirim surat kepada Rain lalu berpesan agar dia berhati-hati. Aku khawatir sesuatu terjadi padanya tanpa disangka-sangka.


Bagiku Rain bukanlah pria biasa dalam hidupku. Ciuman pertamaku ada padanya. Aku menggila juga bersamanya. Dia banyak mengajariku tidak hanya dalam hal berpedang. Dia juga mengajariku untuk sesuatu yang sangat sensitif sekali. Dan anehnya, aku merasa apa yang diajarkan adalah bekal untuk kami berumah tangga nanti.


Batinku sudah amat dekat dengannya. Melebihi kedekatanku pada Cloud yang notabene adalah pria yang membawaku ke bumi ini. Sejatinya aku sangat mencintainya. Tapi sayang aku tidak bisa memilih dirinya. Karena Cloud masih membutuhkanku. Terlebih Cloud juga melakukan sesuatu yang mengikatku. Dan aku rasa hal itu akan menjadi pertimbangan yang sangat besar jika meninggalkannya.


Kini hatiku dilanda kekhawatiran akan Rain. Putra bungsu kerajaan Angkasa itu seperti memintaku untuk segera menemuinya. Namun, aku tidak bisa gegabah. Aku sedang mengemban tugas kerajaan. Tak baik meninggalkan tugas hanya karena mimpi yang belum tentu benarnya.


Mungkin ada baiknya jika malam ini menenangkan diri terlebih dahulu. Semoga saja esok hari aku bisa berkirim pesan dengannya. Ya, tentunya melalui burung pengantar pesan negeri ini. Aku merindukannya. Sangat merindukan sosok pria yang selalu ada untukku, Rain Sky.


Burung-burung bersiulan di pagi hari yang cerah. Sinar mentari pun menghangatkan setelah malam dingin menerjang. Dan kini aku sedang berhias di depan cermin besar yang ada di kamar. Hari ini adalah hari pertamaku untuk memulai pekerjaan. Sehingga sebisa mungkin aku melakukannya dengan maksimal. Ya, karena dengan pekerjaan inilah aku mempunyai pendapatan.


Walaupun sudah dicetuskan sebagai calon ratu, aku tetap mempunyai pendapatan dari setiap pekerjaanku. Yang mana sebagian pendapatan itu kusumbangkan untuk penduduk Angkasa. Sedang sisanya kusimpan kepada Cloud yang notabene adalah calon suamiku sendiri. Dia adalah pria yang bisa kupercaya untuk mengatur semuanya. Termasuk urusan pribadi sekalipun.


Cloud sangat menginginkanku menjadi ratu yang multi talenta. Dia setuju aku mengambil misi ini untuk mengharumkan nama baik Angkasa. Aku pribadi menganggapnya sebagai hal yang lumrah. Tapi tidak dengan Rain. Dia menganggap hal ini terlalu dipaksakan dan berlebihan. Ya, harus kuakui jika kedua pangeran memiliki sudut pandang yang berbeda. Sedang aku sendiri berusaha menjadi penengah keduanya.


"Selesai."

__ADS_1


Kini aku siap menjalani hari setelah bermake up minimalis dan memoleskan lipstik berwarna merah. Sengaja menggunakan lipstik warna berani agar terlihat lebih cerah. Tak lupa juga kusemprotkan parfum ke seluruh tubuh agar lebih percaya diri. Dan kini aku siap menjalani hari.


Bagaimanapun Bunga adalah negeri yang berbeda dari negeri kedua pangeranku. Jadi aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang ada di sini. Tentunya tidak melupakan jati diriku sendiri. Aku tampil apa adanya, natural, namun tetap elegan. Karena keanggunan tetaplah yang terdepan.


"Nona!" Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.


"Ya, tunggu!" Aku pun segera beranjak membukakan pintu.


Gaun yang kukenakan merupakan rancangan kebayaku sendiri. Aku membawanya dari Angkasa agar tidak merepotkan pihak tata busana yang ada di sini. Aku tetap membawa ciri khas negeri itu walaupun melalang jauh ke negeri lain. Citra negeri kedua pangeranku harus kujunjung tinggi.


Aku membuka pintu. "Putri Rose?" Alangkah terkejutnya aku saat melihat siapa yang datang. Ternyata putri kerajaan ini, Rose.


"Nona, kau sudah siap? Aku akan menemanimu hari ini." Dia tersenyum semringah padaku.


"Oh, baik." Aku pun antusias menanggapi.


Hari ini pekerjaanku akan dimulai dengan mendesain pakaian untuk raja dan ratu Bunga terlebih dahulu. Rose pun datang ke kamarku tanpa pengawalan yang berarti. Mungkin karena pernah bertutur sapa sebelumnya, jadinya bisa sedekat ini. Semoga saja pekerjaanku juga berjalan lancar tanpa kendala. Sehingga aku bisa pulang dengan cepat ke Angkasa. Ya, semoga saja. Apa salahnya selalu berdoa?


Satu jam kemudian...


Jam di negeri bunga telah menunjukkan pukul sembilan pagi waktu sekitarnya. Ternyata di negeri ini mempunyai jam dinding dengan titik-titik sebagai tolak ukurnya. Belum ada angka seperti di duniaku. Namun, aku sudah terbiasa melihat jam tanpa angka seperti itu.

__ADS_1


"Yang Mulia ingin mengenakan hiasan mutiara atau permata?" tanyaku kepada ratu.


Saat ini aku sedang berada di ruang tamu kediaman ratu yang ada di lantai dua istana. Aku sedang membuat sketsa kasar busana yang akan dia kenakan di acara pesta ulang tahun putrinya. Dia sendiri sedang melihat-lihat hasil rancanganku sebelumnya. Ratu pun tampak memilih-milih bagaimana hiasan di gaunnya. Sedang aku menulis berapa ukuran gaun yang pas di tubuhnya. Karena ratu tidak ingin kebesaran ataupun kekecilan. Dia ingin gaun yang pas di badan.


__ADS_2