Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
So...


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, di kamar Cloud...


Aku sedang berada di dalam kamar Cloud. Pangeran sulung kerajaan Angkasa ini memintaku untuk menemaninya ke kamar. Dan aku memenuhinya dengan berjalan bersama sampai masuk ke dalam ruang kerjanya. Cloud lalu membukakan pintu kamarnya untukku. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat keadaan kamarnya. Ternyata di dalam kamarnya sudah berganti tema kehijauan. Keadaan kamar Cloud tampak dipenuhi warna-warna hijau dedauan. Mulai dari sprei kasur, bantal guling, hingga cat temboknya. Aku pun merasa betah melihatnya.


Cloud belum menceritakan apapun padaku tentang hasil dari keberangkatannya ke Asia. Aku membiarkan dia beristirahat sejenak setelah perjalanan panjangnya. Dan kini putra sulung Angkasa itu sedang mandi air hangat. Sedang aku sendiri duduk di atas kasurnya sambil membaca buku kerajaan. Aku ingin menemani dan berbagi tentang perasaanku kepadanya.


Sepertinya sudah berganti hari.


Kulihat jam pasir di atas lemarinya telah berganti warna. Sepertinya sudah memasuki hari yang baru, yang mana hari ini adalah hari ulang tahunnya. Senang rasanya bisa menemani dan berada di sisinya saat hari lahir ini. Tapi sayang aku belum sempat membuatkan apa-apa untuknya. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri.


"Sedang baca buku apa, Ara?"


Tak lama dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk putihnya. Rambut pirangnya terlihat masih basah hingga air sisa dari rambutnya itu jatuh membasahi dada bidangnya. Dia begitu menawan pandanganku.


Dia sengaja memperlihatkannya. Dasar Cloud!


Kuakui lekuk tubuh maskulinnya begitu membius pandangan. Rambut-rambut halus di sekitar dadanya pun terlihat dan seolah bergentayangan di alam pikiranku. Aku pun segera menyambutnya dengan membukakan lemari pakaian. Aku mempersilakan dia memilih sendiri baju tidur malam ini. Inginnya sih memakaikan, tapi khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi cukup membukakan pintu lemari pakaiannya saja.


"Silakan, Pangeran." Aku mempersilakannya.


Cloud tersenyum padaku. Kutahu jika dia sangat lelah setelah perjalanan jauhnya ke Asia. Tapi dia masih mampu untuk memberikan senyuman termanisnya padaku. Aku pun membiarkan dia beristirahat sejenak terlebih dahulu sebelum memasuki inti pembicaraan malam ini. Ya, aku ingin bicara dari hati ke hati mengenai hal yang mengganggu pikiranku.


Beberapa menit kemudian...


Aku dan Cloud duduk di kepala kasur sambil menyandarkan punggung dengan bantal. Cloud masih meminum susu yang kubuatkan sambil minta ditemani olehku. Aku pun duduk di sampingnya sambil terus membaca-baca buku yang ada di dalam kamarnya. Namun, tiba-tiba saja dia meletakkan gelas susunya ke atas meja. Dia lalu mengambil buku yang sedang aku baca.

__ADS_1


"Cloud?" Aku pun menoleh ke arahnya.


Kamar Cloud adalah ruang hampa suara. Sebesar apapun teriakan tidak akan terdengar sampai ke luar. Jika dia ingin, bisa saja dia memintaku sepenuhnya. Tapi, pangeran sulung kerajaan Angkasa ini masih menjagaku. Ya, walaupun dia telah melihat semuanya. Mungkin dia melakukannya juga agar aku merasa terikat dengannya.


"Ara ... aku ada kabar kurang baik untuk Angkasa." Dia membuka pembicaraan malam ini.


"Tentang bunga malaikat?" tanyaku langsung menerka. Aku merasa yakin jika hal yang ingin dia katakan berkenaan dengan hasil keberangkatannya ke Asia.


Cloud mengangguk. Saat itu juga aku merasa situasi mulai serius di antara kami. Aku pun mencoba menarik napas dalam agar tenang. Aku tidak boleh menunjukkan kepanikanku padanya.


"Aku bertemu dengan Zu dan sudah bernegosiasi dengannya." Cloud mengabarkan.


"Lalu?" Aku antusias menanggapi.


"Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. Aku bingung mengambil keputusan. Aku ingin kau yang memutuskannya." Dia berkata seraya menoleh ke arahku.


Sungguh hatiku dag-dig-dug bukan main mendengarnya. Rasa-rasanya negosiasi gagal dilakukan. Zu sepertinya enggan memberikan bunga malaikat itu kepada Angkasa. Mungkin saja di hatinya masih menyimpan rasa kesal karena kedatangannya kutolak mentah-mentah. Atau ada sesuatu hal lain yang membuat Cloud seperti ini.


"Em, menurutku lebih baik katakan saja. Mungkin aku bisa membantunya." Aku sedikit ragu mengatakannya.


Cloud menggenggam tanganku. Dia mengecupnya lalu menempelkan ke dada. Saat itu juga aku bisa merasakan detak jantungnya. Sepertinya dia sedang dilanda dilema besar saat ini. Yang pastinya berkaitan dengan raja.


"Tempat di mana bunga malaikat itu tumbuh adalah kawasan perbatasan antara Asia dan Negeri Bunga. Yang mana kawasan itu adalah miliknya. Itu adalah wilayah dia berlatih dan bertahan hidup. Dan dia..."


"Dia?"

__ADS_1


"Dia tidak bisa memberikan bunga malaikat itu kepada kita."


"Apa?!!" Saat itu juga aku terkejut. Ternyata benar dugaanku. "Apakah kita tidak bisa membelinya dengan emas?" Entah mengapa aku merasa khawatir sekali.


Cloud menghela napasnya. Dia usap-usapkan tanganku ke dadanya seolah agar membuat hatinya tenang. Dia kemudian mengecup tanganku ini.


"Ara, Asia adalah negeri yang besar. Mereka tidak membutuhkan emas dari kita. Zu juga calon raja negeri itu, sama sepertiku yang merupakan calon raja negeri ini. Dia pastinya memiliki kekayaan yang tidak lagi membutuhkan apapun. Dia memperhitungkan bunga malaikat itu dengan harga yang lebih tinggi dari sekedar emas." Cloud menuturkannya padaku.


Harga yang lebih tinggi dari emas? Jangan-jangan!


Mau tak mau pikiranku tertuju dengan apa yang dikatakan oleh Rain waktu itu. Zu tidak mau memberikan bunga itu tanpa pertukaran berharga. Itu berarti Zu meminta lebih dari sekedar bunga malaikat itu sendiri. Yang mana membuat detak jantungku deg-degan tak karuan menanti hal apa yang dimaksud.


"Cloud, aku ...."


Cloud memutar tubuhnya ke arahku. "Ara, tugas dan tanggung jawabku sangat berat saat ini. Aku adalah calon raja Angkasa. Aku tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri. Aku serba salah saat ini," katanya yang membuatku melihat bola mata biru beningnya.


"Apakah Zu memintaku?" Aku langsung bertanya ke inti dengan jantung yang berdebar kencang.


Cloud melepas pegangan tangannya. Dia kemudian mengusap wajahnya sendiri. "Maafkan aku. Aku sudah berusaha untuk bernegosiasi sebaik mungkin. Tapi dia tetap bersikeras untuk tidak memberikan bunga itu," kata Cloud lagi.


Astaga ....


Saat itu juga kutelan ludahku. Baru kali ini jantungku tak karuan menantikan hasil negosiasi. Dan baru kali ini juga kulihat Cloud sefrustrasi itu. Tidak biasanya dia begini. Dia benar-benar tertekan dengan waktu yang diberikan untuk mendapatkan bunga itu. Dan aku mencoba memahaminya dengan sepenuh hatiku. Aku harus membantunya untuk meringankan beban yang ada di pundaknya. Sekalipun ada konsekuensi yang harus kuterima dari hal ini.


"Cloud, jadi ... Zu memintaku sebagai pertukaran bunga itu?" tanyaku, memastikan kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2