Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Kissing


__ADS_3

Jantungku berdetak kencang sampai rasanya ingin terlepas dari tempatnya. Zu melompat ke lautan tanpa memedulikan teriakanku ini. Saat itu juga aku panik bukan kepalang karena melihatnya menceburkan diri. Hari masih pagi, tapi dia sudah mencari mati. Lantas aku segera menuruni anak tangga sambil berteriak meminta tolong kepada pasukan yang ada di kapal ini.


"Tolong!!! Tolong!!!" Aku berteriak sekencang mungkin.


"Nona, ada apa?" Seorang pasukan khusus datang ke arahku.


"Pangeran. Pangeran Zu melompat ke lautan! Tolong dia! Tolong dia, kumohon!" Aku seperti orang yang frustrasi sendiri.


"Hentikan laju kapalnya!!!" Pasukan khusus itu berteriak kepada nahkoda kapal. "Keadaan darurat! Berkumpul!" Pasukan khusus itu kembali berteriak lalu tak lama pasukan yang lainnya ikut datang.


"Ada apa?" Mereka pun tergesa-gesa menghampiri kami.


"Cepat siapkan alat penyelamatan untuk pangeran. Pangeran melompat ke lautan. Cepat!!!" Pinta pasukan khusus itu.


"Baik!" Pasukan yang lain pun segera bergegas.


Detak jantungku semakin tak karuan. Alarm tanda bahaya pun dinyalakan. Satu per satu dari pasukan khusus itu melompat ke lautan. Mereka berenang untuk menyelamatkan Zu. Aku pun melihat sendiri bagaimana dalam airnya. Aku tak menyangka jika dia akan melakukan hal senekat ini.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Bagaimana jika dia tidak ditemukan dan aku dimintai pertanggungjawaban?


Hari masih pagi, tapi hatiku sudah dag-dig-dug tak karuan karena ulahnya. Sungguh tak menyangka jika dia akan benar-benar melompat ke lautan. Seahli apapun berenang, tidak akan mudah melawan dalamnya air lautan yang luas ini. Pasti membutuhkan alat bantu pernapasan.


Ara, lihat! Bagaimana kesungguhannya padamu!


Rasanya aku ingin menangis saja. Menangis karena menyesali kejadian ini. Tidak sepantasnya dia melakukan hal ini untukku. Karena aku bukanlah siapa-siapanya. Dia terlalu berharga sedang aku hanya rakyat biasa.


Ya Tuhan, tolong selamatkan dia.


Dalam rasa cemas aku berpikir bagaimana jika ditanyai oleh pasukannya? Apa yang harus kukatakan jika mereka bertanya penyebab apa yang membuat Zu sampai melompat ke lautan? Pastinya mereka akan mencecarku dengan banyak pertanyaan. Sungguh aku panik sekali.

__ADS_1


Lantas aku mencoba duduk karena tak kuat berdiri. Lututku terasa lemas sekali karena melihat langsung bagaimana pangeran bodoh itu melompat ke lautan. Dia seperti orang yang tidak menemukan jalan keluar. Dia benar-benar bodoh menghadapi hatinya sendiri. Membuatku menyesal karena telah berkeras hati.


Maafkan aku, Pangeran ....


Mentari pagi menjadi saksi betapa takutnya hati ini. Sungguh aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya apalagi dikarenakan aku. Tapi sepertinya aku harus membuat surat pernyataan atas melompatnya Zu ke lautan. Pihak Asia tidak mungkin diam saja jika pangerannya mati. Ya Tuhan, tolong selamatkan aku dari hal tak terduga ini.


Beberapa saat kemudian...


"Pangeran Zu!"


Aku melihat Zu sudah tidak sadarkan diri dengan tubuh yang basah kuyup. Para pasukan khusus cukup lama mencari di mana raga putra mahkota itu berada. Membuatku kelimpungan dengan pikiranku sendiri. Bagaimana tidak, dia melompat ke laut setelah aku menegaskan kembali jika tidak bisa bersamanya. Sungguh jika bukan karena ciptaan Tuhan, jantungku ini sudah berhenti.


Aku khawatir. Jelas saja khawatir dengan ulah nekatnya. Dan kini para pasukan khusus sedang mencoba menyelamatkannya. Pertolongan pertama dilakukan oleh mereka. Menekan perut Zu agar air laut yang masuk bisa keluar dengan sendirinya. Namun, Zu belum juga tersadarkan.


Pangeran, jika ada apa-apa dengan dirimu, pastinya aku juga yang disalahkan!


Aku kesal. Sangat kesal dengan tingkah bodohnya. Pemikirannya tentang cinta begitu dangkal sehingga membuatku panik sendiri. Cemas dan merasa bersalah terhadapnya. Aku pun hanya bisa diam di samping para pasukan yang sedang melakukan pertolongan darurat. Tapi...


"Bantu apa? Apa yang bisa kubantu?" tanyaku dengan raut wajah yang amat cemas.


"Detak jantung pangeran sudah mulai melemah. Sepertinya dia sengaja melakukan hal ini untuk bunuh diri. Bisakah Nona memberi napas buatan kepadanya?" tanya pasukan khusus itu.


"Ap-apa?!" Aku terbelalak kaget.


"Benar, Nona. Kami berharap Nona dapat membantu kami. Keadaan pangeran sudah tidak memungkinkan. Dia membutuhkan napas buatan segera." Pasukan yang lain ikut bicara.


Kabar tak baik harus kudengar. Zu membutuhkan napas buatan yang mana para pasukan meminta aku melakukannya. Hal ini sungguh tak terduga sama sekali. Aku sudah berusaha keras untuk tidak dekat-dekat dengannya, tapi sekarang malah diminta memberi napas buatan. Menyebalkan!


"Kenapa tidak kalian saja yang memberi dia napas buatan?!" Aku menolak permintaan mereka.

__ADS_1


"Nona, mohon maaf. Jika kami yang melakukannya, pangeran bisa membunuh kami setelah tersadarkan. Kami mohon, Nona. Kami masih mempunyai keluarga yang menunggu di rumah. Kami berharap Nona dapat membantu kami," tutur salah satu pasukan khusus itu.


Astaga ....


Aku bingung bercampur kasihan. Apalagi terhadap mereka yang meminta pertolongan. Hatiku ini seolah tidak bisa menolaknya. Terlebih pria bodoh yang terbujur lemah itu membutuhkan napas buatan segera. Aku jadi pusing dan dilema.


Pangeran, awas kau ya! Aku akan membuat perhitungan setelah kau tersadarkan!


Aku berdecak kesal dalam hati, namun mau tak mau harus menyanggupi. Lantas aku segera berlutut di sisinya. Para pasukan khusus pun memberi ruang padaku untuk memberikan napas buatan. Kulihat keadaan sekitar tampak sangat mengharapkan tindakanku segera. Aku pun seperti tidak mempunyai jalan lain.


"Nona, lekaslah bertindak sebelum terlambat."


"Benar, Nona. Detak jantung pangeran sudah lemah. Jangan ditunda lagi."


Satu per satu pasukannya meminta padaku agar lekas bertindak. Aku pun menelan ludah berulang kali sebelum melakukannya. Niatku untuk menolongnya, tidak lebih dari sekedar itu. Aku harap setelah ini dia lekas tersadar dan melupakan semuanya. Ya, aku berharap itu.


"Baiklah."


Aku pun menarik napas panjang lalu mulai mendekatkan wajah ke putra mahkota. Kutempelkan bibirku pada bibirnya lalu mulai menyalurkan napas yang kupunya. Angin kencang di atas kapal menjadi saksi betapa keras usahaku dalam memberinya napas buatan. Aku pun berulang kali mengambil napas lalu kembali menyalurkannya. Hingga akhirnya, sesuatu terjadi pada kami.


Pa-pangeran ...?!


Tangannya perlahan-lahan merayap memegang punggungku ini. Bibirnya pun melakukan perlawanan terhadap hal yang kulakukan. Sontak aku segera tersadar dari hal yang terjadi. Aku pun membuka mata untuk melihat keadaan sebenarnya. Dan ternyata ... kami berciuman.


Pangeran ....


Aku terdiam sejenak saat menyadari jika dia menciumku. Dia terus mengecup bibirku, menekannya dan menyapunya dengan lembut. Sontak jantungku berdegup kencang saat mengetahui apa yang terjadi. Lantas aku pun segera beranjak berdiri. Namun, tangannya menahan kuat punggungku ini.


"Pangeran, lepaskan aku!"

__ADS_1


Hanya kalimat itu yang bisa kukatakan di tengah bibirku yang sedang dicumbu. Aku pun mencoba bangkit walau tertahan olehnya. Aku tidak boleh membiarkan hal ini terjadi.


__ADS_2