Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Something


__ADS_3

Makan malam...


Aku datang ke ruang makan istana dengan mengenakan gaun berwarna hitam tanpa lengan. Tapi aku mengakalinya dengan menggunakan selendang agar tidak terlalu mencolok pandangan. Bagaimanapun aku harus menjaga kesopanan di negeri orang. Apalagi sedang bekerja di sini. Jadi walaupun gaunnya tak berlengan, tapi masih bisa tertutupi dengan selendangnya. Alhasil aku jadi percaya diri.


Malam ini kukenakan make up minimalis seperti biasanya. Hanya saja rambut kugulung rapi dan kugunakan jepit kupu-kupu pemberian dari Cloud. Sedang aksesoris yang kukenakan masih dari kedua pangeran. Aku tidak melepasnya sama sekali. Aku menghargai pemberian mereka dengan tetap memakainya. Dan kini aku dijamu oleh pelayan istana.


"Silakan Nona."


Kulihat raja dan ratu sudah duduk di kursinya. Tapi ternyata putrinya belum datang juga. Kami berbincang sejenak sambil menunggu Rose datang. Dan alangkah terkejutnya aku saat dia datang bersama seseorang yang kukenal. Dia adalah Xi, putra mahkota dari kerajaan Arthemis.


Dia lagi.


"Selamat malam Yang Mulia." Xi datang lalu memberi hormat kepada raja dan ratu negeri ini. Sedang Rose terlihat menggandeng tangannya.


Sepertinya pangeran yang disukai oleh putri Rose adalah pangeran Xi.


Rose sempat bilang padaku jika dia menyukai seorang pangeran. Dan aku rasa yang dimaksud itu adalah Xi. Rose tanpa malu menunjukkan rasa ketertarikannya pada Xi. Entah mengapa. Tapi mungkin ada kaitannya dengan dirinya yang diminta untuk segera menikah. Entahlah, aku duduk diam saja jika tidak ditanya.


"Silakan Pangeran Xi." Raja pun mempersilakannya duduk.


Xi dan Rose duduk bersampingan. Sedang aku duduk di seberang Xi. Sepertinya dia memang sengaja mengambil tempat duduk di seberangku. Yang membuatku bertanya-tanya, apa maksudnya? Meja makan yang besar ini pun seolah menjadi saksi di antara kami yang akan segera memulai makan malam. Para pelayan pun kembali berdatangan lalu menghidangkan sajian.


Dia selalu ada di manapun aku berada.


Beberapa dari pelayan menuangkan anggur untuk kami. Sepertinya makan malam ini adalah makan malam yang formal sekali. Terbukti semuanya mengenakan seragam kerajaan.


"Kalian tampak serasi." Ratu memuji putrinya dan Xi.


Saat itu juga aku menelan ludah. Ratu terlalu agresif sekali. Dia menampakkan keinginannya untuk segera menikahkan putrinya. Aku jadi khawatir Xi malah berpikiran macam-macam.

__ADS_1


"Terima kasih, Ibu." Rose pun tersenyum kepada ibunya.


Xi diam. Dia diam saja di hadapan Rose dan keluarganya. Tidak seperti saat bersamaku. Dia pun mengambil makanan pembuka malam ini lalu melirik ke arahku. Dia seringkali memerhatikanku saat aku tidak memerhatikannya.


"Senang rasanya ada dua negeri yang hadir di meja makan ini. Pangeran Xi, apakah sudah berkenalan dengan Nona Ara?" Raja membuka percakapan.


"Sudah, Yah. Aku yang mengenalkannya." Rose yang menjawabnya.


Raja mengangguk. "Bagus. Kalau begitu mari kita perbaiki hubungan antar negeri untuk masa depan yang lebih cerah lagi. Mari kita bersulang." Raja mengangkat gelas anggurnya.


Aku pun ikut mengangkat gelas anggurku. Aku tersenyum kepada raja dan ratu lalu segera ikut-ikutan meneguk anggur merah yang dituangkan ini. Dan rasanya, lidahku seperti terbakar. Tapi aku diam saja dan berusaha tersenyum senatural mungkin.


Astaga ... rasanya aneh sekali.


Jujur aku memang suka buah anggur tapi tidak dengan minumannya. Aku juga tidak tahu kenapa, mungkin karena lebih suka yang alami, aku menyukai hanya buahnya saja. Sedang minuman anggur rasanya lebih kecut, sepat dan membakar lidah. Sontak roman wajahku jadi berubah seketika. Dan sepertinya Xi menyadarinya. Kulihat dia tertawa seraya menundukkan pandangannya dariku.


Dia menertawaiku rupanya.


"Permisi Yang Mulia. Hidangan utama telah siap disajikan." Tiba-tiba seorang pelayan datang dan mengabarkan kepada raja.


"Bawakan ke sini," pinta raja kepada pelayannya.


"Baik, Yang Mulia." Pelayan itupun pergi lalu kembali membawakan hidangan utama untuk kami santap malam ini.


Xi memerhatikanku. Dari seberang dia terus memerhatikanku. Aku sendiri mulai grogi karena diperhatikan olehnya. Di depan Rose dia berani sekali memerhatikan wanita lain. Padahal Rose jelas-jelas sudah menunjukkan rasa ketertarikannya. Tetapi dia malah diam-diam mencuri pandang dariku.


"Silakan, Nona." Para pelayan berdatangan lalu menyajikan hidangan seafood kepada kami. Aku pun disajikan kepiting pedas manis oleh mereka.


"Terima kasih." Kulihat kepiting pedas manis ini menggugah selera. Tetapi aku belum boleh menyantapnya sampai raja memulainya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Nona Ara, bagaimana perkembangan pekerjaannya?" tanya ratu padaku.


"Ehem." Sontak aku berdehem. "Sampai saat ini sudah mendekati akhir, Yang Mulia. Besok bisa dikejar sampai selesai." Aku meyakinkan.


Ratu mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Angkasa pasti bangga memilikimu." Ratu tersenyum padaku.


"Terima kasih Yang Mulia. Suatu kehormatan bagi saya dipuji oleh Yang Mulia." Aku pun meletakkan tangan kanan di dada.


Sikap formal tentu saja harus kulakukan saat berhadapan dengan penguasa negeri ini. Sebagaimana yang kubaca dari buku Tuan Shane waktu itu. Tata cara bergaul kalangan bangsawan memang sangat merepotkan. Serba baku, formal, dan bahkan hampir-hampir saja tidak bisa memunculkan candaan. Salah sedikit bisa terkena hukuman.


Syukurlah kalau ratu senang dengan kinerjaku.


Lantas raja pun mempersilakan kami untuk segera menyantap makan malam ini. Aku pun seraya tersenyum mengambil garpu dan pisau untuk membelah kepiting pedas manis yang sudah disajikan. Tapi ... sesuatu tiba-tiba terjadi.


Kepalaku ....


Baru saja ingin membelah kepiting ini dengan pisau dan garpu, kepalaku terasa pusing sekali. Aku pun seperti memasuki alam bawah sadarku sendiri. Aku melihat cahaya hijau kebiru-biruan berputar cepat di penglihatanku. Aku pun melihat kepiting yang sama disajikan di atas meja. Namun, aku melihat seorang wanita bergaun putih yang menyantapnya. Tak lama kemudian kulihat dia jatuh dan tergeletak di dalam kamarnya. Saat itu juga kulihat lara dan ratu bersamaan. Mereka ada di kamar wanita itu.


"Arrgh ... kepalaku ...."


"Nona, Anda tidak apa-apa?" Tiba-tiba kurasakan tubuhku ini ditahan oleh seseorang. Sebisa mungkin aku mengembalikan kesadaranku ini.


"Pangeran ... Xi?" Kulihat Xi lah yang memegangiku agar tidak terjatuh.


"Astaga, cepat panggil tabib!" Kudengar ratu berteriak kepada pelayan.


"Baik, Yang Mulia!" Mereka pun berhamburan memanggil tabib.


Aku tak tahu kenapa, tapi yang pasti kekuatanku sudah mulai pulih kembali. Tak lama pandangan mataku pun kabur. Sepertinya aku akan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Ya Tuhan, pertanda apa ini?


Laju napasku mulai melambat. Aku tidak lagi bisa membuka kedua mataku. Hingga akhirnya aku pasrah terhadap apa yang akan terjadi. Tubuhku lemas dan tidak bertenaga. Dan setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.


__ADS_2