Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Hopeness


__ADS_3

"Mbok dengar ratu berbicara dengan siapa?" tanyaku pelan padanya.


Mbok Asri terlihat ketakutan. "Saya tidak bisa mengatakannya, Non. Tapi yang jelas salah satu penghuni istana yang dipercaya. Saya harap Nona lebih berhati-hati lagi ke depannya terhadap semua perintah yang ratu berikan. Saya khawatir terjadi apa-apa dengan Nona." Mbok menuturkan padaku.


Aku tersenyum lalu memeluknya. "Terima kasih Mbok, telah perhatian padaku. Walau tidak bersama lagi, aku masih merasa Mbok itu seperti ibuku. Semoga di lain kesempatan Mbok bisa menemaniku lagi." Aku pun melepaskan pelukan.


Mbok terlihat terharu. "Nona tidak perlu berterima kasih, Non. Ini sudah menjadi kewajiban saya dalam menjalankan perintah pangeran Cloud untuk menjaga Nona. Saya harap Nona selalu berada dalam lindungan-NYA di manapun Nona berada." Mbok mendoakanku.


Aku mengangguk, tersenyum lalu memegang kedua tangannya yang sudah mulai menua. Kusadari jika aku dan Mbok Asri memiliki ikatan emosional yang cukup baik sejak Cloud memintanya untuk menemani hari-hariku di istana. Dan aku pun tidak akan pernah melupakan kebaikannya.


Terima kasih, Mbok. Semoga Tuhan selalu melindungi Mbok sekeluarga.


Akhirnya apa yang ingin disampaikan oleh Mbok terdengar di telingaku. Aku pun akan mencoba lebih berhati-hati lagi terhadap apa yang ratu perintahkan padaku. Karena waktu tidak dapat terulang kembali. Jika sudah hilang ditakutkan tidak akan bisa kembali ke istana. Jadinya aku harus berjaga-jaga.


Satu jam kemudian...


Aku baru saja selesai sarapan, dan kini sedang berjalan menuju rumah kecantikan istana untuk meminta parfum di sana. Semilir angin pagi pun terasa lebih kencang saat ini. Awan-awan mendung juga tiba-tiba datang memenuhi langit Angkasa. Aku tidak tahu mengapa perubahan cuaca bisa secepat ini. Mungkin saja tidak lama lagi akan turun hujan.


"Ke mana ya Rain?"


Sampai saat ini aku belum juga bertemu dengan Rain. Sebelum kami berpisah kemarin sore, dia berpamitan padaku untuk berjaga di belakang istana. Aku pun mencoba mengerti pekerjaannya. Sehingga aku kembali ke kamar lalu beristirahat sambil membaca buku. Sampai akhirnya aku ketiduran dan tak tahu waktu. Lalu pada akhirnya aku beranjak bangun dan mandi menggunakan air hangat untuk menghilangkan rasa lengket di tubuhku. Namun ternyata, malamnya ratu malah datang menghampiriku.


"Kau tidak bisa memintanya ke Asia, Kak!" Tiba-tiba saja aku mendengar suara Rain dari jauh.

__ADS_1


Panjang umur untuknya. Baru saja kupikirkan, suaranya sudah kudengar. Itu berarti dia memang sedang banyak urusan sehingga tidak mempunyai waktu untukku.


"Aku terpaksa melakukannya." Kudengar ada suara Cloud juga di sana. Dia berkata seperti itu kepada Rain.


Entah apa yang terjadi, rasa-rasanya aku harus segera melihat ada di mana kedua putra mahkota itu berada. Aku pun bergegas melangkahkan kaki menuju belakang istana. Aku melewati teras belakangnya. Dan tak berapa lama aku menjumpai mereka sedang berada di halaman belakang istana. Tepatnya dekat gazebo besar yang ada di sini.


Rain? Cloud? Apa yang sedang mereka lakukan?


Karena tidak ingin kehadiranku diketahui oleh mereka, aku pun bersembunyi di balik dinding istana. Aku melihat keduanya tengah berjalan cepat menuju pintu gerbang belakang istana. Entah apa yang akan mereka lakukan.


"Tapi tetap saja tidak bisa, Kak. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Ara? Apa kau mau bertanggung jawab atasnya?!" Rain berseru, membuat langkah kaki Cloud terhenti.


Cloud membalikkan badannya ke Rain. Raut wajahnya sungguh tak enak dilihat olehku.


Rain menggelengkan kepala. "Zu juga mencintai Ara, Kak. Bagaimana jika ini hanya akal bulusnya untuk mendapatkan Ara kembali? Apa kau rela?" Dia bertanya lagi kepada Cloud.


Kulihat Cloud menghela napasnya berulang kali seraya menatap langit yang mendung. "Tidak ada pilihan lain. Jika ke Arthemis itu lebih membahayakan." Cloud menegaskan.


"Tapi Kak—"


"Rain, sudah!" Tiba-tiba Cloud membentak adiknya. "Jangan membebaniku dengan perkataanmu itu. Kau mengerti?!" Cloud terlihat menahan amarah kepada Rain.


Atmosfer sekitar terasa mencekam saat kedua putra mahkota itu berseteru. Aku pun hanya bisa melihat mereka dari balik dinding istana. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini selain bersembunyi.

__ADS_1


"Kak, Zu bisa saja berbuat macam-macam kepada Ara untuk mengikatnya. Sehingga Ara tidak bisa lagi kembali ke Angkasa. Apa kau tidak memikirkan hal itu? Aku tahu bagaimana Zu. Kau tidak menyaksikan sendiri bagaimana dia saat datang ke istana."


"Rain!!!"


Saat itu juga aku terkejut melihat Cloud mencabut pedangnya di hadapan Rain. Dia seperti amat kesal dengan ucapan Rain yang tidak kunjung berhenti.


Astaga! Astaga!


Aku pun ingin berlari ke sana untuk melerai mereka. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada salah satunya. Aku menyayangi keduanya.


Ya Tuhan, lindungi kedua pangeranku.


Aku cemas. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kulihat para prajurit yang berjaga di belakang istana pun memperhatikan keributan mereka tanpa ada yang berani menengahi.


"Kau tidak tahu beban apa yang sedang kupikul sekarang! Jika kau mampu, gantikan aku sebagai calon raja! Aku juga tidak ingin menanggung beban ini. Aku mencintai Ara. Tapi aku juga harus memikirkan negeriku, rakyat-rakyatku dan kesejahteraan mereka. Aku tidak boleh egois dengan menolak syarat yang diajukan oleh Zu. Jika menyelamatkan nyawa ayah saja aku tidak bisa, bagaimana bisa aku melindungi rakyat-rakyatku?!"


Sebuah kalimat Cloud ucapkan cukup untuk membuktikan bagaimana keadaannya saat ini. Dia amat tertekan dengan situasi yang terjadi. Aku belum pernah melihat Cloud semarah ini sampai mengeluarkan pedangnya, selain kejadian yang menghebohkan waktu itu di depan istana. Dari sini pula aku bisa melihat raut wajahnya yang dipenuhi amarah karena Rain tidak bisa menerima keputusan negosiasinya. Aku pun menarik napas dalam-dalam untuk mengondisikan hati ini. Tanpa terasa air mataku jatuh membasahi pipi.


Cloud, aku mengerti posisimu. Aku tidak keberatan untuk ke Asia. Sudah, jangan bertengkar lagi. Kumohon ....


Kuakui kedua saudara ini bak bumi dan langit yang mempunyai sudut pandang berbeda dalam mengolah suatu masalah. Rain yang tidak ingin ambil pusing dan cepat bertindak, sedang Cloud memikirkan masak-masak semua keputusannya. Dan aku hanya bisa menjadi penengahnya.


Aku harap keberangkatanku ke Asia dapat menyelamatkan negeri ini. Ya, semoga saja. Karena tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain menerima keadaan. Aku pasti bisa melewati semua ujian. Aku yakin itu.

__ADS_1


__ADS_2