
Esok harinya...
Pagi ini aku bangun lebih awal untuk menyelesaikan pekerjaanku. Pagi-pagi aku datang ke istana dan menyusun rencana kerjaku. Ternyata pekerjaanku di sini tidaklah seberat yang kubayangkan. Aku pikir akan mendekor seluruh ruang yang ada di dalam istana. Ternyata tidak, hanya sebagian ruangannya saja, ruang utama istana. Yang mana ruangan itu luasnya hampir memenuhi sepertiga istana.
Para penjaga kebersihan datang dan menyapaku yang sedang duduk di depan meja kerja. Aku pun mulai merangkai dekorasi ruangan ini. Kira-kira bagaimana agar dekorasi tampak mewah dan juga meriah. Karena katanya, minggu depan adalah hari ulang tahun putri yang ke dua puluh tahun. Jadi akan diadakan acara semeriah mungkin.
"Aku butuh pekerja peniup balon. Rasanya harus banyak balon yang ditiup dan diisi undian berhadiah. Aku harus berkoordinasi dengan putri. Kira-kira hadiah apa yang akan dia berikan kepada tamu undangannya? Biar dia sendiri saja yang menulisnya."
Kutandai daftar kerja hari ini. Kuselesaikan hingga tak terasa sang mentari telah terbit di ufuk timur. Lantas aku pun bergegas menuju ruang pelayan istana. Aku ingin meminta bantuan mereka untuk membantu memenuhi hal-hal apa saja yang diperlukan untuk dekorasi. Aku akan menyelesaikannya hari ini.
Semangat Ara! Kau pasti bisa!
Dengan semangat 45 aku pun melangkahkan kaki menuju ruang pelayan istana. Aku sampai tidak peduli lagi terhadap siapa orang yang kulewati. Aku fokus bekerja hari ini.
Beberapa jam kemudian...
Entah sudah jam berapa, aku baru saja selesai berdiskusi dengan putri negeri ini di kamarnya sendiri. Dan ternyata kamarnya seukuran apartemen mewah di duniaku. Luas sekali dengan segala perabotan lengkap. Namun sayangnya, putri tampak bosan berada di dalam kamar. Dan saat kudatang, dia begitu senang. Aku tak tahu apakah dia dipingit di dalam dan tidak boleh keluar? Aku sendiri tidak tahu bagaimana kultur negeri ini. Tapi ada baiknya jika tidak memikirkan urusan orang.
"Baiklah. Hari ini aku bisa tidur siang sebentar."
Karena bangun terlalu pagi, menjelang siang ini aku mulai mengantuk. Aku pun ingin beristirahat sambil membawa map dekorasiku. Aku kembali melangkahkan kaki menuju kamar yang kutempati. Para pelayan yang berpapasan denganku pun memberikan salamnya padaku. Hingga akhirnya aku sampai di koridor kamarku sendiri. Namun, seseorang ternyata telah menungguku.
"Xi?" Aku pun terkejut melihat pangeran itu berdiri di samping kamarku.
Aku segera melangkahkan kaki, berjalan mendekatinya. Kulihat dia seorang diri tanpa ada yang menemani. Mungkin dia ada urusan denganku sampai menunggu di samping pintu seperti itu.
"Pangeran." Aku tiba di hadapannya.
Map kudekap di dada, sedang penanya kupegang. Xi pun melihat kehadiranku. Dia kemudian berdiri tegak di hadapanku.
"Ara." Dia membalas sapaanku.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa kubantu? Kau menungguku di sini, bukan?" tanyaku.
Xi melihat ke arah kanan dan kiri. Kebetulan koridor kamarku ini sepi. Maklum, kamar yang kutempati berada di paling belakang. Jadinya jarang ada orang yang lalu-lalang. Terkecuali pelayan dan keluarga utama kerajaan.
"Aku ingin mengobrol sebentar. Kau sibuk?" Dia ingin bicara padaku.
Aku berpikir. Tidak biasanya dia seperti ini. Mungkinkah ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku? "Em, baik. Tapi tidak bisa lama, Pangeran. Aku harus tidur siang. Aku mengantuk sekali," kataku padanya.
Dia mengangguk. "Mari." Dia pun mempersilakanku berjalan lebih dulu.
Aku mengiyakan lalu mulai melangkahkan kaki. Entah mau diajak ke mana, aku mengikut saja. Sepertinya memang ada urusan yang ingin dia bicarakan. Jadinya aku penuhi saja ajakan bicaranya.
Beberapa menit kemudian...
Xi Ternyata mengajak ku ke air mancur yang ada di depan istana ini. Di mana dari sini kami bisa memandangi indahnya bunga-bunga yang tertata rapi. Di sini juga tidak terasa panas karena banyak pepohonan hijau yang disusun rapi. Dia pun bersandar dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya. Dia ingin berbicara santai denganku.
"Usiaku dua puluh tujuh tahun dan aku belum menikah." Dia memulai pembicaraannya.
"Hah." Dia mengembuskan napasnya seraya tertawa. "Aku dijodohkan dengan Rose," katanya, memberi tahuku.
"Apa?" Saat itu juga aku kaget.
"Kenapa? Kau cemburu?" tanyanya yang tak kumengerti.
"Eh, bukan! Bukan itu maksudku!" Aku segera mengelaknya.
"Lalu?" Dia mulai serius bicara padaku.
Xi duduk di sisi kananku, di pelataran kolam air mancur ini. Semilir angin yang berembus mengenai rambutku yang dibiarkan tergerai. Xi tampak memerhatikannya, tapi dia tidak berani merapikannya. Dia hanya sebatas memerhatikanku yang duduk di sampingnya.
"Aku rasa itu bagus, Pangeran. Bukankah lebih cepat menikah, lebih baik?" Aku mengajaknya berpikir.
__ADS_1
Dia tersenyum kecil di sampingku. "Rose masih kecil. Dia belum dewasa. Aku mencari yang dewasa, Ara." Dia memberi tahuku.
"Maksud Pangeran yang usianya lebih tua darimu?" tanyaku lagi.
Dia melirikku sesaat. Entah mengapa aku merasa seperti salah bicara saja. "Aku suka yang ... berpengalaman," katanya.
"Apa?!"
"Dalam arti dia bisa mengimbangiku. Karena terkadang kepribadianku bisa berubah-ubah." Dia mengatakannya.
Kepribadian berubah-ubah?
Saat dia mengatakannya, saat itu juga pikiranku tertuju kepada sesuatu sikap manusia yang memiliki kepribadian ganda. Atau bahasa kejiwaannya adalah bipolar. Mendengar hal ini tentu saja membuatku menelan ludah sendiri. Aku merasa cemas dengan orang yang mempunyai kepribadian ganda. Bisa-bisa hari ini baik, besoknya jadi serigala.
"Kau terkejut?" Dia memecah lamunanku.
"Em." Aku menelan ludah kembali. "Pangeran, bukannya seorang pria ditakdirkan untuk mengayomi pasangannya ya?" tanyaku padanya.
Dia menghela napasnya. "Mungkin." Matanya melihat keadaan sekitar air mancur ini. "Tapi ada kalanya pria ingin dimanja pasangannya. Layaknya bayi kepada ibunya." Dia menegaskan.
Aku menelan ludahku. Entah mengapa pikiranku jadi ke mana-mana.
Dia menoleh ke arahku, melihatku. "Bisa carikan aku pasangan yang dewasa?" Dia bertanya padaku.
"Hah ...???" Saat itu juga aku bingung sejadi-jadinya.
Bagaimana bisa seorang pekerja istana menjadi biro jodoh dalam waktu beberapa hari saja? Aku tak percaya jika Xi ingin mengajak ku berbicara seperti ini. Entah apa maksudnya, aku pun tak tahu. Dia seperti Rose saja yang banyak menanyakan tentang bagaimana cara menarik pria. Apakah ini suatu kebetulan atau rekayasa? Aku juga tidak ingin memikirkannya.
"Em ... menurutku ... Pangeran tampan, berkharisma dan juga terpandang. Rasanya tidak mungkin jika tidak ada yang tertarik pada Pangeran." Kuungkapkan pemikiranku di hadapannya.
Dia tersenyum malu di hadapanku. "Begitu ...." Dia seperti tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.
__ADS_1
Entah mengapa aku malah menanggapi pembicaraannya. Padahal hal ini tidak ada di dalam daftar kerjaku. Tapi apa yang kukatakan memang benar adanya. Tidak mungkin ada wanita yang tidak menyukainya. Bukankah begitu?