Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Reckless


__ADS_3

"Em Pangeran, aku mau istirahat sebentar. Boleh?" Aku meminta baik-baik padanya.


Zu mengangguk. "Maaf jika telah membuatmu risih, Ara. Selamat tidur." Dia pun bergegas pergi dari kamar ini.


Tak tahu mengapa saat dia membalikkan badan, hatiku terasa sakit sekali. Seperti sakit karena luka, namun tidak berdarah. Apakah ini yang juga dirasakan olehnya? Aku ingin sekali membuatnya bahagia tanpa harus bersama. Tapi, apakah bisa?


Kedua pangeranku, baik Rain maupun Cloud cemburu akut semua. Bagaimana bisa membagi waktu untuknya? Untuk kedua pangeranku saja sudah kewalahan. Sungguh aku bingung sekali. Ya Tuhan, aku butuh jawaban atas penantian ini. Sebenarnya harus di mana melabuhkan hati ini? Dermaga cinta begitu banyak dan membuatku kelimpungan untuk memilih. Aku butuh bimbingan agar tidak salah melangkah.


Maafkan aku, Pangeran Zu ....


Hanya kata maaf yang bisa kuucapkan di dalam hati untuk mengungkapkan rasa bersalah padanya. Lantas segera kututup pintu kamar lalu beranjak tidur. Aku ingin beristirahat terlebih dulu sebelum sampai ke Angkasa. Aku butuh merelaksasikan pikiranku.


Pagi harinya...


Nyenyak. Kata itulah yang mungkin cocok untuk menggambarkan tidurku semalam. Tak tahu sudah berapa lama tertidur, saat kubuka mata semburat kuning telah terbit di ufuk timur. Aku pun lekas-lekas keluar dari kamar untuk melihat momen matahari terbit. Aku berjalan cepat ke anjungan kapal lalu berdiri di sana. Kunikmati pagi ini dengan bahagia.


Indah sekali ....


Lautan luas nan biru membentang di depan mataku. Burung-burung pencari ikan pun berterbangan di angkasa. Sungguh indah ciptaan Yang Maha Kuasa. Apalagi bisa melihat matahari terbit dengan sempurna. Rasanya bersyukur sekali.


Siapa yang tidak terpana melihat bola api besar menghangatkan bumi? Dialah sang mentari yang kehadirannya selalu dinanti. Bayangkan jika bumi tanpa matahari. Sepanjang hari hanya akan gelap gulita dan juga dingin. Dan hal itu amat tidak memungkinkan bagi penduduk bumi. Karena lama-kelamaan mereka bisa mati.


Terima kasih, Tuhan. Telah menciptakan segala sesuatunya berpasangan.


Kunikmati udara segar sambil melihat pemandangan indah yang membentang luas di hadapanku. Mungkin tak lama lagi juga kapal ini akan sampai di pelabuhan timur Angkasa. Itu berarti hanya butuh beberapa jam saja sudah bisa sampai ke istana. Senang rasanya bisa membawa serta bunga malaikat ini. Pastinya ini adalah kabar yang menggembirakan.

__ADS_1


"Ara ...." Tiba-tiba kudengar suara Zu dari belakang.


"Pangeran?" Kulihat dia datang dengan mengenakan pakaian kerajaannya.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu." Dia menuturkan padaku.


"Tentang apa?" Aku antusias menanggapinya.


Dia memajukan langkah kakinya, mendekat ke arahku lalu berdiri di sisi kanan ini. Aroma parfumnya selepas bangun tidur entah mengapa terasa lebih harum di hidungku. Mungkin karena udara kencang sehingga menebarkan aromanya. Dan kini tanpa dia sadari, aku menghirup dalam-dalam aroma parfum miliknya.


"Aku ingin membicarakan hal penting dari hati ke hati. Aku tidak ingin ada yang ditutup-tutupi." Dia meminta.


"Maksud Pangeran?" tanyaku memastikan.


Dia memutar tubuhnya ke arahku. "Ara." Dia menatapku dalam. "Apakah namaku benar-benar sudah tidak ada lagi di hatimu?" tanyanya yang sontak membuatku terdiam seribu bahasa.


Lagi. Zu menanyakan hal yang sangat ingin kuhindari. Kami berdiri berhadapan dengan jarak yang amat dekat sekali. Tubuh tingginya membuatku harus mendongakkan kepala untuk melihat lebih jelas bola mata hitamnya. Saat itu juga aku mulai merasa tak berdaya. Aku seperti terhipnotis saja.


"Pangeran, aku—"


"Ara, cukup jawab iya atau tidak. Aku tahu kau gadis yang jujur. Maka jujurlah tentang hatimu sendiri." Dia meminta lagi.


Aku menelan ludah, menarik napas dalam-dalam seraya mengalihkan pandangannya darinya. Aku menunduk dan melihat ke bawah, seolah tidak sanggup untuk menjawab jujur pertanyaannya. Bagaimana mungkin bisa menjawab iya, sedang getaran di hatiku masih terasa bila di dekatnya. Bagaimana mungkin mengatakan tidak, sedang aku terikat janji dengan kedua pangeran Angkasa. Haruskah aku mengatakan hal yang sejujurnya tentang hatiku ini? Sungguh aku bingung sekali.


"Pangeran, sepertinya aku tidak pantas untuk menjawab pertanyaan itu. Aku sudah akan menjadi istri orang." Secara halus aku memintanya untuk tidak bertanya lagi.

__ADS_1


Zu menghela napasnya. "Kata-kata itu selalu kau ulang di depanku, Ara. Tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Kau tahu, aku mencintaimu. Dan perasaan ini tidak akan pernah berubah. Bisakah kau beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Aku berjanji akan melindungimu, tidak hanya dari titah raja. Tapi, segenap jiwa aku akan menjagamu." Dia mengatakannya sungguh-sungguh.


"Pangeran ...."


Saat itu juga dilema kembali melanda hatiku. Dia seperti tahu apa yang kutakutkan jika berkata jujur. Namun, aku masih belum bisa mengungkapkannya. Aku ragu dengan hatiku sendiri bilamana pernyataan itu keluar dari mulutku. Aku khawatir akan menjadi boomerang suatu hari nanti. Aku harus menjaga perasaan kedua pangeranku di sana. Aku tidak boleh mengkhianati mereka.


"Pikirkan kembali. Bagaimana bisa kau membagi waktu untuk dua pria dalam waktu bersamaan? Pikirkan kembali bagaimana anak-anakmu meminta kasih sayang dari ayah biologis mereka. Pikirkan kembali bagaimana pandangan orang awam jika kau memiliki suami dua. Pikirkan kembali—"


"Cukup, Pangeran." Aku segera menghentikan kata-katanya. "Aku mengerti apa yang kau maksudkan. Aku mengerti konsekuensi dari pilihanku ini. Jadi, tolong relakan aku bersama mereka. Tolong ya." Aku meminta tanpa memedulikan bagaimana perasaannya.


"Ara ... kau keras kepala." Dia menghardikku seraya menelan ludah.


Aku tersenyum. Aku memang keras kepala. Mungkin juga tidak tahu terima kasih karena pernah diselamatkan olehnya. Namun, jika tidak begini, aku tidak bisa mempertahankan hatiku. Bagaimana mungkin bisa bertahan dari apa yang segala dia punya. Pastinya semua wanita akan luluh di hadapannya. Aku harap ini adalah jalan terbaik untukku. Ya, aku berharap itu.


"Kau tahu, kau telah menghancurkan hatiku. Lagi dan lagi. Tidak hanya sekali kau melakukan, Ara. Aku rasa ... tak pantas lagi untuk melanjutkan hidup ini setelah hatiku dipatahkan berulang kali. Terima kasih. Sampai jumpa kembali." Zu beranjak pergi.


"Pangeran?!" Aku terkejut dengan maksud kata-katanya.


"Jika aku pergi, tanyakan kembali pada hatimu. Apakah kau menyesal dengan perkataanmu ini?" Dia menoleh sedikit ke belakang, ke arahku.


Zu dengan cepat menuruni anak tangga selepas mengatakan hal itu. Dia juga melepas baju kerajaannya. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan. Aku merasa bersalah, tapi juga tak berdaya. Namun, tak berapa lama kemudian aku dibuat terkejut olehnya.


"Pangeran, apa yang kau lakukan?! Pangeran!!!" Aku pun berteriak histeris saat melihatnya berjalan ke ujung kapal dan menaiki pagar pembatasnya.


Dia ingin melompat ke lautan?!

__ADS_1


"Selamat tinggal, Ara. Semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu kembali."


"Pangeran!!!"


__ADS_2