
Dia kembali mencoba untuk melepas simpul tirai jendela itu. Namun sepertinya, dia masih kesusahan. Mungkin simpul jendelanya terlalu rumit untuk diuraikan. Aku pun tak tega melihatnya.
"Coba biar aku saja." Aku pun meminta pelayan pria itu turun dari tangga.
Tangga yang digunakan adalah tangga dua kaki, sama seperti di duniaku. Hanya saja tangga yang dipakai di sini lebih tinggi beberapa meter. Dan karena kasihan, aku segera turun tangan untuk membantu. Pelayan pria itupun turun lalu aku segera bergantian menaiki anak tangganya. Aku sendiri yang akan melepas simpul itu.
Semoga tidak jatuh.
Dengan gagah berani aku menaiki anak tangga dua kaki ini. Tanpa rasa takut atau gentar terhadap ketinggian. Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku sebagai pengawas pekerjaan. Jadinya jika ada yang kesulitan, aku harus turun tangan. Dan sesampainya di atas segera kulihat jenis simpul yang digunakan untuk tirai ini.
Kuperhatikan saksama dan kulihat memang sedikit rumit. Tapi tak ada yang sulit bagiku. Aku pun berpikir cepat untuk mencari cara melepaskan simpulnya. Dan ya, aku berhasil.
"Akhirnya ...."
Dengan rasa bahagia bercampur senang, aku berhasil melepaskan simpul tirai ini. Lantas kuambil tirainya lalu kulempar ke bawah. Namun, ternyata ada sesuatu yang menyangkut pada tirainya sehingga aku harus menggerak-gerakkannya. Tanpa sadar jika aku sedang memakai hak tinggi. Lalu kemudian...
Ak-aku kehilangan keseimbangan?!!
Jelas saja aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku terhuyung saat berhasil melepas tirai ini. Kakiku terpleset dan tanganku tak sempat lagi memegang tangganya. Lalu akhirnya...
"Akh!" Aku jatuh.
Ya, aku jatuh. Tak ada yang bisa kuharapkan saat ini selain keajaiban semesta. Saat sudah tahu akan jatuh, pasti di dalam hati banyak-banyak berdoa. Begitu juga denganku. Tapi anehnya, aku tidak merasa sakit saat jatuh. Aku yang pasrah ini pun terheran sendiri. Kenapa tidak sakit saat jatuh dari tangga? Sesaat kemudian aku menyadari apa yang terjadi. Kubuka kedua mata ini untuk melihat apa yang terjadi. Dan ternyata...
"Pa-pa-pangeran ...?!" Aku terkejut saat jatuh di tangkapan seorang pangeran.
"Kau baik-baik saja?"
Dia adalah Xi. Dia datang ke istana ini lagi. Dan kini aku berada di gendongannya. Gendongan ala pengantin yang membuat jantungku berdegup kencang sekali. Suasana canggung pun seketika kurasakan. Aku digendong olehnya.
Pangeran, kau datang lagi ....
Kami saling bertatapan. Sinar bening matanya seolah menghipnotis penglihatanku. Detak jantungku pun jadi tak menentu. Baru kali ini terjadi kontak fisik di antara kami. Aku pun menelan ludah berulang kali.
__ADS_1
"Ak-aku ... baik-baik saja," kataku terbata.
Dia masih menatapku. Seolah tidak ingin melepaskanku dari gendongannya. Aku pun melihat keadaan sekitar yang dipenuhi oleh mata, tertuju ke arah kami. Lantas aku pun menamparnya.
"Aw!" Seketika dia tersadar.
Aku segera turun lalu berdiri di hadapannya. "Maaf, Pangeran. Aku tidak sengaja." Aku pun segera meminta maaf padanya.
"Hah? Apa?" Dia seperti tak percaya dengan apa yang kukatakan.
Aku melirik ke arah kanan dan kiri. "Terima kasih telah menolongku. Tapi terlalu lama melihatku di tempat terbuka, itu tidak baik. Aku permisi." Aku pun segera beranjak pergi.
Aku tak peduli apa yang dia pikirkan tentangku. Aku pergi saja agar tidak menambah masalah. Di tempat ini sungguh ramai orang-orang yang sedang bekerja. Sedangkan dia menatapku lama-lama. Jadi ya kutampar saja agar dia tersadarkan. Dan ya, ternyata benar dia tersadarkan dari tatapan lamanya.
Aduh, Pangeran. Kenapa menatapku seperti itu sih? Aku kan jadi grogi.
Aku berbalik ke belakang, melihatnya terdiam di dekat tangga sambil memegangi pipinya. Beberapa langkah kemudian aku pun tersadar jika dia adalah seorang putra mahkota dari negeri yang besar.
Saat itu juga aku merasa dirundung masalah. Entah kenapa aku bisa melakukan hal ini padanya.
Aduh, Ara ... seenaknya menampar orang.
Aku pun menelan ludah berulang kali. Aku berharap dia tidak meminta pertanggungjawabanku nanti. Jika iya, tamatlah riwayatku di sini. Aku tidak punya apa-apa untuk ganti rugi.
Ya Tuhan, selamatkan aku dari kesalahan yang tak kusengaja ini.
Orang-orang yang sedang bekerja memandangiku dengan tatapan heran. Aku pun sebisa mungkin menebalkan muka agar tidak terlalu malu. Sudah ditolong saat hampir terjatuh, bukannya berterima kasih malah menamparnya. Sungguh kejadian ini di luar dugaan sama sekali. Semoga saja Xi tidak menaruh dendam padaku.
Malam harinya...
Matahari baru saja tenggelam. Aku pun baru selesai mandi dan sedang menyisir rambutku. Aku menggunakan gaun tidur karena berniat akan segera tidur di awal malam. Tubuhku lelah sekali hari ini. Jadinya ingin cepat-cepat tidur.
"Permisi Nona Ara."
__ADS_1
Tiba-tiba Lara datang ke kamarku. Dia datang mengantarkan teh hangat untukku. Padahal aku juga akan keluar kamar sebentar untuk meminta susu hangat. Tapi dia sudah datang duluan dan mengetuk pintu.
"Lara, apa ada kabar untukku?"
Aku segera bertanya padanya. Tentunya dia tidak mungkin datang tanpa ada perintah dari raja ataupun ratu. Namun, kulihat malam ini gerak-geriknya sedikit aneh.
"Maaf, Nona. Saya ingin mengabarkan jika paduka raja ingin mengajak Nona makan malam bersama keluarganya." Dia menuturkan.
"Makan malam?"
"Benar, Nona. Paduka ingin berbincang untuk menambah keakraban," cetusnya padaku.
Eh? Tumben? Ada apa ya?
Mau tak mau pikiranku tertuju pada kerja sama yang terjalin antar kedua negeri. Bagaimanapun mereka tahu jika Cloud akan menikahiku. Tentu saja hal ini akan ikut berpengaruh untuk kedua negeri ke depannya.
"Baik. Nanti aku ke sana. Aku masih ingin beristirahat dulu," kataku padanya.
Lara mengangguk. "Kalau begitu saya permisi Nona." Dia berpamitan padaku.
Aku mengiyakan. Lara pun berjalan menuju pintu. Tapi, entah mengapa sebelum sampai di pintu, langkah kakinya terhenti. Aku pun merasa heran dengan sikapnya.
"Ada apa, Lara? Apakah ada sesuatu yang terlupa?" Aku pun kembali bertanya padanya.
Lara masih diam di tempat yang membuatku curiga. Tersirat dia seperti sedang menyimpan sesuatu dariku. Dia kemudian berbalik menghadapku. Dari roman wajahnya menyiratkan ingin mengatakan sesuatu padaku. Entah apa itu.
"Em, maaf Nona. Saya permisi." Dia membungkukkan badan lalu bergegas pergi.
Dia berlalu. Pintu ditutupnya dari luar. Aku pun merasa heran dengan sikapnya malam ini. Rasa penasaran mulai menyelimuti hatiku. Aku jadi ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi?
Ada apa ya dengan Lara? Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Kenapa aku merasa gelagatnya aneh malam ini?
Mungkin lebih baik aku beristirahat terlebih dulu. Aku juga harus berdandan serapi mungkin sebelum datang ke meja makan. Ya, raja bersama keluarganya akan makan malam bersamaku.
__ADS_1