Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Busy


__ADS_3

Ya Tuhan, apakah ini sebuah pertanda untukku?


Tak tahu mengapa dia bisa menghampiriku di sini. Kulihat dari kejauhan putri negeri ini juga datang terburu-buru. Rose menemui Xi dengan raut wajah yang semringah. Entah ada hubungan apa di antara keduanya.


Ara, bersikaplah biasa. Semesta sudah memberi jalan untukmu mendapatkan informasi tentang jatuh sakitnya raja. Jadi, manfaatkan sebaik mungkin.


Mungkin ini sudah jalan takdirku bertemu kembali dengannya. Tapi yang tidak habis pikir, mengapa dia bisa ada di Negeri Bunga? Apakah diundang oleh Rose ke pesta ulang tahunnya? Tapi bukankah pesta ulang tahunnya masih lama? Sungguh kadang manusia mempunyai keterbatasan dalam hal menerka. Begitu juga dengan diriku saat ini. Aku pun hanya bisa terdiam di hadapannya sambil menunggu kedatangan Rose ke sini. Aku bingung harus bagaimana.


Aku harus berhati-hati. Aku tidak tahu bagaimana pria ini. Ya, aku harus berjaga-jaga dari bahaya yang bisa datang kapan saja.


Beberapa menit kemudian...


Tegang. Itulah suasana yang kurasakan saat berhadapan dengan pria bernama Xi ini. Dia ternyata seorang pangeran yang kutahu pasti dari mana dirinya berasal. Dia adalah putra mahkota dari kerajaan Arthemis yang sudah puluhan tahun berperang dingin dengan Angkasa, karena perbedaan pendapat mengenai batas teritorial negerinya. Dan kini jantungku berdebar bukan main saat diminta oleh Rose untuk duduk bersamanya. Aku pun tidak jadi melanjutkan pekerjaanku karena permintaan Rose sendiri.


"Nona Ara, kenalkan dia adalah Pangeran Xi. Dia berasal dari Arthemis." Rose menuturkan padaku.


Aku menelan ludah karena sudah tahu siapa dirinya. "Salam Pangeran." Aku pun membungkukkan sedikit badan ini kepadanya.


Kulihat Xi tersenyum. Namun, tak lama Rose menggandeng tangannya. Tentu saja hal itu membuatku bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka?


"Pangeran, bagaimana jika kita makan siang bersama?"


Dengan manjanya Rose berkata seperti itu kepada Xi. Sedang aku seperti obat nyamuk di sini. Aku hanya diam dan memerhatikan mereka saja.


Aku tidak boleh berada di situasi seperti ini. Aku harus pergi.

__ADS_1


Lantas aku pun beranjak berpamitan. "Em maaf, Putri. Masih ada pekerjaan yang belum kuselesaikan. Aku permisi ya." Aku berpamitan padanya.


"Nona." Rose malah menahanku. "Makan siang lah bersama kami. Aku tidak enak hanya berdua saja." Rose tidak ingin aku pergi.


Saat itu juga suasana canggung kurasakan di antara kami. Sedang Xi tampak memerhatikanku sedari tadi. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, aku hanya ingin pergi dari situasi ini. Karena bagaimanapun aku belum tahu siapa Xi. Jadinya aku harus berhati-hati.


Aku tersenyum palsu. "Mohon maaf, Putri. Masih ada dua puluh pelayan lagi yang belum kuukur badannya. Aku permisi." Aku benar-benar berpamitan. "Mari, Pangeran."


Aku pun berpamitan kepada pria bernama Xi itu. Tak tahu kenapa Xi berubah sikap saat Rose datang. Dia lebih banyak diam dan tersenyum padaku. Apakah dia seorang pria yang memiliki kepribadian ganda? Aku sendiri belum dapat memastikannya. Yang jelas saat ini aku harus berhati-hati. Aku tidak boleh terjebak olehnya.


Ara, hati-hati. Dia berasal dari Arthemis.


Bisa saja dia mendekatiku karena aku calon ratu Angkasa. Atau bisa saja dia mempunyai maksud lain dari pertemuan ini. Sungguh aku tak percaya jika akan bertemu kembali dengannya di negeri ini. Di Negeri Bunga dengan sejuta pesonanya. Aku rasa harus tetap waspada.


"Hah ... akhirnya ...."


Cuaca malam ini tampak sedikit berbeda. Aku baru saja pulang dari rumah konveksi istana membicarakan busana yang diinginkan raja dan ratu Bunga. Begitu juga dengan putrinya yang meminta model terbuka. Aku sendiri hanya menyampaikan keinginan mereka saja. Tinggal bagaimana pihak konveksi istana yang mengeksekusinya.


"Sudah jam berapa ya?"


Aku tak tahu sudah jam berapa ini. Kulihat langit sudah gelap sekali. Awan mendung juga mulai menghiasi malam seperti akan turun hujan. Tapi untungnya saja pekerjaan pertamaku telah selesai. Urusanku dengan pihak konveksi istana telah diselesaikan.


Aku sudah menjalankan kewajibanku sebagai seorang perancang busana. Semaksimal mungkin kupenuhi keinginan mereka terhadap busana yang akan dipakainya. Sedang kurang lebihnya kuserahkan kepada pihak konveksi istana. Aku yakin mereka lebih ahli dalam hal ini. Karena mereka sudah berpengalaman dalam bidangnya.


Kebetulan jarak antara istana dan rumah konveksi sedikit jauh. Mungkin ada sekitar tiga sampai empat kilometer. Sehingga aku harus menaiki kuda untuk sampai ke sana. Aku pun meminjam kuda milik prajurit yang berjaga karena tidak mungkin pergi berjalan kaki, apalagi seorang diri.

__ADS_1


"Baiklah. Mari mandi terlebih dahulu."


Akhirnya aku sampai juga di dalam kamarku setelah berjalan cukup jauh. Kehidupanku di sini sangat dipadati oleh pekerjaan. Jadinya tidak sempat memikirkan hal yang lainnya. Bahkan untuk mandi sore pun harus dilakukan malam hari karena pekerjaan belum selesai. Seperti saat ini yang baru kembali ke kamar setelah seharian bekerja di istana.


Lantas aku menyiapkan air hangat di dalam bak mandi. Aku ingin berendam sejenak setelah rasa lelah dan letih itu melanda. Tak lupa kutuangkan sabun cair beraroma terapi ke dalam bak mandi ini. Aku pun siap untuk memanjakan diri.


"Hah ... nyamannya."


Segera kulepas pakaianku lalu berendam di bak mandi yang telah kutuangkan sabun beraroma terapi. Aku pun bermain busa sambil menghirup dalam-dalam aroma terapi dari sabun cair ini. Aku mengingat kembali apa yang telah kulalui hari ini. Rasa-rasanya ada sedikit hal yang mengganjal. Tapi, aku tidak ingin memusingkannya. Aku bawa santai saja.


"Sepertinya di istana ini pernah terjadi keributan antar keluarga utama kerajaan."


Tadi saat di rumah konveksi istana, aku sibuk bukan kepalang. Aku juga menyerahkan seratus daftar ukuran seragam untuk pelayan istana. Dan kepala konveksi tampak geleng-geleng kepala melihatku. Dia tak percaya dalam waktu sehari saja semua pelayan sudah kuukur bajunya. Alhasil kami sempat mengobrol sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan. Dimana sebuah informasi kudapatkan darinya. Tentang kedua putri negeri ini.


Di teras depan konveksi istana sore tadi...


Semburat merah mulai menghiasi angkasa. Secangkir kopi pun menemani perbincangan yang akan terjadi. Aku duduk bersebelahan dengan kepala konveksi Negeri Bunga. Yang mana meja bundar kecil memisahkan kami. Dia pun menatap kekejauhan sebelum memulai pembicaraan. Aku sendiri masih menanti apa yang ingin dia bicarakan.


"Sudah lama sekali negeri ini tidak kedatangan tamu wanita." Pria seusia kakekku itu mengawali pembicaraannya.


"Maksud Paman?" tanyaku segera.


Dia menghela napasnya. "Sejak putri Jasmine tiada, negeri ini menutup rapat-rapat pendatang wanita dari berbagai negeri," katanya yang sontak membuatku terheran.


"Ap-apa? Apakah maksud Paman harus ada surat izin khusus untuk datang ke negeri ini?" tanyaku memastikan.

__ADS_1


__ADS_2