
Sungguh jika bukan sedang berada di gazebo, tentunya aku sudah menciumnya. Aku tidak akan malu-malu lagi untuk mencurahkan perasaan ini. Toh, dia juga akan menjadi suamiku nanti. Jadinya tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi. Terkecuali hal-hal yang tidak disukainya, mungkin lebih baik aku menyimpannya sendiri.
"Ara."
"Ya?"
"Aku punya waktu dua jam ke depan. Setelah itu akan sibuk lagi mengurus berbagai administrasi. Kau mau pergi bersamaku?" tanyanya.
"Em ...." Aku berpikir.
"Tak, apa. Kita jalan-jalan sebentar, mau?" tanyanya lagi.
Sejenak aku berpikir waktu yang tersedia untukku. Rasanya dua jam amatlah sebentar untuk berduaan. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus menerimanya. Dia memang sangat sibuk sekali.
Cloud mengusap kepalaku. "Baiklah. Kita habiskan sarapan terlebih dahulu. Baru ke vila danau cinta." Dia membuat keputusan.
"Vila?" Aku terheran.
"Ya. Di vila kita bisa bersama tanpa perlu khawatir dengan penghuni istana yang melihatnya. Kita punya waktu dua jam untuk bersama. Jadi kita gunakan sebaik-baiknya, ya?" Dia memegang erat tanganku.
Aku mengangguk. Mungkin ini adalah kesempatan bagi kami untuk mencurahkan perasaan rindu yang ada. Jadi ya sudah. Kuselesaikan sarapanku lalu bersiap menuju danau angsa putih bersama Cloud. Sepertinya dua jam cukup untuk melepas rindu walaupun tak lama. Ya, tak apa. Asal bisa bersamanya, aku sudah sangat senang. Semoga di lain kesempatan dia mempunyai waktu yang lebih banyak untukku. Ya, aku berharap itu.
Beberapa jam kemudian...
__ADS_1
Indah, mungkin hal itulah yang kurasakan. Setelah menghabiskan waktu bersama Cloud dua jam lamanya, kini aku sedang beristirahat di depan teras rumah kecantikan istana. Aku ingin beristirahat sejenak setelah berjalan-jalan bersamanya. Dan sekarang dia tengah disibukkan lagi dengan segala pekerjaan administrasinya. Aku pun memakluminya.
Aku duduk di teras sambil meminum teh lemon yang disajikan pelayan rumah kecantikan. Aku sengaja datang ke sini untuk menenangkan pikiran sekaligus menghirup dalam-dalam aroma terapi yang disediakan. Katakanlah jika aku ingin relaks sebentar sebelum beraktivitas lagi. Ya, karena setelah ini aku harus bersiap-siap pergi ke Negeri Bunga. Pastinya ratu juga sudah menunggu keberangkatanku.
"Waktu cepat sekali."
Kulihat awan putih berarak di angkasa. Sangat banyak dan membentuk lukisan abstrak. Kini langit biru itu dipenuhi awan-awan putih yang indah. Seindah hatiku saat bersama Cloud di danau cinta. Tapi sayang, hanya sebentar saja. Rasanya aku ingin kembali mengulangnya.
Kami banyak bertukar pikiran sambil saling bersandar. Beberapa belaian lembut darinya pun kurasakan yang membuat hati ini semakin terikat. Ya, Cloud adalah pria yang memikatku sejak awal pertemuan. Bahkan sampai sekarang sangat sulit untuk dilupakan. Jika bukan karena dirinya, mungkin aku tidak akan pernah berada di Angkasa. Dialah pria yang banyak berjasa dalam hidupku, Cloud Sky.
Di danau angsa putih, Cloud banyak bercerita tentang pertemuannya dengan Negeri Terusa dan Antara. Katanya, Terusa meminta pihak Angkasa untuk segera melatih kekuatan militernya karena Arthemis mendesak mereka menyerahkan sebagian wilayah. Tentu saja hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Cloud harus cepat-cepat mengambil tindakan. Dan rencana hari ini Rain akan disibukan dengan rapat besar antar panglima tinggi Angkasa. Mereka akan melakukan tindakan pencegahan sebelum sesuatu terjadi. Entah bagaimana nantinya, aku harap ini hanya gertakan Arthemis saja.
Aku banyak bertanya tentang Arthemis kepada Cloud. Tapi Cloud seperti enggan menceritakan bagaimana negeri itu yang sebenarnya. Namun, karena sangat ingin tahu, aku merayunya hingga akhirnya dia jujur padaku. Dan katanya Arthemis adalah negeri yang disegani dalam bidang militer dan juga perekonomian. Hanya ada satu negeri yang sebanding dengannya. Dan itu adalah Asia.
"Ara, entah mengapa aku melihatmu bertambah cantik saja."
Masih teringat kata pujian itu darinya. Selepas membicarakan urusan kerajaan, kami memasuki pembicaraan dari hati ke hati. Di mana kami duduk di teras vila sambil menikmati pemandangan sekitar danau cinta. Dan Cloud membelai rambutku, menyentuh telingaku dan menarik daguku dengan jarinya. Kami pun bertatapan dengan penuh cinta.
"Cloud, kenapa kebersamaan kita cepat sekali?"
Aku merenungi kejadian tadi. Dimana dia meraih bibirku, mengecupnya hingga aku merasakan betapa lembut bibir hangat itu menyentuh bibirku. Aku pun membiarkannya mencium bibir ini. Hingga akhirnya tangannya mulai bergerak dan memegang lenganku. Cloud meminta izin agar daging lunak itu dapat beradu. Aku pun membuka sedikit mulutku. Dan saat itu juga kurasakan ada sesuatu yang menyelinap masuk ke dalam mulutku, mengajak lidahku beradu.
Getaran yang kurasakan begitu hebat hingga tanpa sadar tanganku bergerak sendiri untuk melingkar di lehernya. Kami sama-sama menikmati ciuman yang semakin lama semakin menghanyutkan. Hingga napas itu terasa habis, kami memulainya dari awal lagi. Dan akhirnya Cloud mengangkat tubuhku, menggendongnya masuk ke dalam vila danau cinta. Kami melampiaskan sepenuhnya perasaan ini. Tanpa takut ada yang mengganggu atau melarangnya. Aku merasa sangat dimilikinya saat itu.
__ADS_1
Cinta tanpa sentuhan rasanya tidak mungkin bagi sepasang insan yang sedang dimabuk cinta. Mungkin begitu juga dengan kami. Kami pun bercanda di atas kasur dengan mesranya. Tentunya tanpa melepaskan pakaian sedikitpun. Cukup dengan berciuman dan menyentuhnya dari luar, itu saja sudah membuat kami melayang ke angkasa. Dan sepertinya setelah ini tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi karena kami sudah saling mengetahui. Aku begitu senang bisa berduaan dengannya walaupun tidak lama.
Di vila danau cinta...
"Hah ...." Dia kemudian merebahkan diri di sampingku setelah lelah bercanda.
"Cloud?"
"Sudah sangat mengeras. Terlalu berbahaya untuk dilanjutkan." Dia berkata padaku.
"Eh?!" Aku pun terkejut.
Dia kemudian memelukku sambil tiduran di atas kasur. "Aku ingin segera cepat menikah, Ara. Aku tak sanggup lagi," katanya seraya memelukku.
Saat itu juga aku tahu hal apa yang dia maksudkan. Aku juga tidak mungkin melanjutkan candaan ini bersamanya.
Aku membalas pelukannya. "Kau sudah melihat semuanya, Cloud." Aku mengingatkan kejadian malam itu.
Cloud memelukku erat. "Maaf. Seharusnya aku tidak seperti itu." Dia meminta maaf lalu mencium keningku.
Aku mendongakkan kepala. "Kau bersaing terlalu keras dengannya." Kutatap bola mata birunya.
Cloud mengangguk. "Harusnya tidak seperti itu. Andai mempunyai lebih banyak waktu, tentunya kau akan jadi milikku." Dia menegaskan.
__ADS_1