Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Look at Me


__ADS_3

"Ara, kau datang ...." Dia tersenyum senang melihat kehadiranku. Dari bola matanya tersirat kebahagiaan karena bisa melihatku kembali.


"Pangeran Zu, maaf ... aku tidak tahu jika sudah sampai di istana." Entah mengapa malah kata-kata itu yang keluar dari mulutku.


Zu tersenyum. "Tak apa, Ara. Ini memang istana kita," katanya yang membuatku terdiam seribu bahasa.


Benar dugaanku. Ternyata pangeran negeri ini masih mengharapkanku kembali bersamanya. Padahal aku telah menegaskan jika memilih kedua pangeran Angkasa dibandingkan dirinya. Tetapi ternyata dia belum menyerah begitu saja. Dia masih berjuang untuk mendapatkanku. Lalu jika sudah begini, aku harus bagaimana?


"Ara ...."


Dia melangkahkan kaki untuk mendekat ke arahku. Saat itu juga jantungku berdetak kencang tak menentu. Tak bisa kutepiskan pandangan ini darinya. Hatiku pun seolah menuntun agar pergi ke sana, menghambur ke pelukannya. Namun, aku berharap ini hanyalah bunga tidurku. Aku belum terjaga dari mimpiku.


Beberapa jam kemudian...


Mentari mulai terbit. Para pelayan pun datang ke kamar untuk memberikan pelayan yang terbaik kepadaku. Sepertinya Zu telah meminta pelayan-pelayan itu untuk datang dan melayaniku. Aku pun diminta mandi susu oleh mereka, mengenakan pakaian mewah dan juga didandani sedemikian cantik rupanya. Hingga aku hampir tidak mengenali diriku sendiri.


Aku mengenakan gaun berwarna merah yang mekar seperti mawar indah. Bagian bahunya sedikit terbuka namun berlengan panjang. Kalung pemberian dari Rain pun masih melingkar di leherku. Semua pemberian dari kedua pangeran itu masih kusimpan dan kujaga baik-baik. Terkecuali jepit kupu-kupu yang berwarna hijau zamrud. Entah ke mana gerangan benda itu berada.


"Nona, kita akan sarapan pagi bersama." Seorang pelayan memberi tahuku.


Aku mengangguk. Hanya hal itulah yang bisa kulakukan saat sudah terlanjur datang ke istana ini. Tadi pagi aku segera kembali ke kamar setelah bertemu dengan Zu. Walaupun dia menahanku, tetapi tetap saja aku berlalu dari hadapannya. Aku harus menjaga nama baik Angkasa dalam menjalankan tugas pengambilan bunga malaikat ini. Sekalipun yang kuhadapi adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku dulu.

__ADS_1


Lantas aku pun melangkahkan kaki bersama pelayan-pelayan yang telah selesai mendandaniku, menuju ruang makan istana. Kunikmati setiap langkah yang seolah menggetarkan jantungku. Aku dag-dig-dug tak karuan menuju ke sana. Entah mengapa seperti ada sesuatu yang harus segera kuhindari. Dan mungkin itu adalah perasaanku terhadap calon Raja Asia sendiri, Zu.


"Ara."


Tak berapa lama, aku pun sampai di ruang makan istana. Kulihat Cloud sudah menungguku di sana. Dia lalu berdiri begitu melihatku datang. Dia juga masih mengenakan pakaian kerajaan berwarna putihnya dengan sabuk pedang di pinggang. Dan kulihat di sana juga sudah ada Zu maupun adiknya yang bernama Shu. Sang Raja Asia pun tampak duduk di tengah-tengah mereka. Sepertinya santap pagi ini akan sedikit formal. Aku pun jadi kikuk sendiri menghadapinya.


Aku baru melihat Cloud sekarang. Mungkin tadi dia sedang beristirahat di kamar yang lain. Dan kini dia duduk berseberangan dengan Zu di depan meja makan. Lilin-lilin merah pun dinyalakan sebagai penghias meja makan. Meja makan ini tampak mewah dengan segala peralatan makan yang begitu lengkap. Sendok dan garpu juga sudah ditata sedemikian rupanya.


Di atas meja makan terdapat bunga-bunga hiasan dan beberapa toples kristal berisi manisan. Sedang keadaaan sekeliling tampak diterangi oleh cahaya lampu kristal yang bersusun-susun di langit-langit ruangan. Mewah sekali.


"Salam bahagia untuk Yang Mulia." Aku membungkukkan badan, memberi hormat kepada raja yang duduk di antara mereka.


Raja tersenyum. "Jangan sungkan. Mari duduk bersama kami," katanya seraya tersenyum padaku.


Cloud menarikkan satu kursi untukku. "Silakan, Ara." Namun, di saat itu juga Zu melakukan hal yang sama.


Ya Tuhan ....


Saat itu juga atmosfer sekitar berubah kelam dalam sekejap. Aura-aura persaingan mulai terasa di ruangan ini. Aku pun mengambil napas dalam-dalam agar tidak grogi. Karena bagaimanapun kedua pangeran itu sama-sama mencintaiku. Lantas aku pun segera duduk di tengah-tengah mereka.


Maaf, ya. Aku di tengah saja.

__ADS_1


Aku duduk, lalu tak lama pelayan datang membawakan makanan pembuka pagi ini. Selama pelayan menyajikan makanan, kulihat Zu dan Cloud bergantian. Cloud dengan wajah masamnya, sedang Zu yang terus tersenyum dalam kebahagiaanya. Sepertinya dia tidak peduli lagi dengan kehadiran Pangeran Angkasa di sini. Dia terus saja menebarkan senyumnya untukku. Sedang Shu terlihat tidak enak hati sendiri kepada Cloud. Hingga akhirnya dia berdehem untuk memecahkan suasana yang terasa mulai canggung ini.


Satu jam kemudian...


Aku duduk bersama Cloud, raja dan Zu di ruang keluarga istana. Shu sendiri tidak ikut menemani karena ada urusan yang harus segera diselesaikan. Dan aku hanya duduk diam di samping Cloud tanpa berani melihat ke arah Zu yang duduk di seberangku. Meja mewah terukir emas di bagian sisinya menjadi saksi di antara kami.


"Pembicaraan bisa segera dimulai, Pangeran Cloud. Silakan." Raja pun mempersilakan kami untuk memulai pembicaraan.


Ruangan mewah nan megah menjadi saksi atas pembicaraan yang akan terjadi. Dimana kedua belah pihak akan menandatangani perjanjian kedua negeri. Yang mana Cloud sudah mempersiapkan perjanjian itu sebelumnya. Isi perjanjian itu sendiri adalah jaminan atas keselamatanku selama berada di Asia. Selebihnya aku tidak tahu karena belum sempat membacanya.


Dia ....


Kulihat sepintas Zu terus saja memperhatikanku. Yang mana hal itu membuatku grogi. Tak lama Cloud pun berdehem untuk memecah suasana yang terjadi. Dia tampak keberatan dengan sikap Zu terhadapku. Mungkin kini dia merasakan dan melihat sendiri bagaimana sikap Zu yang sebenarnya terhadapku. Namun, karena urusan kerajaan, hal itu ditepiskannya sementara waktu.


"Ehem!" Cloud berdehem. "Yang Mulia, ini adalah dokumen perjanjian yang telah kami buat."


Cloud menyerahkan dokumen perjanjian kepada Raja Asia. Raja Asia pun segera membacanya dengan saksama. Tampak raut wajah Cloud yang tidak seperti biasanya. Dia terlihat risih dengan sikap Zu yang terus memerhatikanku.


"Baiklah. Kami setuju." Tak berapa lama raja pun menyetujuinya. "Selama berada di sini kami akan menjaga kehormatan dan keselamatan Nona Ara." Raja tampak formal terhadapku.


Cloud mengangguk. "Terima kasih, Yang Mulia. Angkasa sangat berharap bisa mendapatkan bunga itu secepatnya. Karena kami tidak mempunyai banyak waktu lagi untuk menunggu. Kami mohon bantuan Yang Mulia." Cloud meminta kepada raja.

__ADS_1


Raja Asia mengangguk. Dia kemudian beralih kepada Zu. "Putraku, kapan bunga malaikat itu bisa dipetik? Apakah kau mengetahuinya?" tanya raja kepada putranya.


Zu pun segera tersadar saat sang raja bertanya.


__ADS_2