Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
I'm Serious


__ADS_3

Aku tersesat dan sendirian, mencoba untuk terbiasa.


Membuat jalanku menyusuri jalan panjang berliku itu.


Tidak punya alasan, tidak ada rima, seperti sebuah lagu yang kehabisan waktu.


Dan dulu kau ada di sana, berdiri di depan mataku.


Bagaimana bisa aku menjadi orang yang begitu bodoh?


Untuk melepaskan cinta dan melanggar semua peraturan.


Gadis, ketika kau berjalan keluar dari pintu itu.


Meninggalkan sebuah lubang di hatiku.


Dan sekarang aku tahu dengan pasti...


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...


Aku sia-sia mencari.


Memainkan sebuah permainan.


Tidak punya orang lain selain diriku yang tersisa untuk disalahkan.


Kau datang ke dalam duniaku.

__ADS_1


Bukan permata atau mutiara.


Yang pernah bisa mengganti apa yang telah kau berikan padaku, Gadis.


Sama seperti istana pasir.


Gadis, aku hampir saja membiarkan cinta jatuh dari tanganku.


Dan sama seperti sebuah bunga yang membutuhkan hujan.


Aku akan berdiri di sisimu melewati kegembiraan dan rasa sakit.


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.


Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?


Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona.


.........


Angin sejuk mengantarkanku sampai di pelabuhan timur Angkasa. Sebuah pelabuhan besar yang terhubung dengan banyak negeri. Tak terkecuali Negeri Bunga yang dekat dengan Asia. Mereka akan melewati pelabuhan ini untuk sampai ke istana. Para penjaga baik dari pos keamanan maupun dari Angkatan Laut tampak siap siaga memeriksa orang-orang yang datang. Tak terkecuali aku yang telah dicetuskan menjadi ratu negeri ini. Aku tetap menjalani tahap pemeriksaan untuk sampai ke kota.


Jika dibandingkan berdasarkan luas wilayah, tentu saja Angkasa masih kalah jauh dari Asia. Begitupun dengan kekuatan militernya. Asia adalah negeri besar yang berada di timur Angkasa. Katakanlah jika seperti Rusia di duniaku sebenarnya. Dan pastinya penjagaan keamanannya juga luar biasa. Tidak mudah masuk ke negeri itu jika tidak mempunyai kecerdikan untuk mengalihkan perhatian penjaga. Seperti yang Rain lakukan waktu itu untuk menjemputku. Dia harus meminta tolong penduduk Asia sendiri untuk sampai ke istana.


Pangeran, bisa tidak sih bersikap biasa saja?


Putra mahkota Asia ini tampak menempel denganku. Sejak tiba di pelabuhan sampai berada di kereta kuda, dia masih saja tidak ingin jauh-jauh. Aku pun berusaha menjauhkan badannya dengan jari telunjukku. Tetapi hal yang dia lakukan malah sebaliknya, bukannya menjauh malah mengemut jariku ini. Benar-benar mengesalkan sekali.

__ADS_1


Zu seperti tidak tahu siapa dirinya dan betapa besar kekuasaan yang akan dipegangnya. Di hadapanku dia hanyalah seorang pria yang ingin disayang kekasihnya. Dituruti kemauannya dan dimengerti keluh kesahnya. Sedang aku ini bukan lagi kekasihnya. Ya, anggap saja seperti itu. Zu memang pernah singgah di hatiku walaupun tidak lama. Dan mungkin karena hal itu dia ingin aku kembali bersamanya.


Bingung rasanya memikirkan bagaimana cara agar bisa menjauh dari putra mahkota yang satu ini. Tapi kalau ditimbang ulang, bisa dibilang Zu lebih unggul dibanding kedua pangeranku. Misalnya saja mengenai tahta dan kekuasaannya. Zu kelak menjadi raja dan Shu sebagai wakilnya. Sedang wilayah kekuasaannya lebih besar berkali lipat dari Angkasa. Tentu saja hal itu akan mengangkat derajat dan martabatku sebagai seorang gadis desa. Tetapi tetap saja hati ini seolah kesulitan untuk menentukan pilihan. Aku terombang-ambing dalam lautan penantian.


"Ara, boleh aku tiduran di atas pangkuanku?" tanyanya padaku.


Kami berada di dalam kereta kuda milik Asia yang besar. Yang mana keretanya menggunakan tujuh tenaga kuda yang disusun dalam bentuk formasi barisan. Tentu saja perjalanan panjang ini membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak. Mungkin jika sudah di perbatasan kota, kami akan singgah sementara untuk mengistirahatkan kuda-kuda kami. Ya, walaupun sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Karena pastinya kuda-kuda yang dipergunakan kerajaan adalah kuda-kuda pilihan. Mereka pasti mempunyai stamina yang tidak perlu diragukan lagi.


Kini aku jadi dilema saat si putra mahkota meminta izin untuk merebahkan kepalanya di pangkuanku. Tentu saja aku merasa segan jika menolak, apalagi setelah kejadian di dalam kamar kapal pesiar itu. Tapi aku juga seperti tidak bisa menerimanya. Entahlah hatiku ini bagaimana. Aku juga tidak tahu.


"Tidur di situ saja." Akhirnya aku menunjuk kursi yang ada di seberangku.


Zu menaikan satu alisnya. Dia seperti merasa heran denganku. Pada akhirnya dia merebahkan kepalanya di pangkuanku. Dia menatapku dari bawah seraya tersenyum manis sekali. Aku pun merasa risih dengan posisi seperti ini.


Ya Tuhan, dia tidak pernah berubah juga.


Zu bak mempunyai kepribadian gabungan antara Rain dan Cloud. Kadang dia tenang, kadang juga serba ingin cepat seperti Rain. Tetapi tetap saja aku belum bisa menerimanya kembali. Aku masih memikirkan titah raja yang mengikatku. Bagaimana mungkin mengkhianati titah Raja Angkasa sedang aku adalah pendatang baru di negerinya? Rasanya mustahil sekali.


"Ara, kau terlihat menggemaskan jika cemberut seperti itu." Dia seperti ingin merayuku.


"Pangeran, nanti ada yang lihat kau seperti ini, bagaimana?" tanyaku padanya.


Dia beranjak bangun lalu duduk di dekatku. "Ara." Dia menatapku, menarik dagu ini dengan jari telunjuknya. Dia memperhatikan apa yang ada di wajahku ini. "Aku tidak takut sekalipun harus melawan kedua pangeran itu. Yang aku tahu, aku membutuhkanmu. Kau adalah kebutuhan mutlak bagiku, Ara. Jikalau harus melepas semuanya karenamu, aku rela. Sangat rela asal bisa bersamamu." Dia mengatakan padaku.


Saat itu juga aku menelan ludah di hadapannya. Mencerna baik-baik perkataannya. Andai saja Angkasa dan Asia bisa bersatu, tentunya akan menjadi negeri yang besar dan tak terkalahkan. Tapi masalahnya, apa iya aku akan menikah dengan ketiganya? Rasanya mustahil sekali. Terlebih mereka cemburu akut semua. Bagaimana membagi waktu ini?


Pangeran, kau sedang mabuk cinta. Jangan terlalu berlebihan. Aku khawatir kau akan berbalik membenciku.


Jujur saja ada rasa khawatir yang menyelimuti hati ini. Aku takut cintanya berubah menjadi benci. Dan saat pria sudah benci, dia akan berubah menjadi obsesi. Terobsesi untuk menghancurkan wanita yang dia benci. Dan aku takut sekali.


"Pangeran, pikirkan baik-baik perkataanmu. Aku khawatir." Aku menanggapinya.


Zu menggelengkan kepala. "Katakan apa yang kau mau, Ara? Aku akan memenuhinya." Dia terlihat bersungguh-sungguh sekali.


Saat itu juga kurasakan energi cinta yang begitu kuat darinya. Zu sungguh-sungguh terhadap perasaannya. Dan kalau sudah begini, aku harus bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2