
Tugas dan tanggung jawab Cloud begitu besar. Tersirat dari perkataannya jika dia bisa saja meninggalkanku demi tugas dan tanggung jawabnya. Aku pun mencoba mengerti karena itu sudah menjadi risikoku menjalin asmara dengannya. Tapi, jika boleh meminta, aku ingin sekali kebahagian selalu menyertainya. Entah bersamaku atau bukan. Aku berharap Tuhan selalu melindunginya.
Cloud, teruslah berjuang untuk masa depan negeri ini. Aku mendukungmu, mendoakanmu, menyebut namamu di setiap doaku. Entah bagaimana kehidupan kita nantinya, aku berharap kau selalu bahagia.
Semilir angin di pagi ini pun mengantarkan keberangkatanku ke Negeri Bunga. Cloud turun dari kereta lalu berbicara sebentar kepada Tuan Shane. Dia kemudian melepaskan keberangkatanku. Melambaikan tangannya hingga aku hilang dari pandangan matanya. Aku berharap dia tidak telat makan walaupun pekerjaannya amat menyita waktu. Aku berharap yang terbaik untuknya.
Entah bagaimana akhir penantian ini, aku berharap itu yang terbaik untukku. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa. Sedang hasil akhir Tuhan yang menentukannya. Dan semoga saja aku bisa menerima apapun hasilnya. Aku akan belajar berlapang dada.
Di perjalanan...
Jalan panjang kulalui kembali setelah dua hari baru tiba di Angkasa. Tugas kenegaraan kuemban sebagai bukti mampu menjadi ratu. Namun, sampai detik ini ada hal yang mengganjal pikiranku. Yaitu kenapa aku tidak diperbolehkan untuk menjenguk raja? Sebenarnya apa yang sedang disembunyikan?
Di lain sisi Rain tengah disibukkan dengan keberangkatannya ke Terusa. Sebuah negeri yang berbatasan langsung dengan Arthemis. Jika dilihat dari peta, ada sebagian wilayah Arthemis yang berbatasan langsung dengan negeri itu. Tepatnya berada di kawasan hutan lindung yang ada di sana. Namun, karena Terusa mendapat desakan dari pihak Arthemis untuk menyerahkan sebagian wilayahnya, negeri itu meminta tolong kepada Angkasa.
Terusa lebih rela menyatukan wilayah kekuasaannya ke negeri kedua pangeranku dibanding Arthemis. Mungkin benar apa yang Rain katakan jika negeri itu bermasalah. Aku sendiri belum tahu pastinya seperti apa. Tapi, aku penasaran dengan kekuatan mistis yang sulit tertembus itu. Aku ingin tahu apa dan bagaimana bentuknya.
"Lelah juga ya membaca buku cara berkomunikasi dengan kalangan bangsawan. Ternyata tutorialnya panjang."
__ADS_1
Kini aku sedang membaca buku hubungan kenegaraan yang diberikan oleh Tuan Shane. Kami sempat bertemu dan dia memberiku sebuah buku untuk kupelajari sebelum sampai di Negeri Bunga. Dan kini sudah hampir setengahnya selesai kubaca. Mataku pun mulai mengantuk sehabis membaca buku yang dia berikan.
Sebenarnya aku ingin sekali mengurai kesalahpahaman dan perang dingin yang terjadi puluhan tahun lalu antara Angkasa dan Arthemis. Tapi, sepertinya aku belum diperkenankan untuk melakukan hal itu. Statusku belum kuat untuk melakukan sesuatu. Karena aku masih calon ratu. Belum menjadi ratu yang sesungguhnya. Mau tak mau aku pun harus tahu diri dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Aku tidak bisa sembarangan bertindak.
Ara, beristirahatlah. Perjalanan masih panjang.
Lantas aku pun merebahkan diri di kursi kereta kuda. Kursi empuk nan panjang bak sofa yang bisa menjadi tempat tidurku. Kursinya juga terasa nyaman karena besar. Jadi ya sudah, lebih baik tidur terlebih dahulu selama berada di perjalanan. Semoga saja nanti semuanya lancar dan tanpa kendala.
Beberapa jam kemudian...
Suara burung berterbangan terdengar di telingaku. Kepakan sayapnya menyadarkanku dari alam mimpi yang baru saja kulalui. Aku pun beranjak bangun lalu melihat keadaan sekitar. Ternyata aku tertidur pulas di dalam kereta kuda. Aku pun beranjak duduk untuk melihat ke luar.
Betapa terkejutnya aku saat melihat gapura di ujung sana yang bertuliskan pelabuhan Negeri Bunga. Aku merasa seperti bermimpi saja saat melihat papan namanya. Aku pun beranjak keluar karena ingin memastikan jika memang sudah sampai. Benarkah ini di Negeri Bunga?
Kulihat keadaan sekitar pelabuhan tengah pasang. Langit juga tampak cerah dengan semburat oranye mewarnainya. Sepertinya sudah memasuki sore hari waktu negeri ini. Dan tak berapa lama kulihat Tuan Shane menerima lembaran surat dari penjaga pelabuhan yang ada di sana. Sepertinya kami memang sudah benar-benar tiba di Negeri Bunga.
Masuk kembali sajalah. Perjalanan masih jauh pastinya.
__ADS_1
Aku pun kembali masuk ke kereta lalu meneguk wedang jahe yang tersedia. Aku juga menyantap cemilan pastry sambil membaca kembali buku yang diberikan Tuan Shane. Tak lama kemudian kudengar suara seseorang yang berseru dari depan. Sepertinya perjalanan akan segera dilanjutkan sampai ke istana Negeri Bunga. Ini adalah perjalanan seorang calon ratu Angkasa. Dan aku menikmatinya.
Rain, Cloud, aku sudah sampai di Negeri Bunga. Doakan aku ya agar tugas kenegaraan ini bisa kuselesaikan dengan baik. Kalian jangan bertengkar di sana. Sudah saatnya kita bangkit untuk menjadi yang terdepan. Semangatlah pangeran!
Di dalam hati kusebut nama kedua pangeranku. Walaupun jarak menghalangi kami, tapi tidak untuk hati ini. Kami saling terhubung satu sama lain. Hanya saja memang terkadang harus menurunkan ego demi kemaslahatan banyak orang. Karena ini bukan dunia percintaan biasa, melainkan percintaan kalangan bangsawan yang banyak jam terbangnya. Sehingga mau tak mau aku pun harus mengimbanginya.
Em, pastry ini enak sekali.
Lantas aku mulai menikmati cemilan yang dibawakan ini. Aku juga terus membaca buku yang diberikan oleh Tuan Shane sampai habis. Aku harus mempunyai persiapan sebelum sampai ke istana negeri ini. Semoga saja tugas kenegaraanku berjalan lancar tanpa kendala. Sehingga aku bisa pulang dengan cepat ke Angkasa dan membawa kabar gembira.
Satu jam kemudian...
Tak berapa lama kami akhirnya sampai juga di perkotaan Negeri Bunga. Kulihat sepanjang jalan ditata rapi dengan hiasan bunga berwarna-warni. Mirip seperti jalanan dua jalur yang mana pembatasnya ditumbuhi bunga-bunga indah. Aku pun menikmati pemandangannya.
Kuperhatikan apa yang ada dari balik kaca jendela. Dan ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Rain. Penduduk negeri ini kebanyakan wanita dengan pakaian yang sedikit terbuka. Dandanan mereka pun terlihat wah dan berani. Tapi anehnya, tidak kulihat ibu-ibu atau nenek-nenek di jalanan yang sedang membeli kebutuhan atau keperluan sehari-hari. Melainkan semuanya diisi oleh remaja putri dan juga wanita dewasa. Dan pakaian mereka bisa dibilang memperlihatkan bentuk dada. Benar-benar kontras dan menyilaukan pandangan.
Untung saja Rain hanya mesum padaku. Bagaimana jika dia sampai berbagi ke wanita-wanita yang ada di sini?
__ADS_1
Sungguh hatiku kesal bukan main jika Rain sampai macam-macam dengan gadis lain. Aku ini pencemburu akut kalau masalah hati. Apalagi dengan si putra bungsu kerajaan Angkasa itu. Aku terlalu ingin memilikinya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tidak rela dia dibagi-bagi. Dia milikku.