Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
All That I Need


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, sesampainya di pelabuhan timur Angkasa...


Malam telah datang. Mungkin ada sekitar setengah delapan malam. Bintang-bintang pun kulihat bersinar terang dari balik jendela kereta kuda. Kami baru saja sampai di pelabuhan timur Angkasa.


Sejak keberangkatan, pangeran sulung kerajaan ini tampak diam dan tidak menegurku sama sekali. Aku pun hanya bisa diam di sampingnya. Tidak melakukan apapun selain melihat keadaan di sepanjang jalan yang kami lalui. Dia sibuk dengan dokumen yang dibawanya, seolah tidak menghiraukan kehadiranku di sini. Jadi ya sudah, aku pun diam saja sedari tadi.


Apakah dia marah padaku?


Cloud lebih suka diam jika ada sesuatu hal yang tidak disukainya. Sedang Rain lebih suka mengutarakannya dibanding hanya berdiam saja. Namun, ada kalanya Rain juga diam jika merasa ucapannya hanya akan menimbulkan masalah. Seperti saat dia memergokiku berenang di air terjun bersama Cloud. Dia diam dan berlalu begitu saja saat aku menghampirinya.


"Pangeran." Tiba-tiba seorang pasukan khusus mengetuk sisi jendela Cloud.


Cloud pun segera membuka kaca jendela kudanya. "Ada apa?" Tanpa basa-basi dia bertanya seperti itu. Mungkin suasana hatinya sedang kurang baik saat ini.


"Kita akan menaiki kapal cepat, Pangeran. Kereta kudanya hanya sampai di sini." Pasukan khusus itu memberi tahu.


"Baik." Cloud pun mengiyakan lalu segera turun dari kereta kuda.


Aku pikir dia akan membukakan pintu keretanya untukku. Namun ternyata, malah pasukan khusus yang membukakan pintu. Tidak salah lagi jika Cloud sedang marah padaku. Apakah dia cemburu karena Rain tadi?


Aku pun bergegas menuruni kereta kuda lalu berjalan masuk ke dalam kapal cepat milik Angkatan Laut Angkasa. Mungkin sejenis kapal pesiar yang cukup besar dan dapat menampung sekitar dua sampai tiga puluh orang. Aku pun masuk sendiri tanpa Cloud yang menemani. Dia sudah berlalu begitu saja dari hadapanku. Sepertinya dia memang benar-benar marah padaku.


Ya Tuhan, tidak adik, tidak kakak, sama saja kalau cemburu.


Dan karena kesal sepanjang jalan didiamkan, aku bergegas mendekatinya yang berlalu dariku. Kulihat dia menuju ke anjungan kapal ini. Aku pun terus mengikutinya untuk mengurai masalah yang terjadi. Aku tidak ingin didiamkan terus-menerus seperti ini.


"Kapal akan segera berangkat!!!"


Seorang pasukan khusus mengumumkan keberangkatan kapal kepada kami. Jangkar kapal pun ditarik dan mesinnya juga dihidupkan. Kapal pesiar ini kemudian mulai berlabuh di lautan timur Angkasa. Aku pun berpegangan pada dinding agar tidak terjatuh. Maklum sudah lama tidak naik kapal, jadinya kurang keseimbangan. Dan untungnya saja sepatu yang kukenakan hanya setinggi tiga senti. Bagaimana jika lima atau tujuh, mungkin aku sudah terselandung kakiku sendiri.

__ADS_1


Ya Tuhan, restui perjalanan kami ini.


Mungkin karena sudah terbiasa, putra sulung kerajaan Angkasa itu tampak biasa-biasa saja saat berjalan di atas kapal yang sudah mulai berlabuh. Sedang aku harus ekstra hati-hati untuk mengejarnya. Hingga pada akhirnya kulihat sosok pria berambut pirang itu menaiki anak tangga menuju anjungan kapal. Aku pun mengikutinya.


Cloud, kau benar-benar cemburu?


Karena penasaran dan ingin tahu isi hatinya, aku mendekatinya dengan pelan sambil menaiki anak tangga menuju anjungan kapal. Hingga akhirnya aku sampai juga di dekatnya. Segera saja aku berjalan agar lebih dekat kepadanya. Kulihat Cloud sedang menatap lautan Angkasa.


"Cloud ...." Aku menyapanya dengan lembut.


Cloud diam saja. Seperti tidak mendengar sapaanku. Dan karena kesal selalu diabaikan, aku pun mendekatinya. Aku berdiri di sisi kirinya yang sedang memandangi lautan.


"Cloud, ada apa? Kenapa diam saja?" Aku memberanikan diri bertanya kepadanya.


Cloud masih diam. Dia tidak menoleh sedikit pun kepadaku. Dan karena rasa kesalku semakin menjadi, aku pukul saja lengannya. Namun, saat itu juga dia menahan tanganku. Dia segera memutar tubuhnya ke arah ku.


Cloud ....


"Cloud ...."


"Ara, bagaimana bisa kau berpikir aku tidak cemburu?" tanyanya seraya meletakkan tanganku di dadanya.


"Cloud, aku—"


"Aku manusia biasa, Ara. Bagaimana mungkin kau bisa berpikir jika apa yang kau lakukan tadi bersama Rain tidak menyakiti hatiku?" tanyanya yang membuatku menelan ludah.


Cloud ternyata cemburu. Dia benar-benar cemburu dengan hal yang Rain lakukan padaku. Padahal hanya sebatas memeluk dan memegang wajah ini. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti kami benar-benar bersama. Sedang aku dimilikinya dan juga adiknya. Apakah tidak akan terjadi pertumpahan darah?


Ya Tuhan, aku tidak tahu bagaimana akhirnya. Melihat Cloud seperti ini saja sudah membuatku serba salah.

__ADS_1


Bagi seorang pria tentunya tidak suka diduakan, apalagi ditigakan. Mereka memiliki jiwa mendominasi yang begitu tinggi bahkan sampai rela berjuang mati-matian untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Contohnya saja Zu saat ini yang bersikeras tidak akan memberikan bunga itu jika bukan aku sendiri yang mengambilnya. Padahal kalau dipikir-pikir untuk menyelamatkan nyawa seseorang apa salahnya? Tapi tetap saja dia mempunyai perhitungan tersendiri akan hal ini. Jadi mau tak mau aku pun berangkat ke negerinya.


"Cloud, maaf. Aku tidak ada maksud untuk membuatmu cemburu. Aku hanya sekedar berpamitan padanya. Maafkan aku ya?"


Aku tersenyum seraya menatap bola mata birunya. Kulihat sinar matanya seolah menyiratkan keinginan besar untuk memilikiku seutuhnya. Namun, pikirannya kini sedang terganggu dengan situasi yang menimpa raja. Sehingga dia hanya diam untuk meminimalisir pertengkaran yang bisa terjadi. Kuakui baik Rain maupun Cloud terkadang memiliki sifat yang sama. Apalagi kalau sedang cemburu, keduanya sama saja.


Cloud mengangguk. Dia berusaha tersenyum di tengah lautan ombak yang dilalui kapal. Aku pun membalas senyumannya lalu segera merebahkan kepala ini di dadanya. Kudengar alunan detak jantungnya yang beresonansi dengan jantungku. Rasanya aku tidak ingin melihatnya marah ataupun cemburu. Tapi, bagaimana bisa? Keduanya akan menjadi suamiku.


Cloud, tersenyumlah. Hari esok masih panjang.


Aku pun tersenyum di pelukannya. Cloud juga memberatkan kepalanya di kepalaku. Dia lalu mengecup kepala ini lama sekali. Dia memelukku erat di atas kapal yang sedang berlabuh. Lautan menjadi saksi atas cinta kami. Cinta yang terjadi tanpa diduga dan disengaja sebelumnya. Dan aku begitu mensyukurinya.


.........


Kau adalah udara yang kuhirup.


Gadis, kau adalah segala yang kubutuhkan.


Dan aku ingin berterima kasih kepadamu, Nona.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang kubutuhkan...


Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.


Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?

__ADS_1


Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona...


__ADS_2