
"Bunga malaikat itu hanya mekar di pagi hari, Ayah. Batasnya hanya sampai matahari setinggi tombak. Setelah itu bunga malaikat itu akan menutup kembali. Dan aku rasa saat mekarlah yang bisa dipergunakan untuk pengobatan." Zu memaparkan kepada kami.
Cloud menelan ludahnya. Mungkin dia sedang berpikiran yang macam-macam tentang Zu. Pastinya dia merasa hal ini hanya akal-akalan Zu semata. Bagaimana mungkin bunga itu hanya mekar di pagi hari saja? Sedang setelahnya kembali menguncup? Kurasa Cloud akan memikirkan perkataan Zu matang-matang. Dia tidak mudah untuk dibohongi.
Cloud, kau pasti ragu dalam memercayai hal ini.
Tersirat dari wajahnya jika dia ragu untuk memercayai apa yang Zu katakan. Tapi karena waktu yang sudah semakin mendesak, mau tak mau dia pun harus mengiyakan. Sedikit-banyak aku telah mengetahui bagaimana sifat asli dari pangeran sulung Angkasa ini. Dan pastinya dia menimbang baik-baik setiap hal yang dibicarakan lawannya. Berbeda dengan Rain yang lebih cepat melakukan tindakan tanpa berpikir panjang. Keduanya mempunyai sifat yang berlawanan.
"Pangeran Zu, apakah tidak bisa jika mengejar waktunya sekarang?" Cloud bertanya kepada Zu dengan nada menahan kesal. Aku bisa merasakannya dari sini.
Zu tersenyum kecil. "Tidak bisa, Pangeran Cloud. Perjalanan dari istana ke perbatasan sangatlah jauh. Butuh waktu sekitar empat sampai lima jam untuk sampai ke sana. Belum lagi sesampainya di sana juga kita tidak bisa langsung memetik bunga itu karena sudah menguncup. Aku sendiri tidak bisa memaksakan jika Pangeran Cloud tidak berkenan. Aku hanya memaparkan hal yang sebenarnya saja." Dengan santainya Zu berkata seperti itu kepada Cloud.
Ya Tuhan, mengapa aku merasa aura-aura persaingan begitu ketat di pembicaraan ini?
Saat itu juga entah mengapa aku merasakan aura persaingan begitu ketat di antara keduanya. Raja pun memperhatikan percakapan yang sedang terjadi. Sedang aku hanya bisa diam sebagai saksi. Aku pasrah terhadap keadaan yang akan terjadi. Aku tidak mempunyai pilihan lain.
Cloud sendiri tidak mungkin menunggu sampai esok hari karena pekerjaan di istana sangatlah banyak. Zu sepertinya memang sengaja melakukan hal ini agar Cloud pulang terlebih dahulu sehingga meninggalkanku di sini. Pastinya hal ini membuat Cloud harus segera mengambil keputusan secepat mungkin. Dan dia harus merelakanku untuk mengambil bunga malaikat itu sendiri. Tidak ada pilihan lain.
Ya. Tidak ada pilihan lain bagi kami selain memenuhi persyaratan yang Zu berikan. Lantas kubiarkan kedua pangeran berbeda negeri ini saling bernegosiasi. Sementara aku duduk diam mendengarkan mereka. Sedang raja menjadi saksinya.
__ADS_1
Satu jam kemudian...
Aku dan Cloud sedang duduk di gazebo depan istana Asia. Kami sedang membicarakan hasil negosiasi tadi. Dimana hasil negosiasi itu memutuskan agar aku sendiri yang mengambil bunga malaikat di perbatasan Asia dan Negeri Bunga. Namun, bukan sendiri dalam arti yang sebenarnya. Melainkan Zu yang akan menemaniku ke sana. Karena dialah yang tahu bagaimana wilayah itu sebenarnya.
Katanya sih, beberapa pasukan khusus juga akan ikut serta menemani perjalanan kami ke sana untuk lebih menjamin keselamatanku. Entah ada apa sebenarnya di sana, aku hanya bisa menurut saja.
"Ara, aku tidak bisa menunggumu lebih lama. Aku harus segera kembali ke Angkasa sekarang. Sungguh banyak pekerjaan yang harus kulakukan." Cloud berbicara padaku.
"Aku mengerti, Cloud." Aku pun mengerti hal yang dikatakan olehnya.
Cloud menggenggam tanganku. "Beberapa dari pasukan khusus Angkasa akan kutinggal di sini. Mereka adalah ahli bela diri yang sudah beberapa kali memenangkan pertarungan. Mereka akan mengawasimu dari jarak jauh. Kau tidak perlu khawatir." Cloud menuturkan kembali padaku.
"Cloud, kau jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja di sini. Kau hati-hati di jalan ya." Aku membalas pegangan tangannya.
Cloud tersenyum lalu mengecup tanganku. "Jika kau membutuhkan sesuatu, bisa memintanya langsung kepada pasukan khusus yang berjaga di sini. Aku harus segera kembali ke Angkasa, Ara. Semoga kau bisa segera mendapatkan bunga itu dan kembali ke Angkasa." Dia mendoakanku.
Aku mengangguk, tersenyum lalu beranjak berdiri. Cloud pun ikut berdiri. Tak lama lagi kami akan berpisah karena pekerjaan yang tak dapat ditunda. Beberapa pasukan khusus milik Angkasa juga sudah siap untuk kembali ke negerinya. Sedang aku masih bersama Cloud di gazebo istana ini. Aku pun mengantarkannya ke arah pasukan khusus yang telah menunggu.
Cloud, kumohon jangan bertengkar lagi dengan Rain. Aku rela melakukan hal ini demi kesembuhan raja. Baik-baik di sana dan jangan bertengkar lagi dengan adikmu. Kalian adalah saudara.
__ADS_1
Langkah kaki ini terasa lebih ringan saat rela menerima semua takdir Tuhan. Aku pun menggandeng tangannya menuju kuda yang telah dipersiapkan untuk kembali ke Angkasa. Lalu pada akhirnya, kami sampai juga di rombongan pasukan khususnya. Cloud kemudian berpamitan padaku.
"Ara." Dia menatapku. "Terima kasih atas bantuanmu. Aku berutang budi. Yang mana suatu hari nanti akan kubayar dengan jiwaku ini." Dia memegang kedua tanganku.
Aku tersenyum. "Jangan berbicara seperti itu, Cloud. Sudah kewajibanku untuk membantu kalian. Kau baik-baik di sana ya. Selamat bertugas." Aku memberi semangat padanya.
Cloud kemudian memelukku. Pelukan hangat yang kuterima di pagi ini. Rasanya ingin selalu dipeluknya di setiap kesempatan. Harum aroma parfumnya seolah ikut menenangkan hatiku yang akan ditinggalkan. Aku pun merelakan keberangkatannya ke Angkasa. Aku juga berharap bisa menjalankan misi ini dengan baik. Ya, anggap saja sebagai tugas negara yang sedang kuemban. Dan aku pun akan dengan sebaik mungkin melaksanakannya. Aku mencintai Angkasa.
Cloud, selamat jalan. Semoga selamat sampai tujuan.
Pelukan kami akhirnya terlepas. Dia kemudian mencium keningku ini. Ciuman yang seolah menyiratkan kasih sayang begitu besar terhadapku. Namun, tugas negara menjadi hal utama yang harus diemban olehnya saat ini. Pada akhirnya aku pun harus merelakan keberangkatannya.
Cloud segera menaiki kudanya lalu tersenyum kepadaku. Kuda-kuda pasukan khusus pun memberi jalan kepadanya untuk memimpin di depan. Sedang aku melihatnya pergi dari sisiku. Aku harap kami bisa bertemu kembali setelah ini. Dan menjalin kasih dalam ikatan pernikahan yang suci.
Selamat jalan, Cloud ....
Aku pun melambaikan tangan kepadanya. Begitu juga dengan dirinya. Lalu tak lama kudanya melaju cepat meninggalkan istana ini. Dia melaju menuju pelabuhan barat Asia untuk sampai ke Angkasa. Sedang aku hanya bisa melihat kepergiannya.
Sedih, itulah yang kurasakan. Namun, aku harus kuat menerimanya. Karena ini adalah takdir yang digariskan untukku.
__ADS_1