Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Telling


__ADS_3

Beberapa menit kemudian di gazebo depan istana...


Zu belum datang, tapi malah neneknya yang datang menghampiriku. Dan kini aku sedang duduk-duduk di gazebo istana bersama nenek bermahkota yang tak lain adalah nenek Zu sendiri. Para pelayan pun datang membawakan hidangan untuk disantap siang ini. Benar-benar mengejutkan sekali.


"Silakan, Nona." Pelayan mempersilakan kami.


"Terima kasih." Aku pun mengangguk, mengiyakan.


Langit begitu cerah, namun semilir angin terasa berembus pelan saat aku duduk di gazebo ini. Seolah menandakan situasi yang sedang terjadi. Entah mengapa aku malah dag-dig-dug tak karuan saat diajak duduk bersama oleh nenek Zu. Aku khawatir sesuatu terjadi pada perbincangan kami.


Sungguh tak tahu ada apa gerangan, nenek Zu datang begitu saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Aku pun duduk diam di hadapannya dengan rasa grogi yang luar biasa. Aku takut salah bicara, terlebih usia kami jauh berbeda. Bisa saja dia salah mencerna akan maksud perkataanku. Rasa-rasanya setelah ini aku harus segera menemui cucunya.


Apa maksudnya sih, dia sampai meminta neneknya untuk datang menghampiriku?


Saat ini aku hanya berusaha menjaga keanggunan sebagai tamu kehormatan istana. Saat dia meneguk teh yang telah disediakan, saat itu pun aku meneguk teh punyaku. Tuan rumah telah mempersilakan sehingga tak baik jika menolak. Toh, Zu juga belum datang sampai sekarang. Entah apa yang sedang dia persiapkan.


Nenek Zu memegang cangkirnya lalu menatapku yang duduk di hadapannya. "Cucuku tanpa sengaja bertemu dengan Jasmine di perbatasan hutan antara Asia dan Bunga. Saat itu Jasmine tengah tergeletak dan tidak sadarkan diri. Kebetulan aku sedang menjemput Zu selepas latihan bertahan hidup di sana. Aku lalu memutuskan untuk membawa Jasmine ke istana." Nenek Zu menuturkan padaku.


Aku terdiam, mendengarkan. Aku mengangguk pertanda mendengarkan ceritanya. Tapi jujur saja aku tidak tahu harus menanggapi apa. Seingatku dulu Zu juga pernah menceritakan hal ini sebelumnya. Tapi kenapa neneknya sampai menceritakan hal yang sama? Apakah ini bentuk meyakinkan hatiku atas dirinya?

__ADS_1


"Kejadiannya sudah sangat lama. Mungkin sekitar tujuh sampai delapan tahun yang lalu saat Zu masih remaja. Jasmine pun akhirnya tinggal di Asia dan meminta kepada kami untuk merahasiakan keberadaannya dari pihak Negeri Bunga. Kami pun memenuhinya dengan tetap menjalin hubungan baik dengan negeri itu. Tapi, suatu hari Zu datang lalu mengungkapkan keinginannya untuk mengembalikan Jasmine ke negeri itu. Hal itu tentu saja membuatku bertanya-tanya mengapa sampai demikian. Dan ternyata, seorang gadis Angkasa telah membuatnya jatuh cinta." Nenek Zu memaparkan.


Kutelan ludahku. Menarik napas dalam untuk mencerna pembicaraan yang sedang terjadi. Entah mengapa hatiku terasa terenyuh mendengarnya. "Berarti mereka dibesarkan bersama sejak remaja, Nek?" tanyaku sopan kepada nenek dari putra mahkota ini.


"Benar." Nenek Zu mengangguk. "Tapi cucuku ternyata tidak mempunyai perasaan sama sekali terhadap Jasmine. Bahkan saat Jasmine jatuh sakit, Zu malah meminta Shu untuk menjenguknya. Anak itu benar-benar tidak berperasaan sama sekali." Nenek Zu meletakkan cangkir tehnya ke meja.


Astaga ... dia ternyata seperti itu.


"Awalnya kami berpikir jika dia mempunyai perasaan terhadap Jasmine, kami akan mengumumkan pertunangan mereka lalu memberi kabar kepada pihak Bunga atas keberadaan Jasmine. Namun nyatanya, dia bersikukuh dengan perasaannya itu. Maafkan cucuku, Nona." Nenek Zu meminta maaf padaku.


Err ....


Saat itu juga aku jadi tidak enak hati sendiri. Aku merasa bersalah terhadap hal yang terjadi. Terutama dengan jatuh cintanya Zu kepadaku. Tapi, aku pun tidak bisa melawannya. Ini sudah kehendak takdir bagi kami. Aku pun hanya bisa pasrah saat mendengarkan setiap penuturan neneknya. Sepertinya Zu memang sengaja meminta neneknya untuk meyakinkanku atas perasaannya itu. Ya, apa lagi?


"Ehem." Aku pun berdehem untuk menetralisir keadaan hatiku. "Tapi Ara sudah akan menikah dengan kedua pangeran Angkasa, Nek. Apakah pangeran Zu tidak memberitahukannya?" tanyaku dengan ragu.


Sungguh aku khawatir jika nenek bermahkota ini akan marah. Tapi aku juga harus jujur dengan statusku. Aku tidak boleh menutup-nutupi kenyataan, bahwa memang benar akan menikah dengan kedua putra mahkota Angkasa.


Semoga dia tidak marah padaku.

__ADS_1


Nenek Zu tertawa kecil di hadapanku. Entah mengejek atau merasa lucu dengan kabar yang kuberi ini. Dia kemudian mengambil hidangannya ke atas piring. Dia pun menyuap ke dalam mulutnya. Aku sendiri masih memperhatikannya yang mulai makan. Aku tidak tahu harus bagaimana.


Ya Tuhan, apakah dia marah padaku?


Sebenarnya aku tidak tahu maksud pasti dari hal ini. Dari kedatangan Jasmine sampai kedatangan keluarga utama kerajaan. Namun, rasa-rasanya Zu ingin menarik perhatianku lagi agar kembali padanya. Tapi apakah dia tidak sampai berpikir jika hal itu amat berbahaya? Bagaimana jika kedua pangeranku mengetahuinya? Menolak mentah-mentah hal yang dilakukannya? Apa tidak akan terjadi pertumpahan darah?


Ara, tenanglah. Jangan panik. Semua pasti berlalu.


Aku bingung harus bagaimana. Jadinya yang bisa kulakukan ya kulakukan saja. Aku telah menjelaskan statusku ini kepada neneknya. Sehingga jika terjadi sesuatu, aku tidak merasa bersalah. Aku rasa semua orang juga sudah tahu jika aku akan menikah. Tapi mengapa Zu masih memperjuangkannya? Dia benar-benar mencintaiku atau terobsesi denganku? Sungguh hal ini tak bisa kuduga sama sekali.


"Aku pikir berita itu hanya imaji semata, Nona. Aku tidak sampai berpikir jika hal itu nyata terjadi," katanya yang mengagetkanku.


"Maksud Nenek?" Aku pun segera bertanya.


"Ya." Nenek Zu meneguk air minumnya. "Aku rasa hal itu tidak bisa terjadi di sistem kerajaan manapun. Tapi entah jika raja sendiri yang telah mencetuskannya. Kami sebagai negeri yang bekerja sama hanya bisa mendukungnya. Walaupun hal itu sangat tabu sekali." Nenek Zu mengungkapkan.


Tabu?? Ternyata ...?


Saat mendengarnya, saat itu juga hatiku mulai goyah dengan titah raja yang telah dicetuskan kepada kami. Ternyata di dunia ini juga sama seperti duniaku. Tabu jika seorang wanita memiliki suami dua.

__ADS_1


Ya Tuhan, apakah ini jawaban atas penantianku?


Aku tak tahu. Sungguh tak tahu harus berkata apa. Rasa-rasanya semua hal yang diucapkan nenek Zu adalah benar. Tapi, entah mengapa aku masih ragu menerimanya. Aku khawatir ini hanya akal-akalan Zu semata untuk kembali mendapatkanku. Tapi, haruskah sampai mengikutcampurkan neneknya ke dalam urusan ini? Sungguh aku harus segera bicara padanya.


__ADS_2