Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Not Good


__ADS_3

Pangeran Zu ... jika kita bertemu kembali, aku harap kau sudah merelakanku.


Bukan sedikit kenangan yang telah terukir di antara aku dan putra mahkota Negeri Asia itu. Bisa dibilang kami sudah dekat dan mungkin sangat dekat. Walaupun durasi kebersamaannya tidak selama saat bersama Rain ataupun Cloud, tetapi kenangan yang telah tercipta tidaklah jauh berbeda dari keduanya. Aku pun tidak menghilangkan kebaikannya padaku waktu itu. Karena dialah yang menyelamatkanku dari dinginnya ruang bawah tanah istana. Yang mana hal itu disebabkan oleh ratu.


"Hah ... lebih baik kujalani saja apa yang ada."


Sebagai seorang perempuan pastinya memiliki sifat perasa dan lebih peka dibanding dengan pria yang mengutamakan logika. Aku sebenarnya juga tidak tega dengan ucapanku saat itu kepada Zu. Seolah tidak tahu terima kasih atas kebaikannya. Tapi biarlah semesta yang menuntun ke mana hati ini akan berlabuh. Jika memang takdir memutuskanku untuk bersamanya, aku akan terima. Tentunya aku ingin hidup bahagia tanpa adanya gangguan wanita lain. Sekalipun Jasmine yang notabene putri dari Negeri Bunga sendiri.


Ya, putri dari Negeri Bunga bernama Jasmine itu menyukai Zu. Dia sampai bilang kepadaku jika tengah mengandung anak dari Zu. Yang mana hal itu membuat hatiku hancur sekali. Aku telah mencoba menaruh kepercayaan padanya, tapi Zu malah mengkhianatiku. Entah benar atau tidaknya kabar itu, Zu juga telah menjelaskannya padaku. Jangankan untuk menghamilinya, bahkan menyentuhnya saja dia belum pernah. Tetapi tetap saja rasa sakit di hatiku membelenggu untuk tidak lagi percaya kepadanya. Entah benar atau tidak kabar itu, biarlah waktu yang menjawabnya.


"Nona Ara."


Tiba-tiba saja ada suara seseorang yang mengetuk pintu ruanganku. Lekas saja aku memakai sepatu lalu bergegas menuju pintu. Aku membukakan pintu untuk seseorang yang datang pagi ini.


"Mbok Asri?!"


Betapa terkejutnya aku melihat sosok wanita yang telah menemaniku di awal-awal kedatanganku ke istana. Dia adalah Mbok Asri, sosok wanita yang sudah seperti ibuku sendiri. Mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan ibuku. Dia amat keibuan yang membuatku rindu kepada ibu. Kehadirannya juga seolah sudah cukup untuk mengobati rinduku ini.


"Selamat pagi, Nona Ara. Salam bahagia untuk Nona." Mbok memberi salam kepadaku.


"Selamat pagi, Mbok. Salam bahagia juga untuk Mbok dan keluarga. Apakah ada kabar untukku pagi ini?" tanyaku segera.

__ADS_1


Mbok Asri melihat ke arah kanan dan kirinya. Seperti ada sesuatu yang tengah dikhawatirkannya. "Non, saya ingin menyampaikan sesuatu. Tapi bisakah di tempat yang lebih lapang agar tidak terdengar?" tanyanya, setengah berbisik padaku.


"Em ...," Saat itu juga aku mengerti jika ada hal penting yang ingin dia sampaikan. "Baiklah, Mbok. Tunggu sebentar, ya."


Aku pun bergegas kembali ke kamar untuk menyemprotkan parfum beraroma cokelat pekat ke tubuhku. Setelahnya segera ke luar ruangan dengan tak lupa mengunci pintunya terlebih dulu. Aku pun berjalan bersama Mbok Asri menuju lantai satu istana ini.


Entah hal apa yang akan dia sampaikan, sepertinya memang penting untukku dengar. Jadi ya sudah. Mari kita ikuti alurnya saja. Baik atau buruk tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya.


Di gazebo depan istana...


Semilir angin pagi seolah menyambut kedatanganku yang baru saja duduk bersama Mbok Asri di gazebo depan istana. Harum semak mawar seolah ikut menemani perbincangan yang akan segera dimulai. Aku pun dengan antusias menanggapi hal apa yang akan Mbok Asri sampaikan. Aku mendengarkannya dengan saksama.


"Non, mohon maaf. Sepertinya saya harus menyampaikan hal ini." Dia kemudian membuka pembicaraan.


"Katakan saja, Mbok." Aku menanggapinya.


Mbok Asri terlihat mengambil napas dalam-dalam. "Em, begini Non." Mbok melirik ke kanan dan kiri lagi. "Yang Mulia ratu sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk Nona. Sepertinya berkaitan dengan pernikahan Nona nanti." Dia memulai pembicaraan ini.


"Maksud Mbok?" tanyaku memperjelas.


Mbok terlihat khawatir. "Ratu merencanakan agar pernikahan Nona dan kedua pangeran dibatalkan," katanya yang membuatku terkejut seketika.

__ADS_1


"Apa?!!"


Bukan main terkejutnya aku mendengar hal ini. Ternyata ratu sedang merencanakan sesuatu agar pernikahanku batal dengan kedua pangeran. Pikiranku pun jadi ke mana-mana. Sejuta tanda tanya timbul di hati dan pikiranku. Aku pun menduga-duga yang tidak-tidak kepada ratu. Jangan-jangan dia sendiri yang telah meracuni suaminya.


Astaga Ara. Jangan berprasangka buruk terhadap orang lain yang belum tentu kebenarannya.


Banyak pemikiran tentang hal ini. Terlebih tabib mengatakan jika raja keracunan. Aku tidak tahu dari mana mereka bisa mendiagnosa raja keracunan. Aku juga tidak tahu apakah ada bukti pasti dari teh berisi racun itu. Ini membuatku penasaran sekali.


Ya Tuhan, kenapa hal ini jadi begitu rumit?


Aku pun mencoba menarik napas dalam agar tenang. Aku tidak boleh menunjukkan kepanikanku terhadap situasi yang sedang terjadi. Segala kemungkinan masih bisa terjadi. Namun, alangkah baiknya jika aku fokus terlebih dahulu untuk mendapatkan bunga malaikat itu. Lalu setelahnya mencari tahu asal-muasal masalah ini. Aku yakin pasti dapat menemukan jawabannya.


"Benar, Non. Ditambah lagi paduka sedang jatuh sakit. Saya tidak mengerti mengapa ratu sampai menginginkan hal itu. Tapi, dari pembicaraan yang tanpa sengaja saya dengar, ratu tidak rela menikahkan kedua putranya dengan Nona." Mbok menceritakan padaku.


Astaga ....


Saat itu juga aku tersadar dengan situasi. Tapi aku sungguh heran mengapa ratu bisa seperti itu. Tidak mungkin juga Mbok Asri berbohong kepadaku. Pastinya yang dikatakan olehnya sesuai dengan apa yang dia lihat. Dia adalah orang yang kupercaya.


Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari penantian panjangku?


Aku tidak tahu apa tujuan ratu memintaku untuk pergi ke Arthemis selain mengambil bunga malaikat itu. Jika dilihat dari peta, jaraknya memang lebih dekat ke Arthemis. Sedang ke Asia jaraknya lebih jauh. Tapi lebih pasti dan juga terjamin keselamatannya. Karena Asia dan Angkasa mempunyai hubungan yang baik antar raja dan negerinya. Sedang Arthemis pernah berselisih pendapat mengenai batas teritorial negara.

__ADS_1


Jika memang benar apa yang dikatakan Mbok Asri, tentu saja maksud tujuan ratu sebenarnya memintaku pergi ke Arthemis adalah untuk memisahkanku dengan kedua putranya. Bisa saja sebelum sampai ke sana sesuatu terjadi padaku. Ini bukan menuduh, hanya sebatas pemikiranku. Tapi jika benar, aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi ratu. Aku ingin menyerah saja.


__ADS_2