
Cloud menoleh ke arahku yang duduk di sisinya. Raut wajahnya seperti menyiratkan penyesalan yang mendalam. Dia seolah-olah sedang menyalahkan dirinya sendiri.
"Awalnya dia meminta seperti itu, Ara. Tapi aku memohon kebijaksanaan ayahnya untuk membantuku. Dan setelah bernegosiasi cukup lama di ruang tamu istana, sebuah keputusan disepakati bersama. Keputusan itu menghasilkan aku harus merelakanmu pergi ke Asia untuk mengambil bunga itu sendiri." Cloud menjelaskan padaku.
Apa?!
Bagai petir menggelegar, tanpa hujan tanpa awan mendung. Ternyata Zu memintaku untuk mengambil bunga itu sendiri. Apakah ada sesuatu yang sedang dia rencanakan sehingga aku harus mengambil bunganya sendiri?
Sungguh aku khawatir jika kami bertemu kembali lalu bunga-bunga cinta itu merekah lagi. Bagaimanapun kami pernah bersama dan dekat sekali. Walaupun tidak selama saat bersama Rain ataupun Cloud, tetapi tetap saja banyak kenangan indah yang telah tercipta di antara kami. Dan aku khawatir tidak kuat hati dalam menghadapi segala permohonannya nanti.
Pangeran Zu, tidak bisakah kau lupakan aku?
Detak jantungku berpacu cepat. Aliran darah di tubuhku seolah membeku. Ternyata benar jika Zu menginginkan aku ke sana. Ke tempat di mana kenangan indah itu tercipta di antara kami. Aku pun menarik napas dalam-dalam akan kabar ini. Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi.
"Ara, dia hanya memintamu untuk mengambil bunga itu sendiri. Dia tidak memintamu sebagai pertukaran atas bunga malaikat itu. Dia berjanji akan menjamin keselamatan dan kehormatanmu selama mengambil bunganya. Begitulah hasil akhir dari negosiasi kami." Cloud menuturkan lagi.
Aku mengangguk, mengerti apa yang Cloud katakan padaku. Tetapi tetap saja rasa khawatir itu ada di hatiku. Apalagi masih teringat jelas bagaimana diriku yang mengabaikannya saat datang ke Angkasa untuk menjemputku. Dia telah melalui perjalanan yang panjang namun tanpa hasil yang diharapkan. Pastinya dia sangat sakit sekali.
Ya Tuhan, bagaimana ini?
__ADS_1
Mungkin hal itu jugalah yang dia lakukan kepada Cloud agar Cloud ikut merasakan apa yang dia rasakan waktu itu. Dan kini Cloud mengalaminya. Betapa frustrasinya saat apa yang diharapkan tidak didapatkan.
Aku tidak tahu ada maksud apa di balik ini semua. Namun, satu hal yang kutahu tentangnya. Dia mencintaiku dan menginginkanku mendampingi hidupnya sebagai Zu dan Raja Asia. Sungguh kisah ini tidak bisa ditebak sama sekali. Akan berakhir ke mana penantian cinta ini.
"Aku ... aku tidak tahu harus berkata apa, Cloud," kataku seraya tertunduk lemas di sisinya.
"Ara ...," Cloud menatapku. Dia memegang wajahku dengan sentuhan lembutnya.
"Aku juga sangat berat untuk memenuhinya. Tapi, aku tidak mempunyai jalan lain saat ini. Andai saja waktu bisa diulang, aku akan menjaga ayah sepanjang hari agar tidak ada yang mencelakainya. Sampai detik ini pun pikiranku masih terfokus untuk menyembuhkan ayah terlebih dahulu. Aku masih harus banyak belajar darinya untuk memimpin negeri ini. Aku harap kau bisa membantuku demi kelangsungan Angkasa. Aku sangat berharap padamu." Sebuah permintaan dia ajukan di tengah-tengah dilema yang melandaku.
Aku mengangguk, mencoba mengerti posisinya saat ini. Mungkin jika aku berada di posisinya juga akan melakukan hal yang sama. Toh, hanya sekedar mengambilnya saja. Tidak sampai menjadi bahan pertukaran atas bunga malaikat itu.
"Arthemis?"
"He-em." Aku mengangguk.
Cloud tampak berpikir mengenai hal ini. "Nanti aku yang akan bicara pada ibu. Arthemis terlalu berbahaya. Kita mempunyai hubungan yang kurang baik dengan mereka. Asia lebih bisa dipercaya. Hubungan antar negeri juga berlangsung baik selama ini. Jadi jika memang harus mengambil bunga malaikat itu, lebih baik ke Asia." Cloud memaparkan pilihannya padaku.
Aku mengangguk, merasakan hal yang sama. Asia lebih kukenal dibanding Arthemis yang tidak kutahu bagaimana penduduknya di sana. Sedang Asia penduduknya ramah-ramah. Pihak istana juga tampak menjaga sopan santunnya terhadapku. Ya, paling-paling hanya ratunya saja yang seperti kurang menyukaiku. Tidak jauh berbeda dari Angkasa. Tapi semoga saja kedatanganku nanti bisa diterima olehnya.
__ADS_1
Esok harinya...
Matahari terbit dengan sempurna. Aku pun bergegas mandi untuk membersihkan diri ini. Setelahnya kukenakan gaun kerajaan berwarna merah muda dengan pernak-pernik mutiara di bagian depannya. Gaunnya cantik dan juga berlengan panjang. Bagian dadanya tertutup sempurna sehingga tidak kelihatan. Tak lupa kupoleskan make up yang girly agar kelihatan lebih imut lagi. Polesan eye shadow dan blash on pink mendominasi wajahku.
"Pakai lipstik berwarna merah saja."
Entah mengapa hari ini aku ingin memakai lipstik dibandingkan dengan lipglos. Kukenakan lipstik berwarna merah bak bunga mawar yang merekah indah. Namun, lipstik yang kukenakan ini sudah disertai dengan pelembabnya. Sehingga tidak kering ataupun menempel di pakaian jika terkena. Entah bagaimana cara membuatnya, sepertinya aku harus berterima kasih kepada pihak rumah kecantikan istana atas kerja kerasnya dalam menghasilkan banyak kosmetik berkualitas tinggi.
"Selesai."
Aku pun mengambil sepatu berwarna perak setinggi tiga senti. Rambut sengaja kugulung agar lebih rapi hari ini. Tak lupa kubuat poni dengan sisi yang lebih panjang dan jatuh. Sehingga wajahku terlihat lebih tirus dari biasanya. Cantik sekali.
Setelah berdiskusi dengan Cloud semalam, aku memutuskan untuk pergi ke Asia dibanding ke Arthemis dalam mendapatkan bunga malaikat itu. Karena risiko dinilai lebih kecil jika pergi ke Asia. Dan Cloud akan membicarakan hal ini kepada ibunya agar tidak memintaku lagi untuk pergi ke Arthemis. Entah bagaimana cara Cloud menjelaskannya kepada ratu, dia bilang aku tidak perlu mengkhawatirkannya.
Semalam akhirnya aku bisa tidur nyenyak setelah Cloud mengantarkanku kembali ke kamar. Dia mengecup keningku lama sekali. Seolah sedang menyalurkan seluruh perasaan yang ada di dalam hatinya. Dia juga tersenyum kepadaku dengan senyuman termanis yang pernah kulihat selama ini. Sepertinya dia sangat berharap aku bisa mengambil bunga malaikat itu demi kesembuhan ayahnya. Dan aku akan mencoba untuk mengerti keadaannya.
Semoga keputusan yang kuambil ini benar.
Aku tahu Cloud juga sebenarnya tidak rela jika aku bertemu kembali dengan Zu. Tapi, keadaan mendesak seperti ini dan seolah dikejar-kejar waktu. Namun, hatiku masih tidak ingin menuduh Asia jika ada kaitannya dengan jatuh sakitnya raja. Aku lebih condong ke Arthemis yang entah mengapa.
__ADS_1
Aku juga tidak tahu apa perasaanku ini benar atau salah. Tapi, gagak hitam itu pergi ke arah barat Angkasa. Seolah menandakan jika ada sesuatu hal di sana. Sedang Asia berada di timur Angkasa. Rasanya negeri itu tidak ada kaitannya dengan jatuh sakitnya raja.