
Cloud semakin memerhatikanku. Aku pun menelan ludah seraya menarik napas dalam-dalam. Aku berpikir cepat agar bisa menghindar darinya. Aku khawatir diminta menurunkan gaun olehnya. Dan dia bisa melihat dengan jelas tanda dari Rain ini. Aku khawatir terjadi keributan di antara mereka dan berkelahi.
"Em, Cloud. Maaf aku tidak mematuhi perintah. Seharusnya kemarin aku sudah pergi ke Negeri Bunga. Tapi hari ini masih berada di sini. Aku harus cepat-cepat bergegas ke sana. Sampai nanti ya." Aku pun berjalan melewatinya.
Tak tahu mengapa perasaan bersalah itu menyelimuti hatiku. Tidak seharusnya aku sembunyi-sembunyi seperti ini. Semalam memang terasa berbeda sekali. Aku pun tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Dan akhirnya aku terhanyut dalam sentuhannya. Aku tidak ingat lagi jika ada Cloud yang harus kujaga perasaannya.
Maafkan aku, Cloud ....
Aku dan Rain memang tidak melakukan hubungan intim. Tetapi tetap saja sentuhan demi sentuhan yang dia berikan membuatku melayang ke angkasa. Mungkin sudah saatnya bagiku untuk menikah agar dapat meredam gejolak yang bisa datang tiba-tiba. Ya, aku juga manusia biasa yang membutuhkannya. Namun, terkadang khilaf dan lupa.
Lantas kuteruskan langkah ini dan membiarkan Cloud terdiam di tempatnya. Sambil menjinjing sedikit gaunku, aku berjalan cepat menuju lantai tiga istana. Aku akan berkemas sebelum berangkat ke Negeri Bunga. Semoga saja semuanya lancar tanpa kendala.
Beberapa saat kemudian...
Matahari terasa menyorot bumi lebih dekat sehingga membuat hari ini terang-benderang. Tidak hanya terang tapi juga terik menyengat kulit. Aku sampai harus mengenakan gaun sutra agar terasa nyaman di badan. Gaun sutra panjang semata kaki dengan bahan dasar tipis dan jatuh. Gaunnya juga berwarna hijau sehingga menyejukkan pandangan.
Gaun ini berlapis-lapis dengan pernak-pernik di bagian dadanya. Terlihat simpel dan juga anggun. Sedang sepatunya kukenakan high heels perak setinggi tiga senti. Aku pun siap menjalani hari.
Kini aku sudah berdandan cantik dengan polesan make up yang sedikit berani. Aku juga telah menyemprotkan parfum kesukaanku ke seluruh tubuh ini. Katanya sih aromanya bisa tercium dari jarak setengah kilometer. Dan ya, aku menyukai aromanya. Sehingga parfum ini menjadi ciri khas tersendiri bagiku.
Pagi ini aku akan berangkat ke Negeri Bunga untuk menjalankan perintah ratu. Semua sudah kupersiapkan tinggal keberangkatannya saja. Sepertinya Cloud juga sedang mempersiapkan semua berkas dan administrasi keberangkatanku. Sedang aku menuju kediaman raja untuk menjenguknya. Aku ingin melihat sendiri bagaimana keadaan raja saat ini. Ya, walaupun sebenarnya tidak boleh.
"Salam bahagia untuk Nona Ara." Pelayan kediaman raja menyapaku.
"Salam bahagia. Bibi, bolehkah aku menemui Yang Mulia?" tanyaku padanya.
Pelayan itu seperti enggan mengatakan. "Mohon maaf, Nona. Ratu melarang siapapun untuk menemui paduka selain dirinya dan kedua pangeran. Paduka harus banyak-banyak beristirahat sehingga tidak boleh diganggu." Pelayan menuturkan padaku.
"Oh ...." Aku pun hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
Tak tahu mengapa aku merasa ada hal aneh sedang terjadi. Aku sudah bersusah payah untuk mendapatkan bunga malaikat itu, tapi kenapa tidak boleh menemui raja walau sebentar saja? Padahal aku calon menantunya.
Ya, sudahlah. Lebih baik berpamitan pada Rain saja.
Lantas aku pun pergi dari kediaman raja lalu melangkahkan kaki ke belakang istana untuk menemui Rain. Aku bergegas ke sana sebelum Cloud datang menemuiku. Kulihat penghuni istana juga tampak memerhatikan langkah kakiku yang terburu-buru. Hingga akhirnya aku sampai di tempat Rain berlatih bersama prajuritnya. Ternyata di sana tim pemanah sedang unjuk gigi di hadapannya.
Rain, aku datang.
Lekas-lekas aku mendekatinya. "Rain!" Aku pun memanggilnya tanpa segan. Pangeran berjubah merah itu kemudian berbalik ke arahku.
Kulihat keringat bercucuran dari dahinya. Dia seperti banyak menguras tenaga saat ini. Tanganku pun tanpa sadar bergerak sendiri untuk mengusapnya. Aku ingin mengusap keringatnya.
"Ara, kenapa ke sini? Biar aku saja yang menghampirimu." Dia seperti keberatan aku datang.
"Tak apa, Rain. Sebentar lagi aku akan berangkat ke Bunga," kataku padanya.
"Ke Bunga? Sekarang?!" Rain terlihat kaget.
Rain terdiam sejenak. "Kalian lanjutkan latihannya. Aku beristirahat sebentar!" Dia kemudian berbicara kepada prajuritnya.
"Baik, Pangeran!" Para prajurit pun mengiyakannya.
"Ara, kita ke sana." Rain mengajak ku menuju teras gazebo besar yang ada di belakang istana. "Kau yakin akan ke Bunga pagi ini?" tanyanya padaku.
Aku mengangguk seraya berjalan bersamanya. "Ya, Cloud sudah datang dan menyampaikannya sendiri padaku."
Rain mengembuskan napasnya. Dia terlihat lelah sekali. "Sore nanti aku juga akan berangkat ke Terusa." Dia mengungkapkan padaku.
"Ap-apa?!"
__ADS_1
Aku bergantian terkejut. Ternyata Rain juga diminta untuk berangkat ke negeri yang berbatasan langsung dengan Arthemis sore ini.
"Benar, Ara. Waktu sudah mepet sekali. Aku tidak bisa mengantarkan keberangkatanmu ke Bunga. Nanti aku yang menjemputmu pulang saja ya?" Dia mengatakannya padaku.
Aku mengangguk, mencoba mengerti keadaannya saat ini.
"Ara."
"Ya?"
"Aku ingin memelukmu, tapi badanku basah karena keringat. Aku juga ingin menciummu, tapi aku belum mandi. Kutitipkan saja hatiku padamu, ya. Hati-hati di perjalanan. Nanti aku akan menjemputmu pulang. Jaga dirimu baik-baik." Dia berpesan padaku.
"He-em." Aku pun mengangguk walau terasa berat sekali.
Kulihat Rain tersenyum dan menatapku dalam. Sepertinya dia sedang menyalurkan energi cintanya padaku. Aku pun menerimanya lalu lekas berpamitan.
"Kau juga hati-hati di perjalanan. Semangat ya!" Aku memberi semangat padanya.
Rain mengangguk seraya terus menatapku. Walau dia seorang panglima, tetapi tetap saja mempunyai cinta. Dan hal semalam tidak akan pernah aku lupakan di sepanjang hidupku.
"Jaga dirimu, Rain." Aku pun berpamitan padanya.
Sedih rasanya karena harus berpisah. Tapi mau bagaimana, saat tugas negara sudah diberikan, mau tak mau harus dijalankan. Begitu juga dengan kami yang saat ini sedang mengemban tugas negeri. Aku berharap keberangkatan ini menjadi titik awal Angkasa disegani banyak negeri di luar sana. Ya, semoga saja.
Inginku memeluknya, tapi tubuhnya basah karena keringatan. Inginku menciumnya, tapi ini di ruangan terbuka. Terlalu vulgar untuk dikonsumsi penghuni istana. Jadi ya, hanya bisa berpamitan saja.
Lantas aku pun melangkahkan kaki, kembali ke istana untuk menyiapkan keberangkatan ke Negeri Bunga. Namun, beberapa langkah aku kembali menoleh ke belakang untuk melihatnya. Dan kulihat Rain masih memerhatikanku dari jauh. Dia tersenyum lalu melambaikan tangannya padaku. Sepertinya cinta dan rindu ini harus ditahan terlebih dulu.
Rain, aku mencintaimu. Semoga kita bisa bertemu kembali.
__ADS_1
Ratu memutuskan agar hari ini aku pergi ke Bunga dan Rain ke Terusa. Entah ada maksud apa, aku pun hanya bisa menuruti saja. Semoga akan ada hikmah ke depannya.