
Perjalanan menuju area bunga malaikat...
Kami duduk bersama di atas kuda. Namun kali ini dengan perasaan yang berbeda. Hatiku lebih ceria dibandingkan kedatangan sebelumnya. Aku pun tersenyum-senyum sendiri di depannya. Entah mengapa.
"Di balik pepohonan itu ada sungai yang bening airnya. Warnanya hijau. Dan di seberangnya ada semak bunga malaikat. Kita akan menyeberangi sungai untuk mendapatkan bunga itu." Zu menjelaskan padaku seraya menunjukkan tempatnya.
Aku mengangguk pelan tanpa bicara sepatah kata.
"Aku heran hari ini. Biasanya ada binatang buas yang datang dan mengganggu perkemahan. Tapi kenapa tidak ada? Apakah dia tahu jika ada seorang dewi yang akan datang?" Dia bertanya sendiri.
Ap-apa?!
Aku tersentak mendengarnya. Seolah menyinggungku dengan sebutan dewi. Entah dia sudah tahu atau belum dengan jati diriku sebenarnya. Rasa-rasanya aku tidak pernah menceritakan jika dianugerahi kekuatan supernatural oleh Yang Maha Kuasa. Aku juga hidup biasa saja, seperti manusia pada umumnya. Tidak menampakkan apa yang Tuhan lebihkan padaku.
"Pangeran, jadi kau menganggap aku sebagai dewi?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
Dia tersenyum kepadaku. Aku bisa merasakan semburat senyumnya itu. "Bukan hanya sekedar dewi, tapi juga malaikat hidupku," katanya menjelaskan.
Aku menoleh sesaat ke belakang untuk melihat raut wajahnya lebih jelas. Dan kulihat dia tertawa kecil sambil tersenyum manis sekali. Aku pun jadi heran dengan situasi ini. Kenapa bisa merasa lebih dekat sekarang? Tidak seperti sebelum kedatanganku ke sini.
Jangan-jangan aku disihir olehnya?
Tak tahu benar atau tidak, perasaanku mulai berubah semenjak kami terus bersama. Namun, sekuat hati aku melawannya dan memposisikan diri ini sebagai tamu kerajaan. Atau setidaknya sebagai seorang teman baginya. Teman tapi mesra. Mungkin julukan itu tepat untuk kami sekarang.
"Ara, wajahmu lucu jika sedang heran seperti itu." Dia berbisik padaku.
Sontak aku menjauhkan diriku darinya. Karena bisikan itu membuatku geli sendiri. Aku merasa geli walaupun dia hanya sekedar berbisik. Aku juga semakin khawatir dengan keadaan ini. Rasa-rasanya harus cepat kembali ke Angkasa agar kami tidak semakin dekat lagi. Ya, semoga saja saat memetik bunga malaikat tidak ada kendala sehingga bisa lekas kembali.
__ADS_1
Sesampainya di sungai hijau...
Dingin. Itulah hal yang kurasakan saat tiba di sebuah sungai yang airnya terlihat hijau. Keadaan sekitar tampak tenang dan juga mendamaikan. Mungkin seperti itu jugalah perasaanku saat ini. Dimana merasa terenyuh dengan segala perhatiannya padaku. Perhatian besar yang selama ini aku abaikan sehingga perasaan bersalah itu datang menggemuruhkan hatiku. Apakah ini memang takdirku?
Indahnya ....
Keadaan sekitar sungai ditumbuhi pepohonan dan juga semak belukar yang rimbun. Aku sendiri masih duduk di atas kuda bersama Zu yang mengendalikan laju kudanya. Kami pun akhirnya menyeberangi sungai hingga sampai di seberang. Dan saat itu juga kulihat bunga-bunga putih mengontraskan pandangan mata. Bunganya sangat banyak seperti hamparan sutera yang mahal. Dan mahkota bunga itu seperti butiran zamrud yang amat langka. Indah sekali.
Apakah itu yang dinamakan dengan bunga malaikat?
Mungkin pantas jika julukan itu disematkan kepada bunga yang kulihat ini. Selain khasiatnya yang dapat menyembuhkan segala penyakit, bunga malaikat atau habbatusauda juga memiliki warna putih susu yang begitu pekat. Benar-benar putih tanpa noda atau corak sama sekali. Bunga yang kutemui juga besar-besar mirip seperti bunga teratai yang sedang merekah indah. Cantik sekali.
"Kita sudah sampai, Ara."
Zu mengajak ku turun dari kudanya. Aku pun pelan-pelan turun dari kuda dengan dibantu olehnya. Mantel darinya masih kukenakan agar tidak terlalu dingin. Dia pun menemani di sisiku. Dia menggandeng pinggangku tanpa aba-aba atau pamit. Entah sadar atau tidak dia melakukannya, aku merasa dimiliki olehnya.
Aku melirik sesaat ke arahnya seraya berjalan bersama, mendekati semak bunga malaikat ini. Namun, Zu hanya tersenyum dengan senyuman manis yang menggetarkan hatiku. Getaran di hatiku pun semakin bertambah karena melihat senyumannya itu. Seolah-olah senyumannya mengalihkan duniaku.
Ingat sudah ada Cloud dan Rain, Ara!
Aku ini sudah dewasa. Tapi entah mengapa di bumi ini seperti anak remaja saja. Usiaku beranjak dua puluh dua tahun, tapi belum juga bisa mengukuhkan pilihan hatiku. Selalu saja terombang-ambing dalam menimbang perasaan. Ya, walaupun harus kuakui jika perasaanku ini lebih banyak ke dua pangeran Angkasa. Tetapi tetap saja saat bersama Zu bunga-bunga cinta itu seperti merekah kembali.
"Indah sekali, Pangeran."
Akhirnya kami sampai juga di semak bunga malaikat. Aku pun segera berjongkok untuk melihat bunganya. Kupetik satu lalu kucium aroma dari bunga malaikat ini. Dan ternyata, bunga ini tidak memiliki aroma khusus. Dedaunan bunganya juga seperti basah terkena embun. Sayang aku tidak membawa ponselku ke sini. Mungkin bisa mengabadikan bunga malaikat yang begitu besar sekali. Ya, harus kuakui jika bunga ini besar sekali.
"Dia tidak mempunyai aroma khusus, Ara." Zu memberi tahuku.
__ADS_1
"Benarkah Pangeran?" tanyaku segera.
Zu mengangguk. "Yang kita gunakan untuk pengobatan adalah biji bunganya. Bijinya akan dikeringkan terlebih dahulu baru ditumbuk. Setelahnya baru bisa digunakan untuk obat. Sedang aroma biji bunganya baru akan tercium setelah menjadi serbuk." Zu ikut berjongkok di sampingku. Dia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.
Aku mengangguk, mengerti apa yang dia sampaikan. Lantas segera kuajukan permintaan kepadanya. "Pangeran, bolehkah aku mencangkok bunga ini?" tanyaku dengan mata berbinar-binar. Aku tak tahu malu lagi.
Hei, Ara. Baru saja datang sudah ingin membawa pulang bunga beserta pohon-pohonnya?!
Zu terdiam melihatku. Seperti ada yang sedang dia pikirkan saat ini. Entah mengapa tatapannya seperti mengenang masa-masa indah itu. Aku pun menggerak-gerakkan tanganku di hadapannya. Tak lama kemudian dia pun tersadar dari lamunannya.
"Pangeran?"
"Ehem, maaf." Dia seperti tertegun melihat sorot mataku yang berbinar.
Kata orang aku mempunyai sorot mata yang mampu membuat pria tidak bisa berkutik. Aku tidak tahu hal itu benar atau tidak. Tapi semenjak datang ke bumi ini, aku memang merasa lebih cantik berkali-kali lipat dari saat tinggal di bumiku sendiri. Entah karena kesalahan otak dalam memvisualisasi atau memang benar aku bertambah cantik. Mungkin orang lain lebih bisa menilainya daripada aku.
"Ara."
"Ya?"
"Kau ingin membawa pulang bunga ini bersama pohon-pohonnya?" tanyanya padaku seraya menatap bola mata ini.
"He-em. Boleh?" tanyaku memastikan lagi.
Kulihat Zu menelan ludahnya. Dia menunduk sejenak lalu menatapku kembali. Dia mengambil napas dalam untuk bicara padaku.
"Kenapa hanya bunganya saja, Ara? Kenapa tidak pemilik area ini?" tanyanya yang membuatku terdiam seketika.
__ADS_1