
Aku mencoba memberi pengertian padanya agar dia tidak terlalu mengharapkanku. Walaupun nyatanya sangat senang berada di dekat pangeran tampan nan baik hati seperti dirinya. Tetapi tetap saja aku masih kepikiran jika kedua pangeranku mengetahui kedekatan ini. Bisa-bisa mereka cemburu dan sesuatu hal terjadi. Tahu sendiri bagaimana jiwa seorang lelaki jika sedang cemburu. Bisa-bisa berkelahi dan main hakim sendiri.
Zu diam. Sepertinya dia memikirkan masak-masak apa yang kukatakan ini. Mungkin dia sedang berpikir bagaimana jika di posisi kedua pangeran Angkasa. Pastinya rasa cemburu itu ada dan menggerogoti hatinya. Kembali lagi aku memperingatkannya agar dia tidak terlalu mengharapkanku. Agar tidak kecewa dan menanggung malu.
Memasuki ibu kota Asia...
Kami berdiaman setelah aku mengatakan bagaimana jika dia berada di posisi kedua pangeran Angkasa. Tapi setelah memasuki ibu kota, dia mulai berulah lagi. Dia berdehem, batuk, yang tidak kuketahui kenapa bisa begitu. Seakan-akan meminta perhatianku agar aku menyapa dan bertanya padanya. Tapi, aku masih diam juga. Aku tidak ingin menanggapi tindakannya yang mencari perhatian itu.
"Ara." Akhirnya dia tidak tahan juga untuk terus berdiaman denganku.
"Apa?" tanyaku sekedarnya.
Dia melirik ke arah bunga yang kudekap di dada. "Sedari tadi kau mendekap bunga itu." Zu mengalihkan perhatianku yang sedang mendekap bunga malaikat ini.
"Eh, kenapa?" tanyaku heran.
Zu terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dariku. "Apakah kau tidak mengerti juga?" tanyanya yang membuatku bingung.
"Eh?!"
"Apa semuanya harus diucapkan?" tanyanya lagi.
Apa maksudnya? Dia kenapa sih?! Kenapa bersikap aneh padaku?
Tak tahu kenapa, sejak berhasil mendapatkan bunga malaikat itu sikapnya mulai aneh kepadaku. Seolah-olah meminta bayaran atas bunga yang kudapatkan ini. Sedang aku tidak memedulikannya. Aku biasa saja menanggapi setiap gerak-geriknya. Dia seperti seorang pria yang ingin dimanja kekasihnya padahal aku bukanlah pasangannya. Jadi jelas saja tidak bisa.
"Pangeran, kau kenapa? Aku tidak mengerti," kataku padanya.
__ADS_1
Dia tetap mengalihkan pandangannya dariku. Tapi, tangan kirinya itu merayap-rayap ke arahku. Seolah ingin mencari tanganku lalu memegangnya. Lantas aku mengerti apa yang dia inginkan. Aku pun tersenyum sendiri melihatnya.
Pangeran, harus berapa kali kubilang jika aku ini calon istri orang? Kenapa kau tidak menganggapnya sama sekali? Bagaimana jika berganti posisi? Apa kau tidak keberatan dengan hal ini?
Aku tidak tahu perasaan Zu yang sebenarnya. Apakah sebatas obsesi atau ambisi untuk mendapatkanku. Tapi jika kurasakan dari getaran cinta yang dia berikan, Zu memang serius untuk menjalani hubungan ini. Namun masalahnya, aku sudah terikat titah dan tidak mungkin mengkhianatinya. Tahu sendiri hukuman bagi seorang pengkhianat kerajaan seperti apa. Dan aku tidak sanggup untuk menerimanya.
Kupukul tangannya yang merayap-rayap itu. Zu pun seketika terkejut dengan tindakanku.
"Aw! Ara?!" Dia terbelalak kaget.
Aku tersenyum. Kuberikan senyum palsu padanya. Tak peduli lagi dia mengerti atau tidak. Setelah senyum aku pun kembali mengalihkan pandangan darinya. Aku bersikap biasa saja.
Maaf, Pangeran. Berhentilah meminta hatiku. Jangan buatku bertambah kesal dengan ulahmu itu. Kita sudah tidak lagi bersama.
Cuaca siang ini seolah menjadi saksi dari hati yang sebenarnya tak tega. Tapi aku terpaksa melakukannya untuk menjaga semua dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pada prinsipnya semua lelaki itu sama. Namun, terkadang sedikit berbeda dalam penyampaian sikapnya. Dan lebih baik wanita menghindarinya jika memang tak suka. Daripada lebih menambah luka baginya. Karena pria pun seorang manusia yang harus dijaga perasaannya.
Angin sejuk menerpa permukaan kulitku. Aku pun dengan hati-hati turun dari kereta kuda dengan dibantu oleh Zu. Dia membantuku turun yang membuat para pelayan istana memperhatikan kami. Rasanya si putra mahkota ini tidak lagi menyembunyikan perasaannya di hadapan para penghuni istana. Dia juga seakan tidak peduli dengan status diriku ini. Dia terus saja memperlakukanku bak putri dan memanjakanku sepanjang hari.
Ah ... akhirnya sampai juga ....
Ternyata waktu yang digunakan untuk mendapatkan bunga malaikat ini satu harian penuh. Kami pergi sore dan pulang ke istana sore hari lagi. Itu berarti aku harus cepat-cepat kembali ke Angkasa agar waktu yang tersisa untuk pengobatan raja cukup lama. Karena sekarang saja sudah H-3. Itu berarti hanya tinggal tersisa tiga hari lagi sebelum raja tidak bisa diselamatkan. Aku pun harus cepat-cepat kembali ke Angkasa.
"Selamat datang, Pangeran." Tiba-tiba seorang pria paruh baya mengenakan pakaian kerajaan menghampiri Zu saat kami baru tiba di istana.
"Menteri Lu, ada apa?" Zu bertanya segera setelah membantuku turun dari kereta kuda.
"Mohon maaf, Pangeran. Ada tamu untuk Pangeran. Dia sudah lama menunggu dan ingin segera bertemu." Pria paruh baya yang ternyata seorang menteri itu menuturkan.
__ADS_1
Aku lupa-lupa ingat siapa saja menteri yang ada di istana ini. Maklum, aku telah mencoba melupakan semuanya sehingga tidak perlu mengingat-ingatnya lagi. Namun, kini seorang menteri datang dan memberi kabar kepada Zu. Tentu saja aku ingat kembali bagaimana rupanya. Kalau tidak salah dia adalah Menteri Luar Negeri Asia, sama seperti Tuan Shane di Angkasa.
"Baik. Aku akan menemuinya segera." Zu pun memenuhinya.
Menteri itu kemudian berpamitan kepada kami seraya membungkukkan badan. Setelahnya dia pun bergegas pergi, kembali masuk ke istana. Sedang aku...
"Ara, aku ada tamu. Kau bisa menungguku di rumah?" tanyanya tiba-tiba.
"Hah? Apa? Kenapa harus di rumahmu, Pangeran?" Aku merasa heran.
Zu tersenyum. "Kau ingin segera kembali ke Angkasa, bukan? Tidak inginkah minum teh bersamaku terlebih dahulu?" Dia menawarkan padaku.
Err ... dia ini. Masih bersikeras juga. "Em, tapi jangan lama, ya?" Karena tak enak menolak, akhirnya aku mengiyakannya.
"Kau bisa menaiki kuda, bukan?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
"Prajurit! Tolong bawakan kudaku!" Dia meminta prajurit yang berjaga di depan istana untuk membawakan kudanya.
"Baik, Pangeran!" Prajurit itu pun bergegas ke belakang istana.
Entah kenapa Zu malah memintaku untuk menunggu di rumahnya. Tapi mungkin tak ada salahnya beristirahat sejenak dari perjalanan panjang ini. Namun, ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Kenapa tidak boleh ikut serta menemui tamunya? Apakah ada sesuatu hal yang dia sembunyikan dariku?
"Pangeran, ini kudanya." Tak lama kemudian kuda putih milik Zu pun datang.
"Ayo, Ara. Lekas naik dan tunggu aku di rumah." Dia memintaku terburu-buru.
__ADS_1
Aku mengangguk. Mau tak mau memenuhinya. Kunaiki kuda putih ini seraya membawa bunga malaikat yang berhasil kudapatkan. Aku pun segera melaju menuju ke rumahnya. Masih ingat? Tentu saja. Karena di sanalah seribu satu kisah tercipta. Dan sekarang aku akan beristirahat sejenak di sana.