Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Stay Here


__ADS_3

"Pangeran." Aku pun beranjak bangun untuk menyambutnya.


Zu meletakkan lampu minyak di depan pintu, membuat kamar ini begitu terang sekali. Dia kemudian duduk di dekatku.


"Apa ada yang kau butuhkan?" tanyanya seperti berharap aku jujur.


Aku melihat ke arahnya. Menatap paras pria yang dulu pernah bersamaku. Cahaya terang dari lampu minyak itu seolah ikut memancarkan kharismanya. Tak tahu mengapa rasa iba pun muncul di hatiku. Aku tak tega kepadanya.


"Ara ...?" Dia bertanya padaku lagi.


"Em, iya." Aku pun segera tersadar dari lamunanku.


Zu memerhatikanku. Seketika aku jadi grogi dibuatnya. Aku pun memutar tubuh ini agar tidak terlalu menghadap ke arahnya. Aku malu. Jelas saja malu kepada seseorang yang kutolak kedatangannya tapi kini kumintai bantuannya. Zu pun memegang wajahku. Sentuhan lembut darinya kurasakan menyentuh wajah ini. Saat itu juga jantungku berdebar kencang sekali.


Pangeran ....


Getaran-getaran itu kurasakan kembali. Hingga akhirnya tersadar jika dia benar-benar menyayangiku. Tidak seharusnya aku menolak kedatangannya waktu itu. Dia telah jauh-jauh datang hanya untuk menemuiku. Berbicara empat mata lalu mengajak ku kembali ke istananya. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah di Angkasa dan berniat untuk menetap di sana. Sehingga aku menolak kedatangannya.


"Mau kudongengkan cerita untukmu?" tanyanya seraya menatap wajah ini.


"Pangeran ...."


"Tak apa. Sekarang tidurlah. Biar aku menjagamu sambil mendongengkan cerita." Dia memintaku merebahkan diri.


"Tap-tapi—" Aku ingin menolaknya.

__ADS_1


"Jangan takut. Aku tidak gigit jika tidak dipinta." Dia tersenyum malu seraya memperlihatkan gigi-gigi kecilnya padaku.


Pangeran, kau membuat hatiku terenyuh.


Aku pun tersenyum. Entah mengapa membalas senyumnya begitu saja. Dia seperti tahu hal apa yang sedang kurasakan saat ini. Mungkin karena dulu pernah dekat, jadinya bias-bias cinta itu masih bisa kurasakan. Entahlah, aku berharap perasaan ini sementara saja. Setelah mendapatkan bunga malaikat itu aku akan segera kembali ke Angkasa dan melupakannya. Semoga saja bisa.


"Silakan tidur, Tuan Putri." Zu menepuk-nepuk bantal untukku tidur.


Aku mengangguk, lalu merebahkan diri dan memiringkan tubuh ke arahnya. Kuperhatikan dirinya yang tengah duduk di sampingku sambil menyandar di dinding rumah pohon ini. Dia pun mulai bercerita untukku. Sebuah cerita yang semakin lama kudengarkan, semakin membuatku penasaran akan akhir ceritanya. Namun, sepertinya mataku mulai mengantuk. Aku rasa harus tidur secepatnya sebelum kesiangan lagi. Karena esok pagi aku harus memetik bunga malaikat itu di sini.


Pangeran, terima kasih.


Akhirnya napasku berangsur-angsur pelan. Alam bawah sadarku mulai mengambil alih kesadaran ini. Kupejamkan mata sambil menarik napas perlahan. Aku akan segera memasuki alam mimpiku. Semoga saja akan ada jawaban atas penantian cinta ini. Aku berharap itu.


Esok harinya...


Perlahan-lahan kubuka mata lalu melihat keadaan sekitar. Aku ingin segera mewujudkan mimpiku. Aku pun melihat cahaya lampu minyak masih menerangi ruangan ini. Lekas saja aku bangun untuk segera mewujudkan mimpiku. Namun, saat aku bangun, saat itu juga aku terkejut. Ternyata...


Astaga?!


Kulihat putra mahkota Asia tengah tertidur di sampingku dengan jarak yang sedikit jauh. Kulihat gaunku pun masih baik-baik saja. Tidak ada yang terbuka ataupun robek karenanya. Menandakan jika dia benar-benar menjagaku semalam. Rasanya kasihan melihat dirinya tertidur seperti ini. Entah mengapa rasa iba itu kembali muncul dan menghantuiku. Aku tak tahu pertanda apa. Tapi baiknya aku segera membangunkannya.


"Pangeran."


Aku berbisik pelan seraya menarik ujung baju kerajaannya yang berwarna hitam. Namun, dia belum tersadar juga dari tidurnya. Dan karena iseng, aku pun memerhatikannya yang sedang tidur di sampingku. Aku sentuh pipinya dengan jari telunjukku ini. Namun, dia belum terbangun juga, entah mengapa.

__ADS_1


Mungkin dia sangat kelelahan akhir-akhir ini. Pangeran, harus kuakui jika kau memang tampan.


Ada rasa senang saat dapat bertemu kembali dengannya. Namun, ada rasa khawatir yang menyelimuti pikiran ini. Tak tahu mengapa getaran di hatiku terasa saat dekat dengannya. Seolah memberi tanda jika dia adalah jodohku. Entah benar atau tidak, aku juga tidak tahu. Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana dengan kedua pangeranku?


Sepanjang kisah ini aku lebih banyak mengukir cerita bersama Rain ataupun Cloud. Zu hanya pendatang baru di hatiku. Ya, walaupun begitu, bisa saja suatu hari nanti dia mendominasi hati ini. Karena tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya. Hal-hal yang akan terjadi masih menjadi misteri. Bahkan walau memiliki kekuatan seperti dewa pun tidak dapat mengetahui masa depan. Dan karena hal itulah aku selalu menanam bibit kebaikan agar tumbuhnya juga kebaikan. Berharap bisa memetik hasil yang memuaskan di masa depan. Karena tidak mungkin menanam labuh tumbuhnya mangga, bukan?


"Pangeran, bangun. Kita akan mengambil bunga malaikat."


Aku mencoba mengguncang tubuhnya. Kuguncang pelan agar dia tersadarkan. Saat itu juga dia memegang tanganku. Sepertinya dia telah terjaga dari mimpinya.


"Pangeran ...." Aku pun mencoba memanggilnya lagi.


Zu terbangun. Perlahan-lahan kedua matanya terbuka dan melihatku. Saat itu juga kulihat tatapan matanya seperti menyiratkan sesuatu kepadaku. Bibirnya seperti ingin bergerak untuk mengucap namaku. Tapi, aku tidak ingin terlalu berpikiran jauh. Kami sudah berpisah dan tidak mungkin kembali bersama. Walaupun nyatanya benih-benih cinta itu masih ada. Tetapi tetap saja titah raja telah dicetuskan. Aku akan menikah dengan kedua pangeran Angkasa.


"Ara ...."


Dia menatapku, memerhatikan apa yang ada di wajah ini. Zu pun mengusap lembut wajahku sambil tetap menelentangkan tubuhnya di sampingku. Dia masih belum beranjak bangun, seolah ingin terus melihatku. Aku pun terdiam di sisinya tanpa bisa berbuat apa-apa. Getaran di hatiku terasa mulai mendominasi pikiran ini.


"Ara ... bisakah kau tinggal di Asia? Bisakah tidak kembali ke Angkasa?" tanyanya yang membuatku terkejut seketika.


"Pangeran ...?!"


"Aku begitu mencintaimu, Ara. Tidak bisakah belajar untuk mencintaiku?" tanyanya dengan tatapan sendu.


Lagi. Zu menyatakan rasa cintanya padaku. Hatiku pun bergetar mendengar pernyataan itu. Rasanya kasihan sekali melihat seorang calon raja mengemis cinta padaku. Padahal masih banyak putri cantik jelita yang sebanding dengannya. Tapi kenapa harus aku yang hanya gadis biasa? Sungguh tak bisa kupercaya jika ini adalah nyata.

__ADS_1


"Pangeran, aku sudah akan—"


"Ssst." Dia menahan bibirku dengan jari telunjuknya. "Jangan katakan lagi. Setiap kau mengatakannya, seperti ada yang meremukkan jantungku ini. Jangan lagi, Ara," pintanya, dengan tatapan sendu melihatku.


__ADS_2