Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
See


__ADS_3

Malam harinya di istana Angkasa...


Angin menerbangkan tirai-tirai jendela kamarku yang berada di lantai tiga istana. Rasanya sepi senyap kulalui malam tanpa keduanya. Aku masih menunggu Rain kembali dari urusannya. Tapi sepertinya dia masih sibuk sekali. Tampaknya kedua pangeranku baik Rain maupun Cloud sedang disibukkan dengan aktivitas kerajaan yang padat. Sampai-sampai mereka tidak lagi memiliki waktu untuk bersamaku. Hari ini kulalui tanpa hangat kasih sayang dari mereka.


Aku sedang duduk di depan meja yang berada di samping jendela kamarku. Kulihat pelataran teras istana juga tampak sepi dan senyap. Sepertinya sekarang sudah memasuki jam istirahat yang mana penghuninya tidak diperkenankan untuk membisingkan suara. Termasuk aku yang sedang termenung di sini. Aku pun mengambil dua surat yang ratu berikan padaku tadi.


Surat pertama adalah surat perintah darinya yang memintaku agar lekas-lekas pergi ke Negeri Bunga. Kubaca lagi isi suratnya dan kucermati hal-hal apa saja yang harus kulakukan di sana. Dan ternyata, pihak Negeri Bunga memintaku untuk mendekorasi ulang istananya. Sungguh tak menyangka jika akan menerima tugas ini. Entah memang murni pihak Bunga yang meminta, atau hanya akal-akalan ratu semata. Sampai detik ini aku belum bisa memastikannya.


Mendekor ulang istana, membuat rancangan gaun untuk putri dan juga para pelayannya. Tentu saja hal itu tidak bisa kuselesaikan dengan cepat. Setidaknya membutuhkan waktu lebih dari dua minggu untuk menyelesaikan tugas ini. Apalagi jika pekerjaan ini dibayar tinggi oleh mereka. Aku tidak boleh mengecewakannya.


"Dua minggu. Itu berarti aku harus bekerja ekstra sesampainya di sana. Aku tidak boleh berleha-leha agar pekerjaanku bisa cepat selesai dari waktu yang telah ditetapkan."


Lantas kututup surat tugas ini lalu kusimpan ke dalam lemari kecil yang ada di bawah meja. Aku pun bergegas membaca surat dari Zu. Namun, alangkah terkejutnya saat melihat isi suratnya. Ternyata berisi tulisan tangannya sendiri. Jika benar dia yang menulisnya, tentu saja dia adalah tipikal pria yang mencintai keindahan. Terbukti dengan tulisan tangannya yang begitu rapi.


"Duhai perempuan yang selalu menghantui..." Itulah kalimat pertama yang dia tuliskan di sepucuk surat ini.


Aku adalah pria yang selalu menantikanmu datang di setiap malamku.


Aku adalah pria yang selalu merindukan sosok perempuan sepertimu.


Kau bagai seteguk air di perjalanan panjangku.


Kau bagai bunga yang hidup di tengah padang gurun yang gersang.


Kau datang tanpa diundang, namun kau pergi meninggalkan beban.


Beban karena cinta yang tidak kesampaian.


Ara, kenapa kau pergi tanpa bilang padaku?

__ADS_1


Kenapa pergi di saat aku telah bersusah payah untuk membawamu pulang ke istana kita?


Tidakkah sedikit saja kau hargai perasaanku?


Aku sungguh lemah di hadapanmu. Aku tak berdaya.


Kutinggalkan semua yang kupunya hanya untuk mengemis cintamu.


Tidak kah kau melihatnya?


Tidak kah kau merasakannya?


Kau pergi begitu saja dan meninggalkan luka di hatiku.


Lalu apa yang harus kulakukan untuk tetap mempertahankan hidup ini bila tanpamu?


Kau belahan jiwaku, kau pengisi rindu yang menggebu.


Kembalilah ke Asia, Ara.


Aku menunggumu...


.........


Isi surat yang Zu berikan seakan mengoyak hatiku yang sedang dilanda kebimbangan. Surat ini seperti menamparku agar segera tersadarkan dari angan yang semu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat menuliskan surat ini untukku. Mungkin dia membutuhkan waktu sejenak agar tidak diganggu. Kuakui cintanya begitu besar terhadapku.


Di depanku, Zu tidak pernah menunjukkan jika dia adalah seorang calon raja yang besar. Di depanku dia hanya ingin disayang dan dimanjakan. Dia haus akan kasih sayang dariku. Dan aku mengerti akan hal itu. Karena sejak kecil dia dibesarkan oleh neneknya dan kurang mendapatkan belai kasih sayang dari seorang ibu. Dan karena hal itulah dia mengharapkanku.


Lantas, jika sudah begini haruskah aku memantapkan hati untuk memilihnya dari kedua Pangeran Angkasa? Aku membutuhkan waktu untuk bertukar pikiran sebelum mengambil keputusan besar dalam hidupku. Aku bak remaja labil yang mudah terombang-ambing dalam ombak kehidupan. Aku butuh seseorang untuk memantapkan keputusan ini. Tapi siapa? Harus kucari di mana orang itu?

__ADS_1


Pangeran, maafkan aku. Aku terlalu egois sampai menyakiti hatimu.


Mungkin salahku juga karena telah mengizinkannya masuk ke dalam hatiku. Mungkin salahku karena pernah memberinya harapan. Ya, aku mengakui kesalahanku. Dan kini aku ingin menebusnya. Tapi aku belum tahu bagaimana caranya. Haruskah aku menyerahkan diri dan dipersunting olehnya? Lalu bagaimana dengan kedua pangeranku di Angkasa?


Esok harinya...


Pagi hari aku terbangun dengan badan yang lebih segar. Kubuka jendela dan kulihat pemandangan istana pagi ini. Saat itu juga kulihat Rain sedang mengatur barisan pasukannya. Sepertinya dia bekerja keras semalam sampai tidak bisa menghampiriku lagi. Tapi ya sudah, kubiarkan saja dia dengan kesibukannya. Aku bergegas mandi lalu berdandan rapi untuk memulai hariku di istana ini.


"Hah ... mandi air hangat saja."


Aku masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintunya. Tapi, alangkah terkejutnya saat melihat Cloud tengah berendam di dalam bak mandi. Dia ternyata sudah datang dan mengagetkanku.


"Cloud, kau kah itu?" Aku pun kaget dengan kehadirannya. Bagaimana dia bisa memasuki kamarku?


"Ara, kau ingin mandi? Mandilah bersamaku," pintanya seraya tersenyum.


Hal yang terjadi ini seperti mimpi saja. Aku tak menyangka jika dia sudah datang ke kamarku. Lantas kucubit pipi dan tanganku untuk membuktikan jika ini bukanlah mimpi. Dan ternyata benar, ini bukan mimpi. Ini memang nyata terjadi jika dia berada di hadapanku. Aku pun bergegas mendekatinya yang sedang berendam di bak mandi. Kusentuh ujung pipinya untuk membuktikan dia bukanlah bayang-bayang atas pangeran sulung kerajaan ini.


"Ara ...." Saat itu juga dia memegang tanganku.


"Cloud, kau yang asli, bukan?" tanyaku padanya.


Dia tertawa. "Hahahaha. Tentu saja, Ara." Dia mencubit pipiku.


Aku tersenyum. Rasanya tak percaya bisa berjumpa dengannya saat ini. "Kau duluan saja mandinya. Aku sedang ingin menyendiri," kataku, menolak ajakannya secara halus.


Dia terdiam sejenak, memperhatikanku. "Apa sesuatu terjadi padamu?" tanyanya padaku.


Aku menggelengkan kepala, berusaha menyembunyikannya. "Aku baik-baik saja, Cloud. Lekaslah mandi. Nanti kita sarapan bersama ya." Aku tersenyum padanya.

__ADS_1


Cloud tampak tidak menolak permintaanku. Dia mengangguk. Tapi sepertinya dia memikirkan sikapku ini. Dia pun mengambil sabun cair yang ada di dekatnya. Sedang aku segera bergegas keluar kamar mandi dan menyiapkan pakaian yang akan kukenakan hari ini. Kutunggu dirinya sambil membaca buku yang ada di meja tamu. Aku ingin berbincang dengannya hari ini. Semoga saja dia dapat menguatkan hatiku dalam mengambil keputusan. Aku berharap itu.


__ADS_2