Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Never Give Up


__ADS_3

Aku menoleh ke arahnya yang duduk di sisi kananku. "Aku kedinginan, Pangeran. Sepertinya mau flu," kataku padanya.


Dia melirik sesaat lalu duduk lebih mendekat ke arahku. Padahal tadi kami berjauh-jauhan. Baru kusadari jika ternyata pria tidak bisa berlama-lama menjaga gengsinya dari seorang perempuan yang dicintai. Pada akhirnya dia juga yang memulainya dulu setelah mendiamkanku berjalan-jam lamanya.


"Sini!"


Pangeran ...?!


Tiba-tiba saja dia menarikku ke dalam pelukannya. Dia memelukku dari sisi seolah memberikan kehangatan pada tubuh ini. Aku pun terdiam sejenak dalam hangat tubuhnya. Tak percaya jika dia akan melakukan hal ini. Mungkinkah ini pertanda awal untuk hubungan kami?


"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Ara. Kau tidak mau meminta bantuanku untuk menghangatkanmu. Kau biarkan dirimu kedinginan sedang aku berada di sampingmu. Apa kau tidak menganggapku ada sama sekali?" tanyanya beruntun padaku.


Ih, dasar bawel!


Sudah tahu sedang kedinginan, dia malah mencecarku dengan banyak pertanyaan. Aku pun berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Mencoba acuh tak acuh terhadap apa yang dia katakan. Berharap dia tidak lagi memedulikanku. Tapi nyatanya, hal yang dia lakukan malah sangat berlawanan dari pikiranku.


"Gadis bandel!" Dia menarikku, lalu mendudukkanku ke atas pangkuannya.


"Pangeran!" Aku pun terkejut dengan tindakannya ini.


"Sudah diam! Dan jangan banyak bergerak! Kita saling menghangatkan!" Dia mulai mendominasiku.


Tentu saja posisi ini mengingatkanku dengan hal yang pernah terjadi dulu saat ingin pergi ke rumah Tabib Fu. Aku sempat bercanda dan melakukan hal yang sama padanya. Tentu saja posisi ini membuat kami dejavu.


Pangeran, kau ini keras kepala. Aku sudah akan menjadi istri orang, tapi kenapa belum juga menyerah pada keadaan?!


Tak tahu bagaimana mengungkapkan, aku rasa hanya aku sendiri yang tahu bagaimana sifat aslinya ini. Dia terkadang mesum tanpa mengenal tempat dan waktu. Selalu saja ingin berdekatan dan melakukan kontak fisik denganku. Tanpa berpikir lagi jika dia adalah calon raja negeri ini. Apakah semua pria sama sepertinya?


"Pangeran, wajahmu itu ... dekat sekali dengan dadaku. Bisakah ... bisakah lebih membuatku merasa nyaman?" Aku memelas padanya. Tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Nyaman? Kau ingin kenyamanan yang seperti apa, Ara?" tanyanya padaku.


Err ... sepertinya aku telah salah bicara padanya.

__ADS_1


"Ara, aku bertanya padamu." Dia mengatakannya lagi.


Kutelan ludahku lalu mengambil napas dalam-dalam. Aku pun mencoba bangkit dari pangkuannya agar tidak terus berada di posisi seperti ini. Tapi...


"Ara, aku bertanya padamu! Apakah harus berteriak agar dijawab?!" Sepertinya dia amat kesal padaku.


Zu menaikkan intonasi bicaranya. Aku jadi semakin pusing saja. Tak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya. Padahal sudah berulang kali kutegaskan jika aku ini calon istri orang. Tapi dia seakan tidak peduli. Lalu jika sudah begini, aku harus bagaimana?


"Em, Pangeran. Bisakah aku duduk di sampingmu saja?" Aku menunjuk kursi kereta kuda di sampingnya.


"Katanya kau kedinginan." Dia menegaskan kondisiku.


"Em ... jika kau ingin menghangatkan, jangan dengan posisi seperti ini. Aku tidak nyaman," kataku lagi.


Saat itu juga dia memintaku bangkit dari pangkuannya. Aku pun bangkit lalu duduk di sisinya. Namun, tak lama kemudian dia melakukan sesuatu yang membuatku terperangah. Ternyata dua kursi kereta kuda disatukannya. Dia kemudian memintaku untuk tidur.


"Perjalanan masih panjang. Rebahkanlah dirimu di sini. Aku akan menghangatkannya," katanya tanpa ragu.


"Tak ada tapi. Ayo!" Dia menepuk-nepuk kursi yang telah disatukannya.


"Hah ...."


Aku pun menarik napas panjang karena tidak dapat melawan kehendaknya. Jadi ya sudah, daripada berlama-lama berbicara tapi tak ada ujungnya, lebih baik aku menurut saja.


Setengah jam kemudian, sesampainya di pelabuhan barat Asia...


Ramai. Dini hari datang tapi pelabuhan di barat negeri ini masih terlihat ramai. Para nelayan berdatangan sehabis mencari ikan di lautan. Kulihat banyak kapal-kapal besar yang juga mengangkut muatan. Pelabuhan ini seperti tidak lagi mengenal siang atau malam. Selalu ramai walaupun pasang menghadang.


"Pangeran, aku bisa jalan sendiri."


Aku risih. Sangat risih dengan sikap putra mahkota Asia yang sedari tadi tampak berlebihan menaruh perhatian padaku. Bagaimana tidak, dia menuntunku memasuki kapal pesiar milik armada Angkatan Laut Asia ini, seperti anak kecil saja. Padahal aku sudah dewasa. Aku bisa jalan sendiri tanpa dibantu olehnya.


"Kau lama sekali jalannya. Aku gendong saja." Dia tiba-tiba menggendongku.

__ADS_1


"Pangeran, turunkan!"


Dia pun menggendongku. Tak tahu mengapa dia semakin menunjukkan perhatiannya padaku. Seperti tidak ada malunya lagi dengan keadaan sekitar. Padahal banyak pasukannya yang ikut menemani kembali ke Angkasa. Entah bagaimana isi hatinya, sepertinya melawan pun tak ada guna.


Pangeran, braku bergeser tahu!


Karena ulahnya aku jadi risih sendiri. Dan karena dia tiba-tiba menggendongku, braku sampai bergeser di dalam. Aku pun meronta minta diturunkan olehnya. Tetapi dia tetap saja keras kepala. Pada akhirnya aku sampai juga di kamar mewah yang ada di kapal pesiar ini. Dia baru menurunkanku dari gendongannya.


"Pangeran, kau berlebihan!" Saat kuturun, saat itu juga aku memukul lengannya.


"Aw! Ara, sakit!" Dia membiarkanku memukulnya.


"Keluar sana! Ada sesuatu yang ingin kubenarkan," kataku, mengusirnya.


"Apa?" Tanpa merasa berdosa dia bertanya.


"Pangeran, kita sudah dewasa. Tolong mengertilah tanpa harus diminta." Aku memelas padanya. Sudah lelah dengan semua tingkah lakunya.


Kulihat Zu terdiam. Dia menatapku dalam-dalam. Entah apa yang dipikirkan, tak lama kemudian dia mendekatiku lalu memegang wajahku ini. Sentuhan lembut darinya kurasakan lagi.


"Ara, apakah ... hatimu masih belum terketuk juga?" tanyanya yang membuatku terdiam.


Pangeran ....


Saat itu juga aku menyadari apa maksudnya melakukan semua ini. Ternyata dia ingin mengetuk pintu hatiku. Tapi nyatanya aku malah risih dengan sikapnya.


Ya Tuhan, harus berapa kali kubilang jika aku ini calon istri orang? Kenapa dia masih bersikeras untuk mendapatkanku? Sebenarnya apakah ini pertanda semesta untuk menunjukkan siapa jodohku?


Aku manusia biasa. Terkadang khilaf dan juga lupa. Tapi aku manusia yang mempunyai hati nurani. Dan nuraniku berkata agar memberi kesempatan padanya. Tapi di saat yang sama logikaku meronta. Mana mungkin menjalin hubungan dengan tiga pangeran dalam waktu bersamaan? Bagaimana caraku membagi waktunya? Lalu bagaimana nasab anak-anakku kelak? Apakah mereka tidak akan bingung siapa bapaknya?


Aduh ... kepalaku pusing sekali.


Zu tiada menyerah juga untuk mendapatkanku. Aku pun hanya bisa mengambil napas dalam di hadapannya. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Haruskah dia kugigit saja agar mengerti maksudku? Sungguh dia adalah calon raja yang keras kepala. Andai saja aku jadi ratunya, tentunya sudah kujitak kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2