Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Miss


__ADS_3

Waktu terus saja berlalu. Menit demi menit kulalui sambil menahan rindu. Ya, aku rindu dengan kedua pangeranku. Padahal baru beberapa jam tak bertemu. Rasanya rindu ini semakin membelenggu. Aku ingin cepat kembali ke Angkasa lalu segera bercumbu.


Kedua pangeran Angkasa begitu berarti di dalam hidupku. Karena merekalah asal muasal cerita ini dimulai. Perseteruan yang terjadi di antara keduanya pun seolah menambah kesan dalam kisah ini. Dan ya, hatiku sudah terpaut dengan mereka. Aku tak bisa lari.


Inginku hidup bahagia bersama keduanya. Inginku bisa memajukan Angkasa bersama. Inginku mereka dapat saling berbagi dan tidak cemburuan lagi. Tapi, itu hanya sebatas inginku. Sedang kenyataannya tidaklah seperti itu. Namun, aku berharap kesempatan itu selalu ada untuk kami. Untuk selalu bersama dalam cita dan cinta.


"Hm ... aromanya sedap sekali."


Saat ini di perkemahan para pasukan khusus sedang memasak perbekalan yang dibawa dari istana. Makanan cepat saji yang jumlahnya tak bisa kukira. Mungkin Zu sengaja membawanya banyak dari istana untuk para prajuritnya. Dan kini aku sudah siap untuk menyantapnya. Semangkuk mie dengan rasa kari ayam yang aromanya menggugah selera. Aku pun tak sabar untuk segera mencicipinya.


Dia lama sekali mengambilkan air minum untukku.


Aku sudah lapar. Jelas saja sudah lapar karena ini memang waktunya makan malam. Aku juga ingin segera menyantap hidangan yang ada di depanku. Ya, walaupun sederhana tapi cukup untuk mengenyangkan perut ini. Apalagi di tengah cuaca yang dingin. Cocok sekali untuk menyantap mie.


"Wajahmu terlihat semringah, Ara."


Akhirnya yang ditunggu-tunggu juga datang. Zu membawakan air minum dalam kemasan botol plastik untukku. Dia kemudian memberikannya padaku dan aku pun menerimanya dengan segera.


"Pangeran, kenapa kita tidak makan bersama mereka?" tanyaku sambil menunggunya duduk untuk menyantap makanan bersama.


Zu duduk di depanku. Kami berada di teras depan rumah pohon ini. Kami tidak makan bersama para prajurit yang ada di bawah Kami hanya berdua saja.


"Mereka malu jika ada seorang wanita yang memerhatikan mereka makan, Ara." Zu menerangkan padaku. Dia kemudian mengambil sumpitnya.


"Malu?" Aku pun ikut mengambil sumpit.


Zu tersenyum padaku. Matanya jadi sipit jika tersenyum seperti itu. Aku pun segera tersadar jika telah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya bersikap seperti ini kepadanya. Aku seperti terhipnotis hingga tak sadar dengan siapa aku berhadapan.

__ADS_1


Ya Tuhan, apakah ini respon alamiku terhadapnya? Mengapa bisa seluwes ini? Padahal aku calon istri kedua pangeran Angkasa. Ini tidak boleh terjadi. Astaga ... pasti dia berpikiran lain tentang sikapku.


Zu melambai-lambaikan tangannya di depanku. Saat itu juga aku tersadar jika sedang duduk bersamanya. Lantas aku berdehem untuk memecahkan suasana yang terjadi. Tidak seharusnya aku sedekat ini. Aku harus menjaga sikapku.


"Semenjak pulang ke Angkasa, kau banyak berubah. Pergi pun tak pamit padaku." Zu mulai menyantap mienya.


"Eh?"


"Bagaimana bisa kau pulang ke Angkasa sendiri?" tanyanya lagi.


Sendiri? Jadi dia mengira aku pulang ke Angkasa sendiri?


Ternyata Zu mengira aku pergi dari istana dan pulang ke Angkasa sendiri. Padahal Rain lah yang menjemputku. Entah bagaimana menjelaskannya, sepertinya memang lebih baik kututupi hal yang sebenarnya terjadi. Aku tidak boleh bilang jika Rain lah yang menjemputku. Bisa-bisa dia tahu bagaimana cara Angkasa menyelinap ke negerinya. Dan hal itu bisa menggoyahkan kerja sama yang telah terjalin.


"Aku ... aku bertemu seorang musafir yang akan berangkat ke pelabuhan." Aku terpaksa berbohong padanya.


"Ya." Aku mengangguk. "Dia adalah seorang pengembara yang kebetulan singgah ke Asia." Aku berbohong lagi.


"Pengembara? Apa yang kau maksud adalah Yang?" Zu bertanya padaku.


"Yang?" Seketika aku terheran sendiri.


"Ya. Yang. Dia adalah putra mahkota dari Arthemis. Dia suka mengembara ke banyak negeri. Dia tidak betah berlama-lama di istananya," tutur Zu lagi.


Yang??? Jadi nama putra mahkota Arthemis adalah Yang?


Tak tahu mengapa aku jadi teringat dengan sosok pria yang kutemui di danau cinta. Dia bilang sedang singgah untuk melihat pemandangan yang ada di sana. Apakah pria itu adalah Yang? Tapi dia memperkenalkan dirinya kepadaku sebagai Xi. Tidak mungkin sama, bukan?

__ADS_1


"Kenapa? Kau mengenalnya?" tanya Zu padaku.


Aku menggelengkan kepala.


"Sudah, cepat makan. Nanti terburu dingin." Zu pun mengajak ku makan.


Aku mengangguk pelan. Mencoba menepiskan sosok yang Zu katakan padaku. Padahal aku hanya asal-asalan saja menjawab pertanyaannya. Tak kusangka malah mendapatkan informasi.


Jadi nama putra mahkota Arthemis adalah Yang. Apakah sebenarnya nama pria itu adalah Yang Xi?


Aku penasaran, tapi juga lapar. Dan karena perutku keroncongan, aku ingin bersantap dulu, baru berpikir lagi. Aku harus mengenyangkan perutku terlebih dulu.


Menjelang tidur...


Angin hutan masuk lewat celah-celah kecil papan rumah pohon ini. Rasanya dingin sekali. Entah sudah jam berapa gerangan, rasanya tak lama lagi hari akan berganti. Mungkin saja saat ini sudah pukul sepuluh malam waktu sekitar. Tapi entah mengapa aku belum juga bisa tertidur. Padahal cukup lelah setelah melakukan perjalanan jauh dari Angkasa. Tapi tubuh ini seakan tidak mau diistirahatkan.


Cloud, Rain, sedang apa kalian di sana?


Saat ini pastinya Cloud sudah sampai di istana. Katanya perjalanan dari Angkasa ke Asia memakan waktu sekitar tujuh jam lamanya. Tentunya melalui jalur khusus yang telah disepakati. Jadi kemungkinan waktu kembalinya pun sama. Jika dia berangkat pukul sembilan pagi dari Asia, kemungkinan pukul empat atau lima sore sudah sampai di istana. Ya, semoga saja. Aku berharap Tuhan selalu menjaganya di manapun dia berada. Doaku selalu menyertainya.


Kekuatanku belum pulih saat ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang mendadak dan membutuhkan kekuatan untuk menghalaunya?


Sampai saat ini aku belum merasakan kekuatanku kembali sehingga bisa menjelajahi alam bawah sadar lagi. Mungkin saja kekuatan yang kupunya terkuras habis karena kejadian kemarin. Di mana aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menetralisir Angkasa dari bahaya sihir yang mengancam. Dan puji Tuhan, semuanya bisa terselamatkan.


Aku bahagia walaupun harus banyak berkorban untuk Angkasa. Setidaknya bisa bermanfaat bagi penghuni istana dan juga rakyat di sana. Aku tidak tahu mengapa bisa diberi gambaran bak indera ke enam. Tapi terlepas dari itu semua aku sangat mensyukurinya. Aku bersyukur karena bisa membuat persiapan sebelum sesuatu yang membahayakan datang. Namun, untuk kali ini aku tidak bisa banyak membantu, mencari penyebab jatuh sakitnya raja. Aku hanya bisa membantu mencarikan obatnya saja.


"Ara, kau belum tidur?"

__ADS_1


Tiba-tiba Zu lewat di depan kamarku. Dia membawa lampu minyak untuk menerangi rumah pohon ini. Sedang aku masih menggunakan lilin di dalam kamar. Dan lilin itu sudah mau mati.


__ADS_2