Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Worried


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Aku mencoba memainkan piano yang ada di lantai satu kediaman Zu. Walaupun tak jelas arah suaranya, aku mainkan saja. Tak lama kemudian putra mahkota negeri ini pun datang memasuki rumahnya. Aku pun menoleh, melihatnya. Dan kulihat dia tersenyum padaku.


"Pangeran Zu."


Aku segera berdiri lalu menyambutnya. Kulakukan hal seperti ini agar hatinya senang dengan sikapku. Lagipula aku harus mencari tahu siapa pria bernama Yang itu. Dan aku rasa akan segera mendapatkan jawabannya. Aku pasti bisa memaksa Zu secara halus untuk mengatakan sejujurnya.


"Kau sedang belajar piano?" tanyanya padaku.


"Iya." Aku mengangguk. "Pangeran, kenapa lama sekali? Apakah terjadi hal penting di istana?" tanyaku balik.


Zu terkejut dengan pertanyaanku. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Namun, karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan, aku pura-pura mengendus saja. Aku mengendus ke dekat tubuhnya.


"Pangeran, aromanya asam?" Aku pura-pura mencium aroma tubuhnya.


"Benar, kah?" Dia pun mencium aroma tubuhnya sendiri.


Tentu saja bagi seorang pangeran tidak akan pernah mengalami masalah bau badan. Mereka amat terjaga dengan perawatan mahal dan berkualitas tinggi. Mungkin kalau dirupiahkan harganya amat fantastis. Ibarat anak penguasa suatu negeri, pastinya kecipratan juga jerih payah ayahnya. Apalagi Zu juga ikut berkerja untuk negeri ini. Jadinya lengkap sudah. Selain tampan dia juga kaya raya dan terpandang. Tidak mungkin ada wanita yang sanggup menolaknya.


"Sana mandi! Aku tunggu, ya!"


Aku pun tersenyum manis padanya. Senatural mungkin menunjukkan perhatianku. Padahal aku amat ingin tahu siapa Yang sebenarnya. Tapi ya sudah, kubiarkan saja dia mandi terlebih dahulu.


Makan malam....


Puluhan menit akhirnya mengantarkan kami menuju makan malam hari ini. Aku pun duduk di kursi mewah buatan Asia dengan seorang pangeran tampan yang menemaniku. Dia mengenakan pakaian kerajaan berwarna putih. Mirip seperti yang Cloud kenakan. Tapi bedanya, dia tidak memakai sabuk pedangnya saja.


Makan malam hari ini tampak formal, tidak seperti biasa kami bersantap malam dulu. Zu terlihat menuangkan anggur untukku. Rasanya aneh sekali. Tapi aku pura-pura meminumnya saja. Padahal aku tidak suka anggur. Dan mungkin karena belum terbiasa, rasanya itu jadi aneh di lidah. Walaupun Zu telah meyakinkanku jika anggur ini adalah anggur asli, tetapi tetap saja lidahku tidak terima.

__ADS_1


Kini kami sedang menyantap hidangan penutup makan malam ini di dekat kolam renang yang ada di kediamannya. Kuakui kediamannya sangat luas dan juga banyak ditumbuhi bunga-bunga ataupun pepohonan. Sehingga rasanya tidak mungkin jika tidak betah tinggal di sini. Apalagi di sini serba ada dan dilayani para pelayan kerajaan. Berkecukupan tanpa kekurangan sesuatu apapun.


Bermalas-malasan saja masih bisa hidup tenang tanpa perlu mengkhawatirkan keuangan. Tetapi walaupun begitu, aku tidak bisa menerimanya kembali karena sudah terikat janji dengan Angkasa. Ya, anggap saja janji di antara aku dan kedua pangerannya. Entah bagaimana akhirnya, kujalani saja cerita ini.


"Ara."


"Hm?"


"Sebenarnya banyak sekali yang ingin kutanyakan padamu." Dia berkata padaku.


"Tentang apa?" tanyaku lalu meneguk air minum.


"Tentang ... ah, sudahlah." Tiba-tiba dia mengakhirinya sendiri.


"Eh?" Aku pun terperanjat kaget.


Kulihat Zu meneguk habis segelas air minumnya. Aku tak tahu hal apa yang ingin dia tanyakan padaku. Tapi sepertinya berkaitan dengan perasanku ini. Entah benar atau tidak, aku belum bisa memastikannya.


"Tentang apa?" Dia menatap ke arahku.


Lilin-lilin di meja makan ini seolah menjadi saksi keingintahuanku atas pria yang bersamanya tadi. Aku harus segera mencari tahu.


"Tadi aku bosan karena lama menunggumu. Aku iseng jalan-jalan ke istana bersama kuda. Dan kulihat kau sedang berpelukan dengan seorang pria berpakaian kerajaan berwarna putih. Apakah itu kekasihmu?" tanyaku, memberanikan diri.


Zu tersedak. Sontak dia terbatuk-batuk mendengar pertanyaanku. Aku sebenarnya tahu jika dia mencintaiku. Tidak mungkin dia mencintai pria bernama Yang itu. Tapi aku juga tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya jika aku ingin mengetahui siapa Yang itu. Aku harus sedikit memutar arah untuk mendapatkan jawabannya. Ya, walaupun pertanyaannya sedikit ekstrem.


Dia menuang air ke dalam gelas minumnya lalu menghabiskannya dengan cepat. Dia juga mengambil tisu untuk menyeka mulutnya. Dia terlihat amat terkejut dengan pertanyaanku ini.


"Ara, bagaimana kau bisa berpikir sampai seperti itu?!" Dia tak percaya dengan pertanyaanku.

__ADS_1


"Em ...." Aku sedikit bingung untuk menjelaskannya.


"Ara, aku pria normal! Kau bahkan sudah melihatnya sendiri. Tidak ada satu inchi pun dari tubuhku yang terlewat dari penglihatanmu! Mengapa kau—"


"Ssstttt! Jangan keras-keras, Pangeran. Nanti ada yang dengar." Aku segera menyumpal mulutnya dengan tanganku ini.


Zu terlihat bersabar dalam menghadapiku. Namun nyatanya, dia masih seperti yang dulu. Mungkin karena apa-apa baru pertama kali denganku, dia sampai seperti ini. Namun sayangnya, dia bukan yang pertama untukku.


"Ara, apa kau sedang mengigau? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu padaku?" Dia tampak kurang berselera untuk melanjutkan makannya. Dadanya naik-turun menahan kesal.


Aku menunduk, pura-pura merasa bersalah. "Habisnya aku tidak boleh ikut ke istana setelah sampai dari perjalanan." Aku menerangkan.


"Hah?!"


"Aku malah diminta pulang ke rumahmu. Dan kau lama sekali sampai membuatku menunggu. Aku penasaran, jadinya ke istana saja. Dan saat sampai kulihat kau sedang berpelukan dengan seorang pria. Bagaimana tidak berpikir seperti itu coba?"


Aku menarik-narik ujung gaunku sendiri seraya tertunduk di hadapannya. Aku harap dengan cara ini Zu dapat mengatakan siapa sebenarnya pria itu.


"Astaga ...." Kulihat dia mengusap wajahnya sendiri seperti orang yang frustrasi. "Dia itu adalah Yang, putra mahkota Arthemis." Zu memberi tahuku.


Apa?!!


Saat itu juga detak jantungku melaju kencang bukan main. Ternyata pria itu bernama Yang, putra mahkota dari Arthemis. Itu berarti yang datang ke danau angsa putih juga dirinya. Jangan-jangan dia juga yang telah meracuni raja dengan kemampuan merubah wajahnya? Tapi apa benar dia memiliki seribu wajah?


Ini tak terduga sekali. Ternyata aku sudah pernah bertemu dengannya. Tapi kenapa Zu amat bersahabat dengan pria itu? Apakah Arthemis adalah sekutu Asia?


"Jadi dia itu ...?"


"Temanku. Dan mungkin bisa dibilang saudara juga." Dia menjelaskan.

__ADS_1


Seketika aku jadi teringat dengan ancaman Zu waktu itu. Dia ingin membumihanguskan Angkasa jika aku tidak mau bersamanya. Dia akan meminta negeri-negeri musuh untuk menyerang Angkasa dan bahkan melenyapkan kedua putra mahkota. Lalu apakah Arthemis yang dimaksud negeri itu? Sungguh aku khawatir mengenai hal ini. Ya Tuhan, tolong lindungi kedua pangeranku.


Aku harus bagaimana sekarang?


__ADS_2