Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Dream?


__ADS_3

Langit gelap berbintang. Kerlipan bintang nan jauh di sana seolah menyampaikan pesan rinduku untuk kedua pangeran Angkasa. Dimana keduanya mempunyai andil besar dalam kehidupanku. Satu putaran matahari telah kami lalui bersama. Dalam suka maupun duka.


Perbedaan ruang dan waktu ternyata tidak menyurutkan jalinan kasih di antara kami. Semakin jauh jarak tempuh, semakin rasa rindu itu menggebu. Begitu juga dengan yang kurasakan saat ini. Aku rindu, sangat rindu dan ingin bertemu.


Rain, Cloud, selamat beristirahat.


Kutatap bintang dari jendela kamarku. Kucari sinar rembulan yang kurindukan. Entah sudah jam berapa, sepertinya hari semakin larut saja. Aku pun ingin beristirahat segera.


Tadi sore setelah minum kopi bersama, aku dipersilakan beristirahat di rumah kecantikan istana negeri ini. Dan ternyata, isinya luar biasa. Semua peralatan kecantikan begitu lengkap di sana. Mau apa saja ada.


Sepertinya negeri ini memang lebih mementingkan penampilan luar daripada dalam. Aku tidak mendiskriminasi, itu hanya sebatas dugaanku saja. Karena kulihat sepanjang jalan tadi banyak wanita dan gadis cantik yang memamerkan lekuk indahnya. Tanpa takut jika ada yang menjahili atau mengusilinya. Aku sendiri risih jika bukan di depan orang yang kucintai. Sayang kan diperlihatkan gratisan begitu saja? Sedang perawatannya membutuhkan biaya yang luar biasa.


"Ah ... akhirnya aku bisa beristirahat juga."


Benar dugaanku. Ternyata Tuan Shane segera berpamitan selepas menemaniku melihat-lihat istana ini. Aku diperkenalkan langsung oleh ratu dengan para penghuni istana yang ada di sini. Dari pelayannya, pihak dapurnya, sampai ke bagian tata rias dan konveksi istana. Ratu amat baik menyambutku.


Aku jadi tak habis pikir kenapa Jasmine bisa sampai tidak ingin kembali ke sini. Padahal ratu amat baik kepada setiap orang. Bertutur kata lembut dan juga anggun di setiap kesempatan. Tapi mengapa dia sampai tidak mau pulang?


Terserah dialah mau pulang atau tidak, Ara.


Lantas kurebahkan diri ini di atas kasur kamarku. Kebetulan mendapat ruangan kamar yang cukup besar dan kasurnya tunggal. Tapi walaupun tunggal, kasurnya tetap lebar sehingga cukup untukku. Aku pun ingin tidur lebih awal malam ini. Sengaja melewatkan makan malam karena sajian sore tadi masih terasa kenyang di perutku. Dan ya, aku siap memasuki destinasi mimpi.


Beberapa saat kemudian...


Angin sejuk kurasakan. Dan kulihat padang rumput hijau ada di hadapan mataku. Entah mengapa aku sudah berada di sini dan melihat seorang pangeran berjubah merah di sisiku. Dia kemudian mendorongku ke atas dipan yang kududuki. Aku pun jatuh terlentang di hadapannya, dengan tangan kirinya yang menjadi alas kepalaku.


"Rain ...."


Dialah Rain. Aku melihatnya dengan jelas dari sini. Kulihat senyum manisnya mengembang untukku. Kurasakan sebentar lagi akan terjadi sesuatu pada kami. Sesuatu yang sebenarnya kuinginkan tapi masih kutahan darinya. Rain pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Rain ... apakah ini ...?


Tidak tahu mengapa tiba-tiba sudah berada di sini. Aku pun mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Tapi, apa yang kulihat ini seperti nyata terjadi. Sesuatu yang lembut pun menyentuh bibirku. Sesaat kemudian kusadari jika Rain menciumku.

__ADS_1


Rain ....


Sapuan-sapuan lembut itu begitu terasa dan membuatku merinding seperti tersengat aliran listrik. Rain mencium lembut bibirku ini. Tangan kanannya memegang erat tangan kiriku. Jari-jemarinya masuk ke sela-sela jariku. Sedang tangan kirinya menjadi alas kepalaku. Aku pun menerima ciumannya. Dan perlahan tangan kananku ini melingkar di lehernya.


"Ara ...."


Kudengar suaranya menyebut namaku. Aku pun jadi terheran dengan apa yang terjadi. Ini seperti mimpi, tapi nyata kurasakan. Dan karena tidak ingin memikirkan kenapa bisa begini, kunikmati saja hal ini. Walaupun mungkin hanya sebatas mimpi.


Rain memejamkan matanya, menikmati ciumanku. Aku pun menikmati aliran listrik yang tersambung di dalam tubuhku. Hingga akhirnya kami terbawa suasana.


"Rain." Aku memintanya agar membangunkanku.


Rain menarik tubuhku. Aku pun duduk di atas pangkuannya. Aku mencoba untuk menyalurkan rasa rinduku ini. Kucium mesra bibir manisnya dan dia pun memejamkan matanya kembali. Semilir angin yang berembus terasa menambah sensasi tersendiri dari ciuman ini. Seolah mewarnai hasrat kami yang sedang menggebu.


Aku mencintaimu, Rain ....


Tangan kirinya memegang tengkuk leherku. Geli sekali. Sedang tangan kanannya meremas pinggulku ini. Aku pun terus menciuminya dengan jari tangan yang menari-nari di tengkuk lehernya. Dia pun terlihat begitu menikmati momen ini.


"Sayang ...."


"Ara ...."


Aku menyusuri lehernya dengan bibirku ini. Sesekali mengembuskan napas di telinganya lalu menggigitnya pelan. Rain pun tampak menggigit bibirnya sendiri.


"Ara ... sudah ...." Suaranya terdengar melayang dan tertahan.


Kali ini aku begitu berani, hingga kancing jubahnya sudah terbuka tiga olehku. Walaupun ini hanya mimpi, tapi aku menikmatinya. Rain pun kemudian menahan diriku.


"Ara ...."


Napasnya terdengar begitu berat. Detak jantungnya juga berpacu dengan cepat. Kurasakan jika dia sudah memasuki fase di mana dopamin itu sedang bekerja di dalam otaknya. Sehingga membuatnya sangat rileks. Dia kemudian memegang kedua tanganku ini.


"Rain?"

__ADS_1


Aku bingung karena dia tidak ingin aku meneruskannya. Rain membuka kedua matanya lalu menatapku erat.


"Ara, aku menginginkannya. Aku ingin," katanya sambil memegangi kedua tanganku.


"Sungguh?" tanyaku.


Rain mengangguk. "Iya, aku ingin. Bisakah kita melakukannya?" Dia seperti memohon padaku.


"Di sini?" Kutanya dirinya sambil menelusuri dada bidangnya dengan jari telunjukku.


"Ara, kau adalah gadis penggoda terhebat sepanjang masa." Dia memujiku.


"Benar, kah?"


Aku berbisik, mendekatkan bibir ini ke telinganya lalu meniupnya pelan. Saat itu juga dia mencengkram pinggulku.


"Ara, engh! Aku serius!" Dia amat gemas padaku.


"Em, gimana ya ...?" Aku malah mencandainya.


"Araaaaa!"


Rainku tampak kesal. Dia menarik pinggulku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Dia pun menekan pinggulku ini.


"Ah! Rain, ini?!"


"Kau rasakan itu?! Bagaimana?" tanyanya gemas.


"Ih, dasar genit! Lepaskan aku!" kataku yang mencoba untuk lepas dari pangkuannya.


"Tidak bisa, Ara. Sudah bangun," katanya lagi.


Sontak saja aku tertawa mendengar kata-katanya. Tawaku ini sepertinya membuat dirinya bingung sendiri. Aku pun segera beranjak dari pangkuannya lalu duduk di pinggir dipan. Namun, tak lama kemudian kulihat Zu berdiri di kejauhan.

__ADS_1


Di-dia? Sedang apa dia di sini?


Saat itu juga jantungku berdetak kencang bukan main. Kulihat seorang pria berseragam kerajaan biru tengah memerhatikanku dari jauh. Dan dia tampak bersedih melihatku.


__ADS_2