
Dia menuangkan air putih untukku. "Aku tak menyangka jika Angkasa mempekerjakan orang dari luar. Memangnya dari mana asalmu?" Dia bertanya lagi padaku.
Ap-apa? Mengapa dia seberani ini bertanya padaku? Apa tujuan dia sebenarnya?
Sontak aku terdiam mendengarnya. Sepertinya dia ingin mencari tahu dari mana asal-usulku. Aku pun sedikit menggeser tempat duduk ini, menjauh darinya. Saat itu juga dia melihat hal yang kulakukan. Dia pun seperti tak enak hati sendiri.
"Em, maaf. Mungkin aku terlalu agresif." Dia menyesali perbuatannya.
Aku hanya diam di sampingnya.
"Nona, maukah kau berteman denganku?" Pertanyaannya kali ini terlihat serius sekali.
Aku menoleh, melihatnya. Saat itu juga dia menatapku seperti ingin meminta sesuatu. Tak tahu apa, tapi yang jelas tidak seharusnya aku makan siang bersamanya tanpa izin dari pihak istana. Tapi semua sudah terjadi, aku tidak boleh menyesalinya.
"Pangeran, bisa dibilang aku adalah penduduk Angkasa. Negeri itu telah banyak berjasa karena memberikan pekerjaan padaku. Sedang kau berasal dari Arthemis. Apakah tidak merasa keberatan dengan pertemanan ini?" Aku mencoba mengorek informasi.
Dia mengangguk pelan. "Kau sudah tahu tentang kedua negeri?" Dia bertanya padaku lagi, namun kali ini seperti menyesali keadaan yang terjadi.
Aku mengangguk. Tak berani berkata-kata lagi.
"Hah ...," Dia menghela napasnya. "Aku tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu. Aku sendiri menolak keputusan ayahku. Kakek begitu keras dan menjadikan Angkasa seperti musuhnya. Padahal raja Sky telah berbaik hati kepada kami." Sebuah informasi akhirnya kudapatkan darinya.
"Raja Sky?" tanyaku lagi.
"Benar." Dia mengangguk. "Raja Sky pernah mengirimkan surat perdamaian untuk Arthemis. Tapi kakek menolaknya mentah-mentah, bahkan malah merobek surat itu. Aku sendiri tak habis pikir mengapa kakek sampai seperti itu. Padahal Raja Sky telah berniat baik untuk negeri kami." Dia menjelaskan.
Kenapa bisa begitu? Ini aneh sekali. Mengapa Xi dan kakeknya bertolak belakang? "Em, Pangeran. Apakah kau sendiri pernah bertemu dengan kedua pangeran Angkasa?" tanyaku ingin tahu.
Dia mengangguk. "Pernah. Tapi hanya sekali. Itu pun saat kami masih remaja. Mungkin mereka sudah lupa denganku sekarang," katanya lagi.
__ADS_1
"Di mana?" tanyaku yang kepo.
"Turnamen antar negeri yang dipelopori oleh Antara. Semua putra mahkota diundang untuk beradu ketangkasan dalam berbagai lomba. Waktu itu aku masih remaja dan belum tahu apa-apa." Dia menjelaskan padaku.
"Oh ...." Aku pun mengangguk-angguk.
Ternyata di bumi ini ada juga turnamen antar putra mahkota dalam beradu ketangkasan. Aku baru tahu setelah diceritakan olehnya. Mungkin juga benar apa kata Xi, kedua pangeranku pasti sudah lupa dengan dirinya sekarang karena bertemu hanya sekali. Itu pun saat masih remaja.
"Pangeran."
"Ya?"
"Kau sendiri ada keperluan apa di Bunga? Apakah bekerja sepertiku?" Aku mengorek informasi lagi.
Dia meneguk air minumnya. "Aku diminta oleh ayah untuk datang menawarkan kerja sama. Dan juga menghadiri pesta ulang tahun Rose," katanya jujur.
Tersirat jika dia berkata jujur padaku. Tak percaya, tak kusangka jika dia akan berkata jujur seperti ini. Tanpa malu atau ragu dia menceritakan apa saja yang kutanyakan. Plong tanpa ada yang dirahasiakan. Yang mana membuatku menepiskan pikiran buruk tentangnya. Semoga saja ini memang dirinya, bukan bersandiwara. Aku berharap itu.
"Tapi bukannya ulang tahun putri masih beberapa hari lagi?" Aku memastikan.
Dia tersenyum kembali. "Benar. Tapi karena tidak betah di istana, aku langsung pergi saja. Pertemuan kita saat di danau itu adalah hari terakhirku di Angkasa. Setelahnya kembali lagi ke Arthemis. Dan apa kau tahu sesuatu, Nona?" Dia bertanya padaku.
"Apa?"
"Aku berniat mencarimu tapi waktu tidak memungkinkan. Namun, ternyata Tuhan mempertemukan kita kembali di sini." Dia tersenyum manis padaku.
Ya Tuhan, senyumnya manis sekali.
Kulihat senyumnya mengembang. Sungguh tak percaya jika kami akan bertemu kembali. Dan sungguh tak kusangka jika dalam beberapa pertemuan kami bisa terasa sedekat ini. Sepertinya Xi adalah pangeran yang bersahabat dengan siapapun. Terbukti dia mau mengajak ku berteman. Padahal aku bukanlah dari kalangan bangsawan. Ya, ini hanya praduga sementara, bukan selamanya.
__ADS_1
Pangeran, ternyata kau ramah kepada siapa saja.
Semoga suatu hari nanti aku dapat mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya. Tentunya dengan tetap berjaga-jaga dari setiap bahaya yang bisa datang kapan saja. Aku harus melakukannya demi Angkasa tercinta.
"Baiklah. Kita berteman." Aku pun tersenyum seraya menerima ajakan pertemanannya.
Akhirnya aku menerima Xi sebagai temanku. Kulihat dia pun tersenyum menanggapi hal ini. Aku berharap kami bisa berteman dengan baik. Jangan sampai seperti Zu yang akhirnya malah menyukaiku. Karena hal itu akan merepotkan sekali. Dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi. Jadi ya sudah, mari kita nikmati jalan cerita ini.
Perjalanan kembali ke istana...
Selepas makan siang bersama Xi di kedai. Xi mengantarkanku ke kereta kuda yang ada di parkiran pasar. Lara sengaja menunggu karena ternyata dia kenal dengan Xi. Dan mungkin saja Xi sudah meminta sebelumnya kepada Lara agar membiarkanku memilih bunga sendiri. Kami pun akhirnya bertemu dan bertegur sapa hari ini. Rasanya masih tak percaya.
Kini aku duduk bersama Lara di dalam kereta kuda. Sedari tadi aku diam saja karena kepikiran dengan percakapanku tadi dengan Xi. Aku tak habis pikir bagaimana Xi bisa berbeda pendapat dengan ayah dan kakeknya. Karena secara tidak langsung dia menentang kebijakan istana. Pantas saja jika dia tidak betah berlama-lama di sana, pemikirannya bertolak belakang dengan ayah dan juga kakeknya.
Aku sendiri merasakan sesuatu dari Xi. Aku merasa dia adalah tipikal pria yang baik hati. Namun, karena ruang lingkupnya kurang memungkinkan, aura-aura gelap itu kurasakan darinya. Dalam arti dia memiliki sifat yang harus kuwaspadai. Entah apa. Terlebih aku bermimpi yang bukan-bukan tentangnya, membuatku harus lebih mawas diri. Karena belum tentu tampak luar sama dengan tampak dalam. Jadi harus selalu antisipasi.
"Nona, Nona baik-baik saja?"
Lara menegurku. Mungkin dia merasa sikapku berubah sejak membuatnya menunggu. Dan mungkin dia juga berpikiran yang lain terhadap kami.
"Em, aku baik-baik saja, Lara. Oh, ya." Aku mengambil plastik belanjaanku. "Ini untukmu. Aku belikan bakso untukmu dan juga untuk yang lainnya." Aku menyerahkan lima bungkus bakso kepadanya.
"Nona ...." Seketika dia tertegun dengan pemberianku.
"Ambilah ini. Nanti makan bersama yang lainnya ya. Baksonya enak, kuahnya juga." Aku menuturkan kembali.
Entah mengapa kulihat air matanya menggenang. Mungkin dia terharu dengan pemberianku ini. Padahal kalau dipikir-pikir lima bungkus bakso tidaklah ada harganya. Namun, dia bisa seterharu ini.
"Nona, Nona baik sekali." Dia pun menerima pemberianku.
__ADS_1