Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Little Baby Lion


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Aku terharu. Terharu saat menyadari betapa besar anugerah yang Tuhan berikan padaku. Rasanya tak patut untuk berprasangka buruk kepada-NYA sekalipun di situasi sulit sekalipun. Karunia yang telah DIA berikan sungguh besar dan tak ternilai. Dan aku berharap Tuhan selalu membimbing langkahku agar tidak tersesat di banyak persimpangan kehidupan. Kuakui kemampuan yang kumiliki ini adalah anugerah tak terkira untukku.


Zu memerintahkan pasukannya untuk pergi menuju di mana semak bunga lily berada. Dengan amat waspada, dia memegang pedang sepanjang jalan sambil melajukan kudanya. Karena khawatir ada jebakan dari singa jantan itu. Tetapi sesampainya di semak lily, raut wajahnya berubah drastis. Dari yang waspada menjadi iba seketika.


Zu akhirnya melihat sendiri apa yang kututurkan padanya. Di mana seekor singa betina tengah sekarat karena terkena anak panah. Dan di samping singa betina itu terdapat anak-anak singa yang mengaum-ngaum karena kelaparan. Mungkin karena itulah si singa jantan menghampiri kami. Jika tidak ingin mencari makan, dia ingin meminta pertolongan. Dan kini kami sedang berupaya menolongnya.


Zu mengutus salah satu pasukannya untuk segera turun gunung dan mengabarkan kepada pos penjaga di bawah jika ada seekor singa yang tengah membutuhkan pertolongan. Mereka bergerak cepat dan memanggil pawang agar singa-singa itu menurut dan tak melawan. Tim medis pun didatangkan untuk mengobati singa betina yang tengah sekarat. Dan kini singa betina itu sedang tertidur pulas sehabis anak panah dicabut dari tubuhnya. Tentunya dengan menggunakan obat bius terlebih dahulu.


Negeri Asia bisa dibilang lebih maju jika dibandingkan Angkasa. Mungkin karena hal itulah disebut negeri besar oleh negeri-negeri lainnya. Aku sendiri jadi ingin tahu di mana posisi Asia dan Angkasa sekarang. Apakah perbedaan antara keduanya sangat jauh dan tidak bisa terkejar? Kadang terbesit niat di benakku untuk mengetahui tolak ukur suatu negeri yang ada di bumi ini. Tapi sayang, sampai sekarang belum juga kesampaian. Ujian dan cobaan terus saja menerjang sehingga membuatku tidak mempunyai banyak waktu luang. Alhasil aku hanya menjalankan apa yang ada di depan mata.


"Lucunya bayi singa ini."


Aku kini tengah menggendong bayi singa yang baru saja diberi susu oleh tim medis. Kulihat singa jantan sedang berada di dalam kurungan agar tidak berulah. Dia juga dirantai agar tidak mengganggu proses penyelamatan singa betinanya. Dan jika ditanya bagaimana cara menaklukkan singa jantan itu, tentu saja jawabannya dengan menggunakan obat bius.


Tim medis menembakkan obat bius ke singa jantan sehingga singa itu mabuk dan mudah dikendalikan. Alhasil kini dia sedang dikurung dengan rantai di kedua kakinya. Kasihan, sih. Tapi mau bagaimana lagi. Ini juga demi keselamatan kami yang menolongnya. Karena bisa saja dia tidak terima saat melihat anak panah itu dicabut dari tubuh istrinya. Sehingga kami harus berjaga-jaga.


"Ara, kau suka bayi?" Zu mendekati lalu berdiri di sisiku.


"Bayi?" Aku pun tersentak dengan pertanyaanya.


"Em, maksudku bayi singa." Dia meralat ucapannya.

__ADS_1


Aku tersenyum, merasa geli dengan ucapannya. Kulihat raut wajahnya juga memerah karena malu. Mungkin saja dia ingin mengatakan hal yang sesungguhnya padaku. Tetapi karena aku masih menjaga jarak, jadinya dia segan untuk mengatakan yang sebenarnya. Dan aku pun tidak mempermasalahkannya. Aku bersikap biasa saja.


"Em, aku suka bayi, Pangeran. Karena mereka imut-imut. Lihat ini! Dia lucu sekali." Aku menimang bayi singa yang berwarna putih susu.


Zu tersenyum senang. Dia kemudian lebih mendekat kepadaku. "Awas dicakar, Ara. Kuku-kukunya sangat tajam." Dia berbicara dekat sekali dengan wajahku ini.


Hm, dia ini. Ingin menggodaku rupanya.


Tak tahu mengapa, Zu selalu saja membuat hatiku berdebar tak menentu. Walau kutahu apa alasannya, tetapi tetap saja aku merasa risih sendiri. Aku takut kebablasan dan melupakan semuanya. Terlebih dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hatiku. Kalau sudah begini aku sendiri yang jadi pusing. Tak tahu bagaimana lagi harus bersikap padanya. Aku ingin menyerah saja.


Beberapa jam kemudian...


Berhasil. Kata itulah yang akhirnya bisa kuucapkan di dalam hatiku. Kini aku telah berhasil mendapatkan bunga malaikat itu. Aku juga bisa segera pulang ke Angkasa dan membawa kabar gembira. Di dekatku kini sudah ada bunga malaikat beserta batang-batangnya. Itu berarti aku bisa mencoba menanamnya di Angkasa. Sehingga jika butuh tidak perlu melalang jauh lagi ke sini untuk mendapatkannya. Karena Angkasa juga memilikinya.


Aku sedang duduk di dalam kereta kuda bersama Zu di sisi kananku. Kami sedang melihat lebih dekat bunga malaikat ini. Beberapa jam berlalu memberi pelajaran yang berharga untuk kami. Di mana seekor singa jantan yang notabene binatang buas ternyata juga mempunyai hati. Dia rela menyerahkan diri demi menyelamatkan bayi dan istrinya. Dan hal itulah yang membuatku takjub dengan kebesaran Yang Maha Kuasa.


Singa jantan itu datang untuk meminta pertolongan kami. Padahal jarak dari semak bunga malaikat dan lily cukup jauh. Tapi demi menyelamatkan istri dan anak-anaknya, dia rela pergi jauh untuk mencari bantuan. Dan memang sudah kehendak Tuhan, dia bertemu dengan kami. Kami pun segera memberikan pertolongan kepadanya.


"Ara."


"Hm?"


"Kau ingin mengadopsi bayi singa?" Zu tiba-tiba bertanya padaku.

__ADS_1


"Eh? Mengapa menanyakan hal itu?" tanyaku balik sambil memutar-mutar tangkai bunga malaikat yang kupegang.


Zu menunduk sesaat. "Mungkin kau ingin mempunyai peliharaan," katanya lagi, menawarkan.


Aku berpikir. "Memangnya tidak apa mengganggu ekosistem alam? Bayi singa kan butuh perawatan ibunya, Pangeran." Aku menjelaskan.


Dia tersenyum. "Shu punya banyak bayi singa yang diadopsinya. Di perbatasan jumlah singa liar sudah semakin sedikit. Aku berniat untuk memeliharanya di istana. Tapi sepertinya hal itu tidak bisa kulakukan karena perbedaan habitat." Zu mengungkapkan.


Aku mengangguk. "Habitat mereka memang di hutan bebas, Pangeran. Tidak seharusnya mengganggu ekosistem alam dengan membawanya pulang ke rumah. Tapi sayang, ada beberapa manusia yang mengincar tanpa memedulikan populasinya. Dan sekarang jumlahnya menipis, bukan?" tanyaku, memastikan.


Zu mengangguk. Dia ternyata adalah seorang penyayang binatang. Jika dengan binatang saja sayang, apalagi dengan kekasih atau orang yang dicintai. Pastinya dia akan lebih mengerahkan seluruh jiwa dan raga untuk melindungi orang-orang terkasih. Tidak mungkin tidak.


"Ara."


"Ya?"


"Aku membutuhkanmu untuk membantuku di istana. Bisakah kau membagi waktu untukku?" Dia tiba-tiba bertanya seperti itu.


Aku terdiam, tersenyum seraya menunduk. Aku pun menatapnya kembali. "Pangeran, apakah kau seorang pencemburu?" tanyaku padanya.


Sontak dia terkejut mendengar pertanyaanku ini.


"Pikirkan kembali bagaimana jika kau di posisi mereka." Aku mengingatkannya. Saat itu juga kulihat dia menelan ludahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2