
"Ara ...." Zu menyapaku.
"Em, ya." Aku pun segera tersadar dari pikiranku sendiri.
"Kau pasti menuduh yang bukan-bukan tentangku. Sungguh, aku bukanlah penyuka sejenis seperti yang kau pikirkan. Aku masih normal, Ara." Dia menegaskan bagaimana dirinya padaku.
Aku berpikir cepat untuk mendapatkan informasi selanjutnya. "Iya-iya. Tapi tadi kau terlihat amat dekat dengan pria itu. Rasa-rasanya—"
"Dia sekutu Asia, Ara." Zu mengungkapkan.
Apa?!!
Saat itu juga jantungku berdetak kencang bukan main. Ternyata benar. Arthemis adalah sekutu Asia. "Bagaimana bisa?" tanyaku lagi.
Zu menghela napasnya dalam-dalam. "Kami masih mempunyai hubungan saudara dengan penguasa negeri itu. Tepatnya ayahku mempunyai nenek sepupu yang menikah dengan penguasa Arthemis terdahulu." Zu menjelaskan padaku.
Errr ....
Saat itu juga aku merasa pusing sendiri mendengar silsilah yang dia katakan. Rasa-rasanya harus menyerap perlahan agar dapat mengerti. "Pangeran, apa kau tahu tentang perang dingin yang terjadi antara Angkasa dan Arthemis?" tanyaku, mengorek informasi.
"Kau tidak tahu? Kedua pangeran itu tidak menceritakannya padamu?" Dia seperti menyudutkan kedua pangeranku.
Aku memainkan peranku. "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu dua negeri yang memiliki bunga malaikat itu saja. Satu Arthemis dan satu negeri ini. Jadinya aku lebih memilih ke sini karena sebelumnya pernah datang." Aku pura-pura polos di hadapannya.
"Hah ...." Zu mengembuskan napasnya.
"Kenapa Pangeran?" Aku pun segera bertanya.
Dia menatapku. "Ara, aku pikir mereka sudah menceritakannya padamu. Jangan-jangan hal yang lainnya pun belum sempat kau dengar." Dia menduganya.
Eh? Jadi ada hal lain?
__ADS_1
Tak tahu mengapa semua misteri tentang Angkasa dan hubungannya dengan negeri lain semakin terungkap saja. Aku pun ingin mengetahui lebih lanjut tentang negeri-negeri yang ada di sekitarnya. Ya, aku ingin tahu. Kali-kali saja dapat membantu Angkasa dari bahaya tak terduga. Bukankah setiap negeri mempunyai mata-mata? Jadi anggap saja aku adalah mata-mata dari Angkasa.
"Pangeran, aku ingin tahu lebih lanjut," kataku, merayunya.
Zu beranjak berdiri. "Ini sudah jam istirahat. Tidak baik membicarakan sesuatu hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Terkecuali jika kau mau menetap di Asia, maka aku akan menceritakan semuanya." Zu meminta imbalan dari hal yang ingin kuketahui ini.
Sontak aku beranjak berdiri. "Pangeran, kau kerasa kepala!" Aku pun segera berlalu dari hadapannya.
"Ara!" Dia pun memanggilku, namun aku tidak menggubrisnya. Aku terus saja pergi. "Ara! Tunggu aku!" Dia pun memanggilku kembali.
Makan malam hari ini akhirnya diakhiri dengan ngambekku. Ya, aku pura-pura ngambek agar dia tidak terlalu mencurigaiku. Pada akhirnya dia pun mengejarku keluar dari area kolam renang ini. Dia berjalan di sampingku seraya terus memperhatikanku. Kutahu jika dia tidak bisa didiamkan lama olehku. Bagaimanapun seorang pria akan menyerah jika wanitanya sedang ngambek. Dan aku memanfaatkan situasi ini agar mendapatkan apa yang kuinginkan. Kejam? Mungkin. Tapi tidak ada cara lain yang bisa kulakukan. Jadi, maafkan aku Pangeran Zu.
Satu jam kemudian...
Selepas makan malam aku segera kembali ke istana dengan membawa bunga malaikatku. Aku pun beristirahat sebelum bergegas ke Angkasa. Rencana menjelang pertengahan malam, kami akan berangkat lagi. Sehingga sebisa mungkin memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Maklum tubuhku lelah sehabis melakukan perjalanan jauh ke tempat di mana bunga malaikat ini tumbuh. Dan ya, kini aku sedang mengistirahatkan tubuhku.
Aku tertidur begitu sampai di kamar. Tapi sekarang rasanya sudah mulai tidak nyaman. Lampu kamar yang dimatikan dan hanya menggunakan penerangan lilin beraroma terapi ini membuatku sedikit risih dengan keadaan sekitar. Lantas aku mencoba membuka mata untuk melihat keadaan kamar. Dan ternyata...
Aku terkejut begitu melihat Zu tertidur di sampingku. Tak tahu mengapa dia bisa ada di sini. Padahal kami berpisah di depan istana lalu aku pun cepat-cepat masuk ke dalam kamar yang kutempati. Tapi kini dia ada di sampingku dengan membuka dua kancing atas baju kerajaannya. Membuatku menelan ludah karena tak percaya.
Gaunku?!
Sontak aku tersadar dengan gaunku. Aku pun segera melihat gaunku ini. Dan untungnya gaunku masih tertutupi. Tetapi tetap saja aku merasa risih karena ada dirinya di sini. Dia pun terlihat terlelap di sampingku tanpa merasa bersalah sama sekali. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan selama kutidur tadi. Aku tidak bisa mengingatnya sama sekali.
Di-dia ... apakah dia berusaha mengikatku dengan kejadian ini?
Lantas aku beranjak bangun dari tidurku. Namun, di saat yang bersamaan tubuhku tidak bisa digerakkan. Ternyata tanganku ditahan olehnya. Dia tidak mengizinkanku untuk pergi.
"Ara ...."
Kudengar suara seraknya memanggilku sambil tetap memejamkan mata. Aku pun mencoba menepiskan tangannya. Aku harus berhati-hati di situasi seperti ini. Khawatir fitnah akan terjadi pada kami.
__ADS_1
Pangeran, lepaskan!
Pada akhirnya kulepaskan sekuat tenaga tanganku darinya. Aku berlari ke arah pintu untuk segera keluar dari kamar. Namun, ternyata...
Pintu dikunci?!
Pintu kamar yang kutempati ini ternyata terkunci. Tidak salah lagi jika Zu adalah pelakunya.
"Pangeran! Apa yang kau lakukan?!" tanyaku, mulai panik.
Zu tidak mengindahkanku. Hingga akhirnya aku berusaha menarik gagang pintu agar dapat terbuka. Dan mungkin karena tidak kunjung terbuka juga, hal itulah yang membuatnya bangun. Dia beranjak duduk di atas kasur sambil melihat ke arahku.
"Ara, kau tidak akan bisa membuka pintunya. Kuncinya ada padaku." Zu mengeluarkan sesuatu dari saku baju kerajaannya. Saat itu juga aku berlari ke arahnya untuk mengambil kunci itu. Namun...
Tubuhku ...?
Saat berusaha meraih kunci itu, saat itu juga dia menarik tubuhku hingga aku terjatuh di atas kasur bersamanya. Aku kehilangan keseimbangan sehingga tidak dapat mengelaknya. Aku pun terjatuh di atas tubuhnya.
"Ara ...."
Dia menatapku seraya memegang kedua lengan yang menopang tubuh ini. Posisi ini tentu tidak baik sama sekali untuk kami yang sudah menjadi mantan. Aku harus segera menghindar darinya.
"Pangeran, berikan kuncinya padaku!" Aku berusaha meraih kunci itu.
Saat berusaha meraihnya dengan satu tanganku, saat itu juga Zu memutar tubuhku. Hingga akhirnya kami berguling di atas kasur dan kini aku berada di bawah tubuhnya. Tentu saja jantungku berdetak kencang bukan main. Zu mengunciku dengan segala kekuatannya. Aku pun tak bisa lari lagi darinya.
"Pangeran ...."
"Ara ...."
Kami saling bertatapan di tengah cahaya lampu yang temaram. Momen ini seperti pasutri yang baru saja menikah dan ingin menambah keintiman. Perasaan di hatiku pun mulai terombang-ambing saat berada di bawah tubuhnya. Apakah ini cinta yang terpendam dan akan segera muncul ke permukaan? Sungguh aku tidak dapat menolaknya. Tapi aku juga tidak dapat mengkhianati titah raja.
__ADS_1