
Di taman depan istana...
Aku berjalan bersama Cloud pagi ini di jalan setapak yang dikelilingi bunga-bunga indah. Tampak keadaan istana mulai ramai oleh para pekerja, pejabat, menteri dan juga para pelayannya. Mereka hilir-mudik dari utara ke selatan istana. Sedang aku berjalan bersama Cloud menuju gazebo depan istana. Beberapa pelayan yang berpapasan pun menyapa kami dengan penuh hormat.
Angin semilir terasa menyejukkan menerpa rambutku yang dibiarkan tergerai panjang. Tapi lebih menyejukkan jika bersama awan putih yang melindungiku dari sengatan dunia. Dia adalah Cloud, pria berambut pirang berkulit putih kemerah-merahan. Dia seperti pria keturunan Eropa yang menawan. Ditambah bola mata birunya yang membius pandangan. Dia bak pangeran tampan yang tiada tandingan.
Kadang aku ingin selalu berada di dekatnya karena merasa tenang. Kadang juga aku ingin sekali melihat tawanya karena lelucon yang kubuat. Dia adalah tipikal pria yang bisa membuatku mengatakan segalanya tanpa harus takut atas tindakannya. Berbeda dengan Rain jika bercerita harus berhati-hati dalam berbicara. Karena dia cepat dalam mengambil tindakan. Mereka memang memiliki sifat yang bertolak belakang. Bak bumi dan langit. Tapi, mereka jugalah mahkota di hati ini.
Sejujurnya aku ingin selalu bersama Cloud dan bercerita banyak hal. Katakanlah jika dia adalah pendengar yang baik bagiku. Dan karena hal itulah aku jadi tidak sungkan untuk mengungkapkan semuanya. Tapi karena kesibukan pekerjaan membuat kami harus bersabar dari kerinduan. Dan jika sudah tiba waktu yang tepat untuk kami berdua, maka saat itulah momen yang paling aku nantikan.
Kadang jika ada Rain, kuabaikan dia sejenak agar tidak menganggu kami. Karena Cloud tidak mempunyai banyak waktu untukku dibandingkan dirinya. Ya, bisa-bisa aku saja memposisikan diri saat keduanya ada. Menjadi penengah sekaligus wasit jika mereka berseteru. Kuakui kakak-beradik ini memang sudah menyatu di dalam hatiku. Dan aku amat menyayangi keduanya.
"Pagi yang cerah. Secerah perasaanku." Dia membuka pembicaraan.
"Benarkah?" Aku menoleh ke arahnya yang berjalan di sisi kiriku.
Cloud mengangguk. "Aku senang karena kau berhasil membawa bunga malaikat itu, Ara," katanya yang membuatku termenung sejenak.
"Jadi senang hanya karena bunga itu? Tidak dengan kembalinya aku ke istana ini?" tanyaku mulai cemberut.
"Hahahaha." Dia tertawa. Tawanya manis sekali. "Sayang, mengapa berpikiran seperti itu?" Tiba-tiba dia memanggilku dengan sebutan sayang. Sontak aku tersipu malu dan tidak cemberut lagi.
Dasar Ara! Mudah luluh!
"Tentu saja aku senang kau kembali ke istana, Ara. Pria mana yang tak senang calon pendamping hidupnya datang? Jangan berpikiran yang macam-macam, ya." Dia merangkulku lalu mencubit hidung ini.
Aku tersenyum lalu memeluknya. Kami pun berjalan bersama menuju gazebo depan istana. Saat itu juga aroma parfumnya yang terbawa angin tercium olehku. Rasanya nyaman sekali bersamanya.
"Aku punya kabar untukmu, Ara," katanya lalu mengecup kepalaku.
"Benarkah?" Aku mendongakkan kepala, melihatnya.
__ADS_1
Cloud tersenyum. Senyum manis yang mampu meluluhkan hati siapa saja, tak terkecuali aku. Dia kemudian memberatkan kepalanya di kepalaku, lalu melepaskan rangkulannya ini. Dia menggenggam tanganku lalu mengayunkannya seperti anak kecil. Cloud memang tahu jika aku ingin dimanja olehnya.
"Kemarin saat pulang aku langsung mencarimu. Tapi kau tidak ada di istana," kataku sambil berjalan bersamanya.
Cloud terdiam. "Maaf, Ara. Aku sedang mewakili rapat penting di barat Angkasa. Kau baik-baik saja, bukan?" Dia bertanya padaku.
"He-em." Aku mengangguk, lalu terdiam sejenak. Sejujurnya ingin sekali mengatakan apa yang diperintahkan ratu kepadaku.
"Ara."
"Ya?" Aku menoleh ke arahnya.
"Terima kasih." Dia lalu memegang erat tanganku ini.
Aku tersenyum, mengangguk. Kami pun meneruskan langkah kaki bersama. Semilir angin pagi akhirnya mengantarkan kami ke sebuah tempat yang penuh dengan memori indah. Di mana aku dan dirinya dengan sejuta kenangan yang tak akan terlupakan. Dan kini kami telah bersama. Tinggal menunggu hari pernikahannya saja.
Gazebo ini menjadi saksi atas cinta yang bersemi di antara aku dan kedua pangeran. Dan aku tidak akan pernah melupakannya. Tidak akan pernah bisa.
Kami pun segera duduk di kursinya. Para pelayan tak lama juga datang dan membawakan hidangan. Dari hidangan pembuka sampai hidangan penutup disediakan. Sepertinya Cloud telah meminta kepada mereka sebelumnya. Aku pun bertambah senang dengan kejutan yang diberikannya. Aku merasa sangat dilayani.
"Ada yang mau aku ceritakan padamu, Ara." Dia menuangkan segelas air untukku.
"Tentang apa?" tanyaku sambil mencicipi buah pembuka sarapan pagi ini.
Cloud tersenyum. "Pertama tentang kondisi ayah," katanya.
"Yang Mulia? Bagaimana kondisi Yang Mulia sekarang?" Aku antusias menanggapi.
Wajah Cloud tampak semringah. "Puji syukur semalam ayah sudah mengeluarkan semua racun yang ada di dalam perutnya. Aku kembali saat pergantian hari. Tadinya ingin mengetuk pintu kamarmu terlebih dahulu karena rindu. Tapi, tiba-tiba saja tabib berseru agar segera membantu ayah mengeluarkan racunnya. Jadi aku masuk ke kediaman ayah dan melihat apa yang terjadi di sana. Dan ternyata, ayah sudah tersadarkan dan memuntahkan racunnya." Cloud menceritakan padaku.
Aku tersenyum. Rasanya senang sekali. Ternyata bunga malaikat itu benar-benar berfungsi. Itu berarti aku tidak sia-sia pergi jauh ke Asia untuk mendapatkannya. Raja kini telah tersadarkan dari komanya.
__ADS_1
"Apakah aku boleh menjenguknya?" tanyaku pada Cloud.
Seketika raut wajah Cloud berubah. "Tabib bilang untuk sementara waktu ayah tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan siapapun, Ara. Ayah masih membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat. Mereka hanya mengizinkan kami untuk menjenguknya. Tak apa, ya?" Dia tampak amat menyesali keadaan ini.
Aku mengangguk, mencoba mengerti.
"Ara ...." Cloud memegang tanganku.
"Em, iya?"
Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku pakaian kerajaannya. "Ini, terimalah." Dia memberiku sebuah kotak berwarna merah.
"Apa ini?" tanyaku lagi.
"Bukalah." Dia tersenyum semringah padaku.
Aku penasaran. Jelas saja penasaran apa isinya. Lantas segera kubuka kotak merah yang dia berikan padaku. Aku ingin melihat apa isinya. Dan ternyata...
"Cloud ...." Aku pun terharu melihat pemberiannya.
"Itu adalah intan permata asli dari Antara. Aku membelikannya untukmu. Semoga kau suka, ya." Dia tersenyum padaku.
Cloud, terima kasih.
Wanita mana yang tidak suka diberi hadiah oleh pria yang dicintainya. Tentu saja hatiku berbunga-bunga karenanya. Ternyata di tengah kesibukan dan rapat pentingnya, Cloud masih mengingatku dan ingin membelikan oleh-oleh untukku. Sungguh tak tahu kata apa yang harus kuungkapkan padanya.
"Aku pakaikan, ya?"
Dia bangun lalu berdiri di belakangku. Dia pun memakaikan perhiasan bermata intan ini kepadaku. Dari mulai kalung, anting, gelang, sampai cincinnya, dia pakaikan kepadaku. Sehingga bertambahlah perhiasan yang kukenakan ini.
"Cloud ...."
__ADS_1
"Kau cantik, Ara," katanya seraya menatap dalam wajahku ini.