
Beberapa saat kemudian...
Keningku terasa hangat sekali. Aku pun mengambil sesuatu untuk melihat benda apa yang menghangatkan keningku ini. Dan ternyata aku sedang dikompres.
"Nona, Nona sudah sadar?"
Pelan-pelan kulihat Lara tengah menemaniku. Dia duduk di dekat pembaringanku ini. Sepertinya aku sudah berada di dalam kamarku sendiri.
"Lara." Aku pun beranjak bangun.
"Nona istirahat saja. Nona kelelahan." Lara melarangku untuk bangun.
Aku duduk di kepala kasur, tidak mengindahkan perkataan Lara. Lara pun akhirnya mau tak mau membantu menyediakan bantal sebagai sandaran punggungku. Sejenak aku pegangi kepalaku ini lalu melihat keadaan sekitar. Ternyata benar, aku sudah berada di dalam kamarku sendiri.
"Lara, siapa yang mengangkatku ke sini?" tanyaku padanya.
"Pangeran Xi, Nona." Lara segera menjawabnya.
"Hah? Dia?!" Aku tak percaya.
"Benar. Nona tadi pingsan dan pangeran yang segera membawa Nona ke sini. Dia baik sekali." Lara mengungkapkan pemikirannya.
Baik? Aku pun tersenyum mengingatnya.
"Tabib bilang, Nona harus banyak-banyak beristirahat. Yang Mulia juga mengizinkan libur untuk esok hari. Jadi Nona bisa beristirahat sejenak. Nona terlalu bekerja keras akhir-akhir ini." Lara menunjukkan perhatiannya terhadapku.
Aku mengangguk. "Lalu di mana pangeran Xi sekarang? Aku ingin berterima kasih padanya." Aku bertanya pada Lara.
"Aku di sini, Nona." Tiba-tiba saja kulihat seorang pria masuk ke dalam kamarku.
Di-dia?!
Betapa malunya aku, dia datang sesaat setelah aku bertanya di mana keberadaannya. Kulihat dia tersenyum padaku, begitu juga dengan Lara. Aku tak tahu kenapa mereka senyum-senyum seperti ini.
"Nona, saya akan mengambilkan obat untuk Nona minum. Permisi." Lara pun berpamitan.
"Eh?!" Aku mencoba menahannya.
Lara pergi begitu saja sebelum sempat meneruskan kata-kataku. Dia pergi sambil tersenyum kepadaku. Xi pun melihat kepergiannya lalu berjalan mendekatiku. Dia kemudian duduk di kursi yang ada di samping kasurku ini.
"Sudah baikan?" tanyanya perhatian.
__ADS_1
"Pa-pangeran ...." Aku seperti terkaku sendiri dia berada di sini.
Xi tersenyum. Dia tersenyum hingga menampakkan gigi kelincinya di hadapanku. Ya, dia adalah seorang pria bergigi kelinci. Dia manis sekali.
"Maaf ya ...." Dia kemudian memeriksa keningku.
Untuk yang pertama kalinya dia menyentuh keningku. Rasanya aneh sekali. Tak tahu mengapa seperti magnet kuat yang menyedotku. Tangannya terasa hangat sekali menyentuh keningku. Apakah ini respon alami tubuhku saat ada seorang pejantan yang mendekatiku? Oh, sungguh ini tidak baik sekali.
"Kau terlalu lelah. Padahal pihak Bunga tidak memaksamu untuk lekas-lekas menyelesaikan dekorasinya." Dia berkata padaku.
Aku menunduk.
"Besok aku akan membantumu bekerja. Jadi jangan dilarang ya. Dan juga ... jangan lagi menampar wajahku." Dia mengingatkanku.
Astaga!
Saat itu juga aku teringat dengan kejadian kemarin. Dengan mudahnya aku melayangkan tangan ini ke pipinya. Sontak aku merasa tidak enak sendiri.
"Pa-pangeran, ma-maafkan aku. Aku tidak sengaja. Sungguh. Apakah masih terasa sakit?" Aku segera memegang pipinya, memeriksanya.
Xi tertegun saat kupegang pipinya. Dia terdiam sejenak dan membiarkanku memeriksa pipinya. Tak lama kemudian aku pun menyadari jika telah berlaku lancang padanya. Tanpa sadar aku telah menyentuh wajahnya.
Xi terdiam, dia menatapku. Aku sendiri segera menundukkan pandangan ini karena tak enak hati padanya. Dia pun mendekatiku. Tubuhnya bergerak ke arahku, entah sadar atau tidak.
Ja-jangan. Jangan bilang ....
Aku pun memejamkan mata saat dia semakin mendekatiku. Aku tidak bisa mundur lagi ke belakang. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Tapi rasa-rasanya hangat napasnya kian terasa menerpa pipiku. Apakah dia ingin menciumku?
Pangeran, kau akan mengalami masalah besar jika sampai menciumku.
Jantungku semakin deg-degan tak karuan. Aku takut ada orang yang melihatnya dan salah kaprah terhadap kami. Namun, tak berapa lama aku menyadari hal apa yang ingin dia lakukan. Ternyata dia ingin menyelimuti tubuhku ini.
Pangeran?! Saat itu pun aku terpana dengan sikapnya.
Aku membuka mata dan kulihat dia tersenyum padaku. "Kita seperti pernah mengenal sebelumnya. Tapi di mana ya?" Dia bertanya seraya menatap bola mataku ini.
Aku terdiam. Mataku melirik ke arah kanan dan kiri, khawatir ada yang melihat kedekatan ini.
"Nona, bolehkah aku memanggilmu tanpa sebutan Nona?" tanyanya padaku.
Err ... kenapa tiba-tiba dia ingin seperti itu?
__ADS_1
Tak tahu mengapa dia ingin memanggilku tanpa sebutan nona. Aku pun mengangguk karena merasa tak ada salahnya jika dia memanggilku dengan sebutan nama saja. Toh, aku juga belum menjadi ratu.
"Aku Yang Xi. Orang-orang memanggilku Xi. Sedang Yang hanya orang tertentu saja. Mungkin suatu hari kau juga bisa memanggilku dengan sebutan itu." Dia mengatakan padaku.
Eh? Apa maksudnya?
Xi seperti menunjukkan rasa ketertarikannya padaku. Dia kemudian menunjukkan jari kelingkingnya kepadaku. Seolah meminta jari kelingking kami saling berjabatan. Aku pun merasa terenyuh dengan sikapnya. Dengan ragu-ragu aku menjulurkan jari kelingkingku padanya. Dan akhirnya jari kelingking kami berangkulan.
Dia tersenyum padaku. Matanya berbinar-binar dengan senyuman merekah indah. "Terima kasih, Ara. Senang berkenalan denganmu. Selamat beristirahat ya." Dia kemudian menarik jari kelingkingnya dariku.
Xi kemudian menepuk-nepuk selimutku. Dia beranjak pergi seraya tersenyum kepadaku. Aku sendiri terperangah melihat sikapnya. Dia ternyata benar-benar bersikap baik padaku. Saat itu pun aku merasa tak lama lagi kami akan bersahabat dekat. Semoga saja kami bisa bersahabat dengan baik. Tak ada salahnya menjalin hubungan dengannya.
Pangeran Xi, ternyata kau memang berbeda dari ayah dan kakekmu.
Aku harap ini bukanlah sandiwara yang dia buat. Aku harap ini adalah Xi yang sebenarnya. Kulihat dari sinar matanya pun seperti mengatakan tulus kepadaku. Aku harap tak salah dalam menilainya. Tetapi kembali lagi aku harus tetap berjaga-jaga dari bahaya yang bisa datang kapan saja. Karena musuh dalam selimut itu nyata adanya.
Baiklah Ara. Mari beristirahat sejenak sebelum memulai aktivitas esok hari.
Lantas aku pun merebahkan diri di atas kasur kamarku. Kutarik napas perlahan lalu kuingat hal yang indah-indah saja. Semoga hari esok tubuhku membaik seperti sediakala. Dan juga semoga semangatku pulih kembali. Aku berharap semoga suatu hari nanti Angkasa dan Arthemis bisa mengikuti jejak kami sehingga tiada lagi perang dingin yang terjadi. Ya, aku berharap itu.
.........
Bagaimana bisa aku menjadi orang yang begitu bodoh?
Untuk melepaskan cinta dan melanggar semua peraturan.
Gadis, ketika kau berjalan keluar dari pintu itu.
Meninggalkan sebuah lubang di hatiku.
Dan sekarang aku tahu dengan pasti...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...
__ADS_1