Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Sign


__ADS_3

Itu maumu, Pangeran. Sudah, Jangan goda aku lagi. Aku ini calon istri orang. "Em, Pangeran. Aku tidak sanggup jika membawa pulang pemilik area ini. Pemiliknya berat." Aku mengalihkan perhatiannya dengan candaan yang kubuat.


"Dasar!"


Zu pun tertawa karena candaanku. Mungkin tidak habis pikir dengan sikapku yang pura-pura lugu. Padahal amat memalukan mencandai seorang calon raja sebuah negeri besar. Mungkin jika tidak ada rasa cinta, aku sudah dihukum berat karena telah berani mencandai calon rajanya. Dan harus kuakui jika cinta itu memang membutakan segalanya. Segalanya tanpa terkecuali satupun juga.


Pangeran, kau terlalu mendesakku untuk menerima cintamu lagi.


Zu kembali tersenyum padaku lalu mengusap kepala ini. Aku pun merasakan sentuhan lembut darinya. Anehnya aku tidak melarangnya saat mengusap kepala ini. Kubiarkan saja dia melakukannya. Mungkin karena aku juga senang diperlakukan seperti ini. Apalagi sampai amat disayang olehnya. Harus kuakui jika benih-benih cinta itu masih ada. Namun, aku berusaha menutupinya dengan logika. Kejam? Mungkin. Tapi lebih tidak mungkin mempunyai tiga suami.


"Pangeran! Awas ada singa!!!"


Tiba-tiba saja ada prajurit yang berteriak kepada kami. Sontak jantungku berdetak kencang bukan main. Aku pun segera berdiri lalu melihat ke belakang. Dan ternyata...


"Ku-kucing be-besar!!! Ada kucing besaaarr!!!" Aku ikut berteriak dengan terbata-bata.


Zu bergerak cepat untuk melindungiku. Dalam sekejap mata dia mencabut pedangnya lalu berdiri di hadapanku. Para pasukan khusus yang menemani perjalanan kami pun segera bertindak untuk melindungi. Mereka berjalan ke arah kami lalu menjadi tameng dari singa itu. Saat itu juga kupegang erat-erat lengan Zu agar dia terus melindungiku.


"Jangan khawatir, Ara. Kami akan menyingkirkannya." Zu tetap siaga dengan pedang di tangannya.


Aku tak tahu mengapa tiba-tiba ada kucing besar di sini. Kucingnya besar sekali. Mungkin ini adalah rajanya kucing. Kulihat dia mengaum seperti ingin melahap kami. Namun, dia diam di tempat dan tidak bergerak sama sekali. Mungkin dia telah memperhatikan kami sejak tadi.


Kok seperti ada yang aneh dengan singa itu, ya?


Entah mengapa singa berwarna oranye itu seperti ingin berbicara padaku. Namun, para pasukan khusus menghalanginya. Hingga akhirnya singa itu duduk dan meluruskan kedua tangannya. Seperti pasrah dan memberi tanda jika tidak akan menyerang. Saat itu juga kusadari sesuatu.

__ADS_1


Apakah ada hal yang ingin dia ceritakan padaku?


Ini bukanlah bumiku. Di sini aku memiliki kemampuan yang tidak kumiliki di dunia asliku. Aku pun mencoba memejamkan mata untuk menyatu dengan alam. Sedang tanganku masih berpegangan erat kepada Zu. Aku mencoba mencari tahu kenapa singa ini tiba-tiba muncul di hadapan kami. Kutarik napas lalu mulai fokus dengan keadaan sekitar. Saat itu juga pandanganku seperti menembus, melewati para pasukan khusus yang berjaga di depan. Aku pun bisa melihat jelas singa itu.


I-ini?!


Dalam sekejap aku melewati putaran cahaya yang cepat. Dan kini aku sudah masuk ke sebuah area yang tidak kuketahui di mana persisnya. Kulihat keadaan sekeliling tampak minim cahaya. Pelan-pelan juga terdengar suara bayi singa yang menangis. Aku pun penasaran dengan apa yang terjadi di sekitar sini.


Ada apa sebenarnya?


Aku lebih memfokuskan penglihatan ini. Kucari tahu di mana asal suara bayi singa itu. Tak berapa lama kemudian kutemukan beberapa anak singa yang sedang menangis di dekat induknya. Dan ternyata induknya sedang sekarat karena terkena anak panah.


Astaga!


Aku tak percaya dengan hal yang kulihat ini. Anak-anak singa itu ternyata menangisi ibunya. Mereka juga terlihat kelaparan sekali. Segera saja kulihat lebih jelas keadaan sekitar di mana tempat ini berada. Dan ternyata aku menemukan bunga lily tak jauh dari sini. Semak lily di tengah hutan yang berada tak jauh dari aliran sungai.


Tiba-tiba aku mendengar suara pria berkata seperti itu kepada Zu. Saat itu juga aku tersadar dari penglihatanku.


"Singkirkan dia! Biarkan kami mengambil bunga ini!" Zu memberi perintah.


"Baik, Pangeran!" Mereka pun mengiyakan.


"Tu-tunggu! Tu-tunggu Pangeran!" Aku pun segera menahannya.


"Ara?" Zu menoleh ke arahku yang berlindung di belakangnya.

__ADS_1


Aku baru tersadar dari penglihatanku sehingga masih terbata dalam mengucapkan kata. Lalu pada akhirnya kutarik napas dalam untuk menormalkan detak jantungku ini. Aku mencoba mengatakan kepada Zu apa yang kulihat tadi. Para pasukan khusus pun menunggu perintah selanjutnya dari kami.


"Pa-pangeran, si-singa itu ingin meminta tolong kepada kita. Istrinya tengah sekarat karena terkena anak panah. Dan bayi-bayi singa itu menangis kelaparan. Kita harus segera menolongnya," kataku pada Zu.


Zu mengernyitkan dahinya. "Ara, dari mana kau tahu?" tanya Zu yang terheran padaku.


Aku menggelengkan kepala. "Sekarang kita tidak punya waktu. Kita cari bantuan saja untuk menolong istri singa itu. Kasihan bayi-bayinya," pintaku lagi padanya.


Zu menelan ludahnya. Sepertinya dia tidak percaya dengan hal yang kukatakan ini. Tapi kukatakan saja agar dia mengerti mengapa singa itu sampai datang dan mengejutkan kami. Pada akhirnya dia meminta pasukan khususnya agar mengarahkan singa itu pergi. Singa itu pun beranjak pergi.


Singa, kita sama-sama makhluk Tuhan. Jika kau ingin meminta bantuan, arahkan kami ke tempat di mana istrimu kesakitan, ya. Ya Tuhan, tolong sampaikan perkataanku ini padanya.


Aku berdoa di dalam hati. Berharap Tuhan mengabulkan doa ini. Niatku baik. Ingin menyelamatkan istri singa itu dan juga anak-anaknya yang kelaparan. Semoga Tuhan merestuinya.


"Ini aneh."


Zu berkata sendiri saat melihat singa itu pergi. Seolah meminta kami agar segera mengikutinya. Zu pun tampak ragu untuk mengikuti singa itu. Namun, aku segera menguatkan hatinya.


"Pangeran, di tempat ini di mana yang ditumbuhi semak bunga lily?" tanyaku padanya.


"Bunga lily?" Dia menoleh ke arahku.


Aku mengangguk. "Di tempat itu istrinya tengah sekarat dan anak-anaknya kelaparan. Kita bisa ke sana untuk menolongnya," kataku lagi.


Zu terlihat ragu. "Ara, kau yakin? Semak bunga lily itu cukup jauh dari sini." Zu menuturkan padaku.

__ADS_1


Aku menelan ludah. "Tak apa, Pangeran. Kita harus mendahulukan yang lebih penting dulu. Nanti jika sudah selesai, kita kembali lagi ke sini." Aku memintanya lagi.


Raut wajah Zu seperti terheran dengan sikapku. Namun, tak lama kemudian dia mengambil keputusan untuk mengikuti langkah kaki singa itu. Aku pun memetik beberapa bunga malaikat lalu segera naik ke atas kuda. Kami akan menuju ke tempat di mana bayi-bayi singa itu berada. Entah bagaimana nantinya, semoga niat baik kami direstui Tuhan dan semesta.


__ADS_2