
Pangeran ....
Dia seolah tidak memberi kesempatan untukku pergi. Jari-jemarinya membelai lembut telingaku di saat bibirnya menyapu bibirku. Sontak sensasi geli yang menjalar ke seluruh tubuh kurasakan dengan cepat. Hormon-hormon di dalam tubuhku bereaksi, menimbulkan getaran yang sangat kuat untuk melanjutkan hal ini. Namun, sebisa mungkin aku melawannya, mencegah agar tidak sampai keterusan.
"Pangeran ... sudah."
Aku mencoba bicara di tengah-tengah ciumannya yang semakin lama semakin menuntutku. Tangan kananku mendorong dadanya agar dia tidak berulah lagi dan segera melepaskanku. Tetapi saat itu juga dia memegang tanganku. Dia tidak terima jika ciuman ini diakhiri. Aku pun mencoba mendorongnya dengan tangan kiriku, tapi tangan kiriku juga dipegang olehnya. Sehingga aku tidak bisa berontak lagi. Kedua tanganku kini dipegang olehnya.
Pangeran, sudah. Kumohon ....
Aku masih berusaha menjauhkan wajahku, tapi dia terus saja mendekatinya. Hingga akhirnya aku tidak bisa mengelak lagi. Hangat napasnya pun mendominasi tubuhku. Aku seperti tak berdaya untuk melepaskan diri. Aku terperangkap oleh cintanya. Dia menjatuhkanku lagi ke dalam angan dan mimpi indah bersamanya.
Pangeran, kau sangat keras kepala.
Detik demi detik kulalui bersama pria yang dahulu pernah singgah di hatiku. Hisapan, sapuan lembut dari bibirnya seolah memintaku kembali. Ternyata hati ini tidak bisa berbohong jika masih menyayanginya. Dan kini dia sedang menyapu lembut bibirku, memberi penekanan kecil seolah menegaskan jika aku miliknya, dia milikku. Dia juga memegangi kedua tanganku agar tidak lari.
Zu tidak memberi kesempatan sama sekali untukku melarikan diri. Dia menyalurkan seluruh perasaannya melalui ciuman ini. Beberapa sapuan lembut dari bibirnya pun mampu menepiskan kekerasan di hatiku. Dan hisapan kecilnya itu seolah menyerap seluruh tenagaku. Hatiku terasa luluh di hadapannya.
Aku tak kuasa untuk menolak ciumannya. Pada akhirnya aku pasrah dan mulai membalas ciumannya. Tubuhku seolah bergerak sendiri untuk melakukan ritme yang sama pada bibirnya. Saat itu juga kurasakan Zu tersenyum dengan balasan yang kulakukan ini. Dia menuntun tanganku agar melingkar di lehernya. Aku pun pasrah melakukannya. Aku kalah. Ya, aku kalah dengan diriku sendiri. Aku tak mampu melawan hati ini. Maafkan aku yang telah berkeras hati.
Satu jam kemudian di kapal pesiar milik Angkatan Laut Asia...
Wajahku memerah setelah apa yang terjadi di dalam kamar tadi. Dan kini sosok pria yang baru saja menciumku sedang menghidangkan sarapan pagi untukku. Tidak ada satupun yang tahu apa yang kami lakukan di kamar itu. Sepertinya dia memang telah mempersiapkan sebelumnya. Dia ingin memastikan hubungan ini berlanjut sampai nekat berbuat hal gila. Sungguh aku ingin sekali mengacak-acak rambutnya. Dia begitu keras kepala.
__ADS_1
"Sudah, jangan diam saja. Kita sarapan ya."
Zu menyajikan sup kepiting untukku. Dia juga telah membukakan cangkangnya. Dia menunjukkan rasa sayangnya tanpa malu ataupun sungkan lagi. Sedang aku hanya bisa tersipu di hadapannya. Aku tak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Jika kukatakan sebagai kekhilafan, aku menyadari sepenuhnya. Tidak mungkin aku membohongi diriku sendiri.
"Ara ...," Dia menyapaku dengan lembut. "Ayo dimakan supnya agar perutmu hangat. Atau ingin kusuapi?" tanyanya padaku.
Aku melihatnya sedang menantikan jawaban dariku. Kulihat bibir merah merekah itu telah menghancurkan kekerasan hatiku. Masih teringat jelas apa yang bibir itu lakukan padaku. Aku pun bertambah malu dibuatnya.
"Dasar Chubby." Dia mencubit pipiku.
"Pangeran, sakit!" Aku pun memegang pipiku ini.
Tak tahu mengapa naluri alamiku mulai keluar dan manja padanya. Dia seperti magnet yang menarik tubuhku agar bersikap manja kembali. Dia mengingatkanku akan hari-hari itu. Hari dimana kami bercanda dan tertawa bersama. Kerinduan akan hari itu pun muncul kembali di hatiku. Apakah ini pertanda jika dia adalah jodohku?
"Kau ini bandel sekali. Aku memintamu sarapan sekarang. Sebentar lagi kita akan sampai di pelabuhan. Sudah, jangan pikirkan yang lain. Isi dulu perutmu."
"Pangeran."
"Hm?"
"Bagaimana ... bagaimana nanti sesampainya di istana? Aku takut." Aku jujur padanya.
Dia menatapku lalu memegang tanganku ini. "Kau tidak perlu khawatir, Ara. Aku yang akan menyelesaikannya. Saat ini tugasmu hanya satu. Cobalah untuk mencintaiku seperti dulu. Itu saja." Dia menegaskan padaku.
__ADS_1
Aku seperti enggan mengiyakan, namun juga tidak bisa menolak. Jujur saja di hatiku masih ada nama Cloud dan Rain. Tapi, saat ini otakku seolah dikuasi olehnya. Dia mendominasiku. Aku terhanyut dengan suasana yang dia ciptakan tadi. Aku membutuhkan waktu agar dapat berpikir tenang.
Ya Tuhan, semua kebersamaan kami teringat kembali di benakku.
Aku tidak tahu ini pertanda apa. Tapi hal yang dilakukan tadi hampir sama persis dengan hal yang dia lakukan dulu. Dimana kami juga berciuman dan ketahuan oleh pelayan-pelayan istananya. Dan mungkin tadi juga para pasukan khusus melihatnya. Sungguh aku malu sekali jika hal itu benar terjadi. Cukup sudah kami berciuman dan ketahuan. Aku tidak ingin terulang kembali.
Waktu itu...
Saat itu aku sedang berlari pagi bersamanya. Dari rumahnya hingga menuju istana dengan berjalan kaki. Jaraknya cukup jauh, mungkin ada sekitar sepuluh sampai lima belas menit perjalanan. Dan tak lama kemudian aku sudah tiba di depan istananya. Tapi kami tidak lari lagi, melainkan berjalan santai, dan Zu pun masih menemaniku di sisi.
Kulihat parasnya memang begitu tampan, membuat hatiku tergoda untuk memilikinya. Namun, lagi-lagi aku harus sadar diri, aku hanyalah orang baru di kehidupannya. Apa iya dia mencintaiku sepenuh hati? Seperti cinta kedua pangeranku di Angkasa? Aku masih gundah dengan perasaan yang diakuinya.
"Pangeran, ada apa gerangan kau ingin memanggilku dengan sebutan Ara?" tanyaku seraya berjalan bersamanya.
Zu seperti malu, dia menoleh ke arahku sesaat lalu kembali menghadapkan pandangannya ke depan. "Bukankah kau sendiri yang bilang, jika terus memanggilmu dengan sebutan nona, kita tidak akan pernah bisa dekat?" Dia balik bertanya padaku.
Aku tersenyum seraya mengingatnya. Ternyata Zu masih ingat perkataanku di tepi pantai waktu itu. Seketika hatiku nyes-nyes dibuatnya.
"Ara, mungkin aku butuh waktu sebulan lagi untuk menyelesaikan serah terima jabatan ini. Kau tidak keberatan, bukan?" tanyanya padaku.
"Eh, maksud Pangeran?"
"Aku berencana setelah menguasai semua tugas ini, akan segera menggelar pesta pernikahan kita."
__ADS_1
"APA?!!!"
Saat itu juga aku terkejut bukan main. Sungguh tak percaya jika dia akan berkata seperti itu.