Dua Pangeran Satu Cinta 2

Dua Pangeran Satu Cinta 2
Distance


__ADS_3

"Sekitar perbatasan aman, Pangeran. Rumah pohon juga sudah saya bersihkan. Kami akan berjaga di bawah untuk melindungi Pangeran dan Nona selama beristirahat." Pria itu menuturkan.


Eh? Aku dan Zu? Di rumah pohon?


"Terima kasih atas kerja samanya, Lee. Kami akan segera ke sana. Tolong bantu koordinir prajurit yang berjaga di sekitar kawasan. Aku mengandalkanmu." Zu memberi perintah.


"Siap, Pangeran!" Pria bernama Lee itu pun berdiri tegak menerima perintah dari Zu.


Saat itu juga aku merasa heran. Mengapa Lee bersikap seformal ini kepada Zu? Padahal Zu adalah saudara tirinya. Apa mungkin diperlakukan berbeda antara saudara tiri dan saudara kandung? Mungkin lebih baik jika aku menanyakan langsung padanya.


"Ara, mari kita naik ke atas pohon itu."


Zu kemudian mengajak ku untuk menaiki rumah pohon yang ada di hadapan kami. Rumah pohon yang cukup luas untuk ditempati beberapa orang. Sepertinya juga kokoh untuk tempat menaruh barang-barang bawaan. Jadi ya sudah, kembali aku mengekor padanya menuju rumah pohon itu.


Bagaimana bisa membuat rumah di atas pohon seperti ini?


Sesampainya di bawah rumah pohon, aku diminta oleh Zu untuk menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu-kayu terikat. Sedikit seram jika harus menaikinya dengan mengenakan sepatu hak tinggi. Lantas segera kutitipkan sepatuku ini kepada Zu lalu menaiki tangganya. Aku tak sadar lagi jika dia seorang pangeran yang harus kuhormati.


Kuberikan begitu saja sepatuku kepadanya. Dan anehnya, sepatuku itu diterima olehnya tanpa ada penolakan sedikitpun. Sepertinya dia tidak bisa menolak apa yang kuberikan ini. Ya, walau hanya sebatas menitipi.


Di rumah pohon, hutan perbatasan Asia dan Negeri Bunga...


Akhirnya aku sampai juga di rumah pohon hutan perbatasan ini. Rumah pohon yang benar-benar seperti rumah. Ada pintunya, jendelanya, dan ada tempat untuk tidurnya, mirip seperti kamar berukuran kecil. Aku pun melihat keadaan sekitar yang dikelilingi teras di depannya. Bisa untuk bersantai ataupun menghirup udara segar. Sungguh tak kusangka jika ada rumah pohon di tengah hutan perbatasan ini.

__ADS_1


Rumah pohonnya terbuat dari kayu yang dipahat halus. Mirip seperti papan-papan yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah rumah. Aku pun masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang mirip seperti kamar ini. Namun, tak lama kemudian Zu mengagetkanku. Dia ternyata sudah berada di belakangku.


"Ini adalah rumah perlindungan terhadap binatang buas, Ara. Area ini sangat berbahaya untuk para pendatang baru. Shu juga mengadopsi singa yang berasal dari sini. Maka dari itu aku sendiri yang akan menemanimu." Dia menuturkan padaku.


Oh, jadi area ini sangat berbahaya bagi pendatang baru?


Aku membalikkan badan, menghadapnya. "Pangeran, tapi kenapa hanya kita saja yang tinggal di atas. Sedang semua prajuritmu berjaga di bawah?" tanyaku kepadanya.


Kulihat Zu tersenyum seraya bersandar di pintu ruangan. "Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab mereka untuk melindungi putra mahkota, Ara. Mereka sudah menandatangi kontrak mati dengan pihak kerajaan. Jadi mereka akan berjaga di bawah bagaimanapun situasinya." Zu mengatakan padaku.


Kasihan sekali para prajurit itu. Apakah semua alat negara diposisikan seperti ini?


Tak tahu mengapa aku merasa kasihan kepada para prajurit yang berjaga di bawah. Aku pun berjalan melewati Zu lalu melihat keadaan di bawah rumah pohon ini. Kulihat para prajurit itu sedang membangun perkemahan dengan obor yang mengelilingi. Suasana hutan yang gelap pun menjadi terang berkat cahaya dari obor-obor itu. Aku juga merasa tidak seram lagi dengan keadaan sekitar. Tetapi tetap saja merasa kasihan kepada mereka. Karena pastinya mereka juga mempunyai keluarga yang menunggu di rumah.


"Ara, apa yang kau pikirkan?" Zu bertanya saat aku melihat keadaan di bawah rumah pohon ini.


Aku berbalik menghadapnya. "Pangeran, boleh kita bergabung dengan mereka?" tanyaku begitu saja.


"Apa? Kau ingin bergabung dengan para prajurit di bawah?" Dia terbelalak kaget mendengar pertanyaanku.


"He-em." Aku mengangguk. "Tidak ada salahnya, bukan? Ayo!"


Tanpa ragu aku menarik tangan Zu untuk mengikutiku ke bawah rumah pohon ini. Zu pun seperti tidak dapat menolak permintaanku. Jadi ya sudah, mari kita nikmati pemandangan api unggun yang akan segera dibuat di tengah hutan perbatasan ini. Mungkin kami bisa lebih akrab lagi.

__ADS_1


Memasuki malam...


Aku duduk sambil bercengkerama dengan para prajurit yang ada di sini. Zu pun menemaniku di sisi. Dia tampak memperhatikanku yang sedang mencoba dekat dengan prajuritnya. Kami duduk melingkari api unggun yang besar. Hal ini tentu saja membuatku dejavu dengan acara yang pernah diselenggarakan di bukit pohon surga. Di mana Zu bermain curang agar bisa mendapatkan jawaban yang sama denganku. Sehingga kami bisa menjadi pasangan semalam.


Sungguh tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin bertemu di istana saat akan mengadakan pertunjukan busana. Dan kini aku dan Zu sudah mengukir kenangan indah bersama. Di mana hanya aku dan dirinya yang mengetahuinya.


Sampai saat ini aku belum pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami kepada Rain ataupun Cloud, karena hal itu amat berbahaya. Tahu sendiri bagaimana kedua pangeran jika sudah cemburu. Walau Cloud berhati lembut, tetapi tetap saja saat cemburu amat mendominasi duniaku. Bagaimana jika keduanya? Hancur sudah. Aku hanya bisa diam sepanjang malam.


"Pangeran, aku memanggil saudaramu dengan sebutan apa ya?" Aku bertanya pada Zu yang duduk di sisiku.


Cahaya api unggun menyinari wajahnya yang putih bersih. Kulihat dia tersenyum manis di sampingku. Mungkin dia merasa aku sudah kembali ke jati diriku yang sebenarnya. Seorang Ara yang dia kenal dulu. Entahlah, aku tidak bisa membaca isi hati dan pikirannya. Jadinya tidak tahu alasan mengapa dia tersenyum seperti itu kepadaku.


"Panggil saja Lee. Dia hanya berbeda dua tahun dariku." Zu menjelaskan.


"Oh ...." Aku pun manggut-manggut di sampingnya.


Kulihat Lee diam saja. Dia tidak berkata sepatah katapun jika tidak ditanya. Aku sendiri jadi heran dengannya. Apakah memang begini sifat aslinya? Atau bawaan sebagai seorang prajurit istana? Kulihat Zu juga seperti biasa-biasa saja kepada Lee. Namun, tersirat jarak yang jauh di antara mereka.


Mungkin saja pernah ada sesuatu yang terjadi sebelum ini. Yang mana berhubungan dengan sikap sesama saudara tiri. Semoga saja suatu hari nanti aku bisa mengetahuinya sendiri. Mungkin bisa menjadi penengah atas permasalahan yang terjadi. Toh, sesama saudara untuk apa saling membenci? Karena menyayangi itu lebih berarti.


.........


Bagian Pertama Tamat

__ADS_1


__ADS_2