
Dia bisa galak juga ternyata ....
Sungguh aku jadi berpikir ulang tentang perkataannya ini. Dia memintaku untuk tidak bersikap formal padahal sedang berada di jam kerja istana. Dia juga telah dikembalifungsikan menjalankan tugas kerajaannya. Bagaimana mungkin tidak bersikap formal sedang aku adalah utusan Angkasa? Apa dia masih menganggapku sebagai kekasihnya?
"Em, Pangeran. Kedatanganku ke sini untuk membicarakan tentang keberangkatan kita ke perbatasan Asia dan Bunga. Bisa tolong jelaskan padaku kapan kita akan berangkat ke sana?" tanyaku padanya.
Dia segera meletakkan dokumen yang dibacanya. "Kau ingin segera ke sana?" Dia balik bertanya dengan masih membiarkan aku berdiri di hadapannya.
Aku mengangguk. "Kami tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu. Waktu hanya tersisa empat hari lagi." Kuungkapkan kebutuhan mendesak ini.
Dia melihatku dengan tatapan sinis. "Kenapa tidak meminta kepada Arthemis saja? Kenapa ke Asia?" Dia bertanya lagi.
Err ....
Saat itu juga aku merasa dia ingin menghakimi Angkasa tentang hal ini. Aku pun menundukkan wajah agar tidak disinggungnya lagi.
"Ara, Angkasa tidak mempunyai pilihan selain Asia. Jadi kau harus patuh terhadap ucapanku. Aku adalah pemilik wilayah bunga malaikat itu. Tak sopan rasanya jika menanyakan hal itu padaku. Seolah-olah kau memaksaku untuk memberikannya." Dia mengatakan sesuatu hal yang membuat nyaliku ciut seketika.
Aku terdiam, menunduk di hadapannya.
"Kau tahu, Arthemis adalah negeri yang intoleran semenjak raja terdahulu mencetuskan perang dinginnya terhadap Angkasa. Hanya Asia saja yang bisa menyelamatkan baginda raja. Dan kau tahu, tidak mudah untuk mendapatkan bunga itu. Jika bukan karenamu, aku tidak akan mengizinkan siapapun untuk memasuki wilayah di mana bunga itu tumbuh." Dia menegaskan padaku.
Aku jadi sedikit bingung dengan perkataannya. "Pangeran, apakah wilayah itu sangat berbahaya?" tanyaku lagi.
Zu beranjak berdiri. Dia menutup dokumen yang sedang dibacanya. Dia kemudian berjalan ke arahku dengan hentak langkah kaki yang mendebarkan jantung ini. Hingga membuatku tanpa sadar memundurkan langkah kakiku ke belakang. Namun, sepertinya aku tidak dapat melakukannya lagi. Dia memegang kedua lenganku dengan cepat.
__ADS_1
Pangeran?!
Kami akhirnya berdiri berhadapan dengan jarak yang berdekatan. Dia menatapku dengan tatapan seperti menahan kesal. Jarak sedekat ini bisa membuatku melihat bayanganku sendiri di bola mata hitamnya. Kulihat dia menggertakkan giginya di hadapanku.
"Kenapa kau masih bersikeras dengan dirimu sendiri?" tanyanya yang membuatku menelan ludah ini.
Seketika aku tersadar. "Ma-maksud Pangeran?" Aku seperti ketakutan di hadapannya. Jarak kami mungkin hanya sekitar dua jengkal saja.
Dia menghela napas seraya menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia kesal kepadaku karena ketidakpekaanku ini. Aku pun menelan ludah karena rasa takut yang berlebihan padanya. Takut tiba-tiba dia membentakku lalu membuatku jantungan. Tersirat dari raut wajahnya seperti ingin marah kepadaku. Aku pun mencoba mengondisikan hati ini agar tetap tenang.
"Ara." Dia menundukkan wajahnya lalu menatapku lagi. "Kau harus tahu, perasaanku masih sama seperti dulu." Dia mengambil napas dalam-dalam di hadapanku. "Tak bisakah ... tak bisakah kita perbaiki semua kesalahpahaman yang telah terjadi?" tanyanya seraya menatapku tepat di mata.
Pangeran ....
Pangeran, kita memang pernah bersama. Tapi, haruskah mengulang yang sudah berlalu? Kenangan itu telah tersimpan dalam alam bawah sadarku. Aku juga tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Tapi, aku tidak bisa bersamamu. Aku sudah menjadi milik Angkasa. Apakah kau ingin membuat negeri kita berseteru karena cinta?
Aku menatap bola mata hitamnya yang masih terus menatapku. Kulihat dadanya naik-turun menanti jawaban dariku. Dia terlihat bersungguh-sungguh kepadaku, tapi aku tidak bisa menerimanya. Karena saat ini aku telah terikat dengan Angkasa. Aku akan menikah dengan kedua putra mahkotanya.
"Ara, kau dengar aku?" Tiba-tiba dia memecah lamunanku.
"Em, Pangeran." Saat itu juga aku tersadar. Aku pun segera menjauh darinya.
"Ara." Dia memanggilku kembali.
Aku membelakanginya. Berdiri sambil melihat-lihat peta dunia yang ada di dinding ruang kerjanya. Kulihat wilayah Angkasa di peta itu yang seolah ikut mengawasiku agar tidak terlalu dekat dengannya. Dan ya, kutarik napas untuk mengondisikan suasana hati yang mulai bergemuruh. Aku mencoba teguh terhadap apa yang telah kuputuskan. Kuingat kembali tujuan utamaku datang ke sini. Aku tidak boleh melenceng dari tujuan awalku. Dan aku juga tidak boleh membiarkan dia kembali masuk ke dalam hatiku. Yang sudah biarkan berlalu.
__ADS_1
"Aku ... aku sudah akan menikah dengan mereka, Pangeran Zu." Aku mengatakannya dengan masih membelakangi dirinya.
Zu terdiam sejenak. Entah apa yang dia lakukan. Namun, tak lama kemudian dia bicara lagi. "Tak bisakah memberi kesempatan padaku?" Dia masih menanyakan hubungan ini.
Aku menggelengkan kepala. "Aku sudah terikat titah raja. Aku tidak boleh mengkhianatinya," kataku lagi, menegaskan padanya.
Kudengar Zu menghela napasnya. Dia kemudian melangkahkan kakinya ke arahku. Saat itu juga detak jantungku berpacu tak menentu.
Pangeran, kau adalah pria tampan nan rupawan. Alis tebalmu, senyum merahmu, begitu menawan banyak hati wanita dari berbagai kalangan. Tak ada yang dapat menolak keindahanmu, Pangeran. Terlebih kau adalah calon raja negeri ini. Siapa yang dapat menolak pangeran tampan dan berkuasa sepertimu? Tidak ada, sekalipun itu aku. Namun, aku telah mempunyai kedua pangeran Angkasa. Haruskah aku menambahkanmu sebagai yang ke tiga?
"Ara." Dia sudah berada di belakangku sekarang. "Aku tahu kau masih mencintaiku. Tak mudah bagimu untuk melupakan sesuatu. Jadi, tolong ingatlah kembali apa yang telah kita lalui bersama. Bangunlah kembali mimpi-mimpi indah dan angan itu. Karena aku ... masih menunggumu," katanya yang membuat jantungku berdebar kencang.
Pangeran, sebenarnya kaulah yang keras terhadap diri sendiri.
Aku membalikkan badan, menghadapnya. "Pangeran, kita tidak bisa—"
"Ara." Dia menyela perkataanku, menatapku dalam. "Aku mencintaimu. Hanya kau yang aku butuhkan." Dia meyakinkanku lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku ini.
Astaga! Astaga! Apa yang akan terjadi?!
Saat itu juga aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Zu memegang kedua lenganku dengan erat. Dia juga memajukan badannya agar lebih mendekat ke tubuhku. Dia memejamkan matanya seraya memiringkan kepala ke arahku. Dia ingin menciumku.
Ya Tuhan, tolong aku.
Seperti magnet bumi yang menarikku begitu kuat, aku seakan terkunci olehnya dan tidak dapat menghindar lagi. Hingga akhirnya wajah kami begitu dekat sekali, yang membuat detak jantungku ini melaju dengan cepat. Aku pun menarik napas dalam-dalam agar bisa berpikir tenang. Aku harus melarikan diri dari situasi yang sedang terjadi. Aku tidak boleh sampai dicium olehnya.
__ADS_1