
Satu jam kemudian...
Cloud mengajak ku makan malam bersama di atas kapal pesiar milik Angkasa. Hidangan yang disajikan pun adalah hidangan laut khas negeri ini. Namun, aku kurang berselera untuk menyantapnya. Padahal ada udang tepung, lobster panggang, cumi bakar, dan hidangan khas laut lainnya yang menggugah selera. Tetapi karena mungkin mulai mabuk laut, jadinya tidak kusantap semua.
Selepas makan malam, Cloud segera mengantarkanku ke kamar yang ada di kapal pesiar ini. Dia memintaku beristirahat karena perjalanan masih panjang. Kemungkinan pukul satu atau dua dini hari baru sampai di Asia. Dan kini aku sedang merebahkan punggung dengan bantal sebagai alasnya, di atas kasur kapal yang mewah. Aku pun meneguk minuman pereda mual yang kutahu persis apa. Wedang jahe. Ternyata Cloud mempersiapkan minuman ini untukku.
Sebenarnya dunia ini dan duniaku tidaklah jauh berbeda. Namun, aku tidak tahu di mana sebenarnya dunia ini berada. Apakah di planet lain atau masih berada di dalam area bumiku, namun jaraknya jauh aja. Aku tidak bisa memastikannya karena keterbatasan penglihatan manusia. Tapi di manapun itu, semoga Tuhan selalu melindungiku dari perkara yang tak terduga.
Pangeran Zu, sebentar lagi kita akan bertemu. Aku harap kau tidak lagi mengungkit masa lalu.
Saat ini sekitar pukul sembilan malam waktu duniaku. Jika sesampainya di Asia pukul satu, itu berarti tidak lama lagi aku akan tiba di Asia. Sekitar empat jam aku akan bertemu dengan Zu. Entah bagaimana nantinya, hatiku ini sudah deg-degan tak karuan. Aku khawatir. Sangat khawatir jika dia memohon padaku dan membuat hatiku luluh. Bagaimanapun aku hanya seorang manusia biasa yang mudah merasa kasihan. Apalagi tidak ada sesuatu yang dapat membuatku menolaknya selain kedua pangeran.
Zu tampan, berkharisma. Dia mempunyai kulit putih bersih sebagai seorang pria. Alis matanya tebal dengan bulu mata lentik yang mengelilingi bola matanya. Tidak ada yang tidak akan jatuh cinta jika melihatnya. Dan mungkin juga aku. Tapi, aku sudah akan menjadi istri kedua pangeranku. Mau tak mau harus menepiskan pemikiran itu.
"Hoaaaamm. Sepertinya aku mulai mengantuk."
Setelah mualku terasa mereda, aku pun mulai mengantuk dan ingin segera tidur. Aku akan beristirahat sejenak sebelum sampai di Asia. Aku ingin tidur untuk merelaksasikan tubuhku sebelum tiba di istana yang amat luas itu. Ya. Asia memiliki istana dua kali lipat besarnya dari Angkasa. Jangankan untuk berjalan, menaiki kuda dan memutarinya saja sudah terasa melelahkan. Apalagi jika diminta untuk berlari mengitarinya. Mungkin aku menyerah saja. Tidak mungkin bagiku untuk mengitari halaman istana seluas itu.
Selamat tidur, Ara. Mimpi indah bersama bintang.
Lambat laun mataku mulai terpejam. Laju napasku pun perlahan-lahan teratur. Kurasa tak lama lagi akan segera memasuki alam mimpi. Semoga saja mimpiku indah malam ini. Mimpi indah bersama bintang yang berkilauan di angkasa. Dan aku harap ada kedua pangeranku di sana.
__ADS_1
Esok harinya...
Entah sudah berapa lama aku tertidur, kudengar suara ayam jantan berkokok di pagi hari. Rasa-rasanya aku masih bermimpi. Kedua mata ini juga seakan malas untuk terbuka. Aku masih ingin tertidur di atas kasur mewah milik kapal pesiar Angkasa. Aku pun meneruskan tidurku lagi.
Suara ayam jantan itu terdengar semakin kuat. Apakah di lautan ada ayam jantan berkokok ya?
Pertanyaan muncul di benakku saat ingin melanjutkan tidur. Namun, alam sadarku segera menjawabnya. Tidak mungkin di lautan ada ayam jantan yang berkokok. Pastinya ini sudah berada di daratan.
"Astaga!"
Saat itu juga aku terjaga. Kusadari jika kini sudah tidak lagi berada di atas kapal milik Angkasa. Lantas kulihat keadaan sekelilingku yang kini sudah tampak berbeda. Dekorasi kamarnya seperti pernah aku kenal sebelumnya. Warna-warna emas mendominasi kamar ini.
Jangan-jangan ini?!
Aku harus keluar!
Segera saja aku beranjak bangun lalu menuju pintu. Tanpa menggunakan sepatu lagi, kubuka pintu kamar yang kutempati lalu melihat keadaan sekitar. Dan ternyata ... aku sudah berada di istana Asia.
Cloud! Kau di mana?!
Aku panik. Jelas saja panik karena sekarang sudah berada di istana Asia. Aku pun menepuk pipi ini, mencubit lenganku sendiri untuk membuktikan jika ini bukanlah mimpi. Dan ternyata memang benar, ini adalah nyata. Aku ternyata sudah sampai di istana Asia.
__ADS_1
Aduh ... tidurku terlalu lama ternyata.
Lekas-lekas aku melangkahkan kaki untuk mencari pelayan istana. Aku ingin menanyakan di mana gerangan Cloud berada. Aku pun menuju teras depan istana untuk menemui prajurit yang berjaga. Namun sebelum sampai, kulihat seseorang tengah berjalan tergesa-gesa memasuki istana. Dia mengenakan piyama biru dengan wajah yang masih tertutupi cahaya. Aku pun mencoba menerka siapa gerangan dirinya. Tak lama kemudian kusadari siapa gerangan yang berjalan ke arahku ini.
Pa-pangeran Zu?!
Aku terkejut saat sinar lampu istana mengenainya. Dia adalah Zu, putra mahkota sekaligus calon raja negeri ini. Seorang pria yang pernah mengukir cerita bersamaku.
"Ara ...." Dia pun melihat keberadaanku.
"Pa-pa-pangeran ...." Entah mengapa aku seperti kesulitan berkata saat bertemu dengannya.
Getaran itu masih terasa di hatiku. Namun, selama ini aku mencoba untuk menepiskannya. Sebagai seorang perempuan tidak mudah untuk melupakan sesuatu. Apalagi hal berarti yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Begitu juga denganku yang tidak akan pernah bisa melupakan segala kebaikannya. Walau nyatanya, aku lebih memilih kedua pangeran Angkasa.
Pangeran ... kau tergesa-gesa untuk menemuiku?
Zu melangkah lebih dekat ke arahku. Saat berada di jarak sekitar tiga meter, dia menghentikan langkah kakinya. Kulihat dia menelan ludahnya dengan sorot mata yang berlinang. Sepertinya dia tidak menyangka jika akan bertemu kembali denganku. Aku pun memundurkan langkah kaki ini untuk menjaga jarak darinya. Aku tidak boleh dekat-dekat dengannya.
"Ara?"
Dia pun menyadari sikapku ini. Zu memperhatikan langkah kakiku yang mundur ke belakang. Wajahnya tiba-tiba berubah masam, seperti kecewa. Namun, aku terus memundurkan langkah kaki ini hingga jarak kami lebih jauh lagi. Aku pun terdiam di tempat namun tetap berhadapan dengannya. Saat itu juga getaran di hatiku masih terasa untuknya. Aku melihatnya kembali. Bertemu dengan seseorang yang pernah mewarnai hari.
__ADS_1
Ya Tuhan, aku melihatnya lagi.
Aku telah bersusah payah ingin melupakan semua kenangan yang terjadi. Tetapi ternyata takdir berkata lain kepada kami. Aku harus bertemu dengannya hari ini. Aku pun tak berdaya melawan kehendak semesta. Kubiarkan saja angin yang masuk lewat ventilasi istana menjadi saksi atas pertemuan ini. Pertemuan yang sebenarnya ingin kuhindari.