
Angkasa juga pasti bisa menerapkan peraturan seperti ini.
Beberapa jam berbelanja di pasar, akhirnya mengantarkanku menuju pertengahan siang. Tak terasa memang waktu berjalan begitu cepat saat berbelanja. Dan kini tinggal istirahatnya saja. Aku pun menunggu Lara kembali sambil melihat-lihat bunga hidup yang dijual di toko ini. Aku ingin mencari bunga malaikat di sini. Kali-kali saja ada.
"Paman, apakah di toko ini menjual bunga malaikat?" tanyaku kepada pria paruh baya yang berjaga.
"Oh, bunga malaikat? Tidak ada, Nona. Bunganya sangat mahal. Bahkan untuk mengembangbiakannya saja harus mempunyai izin terlebih dahulu." Pria penjaga toko menjelaskan padaku.
"Oh, begitu ...." Aku pun mengangguk-angguk.
"Bagaimana jika bunga anggrek? Bunga ini juga bagus untuk hiasan di rumah." Dia menawarkan padaku.
Aku tersenyum. "Terima kasih, Paman. Tapi aku sedang mencari bunga malaikat. Aku lihat-lihat yang lainnya dulu, boleh?" Aku meminta izin untuk melihat bunga yang dijual di toko ini.
"Silakan Nona." Dia pun mengizinkanku.
Kulihat di toko ini menjual berbagai macam jenis bunga. Tapi sayangnya, tidak ada bunga malaikat di sini. Katanya sangat mahal dan memerlukan izin untuk mengembangbiakannya. Itu berarti memang tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Dan mungkin karena aku sendiri yang datang ke Asia, Zu jadi memberikannya. Jika tidak, mungkin dia tidak akan memberikan bunga itu ke Angkasa.
"Aku bisa memberimu bunga malaikat." Tiba-tiba seseorang berbicara padaku.
Astaga ... suara ini?!
Sontak aku terkejut mendengar suara itu. Aku merasa mengenal suara orang yang berbicara padaku. Lantas aku berbalik, melihat ke asal suara. Dan ternyata seorang pria berpakaian kerajaan hitam sedang memerhatikanku dari belakang. Sepertinya dia sedari tadi berada di belakangku. Namun sayangnya, aku tidak menyadarinya.
"Kau?!" Aku pun tak percaya jika kami akan bertemu kembali.
__ADS_1
Dia berjalan mendekat ke arahku. "Selamat siang, Nona Ara. Senang bertemu kembali denganmu."
Dia tersenyum manis seraya menampakkan gigi kelincinya padaku. Ya, dia memiliki gigi kelinci sama sepertiku.
Xi? Dia lagi. Kenapa dia selalu ada di mana aku berada? Apakah ini pertanda buruk untukku?
Pria yang kutemui adalah Xi. Tak tahu mengapa kami bisa bertemu lagi. Aku juga tak mengerti mengapa seperti dibuntuti. Mungkin mirip seperti Rain di Angkasa waktu itu. Yang mana aku sebagai pendatang baru dianggap sebagai sesuatu hal yang membahayakan. Jadinya ke mana-mana selalu dibuntuti olehnya. Mungkin begitu juga dengan dirinya.
Kenapa dia selalu ada di mana aku berada? Sebenarnya apa yang diinginkan olehnya?
Aku belum tahu persis motif apa Xi mendekatiku. Yang jelas aku harus berjaga-jaga di setiap kali bertemu dengannya. Dia masih sangat asing bagiku.
"Sebentar lagi jam makan istirahat. Bolehkah aku mengajakmu makan siang, Nona?" Dia ternyata ingin mengajak ku makan siang hari ini.
"Tuan, eh! Pangeran." Aku salah menyebutnya. "Aku sedang bekerja dan harus segera kembali ke istana. Terima kasih atas tawarannya." Aku menolaknya dengan halus.
Astaga, dia ini. Mengapa bersikeras sekali?!
Tak tahu mengapa Xi begitu yakin jika aku mau diajak makan siang olehnya. Sungguh aku tak tahu ada maksud apa dia mendekatiku. Aku juga lebih tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Namun, satu hal yang kuyakini, segala sesuatu pasti terjadi atas kehendak-NYA. Jadinya aku jalani saja sambil tetap berjaga-jaga. Mungkin ada hikmah yang bisa kuambil dari ini semua. Ya, semoga saja.
Beberapa menit kemudian, di salah satu kedai yang ada di pasar...
Aku berjalan bersama Xi sampai ke salah satu kedai makan yang ada di sini. Sepanjang jalan kami berdiaman karena masih merasa canggung. Tapi dia selalu saja mencuri pandang dariku. Kutahu itu karena bayangannya terpantul di cermin toko yang kami lewati. Rasanya aku jadi risih sendiri.
Xi ternyata adalah seorang pangeran dari kerajaan Arthemis. Kerajaan dari negeri yang berperang dingin dengan negeri kedua pangeranku. Aku pun terpaksa menerima ajakan makan siangnya karena suatu tujuan. Aku ingin mengorek informasi lebih jauh dari dirinya. Aku ingin tahu sudut pandangnya mengenai hal yang terjadi di antara kedua negeri. Semoga saja dia tidak mencurigai maksudku ini.
__ADS_1
Aku sangat berharap dia belum mengetahui jika aku adalah calon ratu Angkasa. Karena jika itu terjadi, maka aku harus lebih berhati-hati lagi. Terlebih aku belum tahu siapa dirinya dan bagaimana sifatnya. Apakah dia sama seperti raja dan kakeknya? Aku belum bisa memastikannya. Namun, siang ini akan kucari tahu kebenarannya sendiri. Bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk Angkasa.
"Silakan, Nona, Tuan."
Pelayan kedai datang membawakan bakso berukuran besar untuk kami. Tiga bakso kecil ikut menyertai bakso besar ini. Dan jika dicium dari aromanya, ini adalah bakso sapi. Aroma kuah baksonya juga terasa begitu menggugah selera. Aku pun ingin cepat-cepat menyantapnya.
Aku tak menyangka jika di negeri ini ada kedai baksonya. Mungkin tidak jauh berbeda dengan warung bakso kaki lima di duniaku. Namun sepertinya, rempah-rempahnya yang membedakannya. Di sini kuahnya lebih kental dan aromanya begitu kuat. Hingga mampu menggugah selera saat hirupan pertama. Benar-benar luar biasa.
"Silakan Nona." Xi juga mempersilakanku menikmati sajian kedai ini.
Aku tersenyum, duduk di sampingnya dengan jarak sekitar setengah meter. Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Kebetulan kedai juga belum ramai jadinya aku bisa menjaga jarak darinya. Aku pun mulai mengambil sambal, kecap dan saus untuk bakso ini. Kutuangkan ke dalam mangkok lalu kuaduk perlahan. Aku pun siap menikmati baksonya.
"Kau dibayar berapa oleh Bunga?" tanyanya tiba-tiba.
"Hah? Apa?" Aku pun terkejut ditanyakan seperti itu olehnya.
Dia melihatku. Terdiam sejenak lalu tersenyum. "Kau dibayar berapa untuk pekerjaan ini, Nona Ara?" Dia bertanya lagi, namun kali ini dengan lembut sekali.
Aku menelan ludahku. Perasaanku mulai tak enak karenanya. "Aku ... aku tidak tahu," jawabku ragu.
Dia mengecap bibirnya. "Sayang sekali." Dia terlihat bersimpatik padaku. "Jika membutuhkan uang lebih banyak, kau bisa bekerja di Arthemis. Di sana bayarannya lebih tinggi dari Bunga. Dan kau tidak perlu lelah sampai harus ke pasar seperti ini." Dia menawarkan padaku.
Err ... apakah dia sedang melancarkan akal bulusnya padaku?
Aku tersenyum palsu di dekatnya. "Aku tidak punya kenalan di sana, Pangeran. Ini juga dapat pekerjaan karena sebelumnya pernah bekerja di Angkasa," jawabku, masih menutupi jati diri.
__ADS_1
Sungguh jantungku dag-dig-dug bukan main berbicara dekat dengannya. Apalagi hanya berdua saja. Aku pun harus tetap waspada terhadap tindak-tanduknya.