Fake Nerd Is Leader Mafia In The World TROUBLEMAKER

Fake Nerd Is Leader Mafia In The World TROUBLEMAKER
preview part 3-HANCUR


__ADS_3

Di sebuah mansion yang sangat megah, terdengar suara canda tawa. Di ruang keluarga terlihat sangat ramai, suara anak-anak membuat mansion itu terasa lebih nyaman.


Walaupun terkadang di sela candaan mereka, ada rasa kekosongan yang tiba-tiba saja muncul. Seperti ada yang hilang.


Mereka semua sudah terlalu banyak kehilangan. Ingin rasanya melawan takdir, tapi mereka hanya manusia biasa. Apa yang Tuhan takdir kan adalah hal yang mutlak.


"Richard"


Merasa namanya di panggil, pria itu berbalik. Menghampiri pria tua yang memanggilnya barusan.


"Ada apa, dad?" tanyanya.


"Bagaimana kabar Michel? Chris dan Cemal?" tanya pria itu. Yang tidak lain adalah Wijaya.


"Mereka baik-baik saja di sana. Daddy tidak usah khawatir" ujar Richard.


Wijaya tersenyum sendu. Hanya dari Richard lah ia bisa tahu bagaimana keadaan Michel dan kedua cucunya itu.


Michel seperti membangun tembok yang besar antara dirinya dengan semua orang. Wijaya tidak bisa berbuat apapun, semua ini juga salahnya.


"Uncle" panggil seorang anak laki-laki yang terlihat sangat tampan, bertubuh tinggi dan terlihat sangat bersih.


"Ada apa hmm? Saga mau apa?" tanya Richard sambil berjongkok, menyamakan tingginya dengan anak yang di panggilnya Saga itu.


"Bagaimana keadaan princess?" tanya Saga membuat Richard tersenyum.


Ada satu orang lagi yang sangat sedih karena kepergiaan Chris. Anak Tasya yang satu ini sangat dekat dengan Chris, bahkan terlihat suka pada gadis kecil itu.


"Kenapa Saga tidak menelfon princess? Nomor hp uncle Michel ada pada papa kamu" ujar Richard sambil menunjuk Dimas.


"Michel blokir aku bang" ucap Dimas sedikit berbisik pada Richard.


Richard menghembuskan nafasnya gusar. Sepertinya Michel benar-benar membenci mereka semua.


"Hmm lusa uncle mau menyusul princess ke London. Ingin melihat keadaan mereka. Saga mau ikut?" tanya Richard.


Saga seketika menjadi antusias. Anak itu langsung berlari ke arah Tasya, mencoba menggoda mamanya itu.


Tasya menatap Dimas, meminta persetujuan suaminya terlebih dahulu. Dimas mengangguk, membuat Saga menjadi semakin senang.


"Uncle jangan bohong yah" ucap Saga membuat Richard tersenyum.


"Uncle selalu menepati janji"


Richard langsung pergi dari sana. Niatnya untuk pergi seketika hilang. Pria itu menatap orang yang ada di hadapannya.


Tatapan keduanya saling beradu. Tatapan elang mereka terlibat mengerikan.


"Di mana Vira?" tanya Richard membuat orang itu yang hendak masuk, seketika berhenti dan berbalik.


"Kenapa nanya ke gue? Dia cewek Lo. Bukan cewek gue!" cetus pria itu.


"Faris!"


Richard menarik kera baju pria itu. Dia adalah Faris.


Sudah lima tahun berlalu, tapi Richard tidak bisa menemukan Vira sama sekali. Gadisnya itu seperti hilang di telan bumi.


"Kenapa marah? Lo sadar dong. Vira pergi karena ulah lo! Lo nyakitin dia!" tegas Faris sambil mendorong Richard.


"Saya tahu kalau saya salah. Saga berusaha untuk mencari dia, saya ingin perbaiki semuanya. Sudah lima tahun, tapi tidak hasil sama sekali" ucap Richard yang sudah hampir menyerah.


"Kalau dari awal lo gak punya perasaan ke dia, ngapain Lo pacarin hah?! Lo cinta sama orang lain, tapi lo tahan Vira buat tetap di samping Lo. Egois banget Lo" cetus Faris.


Richard hanya bisa diam. Perkataan Faris benar, sangat benar. Ini salahnya.


Dia mencintai Christy waktu itu, tapi justru memberi harapan pada Vira. Menahan gadis itu untuk tetap di sampingnya. Terlalu bajingan pria satu ini.


"Faris, kamu pasti tahu di mana Vira. Kamu pasti tahu" ucap Richard yang terlihat seperti memohon.


"Kalau pun gue tahu, gak akan pernah gue ngasih tahu ke lo! Udah cukup Lo nyakitin dia" kata Faris lalu pergi meninggalkan Vira.


Richard menghembuskan nafasnya kasar. Banyak hal yang ia lakukan agar bisa menemukan gadisnya. Tapi tidak ada satu pun yang berhasil.


Entah ada di mana gadisnya itu. Richard ingin menyerah, tapi ia juga ingin melihat gadisnya. Rasa rindu itu sangat besar.


"Kenapa saya baru sadar sekarang. Kenapa harus di saat kamu pergi ninggalin saya" cicit Richard.

__ADS_1


✓✓✓


Di sebuah markas yang sangat luas, terlihat seorang gadis cantik yang sibuk berlatih. Tubuhnya di penuhi keringat, tapi ia tetap memukul samsak yang ada di hadapannya.


Gadis itu seketika berhenti saat ada seorang pria yang berdiri di hadapannya. Keduanya saling menatap, seperti melakukan telepati.


"Kak, aku masih mau latihan" ucap gadis itu dengan nada dinginnya.


"Dua jam. Udah dua jam kamu latihan Rahel. Apa masih kurang hmm?" tanya pria itu.


Gadis yang di sapa Rahel itu menghembuskan nafasnya kasar. Ia membuka sarung tangannya, lalu duduk dan mengatur nafasnya.


"Reyhan" panggil seorang pria tampan yang berjalan menuruni anak tangga.


"Bang Aron" sapa pria yang di sapa Reyhan itu.


"Misi di Jerman udah selesai?" tanya Aron membuat Reyhan mengangguk.


Reyhan menjadi sibuk saat dirinya mengganti posisi papanya sebagai leader Black Rose. Banyak misi yang pria itu lakukan.


Rahel pun tidak kalah sibuk. Gadis itu banyak melakukan misi, membantai semua musuh yang mengusik KC.


"Bang Reza mana?" tanya Reyhan saat merasa jika pria yang satu itu tidak kelihatan sejak tadi.


"Tuh" tunjuk Aron ke arena latihan tembak.


Reza terlihat sibuk mengajari seorang anak laki-laki. Pria itu ingin anaknya jadi seperti dirinya. Menjadi pria tangguh, tidak tahu dengan rasa sakit.


"Anaknya umur berapa sih?" tanya Reyhan yang merasa aneh.


"Lima tahun" jawab Aron.


Reyhan kembali menatap anak kecil itu. Reza memang gila. Anak yang masih sangat kecil, justru di ajarkan untuk memegang sebuah senjata.


"Hancur tuh mentalnya" kata Reyhan bercanda


Reyhan yang asik tertawa bersama Aron, seketika terdiam saat melihat Rahel yang terlihat duduk termenung.


Sudah lima tahu berlalu, tapi gadis itu tetap saja seperti ini. Rasa sedihnya saat kehilangan Christy sangat besar.


Rahel menatap pria itu. Ia tersenyum tipis, bingung harus bereaksi seperti apa lagi.


"Kamu gak boleh gini terus" tutur Reyhan lembut.


"Maaf kak" cicit gadis itu sendu.


Reyhan tersenyum memaklumi gadis itu. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, lalu memberikan kotak itu pada Rahel.


Rahel mengambil, ia menatap bingung wajah Reyhan.


"Titipin dari bang Michel" ucap Reyhan singkat.


Rahel awalnya ragu untuk membuka kotak itu. Entah kenapa ada rasa sedih saat memegangnya.


Saat kotak itu terbuka, air mata Rahel terjatuh begitu saja. Kotak itu berisi sebuah gelang. Gelang berwarna hitam dengan lambang leader KC.


Rahel tahu gelang itu. Ia sangat mengenal gelang itu. Gelang yang selalu Christy pakai di tangan kirinya.


"Cantik. Sama seperti orangnya" cicitnya sendu.


"Kakak titip gelang ini yah. Jaga baik-baik, jangan sampai hilang. Chris sangat suka dengan gelang ini. Kakak harap kamu bisa seperti Chris. Jaga diri baik-baik. Maaf kakak tidak sempat berpamitan dengan kamu"


^^^-Michel-^^^


Rahel tersenyum pilu saat membaca surat itu. Ia merasa bahwa Christy sangat beruntung karena memilik Michel. Pria yang sangat bertanggung jawab.


"Hari ini aku mau ke makam kak Chris. Mau ikut?" tanya Reyhan lembut. Rahel langsung mengangguk.


"Mungkin kak Chris udah gak ada. Tapi kamu harus yakin, dia pasti selalu melihat kita dadi atas sana" bisik Reyhan lembut di telinga Rahel.


✓✓✓


Di perusahaan JP Morgan Chase terlihat sangat sibuk. Hari ke hari perusahaan ini semakin maju. Richard mengelola perusahaan ini dengan sangat baik.


Richard baru saja sampai di perusahaan, semua karyawan langsung menyambutnya dengan sangat baik.


Langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis yang terduduk di depan resepsionis. Richard menatapnya dari jauh, gadis itu terus di maki oleh seorang karyawan pria.

__ADS_1


"Tian, dia kenapa?" tanya Richard pada seorang pria yang berdiri di samping, pria yang menjadi sekretaris nya selama lima tahun ini.


"Maaf pak, saya juga tidak tahu" jawab Tian sopan.


Richard yang awalnya hanya melihat dari kejauhan, langsung berjalan mendekat kearah resepsionis.


Karyawan itu seketika menjadi panik. Dia tidak tahu jika Richard akan datang ke kantor.


Gadis itu langsung merapikan semua barangnya yang berhamburan. Entah ada dorongan dari mana, Richard sedikit membungkuk untum membantu gadis itu.


"Ada masalah apa?" tanya Richard dengan nada santainya, namun tetap terdengar mengerikan.


"Hei, saya barusan bertanya. Kalian punya mulut kan?" tanya Richard sinis.


"Mending kamu pergi sekarang. Pembawa sial!" cetus karyawan pria itu.


Dia hendak menarik tangan gadis itu. Namun tangan Richard lebih cepat. Richard mendorong pria itu, menatatpnya seolah ingin membunuh.


"Jawab dulu pertanyaan saya!" tegas Richard yang terlihat marah.


"Maaf pak. Dia hanya gadis gila" ucap karyawan itu membuat Richard menatapnya bingung.


Richard beralih pada gadis itu. Richard bisa tahu apa yang gadis itu alami, hanya dengan menatap matanya.


"Kenapa?" tanya Richard membuat gadis itu bingung.


"Maksud kamu?" tanya gadis itu takut.


"Kenapa kamu gugurkan bayi itu?" tanya Richard.


Semua karyawan sangat terkejut. Pertanyaan Richard barusan membuat mereka bingung. Gadis itu hanya bisa menunduk, tidak menjawab pertanyaan Richard.


"Kalian berani melakukan hal yang kotor. Tapi tidak berani menanggung akibatnya" ujar Richard dengan nada dinginnya.


Belum sempat Richard menyemprotkan amarahnya pada karyawannya. Tiba-tiba saja gadis Itu pingsan, ia terjatuh menghantam lantai cukup keras.


"Astaga mba" Tian langsung mengecek keadaan gadis itu.


"Pak, bagaimana ini?" tanya Tian yang kebingungan.


Tanpa berbicara sepatah kata pun, Richard langsung mengangkat tubuh gadis itu. Mengendong ala bridal style.


Tujuan Richard adalah ruangannya. Entah kenapa dia mau menolong orang yang tidak di kenalnya.


"Tian, ambil air putih" perintah Richard pada sekretaris nya itu.


Tian langsung pergi. Dia kembali sangat cepat, dengan segelas air di tangannya.


"Pelan-pelan" ucap Richard sambil sedikit mengangkat kepala gadis itu.


Wajahnya terlihat sangat pucat, matanya sangat sayup.


"Makasih" cicit gadis itu.


"Kamu rela memberikan hal penting yang ada di diri kamu, hanya demi pria seperti itu. Bodoh!" cetus Richard.


Gadis itu hanya bisa menunduk malu. Perkataan Richard sangat menusuk hingga ke hati dan otaknya.


"Bahkan wajah pria itu sangat jelek. Mau seperti apa modelan anak kamu nanti" lanjutnya.


Tian menatap Richard. Bosnya itu memiliki mulut yang sedikit tajam.


"Sekretaris saya ini tampan. Kamu mau?" tanya Richard dengan santainya.


Tian menyumpahi bosnya itu. Bahkan di situasi saat ini, pria itu bisa mengatakan hal yang tidak masuk akal.


"Makasih kamu udah nolongin aku" ucap gadis itu yang memberanikan diri untuk menatap mata Richard.


Hanya sedetik tatapannya kembali turun kebawah. Mata Richard terlihat mengerikan, indah tetap tajam.


"Urus dia. Saya ada urusan lain" ucap Richard lalu hendak pergi dari sana.


"Nama kamu siapa?" tanya gadis itu.


"Richard" jawabnya singkat. Lalu pergi dari sana.


__ADS_1


__ADS_2