Fake Nerd Is Leader Mafia In The World TROUBLEMAKER

Fake Nerd Is Leader Mafia In The World TROUBLEMAKER
BAB 65


__ADS_3

Semalam Christy dkk, Richard dan Faris. Baru saja sampai di Indonesia setelah menjalankan misi di Las Vegas. Pagi ini Christy sudah mulai masuk kesekolah seperti biasa.


Di mansion Raymond semua orang sedang sarapan pagi bersama, begitu juga dengan Raka dkk dan Vhristy dkk termaksud Putri yang sudah keluar dari rumah sakit. Bahkan Zee juga ada, gadis itu seperti parasit yang selalu menempel di sekitar Michel.


Michel yang sudah berhari-hari merindukan Christy, akhirnya dipagi hari yang cerah pria itu tersenyum manis. Christy menjadi alasan pria itu tersenyum dan merasa bahagia.


"princess. Richard dimana?"tanya Raymond.


"bang Richard tidur di kamar ayah. Dia kelelahan"jawab Christy pada ayahnya itu.


"apa kamu juga seharusnya istirahat,kamu baru sampai jam 1 tadi malam. Apa tidak lelah?"tanya Wijaya papa kandung Christy.


"aku gak lelah kok dad. Pagi ini aku mau kesekolah bersama yang lain"kata Christy tersenyum kecil.


"yasudah selesaikan sarapanmu lalu berangkatlah kesekolah"kata Raymond tersenyum mulus.


"bareng aku kan?"tanya Michel yang di jawab anggukan oleh Christy.


"Zee kok bongong nak? Sarapannya gak enak yah?"tanya Siska ramah.


"eh enggak kok bunda sarapannya enak"jawab Zee tersenyum.


"bunda?"kata Christy menatap mereka semua tajam.


"hmm itu Chris hmm"kata Tasya gelagapan.


"bunda yang nyuruh sayang, kan dia juga temen kamu jadi boleh manggil bunda"kata Siska tersenyum.


"bunda sudah aku bilang, dia tidak boleh memakai kata bunda. Dia bukan bagian dari keluarga ini"kata Raja marah dengan suara lantangnya.


"bang jangan gitu ke bunda"kata Christy memperingati Raja.


"tapi Chris, ini kelewatan. Dia bukan bagian dari kita"kata Raja menunjuk Zee.


Zee memperlihatkan ekpresi sedihnya membuat siska iba, sementara yang lain merasa kesal. Siska mengusap perlahan punggung Zee lalu menatap Raja tajam.


"Raja, bunda tidak pernah mengajar kamu seperti ini. Minta maaf ke Zee"kata Siska marah.


"aku minta maaf ke dia? Bunda gak salah?"tanya Raja menatap Siska tidak percaya.


"iya, kamu minta maaf. Sekarang"kata Siska marah.


"bunda, bang Raja tidak harus meminta maaf"kata Christy berusaha lembut.

__ADS_1


"dia salah dan dia harus minta maaf"kata Siska penuh penekanan.


"bunda apa-apaan sih"kata Raka marah dan membela kembarannya itu.


"kamu juga ikut-ikut kurang ajar iya"kata Siska menatap Raka tajam.


"Siska kamu ini sebenarnya kenapa?"tanya Megan mommy kandung Christy.


"mereka menjadi kurang ajah Megan. Lihatlah, Zee sampai mau menangis karena mereka"kata Siska mengusap punggung Zee.


"bunda sudahlah aku tidak apa-apa"kata Zee pada Siska membuat Christy semakin marah.


"sebaiknya lo keluar dari sini sebelum semuanya semakin memburuk"kata Christy berusaha tetap tenang.


Zee hendak berdiri, tetapi Siska menahannya dan menyuruh Zee duduk kembali. Siska menatap Christy cukup lama membuat Christy terdiam.


"kamu tidak punya hak mengusir Zee"kata Siska membuat Raymond suaminya menatapnya tajam.


"bunda, kalau ada dia pasti bang Raja tidak bisa tenang disini"kata Christy.


"Raja harus minta maaf dulu, lalu Zee boleh pergi"kata Siska penuh penekanan.


"kenapa masih disini keluar sekarang"kata Christy menunjuk pintu keluar.


"kenapa bunda? Dia hanya orang asing yang masuk ke mansion kita dan kita bisa kapan saja mengusirnya"kata Christy yang akhirnya tersulut emosi.


"lalu apa bedanya dengan kamu?"tanya Siska membuat Christy menatap bundanya itu tidak percaya.


"ma...ma...maksud bunda apa?"tanya Christy terbata-bata.


"yah apa bedanya Zee dan kamu. Kalian sama sama orang asing kan, itu artinya kamu juga bisa kapan saja di usir dari sini"jawab Siska membuat semua orang terkejut.


DEG


Hati Christy bagai di tabrak beribu-ribu besi, sangat menusuk sampai kedasar. Perkataan Siska barusan sukses membuat Christy terdiam seribu bahasa. Raymond menatap istirnya tajam lalu menatap Christy sendu.


Michel menggenggan tangan Christy dan menatap gadisnya sendu, Michel tahu perkataan Siska barusan itu membuat Christy sakit. Raka dan Raja terdiam sama halnya dengan para sahabat mereka.


Megan sudah menahan tangisnya sambil menatap putrinya itu, Wijaya daddy kandung Christy hanya bisa terdiam seribu bahasa mendengar penurutan wanita yang sudah merawat anaknya dari umur 7 tahun.


"sebelumnya makasih karena bunda sudah mengingatkan posisi aku dirumah ini, aku sadar kalau aku hanya orang asing. Maaf karena sudah menyusahkan"kata Christy lalu keluar dari mansion diikuti oleh Michel.


"kamu sebenarnya kenapa seperti ini? Aku tidak pernah melihat kamj yang seperti ini, apa kamu sadar perkataan kamu tadi sangat menyakitkan. Bahkan hati aku terasa hancur karena perkataan kamh"kata Raymond lalu ikut keluar dari mansion mengejar Christy.

__ADS_1


"aku kecewa sama bunda"kata Raka lalu pergi disusul oleh yang lainnya.


Hanya tersisa Zee dan Siska diruang makan. Siska terduduk lemas merutuki mulut bodohnya itu. Air matanya keluar begitu saja dadanya terasa sesak saat mengingat kembali perkataannya barusan.


Zee mengusap punggung Siska, gadis itu tidak hentinya berusaha mengambil perhatian Siska. Entah rencana apa yang direncanakan gadis itu.


Sedangkan Christy dia sedang di perjalanan menuju sekolah bersama Mjchel. Christy hanya diam menatap keluar jendela membuat Michel merasa sedih melihat kekasihnya seperti itu.


Michel memberhentikan mobilnya lalu memegang kedua tangan Christy,. Christy yang sedari tadi melamun tiba-tiba terkejut karena Michel memegang tangannya.


"mau cerita?"tanya Michel dengan nada suara yang sangat lembut.


"hmm?"tanya Christy dengan suara dehemannya.


"mungkin bunda tidak sengaja berkata seperti tadi"kata Michel yang tahu alasan gadisnya sedih.


"kamu mau tahu sesuatu?"tanya Christy lembut.


"memangnya apa?"tanya Michel balik.


"hati aku sakit Cel. Bunda kenapa ngomong gitu?"tanya Vhristy dengan isakan tangis yang sudah terdengar di telinga Michel.


"jangan nangis. Aku gak suka lihat air mata itu jatuh di wajah cantik kamu"kata Michel menghapus air mata yang dengan santainya jatuh di wajah gadis cantik itu.


"apa aku beban untuk bunda? Apa kehadiran aku selama ini buat bunda risih? Lalu kenapa tidak dari dulu bunda buang aku, sama seperti yang mommy dan daddy lakukan"kata Christy menatap Mjchel sendu.


Michel bisa lihat di mata gadisnya hanya ada kesedihan, mata indah itu menatapnya sendu seolah berkata jika dirinya sangat hancur sekarang. Michel mendekatkan dirinya lalu memeluk erat tubuh gadis yang sangat dicintainya itu.


Christy memeluk tubuh kekar itu,membiarkan air matanya memasahi seragam sekolah yang Michel pakai. Michel bisa mendengar isakan kecil yang masih keluar dari bibir manis gadisnya.


Michel melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Christy, menatap gadisnya sedalam mungkin mencari rasa sakit itu apa masih ada? Michel hanya bisa berharap dengan kehadirannya bisa membuat gadisnya sedikit lebih tenang.


"melihat kamu seperti ini buat aku sangat sakit, air mata itu buat hati aku remuk seperti di tabrak beribu-ribu batu yang tajam. Aku tahu rasa sakit dihati aku tidak sebanding dengan rasa sakit yang kamu rasakan saat ini, tapi yang perlu kamu tahu aku disini untuk kamu. Untuk membuat gadisku jauh dari rasa sakit"kata Michel menatap mata Christy yang berliang air mata.


"aku fikir setelah Aya pergi, tidak akan ada lagi yang mau menyandarkan bahunya untuk aku. Tapi ternyata kamu ada disini untuk aku. Makasih karena kehadiran kamu di hidup aku semuanya terasa lebih mudah"kata Christy tersenyum tulus pada Michel.


"apapun untuk gadisku"kata Michel tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan tersusun rapi.


"Cel udah jam 7, mendingan kesekolahnya sekarang"kata Christy membuat Michel melotot menatap jam tangan rolex miliknya yang sudah menunjukan pukul 7.


"astaga aku lupa"kata Michel terkekeh lalu menjalankan mobilnya.


"terimakasih tuhan, sekali lagi engkau membuatku percaya kalau didunia ini masih ada yang mau menemaniku. Dan aku berharap Aya berada ditempat yang indah disana"batin Christy menatap Michel dan tersenyum tulus.

__ADS_1


__ADS_2