
Author pov
Didepan ruang operasi semua orang duduk dengan wajah penuh kekhawatiran, terlebih lagi seorang gadis yang masih menangis sedari tadi.
Sudah 2 jam kenapa belum selesai? Itu yang difikirkan gadis berparas dewi yunani itu. Mereka sedari tadi menunggu operasi yang Rasya jalani.
Kedua orangtua Rasya tidak bisa tenang memikirkan anaknya yang ada didalam sana, bertarung dengan penyaki itu.
Operasi ini adalah yang terakhir di jalani Rasya, satu kesalahan bisa membuat Rasya tinggal nama saja. Christy ingin mendobrak pintu itu, lalu melihat prianya sekarang.
Christy tidak bisa menunggu lagi, dia sudah ingin mati rasanya menunggu didepan ruang operasi dengan perasaan yang sangat tidak tenang.
Ke 3 sahabat Christy tidak henti berusaha menenagkan Christy, mencoba meyakinkan bahwa Rasya akan baik-baik saja.
"Chris, udah dong. Lo jangan nangis terus, mata lo udah sembab gitu"kata Tasya menatap Christy.
"Chris udah jangan nangis"kata Fara memggenggam tangan Christy.
"kenapa harus gue Far, Sya, Put. Kenapa harus gue yang ada di posisi ini, gue udah gak kuat lagi hiks hiks"kata Christy dan tangisnya kembali pecah.
"maaf Chris, gue gak bisa bantu lo. Gue gak sekuat lo yang bisa ngehadapin semua ini"kata Fara yang juga mulai menangis
"gue gak kuat Far gue sakit, sakit hati gue. Kenapa tuhan selalu mau ngambil orang yang berarti di hidup gue"kata Christy terisak.
"Chris gue mohon, jangan nangis gini.gue gak tega Chris"kata Putri.
Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba 3 dokter keluar, dengan kondisi baju oprasi yang sudah berlumur darah.
Bahkan ketiga dokter itu mengeluarkan banyak keringat,Christy dan yang lain langsung mendekat kearah dokter itu.
Ekpresi dokter itu sungguh tidak bisa di tebak, Cristy semakin dibuat cemas berharap tidak terjadi sesuatu.
"dok, gimana pacar saya? Dia baik-baik ajahkan?"tanya Christy.
"tidak ada harapan nona, maaf"kata salah satu dokter dan menunduk.
"ma....ma....maksud dokter apa?"tanya Christy dengan menatap ketiga dokter itu.
"semua tidak seperti perkiraan kami nona. Jantung pasien sudah benar-benar rusak dan sudah tidak bisa di ganti. Walau pendonor memiliki golongan darah yang sama, sekarang pria itu hanya bisa bertahan hidup dengan menggunakan alat saja"kata dokter menjelaskan semuanya. Hancur sudah perasaan Christy, semua benar-benar hancur sekarang.
"pah anak kita hiks hiks hiks"kata mama Rasya yang sudah lemas dan terduduk dilantai.
Bagai disambat petir disiang bolong, hati Christy benar-benar hancur saat ini. Hancur sudah harapan Christy untuk hidup bahagia, hancur tak tersisa.
"dokter saya mohon 10 menit, walau hanya 10 menit buat pacar saya tetap bertahan. Saya ingin mengatakn sesuatu ke dia hiks hiks"kata Christy berusaha menahan tangisannya.
"saya memang bukan tuhan nona, tapi saya hanya bisa membantu pasien itu tetap bernafas menggunakan alat. Maaf tidak bisa berbuat lebih, saya akan memindahkannya keruang rawat inap"kata dokter itu
Ketiga dokter itu pergi meninggalkan mereka semua untuk menyiapkan ruangan VVIP untuk Rasya. Michel langsung memeluk tubuh Christy yang sudah lemas akibat mendengar perkataan dokter itu, Christy membalas pelukan Michel. Sekarang yang Christy perlukan adalah sandaran seseorang.
"Cel hiks hiks Rasya, cel hiks hiks"kata Christy dengan tangisannya.
"please, jangan nangis. Aku gak bisa lihat kamu gini Chris"kata Michel mengelus lembut kepala Christy.
"dia bohong Cel, dia bilang gak akan ninggalin aku. Tapi sekarang bahkan dia gak bisa buka matanya lagi"kata Christy
"maaf baru kasih tau semuanya ke kamu, maafin aku"kata Michel merasa bersalah.
Mereka semua hanya bisa menangis, melihat sosok gadis yang terlihat sangat dingin itu hancur dan terlihat kerapuhan dimatanya.
Richard terdiam melihat adiknya itu menangis. Richard sudah tau akhirnya akan seperti ini, dan dia hanya bisa diam merutuki kebodohannya.
"hapus air mata kamu, kita keruangan Rasya sekarang. Kamu mau ngomong sesuatukan ke dia"kata Michel lalu berusaha tersenyum pada Christy.
Christy mengangguk dan menghapus air matanya, lalu berjalan melewati mereka semua untuk pergi ke ruangan Rasya.
Sekarang mereka semua sudah di ruanganVVIP nomor 3 lantai 2, mereka belum bisa masuk sebelum dokter selesai memasang semua alat pembantu nafas Rasya.
__ADS_1
Dokter keluar dari ruangan Rasya dan menemui semua orang terdekat Rasya yang menunggu sedari tadi.
"saya tidak tahu, alat itu bisa membantunya tetap bertahan sampai kapan. Bicaralah satu persatu selagi masih ada waktu, maaf saya tidak bisa berbuat lebih"kata dokter menunduk.
"DOKTER"teriak suster dan keluar dari kamar Rasya.
"ada apa?"tanya dokter itu bingung.
"pasien sadar, ini keajaiban dokter"kata suster itu
Dokter dan yang lain langsung masuk kedalam ruangan, dokter memeriksa keadaan Rasya yang perlahan membuka matanya.
"detak jantungnya membaik, kondisi vitalnya stabil. Ini sebuah keajaiban"kata dokter itu tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"saya akan keluar untuk memberikan kalian waktu berbicara pada pasien, saya permisi"kata dokter itu lalu keluar bersama si suster.
Christy menatap wajah Rasya yang pucat dengan hidung yang tertutup masker oksigen, dada yang tertempel banyak alat.
Rasya tersenyum manis pada semua orang yang ada di hadapannya. Kedua orangtua Rasya langsung memeluknya dan mencium dahi Rasya beberapa kali.
"anak mama kembali"kata wanita paru bayah itu
"maaf udah buat mama sama papa khawatir"kata Rasya
"apa ada yang sakit?"tanya papanya
"gak kok pah, aku udah agak mendingan"kata Rasya
"hmm gue boleh ngomong sama princess dan Michel"kata Rasya
"bisa kok....keluar yuk"kata Raka
Mereka semua keluar, sekarang tersisa Rasya, Christy dan juga Michel. Rasya tersenyum tulus pada keduanya.
"princess"panggil Rasya, menatap Christy.
"hiks hiks kamu bohong hiks hiks"kata Christy terisak.
Rasya langsung menyuruh Christy duduk didamping brankarnya, begitupula dengan Michel.
"maaf karna gak bisa jujur ke kamu soal penyakit ini"kata Rasya sendu
"kenapa Aya? Kenapa? Apa aku gak penting dihidup kamu? Sampai hal sepenting ini kamu gak kasih tau aku"kata Christy menatap lekat manik mata Rasya.
"bukan begitu princess, jangan berfikir seperti itu. Kamu penting dihidup aku, jauh lebih penting dibandingkan nyawaku sendiri"kata Rasya menggenggam tangan Christy.
"lalu kenapa tidak jujur Aya?"tanya Christy yang juga memggenggan tangan Rasya.
"aku hanya tidak ingin memperlihatkan sisi lemahku ke kamu, aku tidak ingin membuat kamu terbebani dengan penyakit aku ini"kata Rasya
"kita menjalin hubungan. Didalam suatu hubungan keduanya harus saling berbagi dan saling menjaga, kalau kamu seperti ini itu sama saja kamu berjuang sendiri Aya"kata Christy sendu.
"maaf princess, maafin aku"kata Rasya
"aku akan maafkan, jika kamu tetap bertahan. Aku tidak ingin kehilangan kamu untuk kedua kalinya Aya"kata Christy menggenggam tangan Rasya.
"princess, aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan. Aku bisa membuka matapun adalah satu keajaiban dan aku sangat bersyukur bisa melihatmu lagi"kata Rasya mengelus pipi Christy.
"aku benar-benar takut, aku takut tidak bisa melihatmu lagi princess"kata Rasya sendu.
"sekarang kamu membaik, kamu akan tetap bertahan setidaknya untukku Aya"kata Christy.
"Michel, tangan lo siniin"kata Rasya
"buat?"tanya Michel bingung
"siniin ajah"kata Rasya.
__ADS_1
Michel langsung memberikan tangannya pada Rasya. Rasya memegang satu tangan Christy dan satu tangan Michel.
Rasya menaruh tangan kedua orang itu didadanya, mereka merasakan detak jantung Rasya yang sangat lambat berdetak.
Rasya lalu menurunkan tangan kedua orang itu dari dadanya, Rasya menyatukan tangan Christy dan Michel membuat keduanya bingung.
"aku mau, jika memang tuhan mengambil nyawaku, tetaplah bersama dan saling menjaga"kata Rasya menatap Michel dan Christy bergantian.
"lo masih ada harapan buat hidup, jangan ngomong gitu Ras. Emang lo tega ninggalin Chris sendirian"kata Michel.
"princess tidak sendirian, ada lo sekarang"kata Rasya
"apa kamu tahu princess? Aku selama ini berusaha sembuh agar bisa tetap menjagamu. Aku takut kamu sendirian tapi setelah bertemu Michel, aku yakin dia bisa menjagamu dan mencintaimu setelah aku"kata Rasya berusaha tersenyum, meskipun hatinya terasa sakit.
"please jangan ngomong gitu Aya, aku gak mau kamu pergi lagi dan gak kembali. Aku gak bisa"kata Christy.
"aku mencintaimu princess sangat mencintaimu. Aku ingin menghabiskan masa tuaku bersamamu, tapi takdir berkata lain. Maaf aku tidak bisa menepati janji untuk bersama kamu selamanya"kata Rasya mengelus punggung tangan Christy.
"jika kamu mencintaiku tetap bersamaku. Jangan kemana-mana okey"kata Christy menghapus air matanya.
"hidupku sekarang hanya diberi bantuan dari alat-alat ini. Tuhan bisa kapan saja mengambil nyawaku princess"kata Rasya.
"lo gak boleh mikir gitu Ras, lo udah sehat sekarang dan bisa hidup bahagia sama Chris"kata Michel.
"bukan gue tapi lo yang akan hidup bahagia sama princess. Jadi gue mohon sama lo, jaga princess buat gue"kata Rasya menatap Michel.
"Aya, kamu kenapa ngomong gitu. Please berhenti"kata Christy
"kumohon jangan menangis lagi, aku tidak sanggup melihatmu menangis seperti ini"kata Rasya menghapus air mata Christy.
"kenapa aku, kenapa aku yang harus menjadi manusia dibumi ini yang tidak pernah bahagia"kata Christy terisak.
"kamu gak boleh ngomong gitu, kamu pasti bisa bahagia. Tetapi sekarang bukan waktunya princess"kata Rasya.
"aku sudah lelah dengan semua ini. Aku kira setelah acara ulangtahunku tadi malam aku akan bahagia. Rupanya tuhan memberiku rintangan lagi dan lagi"kata Christy.
"kamu pasti akan bahagia percaya padaku, jangan menangis lagi aku mohon"kata Rasya menghapus air mata Christy.
"Cel, lo harus janji akan jagain princess buat gue. Selalu percaya sama dia, jangan tinggalin dia dan jangan biarkan ada air mata lagi setelah ini"kata Rasya menatap lekat manik mata Christy.
"gue cinta sama Chris, tanpa lo suruh gue bakal lakuin semua itu. Tapi untuk sekarang, yang Chris butuhin cuma lo Ras. Lo harus bertahan buat dia"kata Michel.
"gue keluar dulu, kalian ngomong berdua. Gue pamit"kata Michel lalu keluar dari ruangan.
Saat Michel keluar dia langsung terduduk lemas didepan pintu, membuat semuanya mendekat kearah Michel.
Air mata Michel jatuh membasahi wajah tampannya, sahabat-sahabat Michel merasa iba melihat seorang Michel yang terkenal kuat sekarang menangis sangat sendu.
"Cel lo baik-baik ajah?"tanya Revano khawatir.
"Chris terluka lagi, kenapa harus dia? Kenapa bukan gue?"tanya Michel menunduk frustasi dengan air mata yang semakin deras.
"lo harus kuat Cel, kalau lo gini siapa yang bakal jagain Chris"kata Raka menepuk pundak sahabatnya itu.
"gue benar-benar lemah lihat Vhris nangis dan ngerasain rasa sakit berkali-kali. Kwnapa takdirnya seperti dipermainkan, apa salah gadisku"kata Michel sendu.
"takdir memang seperti itu, biarkan semuanya berjalan seperti semestisnya. Nita lihat sampai dimana takdir itu bermain"kata Richard sambil mengangkat tubuh Muchel agar berdiri.
"jangan menjadi lemah disaat Rasya benar-benar pergi. Hanya lo yang bisa mencintai princess sama seperti Rasya mencintainya"kata Richard.
"tetaplah kuat, setidaknya untuk princess"kata Richard.
"demi princess bang"kata Michel menghapus kasar air matanya.
"semoga disaat masalah besar itu datang, kamu akan tetap percaya sama princess. Kalau kamu nyakitin princess, saya sendiri yang akan bunuh kamu Michel"batin Richard.
"tuhan, bantu aku tetap kuat untuk menjadi sandaran gadisku dihari-hari tersulitnya nanti"batin Michel.
__ADS_1