Fake Nerd Is Leader Mafia In The World TROUBLEMAKER

Fake Nerd Is Leader Mafia In The World TROUBLEMAKER
BAB 68


__ADS_3

Gelapnya malam hari namun bintang  dan bulan yang berhasil menerangi bumi, membuat siapa saja merasa tenang malam ini. Namun tidak untuk seorang pria tampan yang sedari tadi gelisah seperti bingung harus berbuat apa.


Sudah 1 jam pria itu di depan pintu kamar bertuliskan princess, namun dia hanya bersandar dan menutup matanya. Dia adalah Michel, sejak pertengkaraan yang baru saja terjadi tadi membuatnya tidak tenang dan gusar.


Michel tahu yang Richard katakan tidak pernah main-main, lalu bagaimana dengan nasibnya? Apa dia bisa hidup tanpa kekasihnya itu? Jelas tidak. Michel sangat sulit untuk terpisah lagi dengan Christy.


"ehem"suara batuk Richard membuat Mchel terkejut lalu melihat Richard yang berdiri dihadapannya dengan baju rapinya.


"lo beneran mau pergi bang?"tanya Michel membuat Richard menatapnya seolah berkata jika sebenarnya yang ditanyakannya itu sudah tentu dia tahu jawabannya.


"harus ditanya lagi?"tanya Richard mengangkat satu alisnya.


"okey, sekarang lo harus dengerin gue bang. Lo boleh pergi tapi jangan bawa Chris, kalau lo mau pergi gue bodoh amat. Tapi kalau Chris dia gak boleh pergi"kata Michel dengan intonasi yang sangat cepat membuat Richard tersenyum sinis.


"kamu berani bertarung dengan saya?"tanya Richard membuat Michel menunduk memainkan kedua tangannya.


"enggaklah"kata Michel dengan suara kecil namun Richard masih bisa mendengarnya.


"lawan saya saja kamu tidak bisa. Gimana mau jagain princess"kata Richard lalu hendak membuka pintu kamar Christy, namun Michel lebih cepat menahan tangan Richard.


"gue berani kok lawan lo bang"kata Michel dengan raut wajah yang dipaksakan berani.


"mau coba lawan saya?"tanya Richard menatap Michel dengan tatapan elangnya.


"ma....ma....mau, tapi kalau gue menang lo gak boleh bawa Chris pergi"kata Michel.


"hm okey. Tapi kalau kamu kalah, kamu harus siap pisah dari princess untuk selamanya"kata Richard tersenyum sinis.


CEKLEK


Suara pintu kamar Christy yang terbuka membuat Richard dan Michel menatap gadis dihadapan mereka itu. Christy menatap Richard kesal karena mengajak Michel bertarung.


Richard hanya tersenyum dan mengangkat bahunya lalu pergi meninggalkan keduanya, Michel menatap Christy cukup lama lalu Christy menarik tangan Michel untuk masuk kekamarnya.


Christy duduk sofa yang ada dikamarnya begitu juga dengan Michel. Christy memperhatikan wajah Michel yang terlihat kebingungan.


"kenapa juga kamu nerima tawaran bang Richard"kata Christy.


"yah supaya dia gak bawa kamu pergi"kata Michel menatap Christy.


"Cel udah batalin ajah. Keputusan ini udah aku fikirin, aku bakal tetap pergi"kata Christy membuat Michel menatapnya frustasi.


"Chris ayolah, ini bisa kita selesain sama-sama. Kamu gak harus pergi"kata Michel memegang kedua tangan Christy.


"aku gak mau dengan kehadiran aku disini buat bunda marah, kenyamanan bunda lebih dari segalanya buat aku Cel. Kamu tahu itu"kata Christy tersenyun tulus.


"kenapa kamu selalu fikirin orang? Emang mereka mikirin kamu? Kamu juga harus mikirin diri kamu sendiri Chris"kata Michel kesal.


"Cel tolong ngertiin aku kali ini ajah. Aku bakal tetap pergi, jadi batalin taruhan kamu sama bang Richard"kata Christy membuat Michel melepaskan genggaman tangannya.


"kamu selalu mau aku ngertiin, tapi kapan kamu mau ngertiin aku Chris. Kamu gak tahu, seberapa besarnya rasa takut aku saat dengar kalau bang Richard bakal bawa kamu pergi"kata Michel marahm


"aku bakal tetap pergi Cel, maaf"kata Christy menunduk sendu.


"aku bingung sama kamu Chris, aku selalu pengen jadi orang pertama untuk, bantu kamu. Tapi apa, seolah dihubungan kita ini cuma aku yang berjuang. Kamu mau pergi?  Yaudah pergi ajah, lagi pula sekalipun aku ngelarang kamu gak bakal dengerin kan"kata Michel marah lalu keluar dari kamar Christy.


"maaf"kata Christy yang menunduk sedih.


"princess"panggil seseorang dari arah pintu, yang tidak lain adalah Richard.


"eh bang, masuk"kata Christy mengubah ekpresinya menjadi tersenyum.


"udah siap?"tanya Richard.


"udah kok bang"jawab Christy.


"hmm bang, abang beneran mau ngajak Michel berantem?"tanya Christy ragu.


"dia yang mau, abang ikutin ajah. Lagian kamu juga udah tahu kan, kenapa nanya lagi princess"kata Richard mengacak gemas rambut Christy.


"hmm mendingan gak usah deh bang,lagiankan malam ini kita bakal tetap pergi"kata Christy.


"kamu yakin mau pergi?"tanya Richard menatap Christy.


"kenapa bang Richard nanya gitu? Bukannya semua ini kemauan abang buat bawa aku pergi dari mereka"kata Christy bingung.


"justru itu kenapa abang nanya ke kamu. Abang gak mau, kamu pergi terpaksa hanya karena mengikuti perkataan abang"kata Richard.


"gak apa-apa, aku yakin semua keputusan abang itu adalah untuk kebaikan aku"kata Christy tersenyuk tulus pada Richard.


"mendingan abang siap-siap, bukannya jet pribadi abang hanya satu di indonesia. Takut gak keburu bang"kata Christy.


"abang gak tahu ini hanya kebetulan atau emang udah takdir, jet punya abang punya masalah di bagian mesin. Jadi malam ini kita tidak bisa berangkat, kecuali kita tunggu sampai besok pagi jam 9"kata Richard membuat Christy merasa bahagia entah kenapa.


"sebelum kita pergi besok abang peringatkan, jangan berada disekitar Zee"kata Richard yang mulai serius.


"memangnya kenapa?"tanya Christy.


"dia akan berbuat sesuatu jika kamu didekatnya, menjauh dari dia"kata Richard.


"kenapa aku tidak bisa melihatnya melalui batinku? Apa bang Richard nutup penglihatan aku? Akhir-akhir ini aku tidak bisa mengetahui sesuatu yang akan terjadi"kata Christy bingung.


"abang sengaja melakukannya, karena abang tidak mau kamu melihat kejadian yang membuat kamu sedih nantinya"kata Richard mengelus lembut pipi adik kesayangannya itu.

__ADS_1


"mau tidak mau semuanya akan tetap terjadi bang, aku tidak apa-apa"kata Christy tersenyum.


"abang terlalu takut melihat kamu terluka princess"kata Richard dengan tatapan redupnya.


"bang Richard sudah melakukan semua yang terbaik untuk aku. Jadi untuk kedepannya, aku akan melakukannya sendiri. Abang gak usah khawatir"kata Christy.


"kemarilah, abang ingin memelukmu"kata Richard tersenyun tulus.


Christy mendekat kepada Richard lalu memeluk abangnya itu, Richard mengelus lembut rambut indah milik Christy.


Christy merasakan kenyamanan saat Richard memeluknya tiap kali dia sedang sedih, tubuh tegap milik kakaknya itu menjadi obat terbaik untuk kesedihannya.


"aku gak pernah henti-hentinya untuk bersyukur, karena tuhan sudah mengirimkan sosok seperti abang. Entah kenapa abang selalu memproritaskan kebahagiaan aku, tapi aku sangat senang karena abang selalu ada disaat aku bingung harus berbuat apa"kata Christy dengan suara lembutnya sambil mengusap punggung Richard.


"abang jauh lebih bersyukur, karena tuhan sudah memberikan adik yang benar-benar baik dan hampir sempurna untuk abang. Marena kehadiran kamu abang merasa lebih sempurna didunia ini. Terimakasih princess"kata Richard tersenyum tulus.


Berbeda dengan Christy dan Richard yang sedang saling memberikan kenyamanan satu sama lain. Dikamar tamu mansion Raymond, Michel sedang bingung harus berbuat apa.


Bukannya menahan Christy dia justru menyuruh Christy untuk pergi, Michel sangat marah tadi membuatnya lepas kendali hingga mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan.


"**** banget sih gue, kenapa juga gue ngomong gitu tadi. Kalau Chris beneran pergi yang galau gue juga kan"kata Michel mengacak rambutnya frustasi.


Fikiran Michel seperti berkecamuk didalam otaknya, memikirkan bagaimana cara mengalahkan Richard agar Christy tidak jadi pergi. Michel tidak bisa membayangkan nasibnya saat berkelahi dengan Richard nanti.


"gimana gue bisa ngalahin bang Richard, gue berantem sama Dimas ajah gue masih kalah. Apa lagi berantem sama bang Richard yang notebenya mafia, bisa mati muda gue. Belum juga nikahin Chris, masa gue udah mati sih duh gimana nih"kata Michel memukul-mukul kepalanya.


Saat Michel sedang memukul-mukul kepalanya tiba-tiba ada yang menahan tangan Michel, membuat pria itu menatap orang yang menahan tangannya.


Didalam hati Michel dia sangat senang melihat orang yang ada dihadapannya itu, namun Michel berpura-pura cuek dengan mengalihkan pandangannya.


"aku gak mau punya pacar yang mati karena stres"kata seorang gadis dengan senyuman mengejeknya.


"aku mati juga gak bakal buat kamu khawatir"kata Michel kesal.


"tahu dari mana? Jangan sotoy"kata gadis itu mencubit pipi Michel.


"sakit Chris"kata Michel pada gadis itu yang tidak lain adalah Christy.


"masih marah soal tadi?"tanya Christy.


"kamu udah tahu tapi kenapa nanya lagi"kata Michel kesal.


"aku gak mungkin nanya kalau udah tahu Cel"kata Christy.


"kamu tuh gak peka banget sih Vhris, setau aku tuh semua cewek pasti peka"kata Michel kesal.


"gak tuh, buktinya aku gak peka"kata Christy terkekeh karena berhasil membuat Michel kesal.


"duh Cel, aku gak bisa diseriusin gini hehehe"kata Christy terkekeh membuat Michel semakin kesal.


"terserah deh"kata Michel mengalihkan pandangannya.


"yaudah deh aku balik kekamar ajah kalau gitu"kata Christy.


"yaudah balik ajah sana"kata Michel membelakangi Christy.


Christy yang ingin mengerjai Michel, hanya berpura-pura menutup pintu lalu bersembunyi di balik lemari.


Michel berbalik dan sudah tidak mendapati keberadaan kekasihnya itu, Michel hanya bisa merutuki kebodohannya kali ini.


"duh gue kok makin **** sih, ngapin juga gue iyain omongan dia tadi"kata Michel kesal mengusap wajahnya gusar.


"aku tuh sayang sama kamu Chris, aku cuma gak mau kehilangan kamu. Tapi kenapa kamu selalu menjauh perlahan"kata Michel membuat Christy yang bersembunyi dibalik lemari merasa sedih mendengarkan perkataan Michel.


"aku cuma mau buat hari-hari indah bareng sama kamu, dan bisa baut memory indah untuk dikenang nanti. Apa gak bisa? Aku capek gini terus Chris"kata Michel terduduk dikasur.


Michel menundukan kepalanya dan menutupnya dengan himpitan kakinya, Michel menggaruk rambutnya frustasi.


Tiba-tiba Michel merasakan ada yang menepuk bahunya, awalnya Michel hanya mengabaikannya lalu Michelpun kesal dan langsung mengangkat kepalanya.


CUP


Kecupan singkat itu diberikan Christy ke bibir milik Michel. Christy tersenyum tulus menatap kekasihnya itu, Michel terdiam sejenak memutar kembali kejadian yang baru saja terjadi.


Christy memegang kedua tangan Michel dan mengusapnya perlahan, Christy menatap kedua mata Michel yang juga sedang menatapnya.


"makasih karena kamu selalu ada buat aku, maaf karena gak bisa berbuat lebih buat kamu. Aku cuma gak tahu harus berbuat apa lagi Cel. Aku takut kamu terjebak dalam masalah aku"kata Christy.


"please jangan pergi Chris, aku gak tahu gimana hari-hari aku nanti tanpa kamu"kata Michel menatap Christy memperlihatkan kesedihannya.


"semua keputusan ada di tangan bang Richard, malam ini aku gak jadi berangkat karena jet punya bang Richard ada masalah. Aku baru akan pergi besok pagi jam 9"kata Christy membuat Michel sedikit lega.


"berarti besok aku masih ada kesempatan buaglt ngalahin bang Richard, supaya kamu gak bakal jadi pergi"kata Michel semangat.


"Cel gak usah macem-macem, kamu gak mungkin bisa ngalahin bang Richard"kata Christy khawatir.


"aku lebih baik coba buat pertahanin kamu dari pada gak sama skali"kata Michel menggenggam tangan Christy.


"kamu terlalu baik buat aku Zel"kata Christy tersenyum tulus.


"itu semua karena aku terlalu cinta sama kamu, semua ketakutan aku bisa hilang hanya karena kehadiran kamu"kata Michel menggenggam tangan Christy.


"makasih Cel"kata Christy.

__ADS_1


"apapun untuk gadisku"kata Michel lalu memeluk erat tubuh kekasihnya itu.


//skip//


Hari terlihat cerah dan indah, tetapi tidak seindah suasana hati semua orang yang ada di mansion. Sejak pertengkaran kemarin suasana menjadi sangat canggung,, terlebih lagi Raymond si kepala keluarga yang hanya diam tanpa mau menyapa seorangpun.


Mereka mengira jika tadi malam Christy dan Richard sudah pergi,padahal mereka berdua masih ada di mansion tanpa sepengetahuan siapapun.


Zee? Gadis itu seperti tak tahu malu,pagi ini dia masih saja datang untuk sarapan pagi bersama dengan yang lain. Fara sangat muak dengan wajah gadis ular itu, andai mereka bukan di mansion mungkin Fara sudah menampar wajah Zee habis-habisan.


Keadaan meja makan yang biasanya sangat ramai walau dengan candaan yang garing, sekarang justru menjadi sangat sepi hanya suara dentingan garpu dan sendok yang menggema di sekitaran mansion.


Wijaya dan Megan hanya bisa terdiam mencoba untuk menerima situasi saat ini, sedih? Tentu saja mereka sedih. Baru saja mereka berbaikan dengan masa lalu sekarang justru masalah lain muncul, membuat mereka harus menerima keadaan saat ini.


"kalian udah selesai? Kalau udah kita cepetan berangkat. Males gue lama-lama satu meja sama cewek gatel"kata Raja menatap Zee tajam.


"Raja jaga mulut kamu"kata Siska menegur anaknya itu.


"kenapa? Bunda marah lagi? Hanya karena cewek itu? Dia siapa sih bun,kenapa bunda selalu ngebelain dia"kata Raja menyerbu Siska dengan banyak pertanyaan.


"kamu yang kenapa? Zee tidak pernah mengganggu kamu, lalu kenapa kamu selalu berkata kasar ke dia"kata Siska mengusap perlahan punggung Zee yang menunduk melihatkan wajah sedihnya yang dangat palsu itu.


"karena aku tidak suka dia ada disini,karena dia bang Richard ngebawa Chris pergi. Dan karena dia suasana mansion ini berubah"kata Raja marah membuat Raka kembaannya itu berusaha menenangkan adiknya.


"Ja udahlah, gak ada gunanya ngomong sama bunda. Bunda udah kemakan omongan cewek a**ing itu"kata Raka menunjuk Zee dengan tatapan matanya yang sangat tajam.


"yang Raka bilang benar, mendingan lo diam ajah Raja. Percuma ngomong sama cewek yang gak punya malu"kata Fara yang akhirnya ikut berbicara.


"eh jaga yah omongan lo"kata Zee berdiri dan menunjuk Fara.


"apa hah? Marah? Mau ngelawan iya? Maju lo"kata Tasya yang mulai tersulut emosi.


"Tasya udah jangan gini"kata Dimas menahan kekasihnya itu.


"Dim aku udah cape kayak gini, gara-gara dia Chris jadi pergi dan gara gara dia kita semua kepecah belah gini"kata Tasya yang sudah hampir menangis.


"aku ngerti Tasya, tapi kalau kamu kayak gini apa kamu gak mikir gimana perasaan Chris"kata Dimas membuat Tasya pasrah.


"mendingan lo pergi deh, gara-gara lo semuanya jadi hancur"kata Revano marahm


"kamu apa-apaan sih Rev, kamu kenapa ngusir Zee? Kalian semua tuh kenapa sih hah"kata Putri mendekat kearah Zee.


"Putri kamu sadar gak sih, semua masalah ini itu berawal dari dia"kata Revano kehabisan akal menghadapi kekasihnya itu.


"sebelum ada Zee masalah emang selalu ada dan semua itu karena kehadiran Chris, apa kalian gak sadar hah"kata Putri membuat Michel mati-matian menahan amarahnya.


"kalau lo berfikir semuanya karena Chris, terus selama ini buat apa lo sahabatan sama Chhris hah. Selama ini buat apa lo pertahanin persahabatan ini Put, BUAT APA HAH"kata Fara marah yang sudah mengeluarkan air mata.


"KARENA GUE KASIHAN KE DIA PUAS LO, DAN SEKARANG GUE UDAH MUAK JADI ORANG **** YANG SELALU NGIKUTIN PERKATAN DIA"Teriak Putri membuat Fara dan Tasya seakan terkena tamparan keras


Persahabatan yang di landaskan dengan kata kasihan? Sepertinya itu terlalu miris. Apa ada persahabatan dimulai karena rasa kasihan? Kalimat itu seolah terngiang dikepala Christy.


Christy mendengar semuanya begitu juga dengan Richard, hati Christy rasanya sakit sama saat dia kehilangan Rasya untuk selamanya. Perasaan itu benar-benar sama dan sangat menyakitinya.


Christy menuruni anak tangga membuat semua orang terkecuali Michel terkejut, Christy masih disini rupanya itu yang mereka fikirkan. Fara dan Tasya menatap sendu kearah Christy. Christy hanya tersenyum dan mengangguk kecil, menandakan gadis itu mencoba untuk mengerti situasi kali ini.


"kasihan? Selama ini lo bertahan hanya karena kasihan?"tanya Christy pada Putri yang enggan untuk menatapnya.


"iya gue kasihan ke lo, lo terlalu banyak masalah terlalu banyak rintangan dan gue kasihan ke lo puas"kata Putri menatap kearah lain.


Christy terdiam sejenak menutup matanya mencoba untuk mencerna perkataan Putri barusan, kepalanya seolah ingin pecah karena memikirkan hal yang sama berulang kali.


"selama ini, gue selalu berfikir kalau gue adalah orang yang paling beruntung karena udah milikin tiga sahabat yang sangat-sangat baik di hidup gue. Tapi gue terlalu bodoh karena gak sadar, kalau selama ini justru semua itu hanya karena rasa kasihan"kata Christy menatap ketiga sahabatnya bergantian.


"gak Chris gak. Gue sahabatan sama lo bukan karena kasihan, tapi karena gue tahu lo adalah sosok yang selalu bisa jaga tali persahabatan diantara kita"kata Fara yang sudah terisak.


"apa kalian ingat? Saat kita berumur 10 tahun kita pertama kali bertemu di taman depan kompleks mansion ini. Gue selalu sendiri ngelihat semua anak-anak yang asik bermain dengan teman mereka. Lalu saat hari itu, ada satu orang anak yang seumuran sama gue datang dan duduk disebelah gue. Dia senyum ke gue dan selalu mengoceh padahal udah gue cuekin"kata Christy dengan senyuman yang terlihat menahan sakit yang sangat perih.


"dia bilang ke gue 'mau sahabatan?'. Apa kalian tahu, satu kalimat itu berhasil buat gue bahagia. Terdengar sangat biasa tapi sangat bermakna buat gue. Dan dengan polosnya gue bilang 'mau kok'. Gue terlalu bahagia saat itu, aampai gue gak tahu kalau ternyata kalimat itu hanya karena rasa kasihan"kata Christy yang sudah mengeluarkan air mata.


"Chris gue mohon udah, kita sahabatan itu bukan karena rasa kasihan. Putri lo harus bilang ke Chris lo cuma bercanda tadi, lo gak mungkin sahabatan sama Chris karena rasa kasihan. Putri BILANG"teriak Tasya yang sudah menangis terisak.


"GUE SAHABATAN SAMA DIA KARENA GUE KASIHAN PUAS LO"teriak Putri membuat hati Christy semakin sakit rasanya.


"princess"kata Richard menggenggam tangan Christy, dia hendak membawanya pergi. Namun Christy menggeleng menandakan dia belum mau pergi.


"semua ini karena lo"kata Fara marah menampar Zee, membuat gadis itu hampir terjatuh namun Putri dan Siska berhasil menahannya.


"lo sentuh dia gue gak segan-segan nusuk lo pake ini"kata Putri marah dan mengambil pisau yang ada di meja.


"karena dia lo mau nusuk gue pake pisau itu iya? Tusuk Put, kalau itu bisa buat lo balik kayak dulu"kata Fara marah.


"Far udah"kata Christy berusaha memisahkan Putri dan Fara.


"semua ini karena lo, dasar cewek an**ng"kata Fara lalu kembali menjambak rambut Zee.


Keadaan semakin rusuh, Siska dan Putri berusaha untuk melepaskan tangan Fara dari kepala Zee. Raka dan Revano pun berusaha melerai.


Putri yang marah langsung mengangkat pisau yang di pegangnya, lalu hendak menusukkannya ke bahu Fara. Namun bukannya Fara yang terkena pisah itu malah seseorang yang mendorong Fara menjauh, hingga Fara terpental jauh dan dialah yang terkena tusakan pisah itu.


"TIDAK"Teriak semua orang menatap sosok itu yang terduduk memegang bahunya yang mengalirkan darah cukup banyak.


"semuanya menjadi diluar batas kemampuanku kenapa tuhan, aku mohon bunuh saja aku"batin seseorang.

__ADS_1


__ADS_2