
Author pov
Dimansion yang cukup besar, terlihat Christy Michel, tristan dan Vani. Mereka sedang berkumpul, diruang keluarga.
Christy hanya diam, sambil menonton acara yang disiarkan di TV. Tidak ada suara, yang keluar dari mulut Christy.
Sedangkan Michel, dia hanya menatap sendu wajah kekasihnya itu.
Sejak pagi tadi, Christy selalu menghindarinya. Michel xfbingung, harus berbuat apa.
Vani dan Tristan yang tahu , jika cucunya dan kekasihnya itu sedang bertengkar, berusaha untuk membuat mereka baikan lagi.
"selesaikan masalah kalian. Opah dan omah, akan keluar untuk menghadiri acara"kata Tristan, lalu menggandeng tangan istrinya. Mereka keluar dari mansion bersamaan.
Michel, langsung duduk disamping Christy. Lalu, menggenggam tangan Christy. Seketika Christy menoleh, menatap wajah Michel.
"Chris, aku minta maaf soal tadi pagi"kata Michel, dengan wajah bersalahnya
"kamu, gak salah. Ngapain minta maaf"kata Christy, dengan senyuman tipisnya.
"aku salah Chris. Salah, karena gak percaya sama kamu"kata Michel, membuat Christy menatap matanya dalam.
"itu hak kamu. Mau percaya sama aku, atau gak Cel"kata Christy, membuat Michel menggeleng.
"maaf, karena gak percaya sama kamu"kata Michel, lagi dan lagi mengucapkan kata maaf.
"berhenti minta maaf. Lebih baik, sekarang kamu beresin baju kamu. Besok pagi, kita balik ke indonesia"kata Christy, membuat Michel heran.
"ini baru 1 hari kita di LA Chris. kata kamu, 3 hari"kata Michel
"Tasya dan Dimas habis bertengkar disekolah"kata Christy, seketika Michel terkejut. Dia tidak tahu apa-apa, bahkan para sahabatnya tidak ada yang memberitahu soal itu.
"bertengkar? Tapi kenapa?"tanya Michel, menatap Christy bingung
"karena wanita ular itu"kata Christy, yang seketika menjadi marah.
"maksud kamu?"tanya Michel, yang masih tidak mengerti.
"karena sandiwara wanita itu, sahabat aku ditampar. Tasya ditampat sama cowok ****, kayak dimas"kata Christy, membuat Michel sangat terkejut.
"maksud kamu, Dimas nampar Tasya?"tanya Michel dengan wajah terkejutnya.
"iya"jawab Christy, membuat Michel sangat marah.
"bre**sek, Dimas udah gila kali yah"kata Michel emosi
"besok, semua masalah ini harus selesai. Udah cukup, rasa sakit yang Tasya rasain"kata Christy
"apa, Tasya suka sama Dimas?"kata Michel, menatap wajah Christy.
"iya. Tasya suka sama Dimas, sejak perkenalan pertama waktu itu"kata Christy. Saat mendengar perkataan Christy, Michel lumayan terkejut.
"tapi, kenapa Tasya gak ngomong?"tanya Michel
"lagi pula, walaupun Tasya ngomong. Itu percuma, karena Dimas udah punya cewek"kata Christy
"bagaimana keadaan Tasya sekarang?"tanya Michel
"4 hari lagi, Tasya bakal balik ke paris"kata Christy
"tapi, buat apa Tasya pergi?"tanya Michel
"lebih baik, dia pergi. Dari pada dia harus ngerasain sakit, kalau dekat sama Dimas"kata Christy, menghela nafasnya gusar.
"apa Tasya yakin, mau jauhin Dimas? Apa secepat itu? Dimas juga dibohongin. Dia gak salah disini"kata Michel, yang merasa jika Dimas juga adalah korban.
"aku tahu, Dimas dibohongin Cel . Tapi bukan berarti, rasa sakit Tasya bisa hilang"kata Christy.
"terus, kamu mau lakuin apa saat tiba di indonesia?"tanya Michel, yang ingin tahu rencana kekasihnya itu.
"aku bakal buat wanita itu hilang dari bumi"kata Christy, dengan smirk andalannya.
Christy benar-benar marah, saat tahu jika Tasya ditampar oleh Dimas. Dan penyebab semua itu, adalah Naila siwanita ular. Christy rasanya, ingin langsung membunuh wanita ular itu
"lo udah bangunin iblis, yang sedang tertidur pulas. Sisa hidup lo, hanya tinggal beberapa jam lagi"batin Christy.
Indonesia
Dimas pov
Setelah kejadian dikantin pagi tadi. Gak tahu kenapa, hati gue sakit banget, ngelihat Tasya nangis kayak gitu.
Gue bener-bener gak ada niatan, buat nampar Tasya. Tapi gue terlanjur emosi, waktu Tasya ngomong yang enggak-enggak soal Naila.
Gue akuin, gue salah karena udah nampar dia. Tapi waktu gak bisa diulang.
Jujur, gue pengen minta maaf sama Tasya. Tapi ego gue terlalu tinggi. Dan karena kejadian dikantin itu, semua sahabat gue gak ada yang mau ngomong sama gue.
__ADS_1
Bahkan, Fikra yang selalu bareng sama gue. Sekarang dia ngehindar dari gue. Disini, gue cuma ngebela pacar gue. Apa salah bela pacar sendiri?
Yang diomingin Tasya, semua itu omong kosong. Naila gak mungkin, pura-pura sayang sama gue.
Dia pasti hanya sirik, ngelihat hubungan gue yang romantis sama Naila.
Author pov
Sekarang Raka dkk, minus Dimas. Dan Fara dkk, sedang berkumpul dimansion Tasya.
Mereka semua berusaha, untuk menghibur Tasya. Tapi, tidak ada kemajuan sama sekali.
Sejak kejadian dikantin, Tasya menjadi pendiam. Bahkan terkadang, tiba-tiba menangis sesegukan. Membuat mereka kebingungan, harus berbuat apa.
"4 hari lagi, gue balik ke paris"kata Tasya, membuat mereka semua terkejut. Terutama Fara dan Putri.
"Sya, lo gila hah. Lo mau ninggalin kita disini"kata Putri, tidak terima dengan perkataan Tasya.
"Sya, fikir-fikir dulu keputusan lo. Gue Putri, Chris ada disini. Dan lo, mau ninggalin kita?"tanya Fara, membuat Tasya bimbang.
"apa semua ini gara-gara Dimas? Kalau emang gara-gara dia, detik ini juga. Gue bakal bunuh dia, sama ceweknya itu"kata Putri yang sudah emosi.
"Put, ini bukan gara-gara Dimas. Gue baik-baik ajah kok, gue ke paris cuma mau nenangin diri doang. Kita masih bisa telfonan kan"kata Tasya, berusaha membuat kedua sahabatnya itu mengerti.
"gue, gak mau jauh dari lo Sya"kata Putri, menatap lekat mata Tasya, yang dibanjiri air mata.
"gue gak jauh dari kalian. Gue selalu ada, dihati kalian"kata Tasya, dengan senyuman yang terlihat menyakitkan.
"apa, Chris tahu. Lo, mau balik ke paris?"tanya Fara
"tidak diberitahupun,.pasti Chris udah tahu far"kata Tasya, yang diangguki Fara.
"tunggu sampai Chris balik besok"kata Fara
"besok, princess balik ke indonesia?"tanya Raka, menatap Fara.
"iya, besok Chris balik ke indonesia. Mungkin sekitar jam 10"kata Fara, membuat Raka dan Revano tersenyum.
"akhirnya, kamu balik princess"batin Raka dan Revano.
Mansion Tasya sudah sepi, karena mereka semua sudah pulang kerumah masing-masing.
Sekarang, hanya Tasya yang tersisa. Tasya memikirkan kembali, niatnya untuk meninggalkan indonesia, dan kembali ke paris tanah kelahirannya itu.
Tasya, duduk dibalkon kamar sambil menghirup udara malam. Itu cukup segar dan menenangkan untuknya.
Kejadian itu, terputar kembali dalam fikiran Tasya. Sungguh, sakit rasanya.
"dim, maaf udah buat lo marah. Gue cuma mau, lo bebas dari wanita itu. Gue gak mau, lo sakit hati nanti"kata Tasya, memandangi gelapnya langit malam.
Lagi dan lagi, air mata itu keluar dari mata indah milik Tasya. Tasya benar-benar rapuh saat ini, hatinya sangat hancur. Saat melihat pria yang disayanginga, lebih percaya pada wanita ular itu.
"hiks hiks, Dim. Aku bakal pergi, hiks hiks aku bakal kubur perasaan aku ini"kata Tasya, sambil menangis sesegukan.
//skip//
Sekarang, Fara dkk dan Raka dkk sedang menikmati makanan mereka.
Sekarang, mereka sedang menikmati waktu istirahat. Setelah belajar 3 jam yang lalu.
Tidak ada yang berbicara, meja mereka bahkan sangat sunyi. Tidak ada canda tawa seperti biasa.
Semua murid, lebih suka melihat tingkah konyol mereka. Selalu bisa membuat kantin heboh, dibanding terdiam seribu bahasa seperti ini.
Tasya hanya makan sambil menunduk, sedangkan Dimas dia hanya acuh dengan mereka semua. Seakan tidak memiliki kesalahan apapun.
Saat sedang asik makan, tiba-tiba Dimas memukul meja cukup keras. Membuat semua orang yang ada dikantin, menjadi diam.
"kalian semua, kenapa diemin gue sih. Emang gue salah apa"kata Dimas, yang sudah kesal dengan keadaan sunyi.
"lo, masih nanya salah lo apa? Dasar ****"kata Fikra, mematap marah kearah Dimas.
"emang gue salah apa hah?"tanya Dimas, menaikan volume suaranya.
"lo, udah dibutain cinta, sama cewek ular itu dim"kata Raka mendorong Dimas.
"maksud lo cewek ular apaan? Kalau ngomong tuh dijaga"kata Dimas marah, tidak terima jika Raka mengatai Naila cewek ular.
"brengsek lo"kata Dimas, hendak memukul Raka. Tapi, Tasya lebih dulu menghalang tangan Dimas, membuat Tasyalah yang terkena pukulan Dimas.
Tasya langsung terjatuh kelantai, dengan kondisi hidung yang berdarah. Karena terkena pukulan Dimas.
"Tasya, hidung lo berdarah"kata Putri panik, melihat banyak darah yang keluar dari hidung Tasya.
"gue gak apa-apa kok"kata Tasya, menghapus darah dari hidungnya. Meskipum darah itu, terus saja keluar.
BRAK
__ADS_1
Meja yang ada dibagian depan kantin, seketika terbelah dua. Karena pukulan seorang gadis.
Manik mata gadis itu, menandakan jika jiwa iblis telah keluar. Wajahnya menjadi menyeramkan.
Seketika suasana kantin menjadi sangat mengerikan, aura pembunuh gadis itu berhasil menusuk kesemua organ tubuh semua murid.
"beraninya lo nyakitin sahabat gue. Brengsek"kata gadis itu, lalu berjalan mendekat kearah Dimas. Tatapannya benar-benar menyeramkan.
Fara dkk, yang melihat kedatangan Christy, sungguh dibuat terkejut.
Kemarahan Christy, sudah sangat menguasai dirinya. Tasya semakin takut, tasya takut Dimas akan mati jika berhadapan dengan Christy.
Michel berusaha, untuk menurunkan emosi Christy. Tapi dia juga tidak bisa berbuat lebih, kemarahan Christy benar-bebar diluar batas.
"lo, bersikap seperti ini hanya karna cewek ular itu. Dasar bodoh"kata Christy marah.
"apa maksud lo"kata Dimas, seakan tidak takut. Dimas menjawab perkataan Christy, dengan suara lantang.
"BAWA DIA KESINI"teriak Christy
Seketika, datang dua orang pria berbadan besar. Mereka membawa seorang gadis, yang sudah lemas.
"Naila"kata Dimas terkejut. Melihat Naila, diseret paksa oleh dua orang pria berbadan besar.
"APA YANG LO LAKUIN KE NAILA HAH"kata Dimas marah, menatap Christy tajam.
"asal lo tahu, gadis itu hanya mau manfaatin lo. Dia cuma mau duit lo. Dan asal lo tau, dia itu wanita bayaran, yang kerja di club malam punya gue"kata Christy, membuat semua orang terkejut
"lo, gak usah nuduh sembarangan. Kalau gak ada buktinya"kata Dimas, membuat Christy menunjukan smirk andalannya.
"ooh, perlu bukti? Okey"kata Christy, dengan nada sinisnya.
"gu...gue mohon, ja....jangan memutar vidio ii...itu di...di...disini"kata Naila, dengan tergagap.
"vidio? Sebenarnya apa yang terjadi?"tanya Dimas, menatap Naila.
"putar vidionya"kata Christy
Anak buah Christy, sudah menyiapkan sebuah layar besar. Agar semua murid IHS, melihat kelakuan wanita ular itu.
Saat vidio dimulai, betapa terkejutnya semua murid IHS. Terlebih lagi Dimas. Saat melihat Naila, yang ditiduri laki-laki disebuah hotel. Bahkan Naila dengan senang hati, memberikan tubuhnya pada pria hidung belang itu.
"astaga, ternyata princessnya senior high school itu ******"
"kelihatannya ajah cewek baik-baik, eh ternyata ******"
"munafik banget sih"
"bikin malu keluarga alexis ajah"
"dasar cewek ular"
Siswa-Siswi IHS berbisik bisik, menceritakan Naila yang notebenya gadis baik-baik. Tapi ternyata, adalah seorang wanita bayaran.
Dimas mematung, bahkan menatap sendu kearah Naila. Sungguh Dimas sangat kecewa.
Dimas telah membelanya mati-matian, rela dibenci sahabatnya. Bahkan sampai menampar seorang gadis tidak bersalah, hanya untuk membelanya. Tapi ternyata, Naila sudah membohonginya.
"gue kira, lo beneran sayang sama gue. Ternyata selama ini, lo udah bohongin gue"kata Dimas
"ini belum seberapa, sama rasa sakit yang Tasya rasaiin. Karena kebodohan lo Dim, Tasya sakit hati. Setelah ini, gue mau lo jauhin Tasya"kata Christy, membuat Tasya menatapnya sendum
"tapi Chris"kata Tasya, namun terdiam karena Christy menatapnya.
"berhenti berharap, pada pria yang tidak perduli sama lo"kata Christy, membuat Tasya terisak. Putri dan Fara memeluk Tasya.
"bawa wanita itu, buat keluarga Alexis malu"kata Christy
Naila langsung dibawa, oleh anak buah christy. Semua murid IHS meneriaki Naila, habis-habisan.
"bawa Tasya ke UKS"kata Christy menatap Putri dan Fara.
Putri dan Fara, langsung mengantar tasya keUKS. Sedangkan Dimas, dia hanya diam seribu bahasa. Sakit rasanya, dibohongi selama ini.
"ingat perkataan gue. Jauhi Tasya, berhenti buat dia sakit"kata Christy, menatap Dimas tajam.
"tapi, buat apa Tasya ngelakuin ini"kata Dimas, yang masih perlu jawaban.
"karena, dia sayang sama lo Dim. Dia rela di benci sama lo, itu semua demi lo bisa lepas dari wanita ular itu. Tapi apa balasannya, di hanya dapat rasa sakit"kata Christy, mendorong bahu Dimas.
Dimas semakin dibuat terkejut, Tasya menyukainya. Apa itu benar, sungguh dia tidak menyadari itu semua.
Seketika air mata Dimas jatuh tanpa izin. Fikra, Raka, Raja, Revano dan Michel. Baru pertama kali, melihat seorang Dimas menangis seperti ini.
"gue akuin, gue salah. Tapi gue mohon, jangan buat gue jauh dari Tasya"kata Dimas, menatap sendu mata Christy.
"gue, gak janji Dim. Udah cukup, rasa sakit yang dirasain sahabat gue"kata Christy lalu pergi, meninggalkan Dimas.
__ADS_1
"maafin gue Sya. Gue terlalu bodoh, gue lebih percaya sama Naila. Dibanding lo. Maaf Sya, karena gak sadar kalau selama ini lo sayang sama gue. Gue mohon, jangan pergi Sya"batin Dimas
"karena kebodohan, lo kehilangan seseorang yang sayang sama lo"batin Christy.