
Author pov
Pagi ini Raka dkk dan Christy dkk sedang berkumpul dikantin sekolah.
Sika Christy menjadi bertambah dingin pada semua temannya, termaksud Raka, Raja dan Revano.
Pagi ini mereka sarapan tanpa ada canda tawa seperti biasa. Saat sedang asik makan, tiba-tiba hp Raka berdering menampilkan nama seseorang.
Christy memperhatikan gerak-gerik Raka, membuat Raka gugup saat menjawab telfon itu.
"halo, ini siapa yah?"tanya Raka, berpura-pura dihadapan Christy. Karena sebenarnya, dia tahu siapa yang menelfonnta itu.
"ini gue, Rasya. Gue didepan sekolah lo Rak"kata Rasya dari telfon itu. Membuat Raka terkejut dan semakin gugup.
"lo ngapain kesini Rasya?"tanta Raka berbisik-bisik berharap Christy tidaj mendengarnya.
"gue mau ketemu Chris. Dia lagi sama lo kan"kata Rasya
"jangan sekarang. Lo pulang ajah"kata Raka, lalu mematikan telfonnya.
Raka yang masih ditatap Christy menjadi gugup, dia bingung harus apa bertingkah seperti apa lagi agar Christy berhenti menatapnya. Christy menggeser piring dari hadapannya, lalu meminta Raka.
"sini"kata Christy meminta hp Raka. Namun Raka enggan memberinya, dia merema kuat hpnya agar Christy tidak mengambilnya.
"buat apa Chris? Emang hp kamu kemana?"tanya Raka gugup
"siniin hpnya"kata Christy dengan tatapan dinginnya, nada bicara Christy terdengar meyeramkan.
Dengan terpaksa, Raka memberikan hpnya kepada Christy. Christy terlihat mengotak atik hp Raka, lalu berdiri dan hendak pergi.
"kamu mau kemana?"tanya Raja yang menahan tangan Christy.
"ketemu Aya"kata Christy lalu berjalan meninggalkan area kantin.
Mereka semua terdiam, saling menatap satu sama lain dan bingung harus berbicara apa lagi.
"apa Michel kabarin kalian?"tanya Dimas, menatap semua yang ada dimeja itu.
"pesan terkahir dari Michel , cuma suruh gue jaga Christy. Setelah itu nomornya gak aktif lagi"kata Fara, membuat Dimas menghembuskan nafasnya gusar.
"Michel nutup semua aksesnya. Bahkan nomor telfon dan akun sosmed. Semua itu udah gak aktif"kata Raja, menampilkan wajah khawatirnya
"apa dia baik-baik ajah?"tanya Fikra yang juga mengkhawatirkan kondisu sahabatnya itu
"biarin dia sendiri dulu. Pasti sekarang dia lagi sedih banget"kata Revano yang mengerti kondisi Michel saat ini.
"kalau dia udah tenang, pasti dia bakal balik"kata Raka yang berusaha positife thinking.
"selesaikan makanan kalian. Setelah ini bel udah mau bunyi"kata Tasya
Dilain tempat, tepatnya di luar gerbang IHS. Rasya sedang menunggu seseorang. Rasya mendapatkan pesan dari nomor Raka, dia disuruh menunggu didepan gerbang ini. Cukup lama Rasya menunggu, namun Raka tidak juga datang.
"apa gue pulang ajah yah"kata Rasya merasa jika Raka tidak akan datang.
"pasti lo cape"kata seseorang dari arah belakang Rasya membuatnya sedikit terkejut.
Rasya langsung berbalik, dan dia mendapati seorang gadis yang dicintainnya dan benar benar dirindukanya itu.
Christy berdiri tepat berhadapan dengan Rasya, seorang pria yang dicintainya dan dirindukannya.
"princess"kata Rasya sambil tersenyum. Lalu senyumnya itu luntur saat melihat ekspresi datar dan tatapan dingin Christy.
"menunggu itu sangat melelahkan, dan itu yang gue rasa selama ini"kata Christy, berjalan mendekat kearah Rasya. Jantungnya berdegup kencang, Christy mati-matian menahan detakan itu, agar Rasya tidak tahu kalau jantungnya berdetak karena kehadiran pria itu.
"maaf. Semuanya memang salah aku"kata Rasya, menatap sendu wajah Christy.
"bahkan, sekarang Michel juga terkena dampak dari kepergian lo. Lucunya yah, apa lo sepenting itu"kata Christy tersenyum sinis.
"aku mohon, kasih aku kesempatan satu kali lagi. Aku janji akan perbaikin semua kesalahan aku"kata Rasya.
"gue terlalu bodoh, gue bodoh karena masih mau cinta sama lo. Cowok yang bahkan gak perduli sama gue"kata Christy, menertawai dirinya sendiri. Dia merasa kasihan pada dirinya sendiri, mencintai seseorang yang pergi meninggalkannya.
"aku perduli sama kamu princess. Aku mohon jangan berkata seperti itu, itu sangat menyakitkan"kata Rasya menatap sendu wajah Christy. Dia hendak meraih tangan Christy, namun gadis itu menghindar.
"kenapa gue belum bisa nyatain cinta sama Michel, itu semua karena lo Rasya. Karna lo hiks hiks hiks"kata Christy dan akhirnya apa yang ditahannya sedari tadi pecah. Air matanya keluar begitu saja, isakannya terdengar sangat memilukan.
"hiks hiks gue benci hiks hiks sama lo Rasya"kata Christy terduduk diaspal dan tagisannya semakin pecah.
Rasya langsung mengangkat tubuh Christy, agar dia berdiri lalu memeluknya. Christy berusaha melepaskannya, hingga memukul dada Rasya berkali-kali
Seakan tidak kesakitan dengan pukulan Christy, Rasya masih terus memeluk Christy. Pelukan seperti ini sangat dia rindukan, semua tentang gadis ini dirindukannya.
"pukul princess, pukul kalau memang itu bisa buat kamu tenang"kata Rasya memeluk Christy, mengelus perlahan rambut gadis itu.
__ADS_1
"aku mohon, kasih aku kesempatan sekali ajah"kata Rasya, memejamkan matanya, mencium kepala Christy.
"tidak semudah itu Rasya. Sekarang Michel adalah pacarku, kita tidak bisa bersama seperti dulu"kata Christy yang masih dipelukan Rasya. Terus saja beruaha melepaskan pelukan itu, Christy takut Michel melihatnya, padahal dia tahu Michel tidak disana. Namun Christy tidak mau membuat Michel sedih.
"Michel sudah mengijinkannya, dan aku sendiri yang meminta izin untuk memilikimu lagi"kata Rasya, membuat Christy yang mendengarnya merasa sedih. Dia kembali berfikir, kenapa Michel sebaik itu kenapa tidak memperjuangkannya saja.
"hiks hiks hiks Michel pasti sangat sakit sekarang. Jni semua salahku"kata Christy dan tangisannya benar-benar pecah sekarang. Hatinya hancur, karena merasa sudah menyakiti seseorang yang tulus padanya.
"jagan salahkan dirimu. Kita ikuti alur ini sampai selesai, dan kita lihat ada dimana takdir kamu"kata Rasya lalu melepaskan pelukannya. Menatap wajah Christy.
"aku merindukanmu princess"kata Rasya lalu mengecup singkat bibir Christy.
"apa memberinya kesempatan, adalah pilihan yang benar? Michel mengijinkan Rasya untuk kembali sama aku, apa dia gak mikirin perasaannya. Andai Michel tahu, sesuatu yang selama ini gue pendam. Apa dia bakal balik? Tuhan aku mohon, jangan buat priaku terluka"batin Christy memikirkan keadaan Michel saat.
"maaf, karna ikut andil dalam semua ini. Abang cuma bisa bantu Rasya segini ajah, membantunya masuk kembali dalam hidup kamu. Setelah itu, hanya tuhan yang tahu takdirnya. Maaf membuat batinmu tertutup, itu semua agar kamu tidak tau alasan sebenarnya kenapa Rasya pergi"batin seseorang yang jauh disana.
//skip//
Langit disore hari sungguh cerah, membuat semua orang yang sedang bermain ditaman merasa gembira. Taman yang ada tepat didepan mansion Raymond. Raka dkk dan Christy dkk, termaksud Rasya sedang berkumpul ditaman itu.
"jadi, hubungan kalian sekarang gimana?"tanya Revano, menatap Rasya dan Christy bergantian.
"sudah baik. Makasih, karna kalian udah ngebantuin gue buat ketemu sama princess"kata Rasya tersenyum tulus.
"apa ada kabar tentang Michel?"tanya Christy tiba-tiba, membuat mereka sempat bingung harus menjawab apa.
"Michel menutup semua akses miliknya. Pasti dibantu orangtuanya, karna mereka punya banyak pengaruh"kata Raja, membuat Christy semakin khawatir dengan kondisi Michel.
"apa dia baik-baik saja?"tanya Christy dengan wajah sedihnya itu
"dia akan baik-baik saja. Karna ada kamu dihatinya"kata Rasya, menggenggam tangan Christy.
"kita pergu dulu. Bicaralah berdua"kata Raka lalu merangkul pundak Fara dan berlalu pergi, diikuti yang lain.
Sekarang, hanya tersisa Rasya dan Christy. Mereka duduk berdua dikursi taman. Christy menatap anak-anak yang sedang bermain, sedangkan Rasya dia menatap wajah cantik gadisnya itu. Wajah itu benar-benar dirindukan Rasya selama ini.
"apa kehadiranku mengusik mu?"tanya Rasya membuat Christy mengalihkan pandangannya dan menatap Rasya.
"tidak"jawab Christy, berusaha tersenyum didepan Rasya. Meskipun hatinya sakit karena memikirkan Michel
"dulu, kamu selalu senang kalau aku ada didekat mu. Tapi kenapa sekarang rasanya sangat berbeda?"tanya Rasya, menatap sendu wajah gadisnya itu.
"aku ingin seperti dulu. Tapi ada rasa penyesalan terhadap Michel"kata Christy, berharap Rasya mengerti dengan kondisinya saat ini.
"percaya padaku, dia pasti akan kembali"kata Rasya, menggenggam tangan Christy.
"princess aku merindukanmu"kata Rasya lalu memeluk Christy.
Christy hanya terdiam, dan tidak lama Christy membalas pelukan Rasya. Rasya tersenyum bahagia, saat merasakan tangan Christy yang mengusap punggungnya.
Rasya melepaskan pelukannya dan menatap mata Christy cukup lama.
Saat menatap Christy, tiba-tiba ada cairan merah yang jatuh dari hidung Rasya. Christy langsung memegang cairan merah itu, dan menatap Rasya
"darah"kata Christy, yang langsung panik karena Rasya mimisan.
Rasya langsung mengambil sapu tangannya, yang ada dikantung celananya. Dia melap darah yang mengalir dari hidungnya, agar Christy tidak khawatir dan tidak curiga.
"kumohon, jangan perlihatkan disaat aku ada didekat princess"batin Rasya dan tidak diketahui Christy.
Christy terlihat khawatir, saat melihat banyak darah yang jatuh dari hidung Rasya. Darah itu tidak juga berhenti, membuat Christy semakin takut.
"kita kerumah sakit okey"kata Christy, menggenggam tangan Rasya.
"tidak usah. Ini sudah biasa"kata Rasya, berusaha membuat Christy tidak khawatir.
"kamu sakit?"tanya Christy membuat Rasya menjadi gugup
"a--ak--aku baik-baik saja"kata Rasya gelagapan, dan berusaha tersenyum untuk Christy.
"kalau begitu kita masuk kemansion. Ini sudah mau malam"kata Christy menggengan tangan Rasya, mengajaknya masuk kedalan masion Raymond.
Saat sampai didalam mansion, Christy dan Rasya berpapasan dengan Raymond dan Siska orangtua Christy.
"kamu Rasya kan?"tanya Siska bunda Christy.
"iya tante. Lama tidak bertemu"kata Rasya tersenyum pada keduanya.
"kenapa baru muncul? Dari mana selama ini?"tanya Raymond ayah Christy, dengan nada judesnya.
"ayah sudahlah, itu masa lalu"kata Christy yang tau jika ayahnya marah.
"saya percayakan anak saya sama kamu. Berhenti membuat anak saya berharap"kata Raymond, lalu menggandeng istrinya keluar mansion.
__ADS_1
"duduk dulu. Aku ngambil air buat kamu dulu"kata Christy.
Baru saja Christy pergi, dada Rasya tiba-tiba sakit membuat Rasya keringat dingin karna menahan sakit.
Rasya mengambil beberapa butir obat, yang ada di saku jaketnya lalu menelannya.
"aku mohon, jangan sekarang"kata Rasya dengan suara pelan, meremas kuat dadanya, berharap rasa sakitnya hilang.
Rasya mati-matian menahan rasa sakitnya, hingga wajahnya terlihat pucat pasih. Rasya melihat Christy datang, dia berusaha agar terlihat baik-baik saja.
"Aya kok wajah kamu pucat?"tanya Christy memegang wajah Rasya.
"aku hanya lelah princess"jawab Rasya tersenyum pada Christy
"hmm aku pulang dulu yah. Mama nunggu aku dirumah, dia baru sampai dari london"kata Rasya lalu berdiri.
"aku akan antar sampai depan"kata Christy, namun Rasya tidaj mengizinkannya.
"tidak usah. Ini sudah malam, diluar pasti dingin. Naik lah kekamar,, besok kamu sekolah kan"kata Rasya, berusaha tetap tersenyum.
"tapi, aku mau anterin kamu kedepan"kata Christy
"naiklah, lalu tidur princess. Kamu harus bangun pagi besok, biar aku yang antar ke sekolah okey"kata Rasya.
"baiklah. Good night aya"kata Christy, lalu mencium pipi Rasya dan berlari naik kekamarnya.
Rasya berjalan sempoyongan, seperti mau jatuh. Pandangannya mulai buram. Kepanya terasa nyeri, dadanya semakin sakit.
"Rasya, lo gak apa-apa?"tanya the twins yang baru masuk, mereka mendapati Rasya yang terduduk dilantai.
"dada gue sakit"kata Rasya lalu ambruk, dia pingsan begitu saja.
"kita bawa dia kerumah sakit, sebelum Chris lihat"kata Raka membuat Raja mengangguk mengerti.
"jangan beri tahu Chris, kalau Rasya pingsan disini. Mengerti kalian"kata Raka pada maid yang berjaga. Membuat mereka mengangguk dan menunduk hormat.
Raka dan Raja langsung mengangkat tubuh Rasya, memasukannya kedalam mobil lalu membawanya kerumah sakit. 10 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai. Raka langsung berlari mencari dokter.
"bantu teman saya"kata Raka pada salah satu dokter, yang menghampiri.
Rasya langsung di tangani, oleh beberapa dokter kepercayaan keluarga Raymond. Raka dan Raja terlihat cemas, saat menunggu dokter yang memeriksa Rasya belum juga keluar. Saat dokter itu keluar, Raka langsung menanyakan keadaan Rasya.
"bagaimana keadaan teman saya, apa dia baik-baik saja?"tanya Raka, menatap dokter itu
"apa teman kalian punya riwayat penyakit jantung?"tanya dokter itu menatap Raka dan Raja.
"dia bilang, dia punya penyakit kelainan pada jantungnya dok"kata Raja, membuat dokter itu mengerti
"keadaan jantung anak muda itu mulai melemah. Cairannya mulai menyebar kemana-mana, membuat organ tubuhnya terkena dampak dari cairan itu. Dan obat yang di minumnya, dosisnya sangat tinggi. Saya akan memberikan dia obat yang dosisnya rendah, pastikan dia meminumnya tiap hari"kata dokter itu
"apa ada lagi dok?"tanya Raka yang masih belum tenang.
"dia membutuhkan donor jantung secepatnya"kata dokter itu
"lakukan apa yang bisa dokter lakukan"kata Raja berharap dokter itu bisa membantu.
"sebelum mendonorkan jantung, kita harus melewati beberapa tes. Agar jantung anak muda itu, cocok dengan pendonor"kata dokter itu
"biar saya coba dok"kata Raka, membuat Raja menatapnya.
"bang, jangan abang lah. Masih banyak orang lain diluar sana"kata Raja, memegang lengan abangnya itu.
"abang hanya mengetesnya, kalaupun cocok abang rela. Semua ini demi kebahagiaan princess"kata Raka, menggenggam tangan kembarannya itu.
"tapi bang"kata Raja yang masih tidak terima dengan keputusan Raka.
"jangan egois Raja. Kita belum tau hasilnya, biar abang mencoba. Dokter bisa lakukan tesnya malam ini?"tanya Raka, menatap dokter itu
"bisa tuan. Sus antar tuan Raka ke lab"kata dokter itu
Raja terlihat kebingungan, dia bingung harus melakukan apa. Jika jantungnya cocok, apa yang akan terjadi.
Raja egois? Yah dia egois. Karena orang yang mau mendonorkan jantungnya itu adalah setengah dari hidupnya. Yaitu kembarannya.
Walaupun Raja keras kepala, jika di beritahu pada Raka. Tapi Raja takut kehilangan kembarannya itu. Sekitar setengah jam Raka kembali dengan dokter yang tadi. Raja terlihat lega, saat melihat twins nya itu masih ada.
"gimana hasilnya, apa cocok?"tanya Raja was-was
"engga ja"kata Raka, dengan wajah lesunya.
"saya akan berusaha mencari pendonor untuk anak muda itu. Saya permisi tuan"kata dokter itu lalu pergi dari sana.
Raka terlihat frustasi, ingin rasanya Raka menukar posisinya dengan Rasya. Agar Rasya tetap sehat dan bisa membahagiakan adik kecilnyan
__ADS_1
"jangan nyalahin diri lo bang. Ini takdir bukan salahlo"kata Raja, menenangkan kembarannya itu.
"baru saja, ada secerca harapan untuk melihat adikku bahagia. Tapi kenapa harapan itu sirnah begitu saja, kenapa harus adikku yang merasa kehilangan. Apa selama ini kurang cukup rasa sedih yang dirasakannya, sampai harus ditambah lagi"batin raka sendu.