
Kejatuhan dan kejayaan bisa di dapat dalam peperangan itulah yang di yakini hampir setiap orang hingga mereka rela berjuang mempertaruhkan diri mereka.
Jendral Mariana berdiri menatap ke atas benteng kota Lopak dengan penuh kepedihan karena akan ada banyak orang yang tidak bersalah yang akan ikut menjadi korban atas penyerangan yang dia pimpin.
Sang Jendral dan pasukanya masih terus maju saat kuil Sirak di atas benteng mulia membunuh beberapa penduduk sipil yang di sandera membuat semua prajurit merasakan amarah dan kengerian di campur dengan perasaan bersalah, tapi Jendral Mariana terus membawa mereka semua untuk terus bergerak dan Jendral Mariana berteriak untuk menegaskan perintahnya.
"Prajurit teguhkan hati kalian kita tidak bisa menyelamatkan orang-orang itu tapi kita dapat menyelamatkan lebih banyak orang yang ada di dalam kota dari nasib buruk mereka, serang hancurkan kuil Sirak karena ini adalah hal yang benar untuk dilakukan."
Tidak ada belas kasihan dalam perang yang ada hanya membunuh atau di bunuh demi mendapatkan kemenangan, yang menang akan merebut segalanya tanah, harta bahkan kehormatan sedangkan bagi yang kalah hanya bisa pasrah meratapi nasibnya.
Di atas benteng Uskup Karam dan jendral Cristian melihat kalau sandera yang mereka bunuh di atas benteng masih tidak dapat menghentikan Pasukan dari kerajaan Arfen untuk mundur.
"Uskup karam bagaimana sekarang kalau Pasukan kerajaan Arfen bersama tiga Pasukan dari tiga kuil berbeda tetap menyerang kesempatan kita untuk bisa bertahan sangatlah kecil."
Jendral Cristian mengatakan itu karena melihat rencana untuk menggunakan Sandra agar pasukan kerajaan Arfen tidak menyerang ternyata gagal yang itu berarti mereka harus melakukan pertempuran langsung.
"Jendral Cristian tetap lakukan rencana itu membunuh para sandera itu akan membuat kerajaan Arfen dan Pasukan Paladin dari tiga kuil sesat itu akan terlihat seolah tidak peduli akan hidup rakyat Tandora."
"Iya hamba mengerti yang mulia uskup tapi masalahnya adalah bagaimana menghadapi pasukan musuh yang memiliki kekuatan sangat besar."
"Jendral Cristian kita akan menghadapi mereka lagi pula kita punya keunggulan dari benteng besar kota Lopak dan bila kita semakin terdesak kita bisa mundur menggunakan sihir ruang dimensi, kita akan tetap mendapatkan sedikit keuntungan meskipun kita akan kehilangan kota Lopak."
Jendral Cristian tersenyum mendengar hal itu karena dia tahu dia masih bisa selamat dari perang ini karena kuil Sirak bisa membawanya pergi jauh dengan sebuah sihir.
"Uskup Karam aku mengerti pasukanku akan mengurangi sebanyak mungkin Pasukan kerajaan Arfen sebelum mereka dapat merebut kota dan wilayah ini."
"Baguslah karena Pasukan kerajaan Arfen juga bisa menjadi ancaman kita di masa depan, mengurangi jumlah mereka di sini akan lebih memudahkan kita nanti."
Jendral Cristian kembali ke tempat Pasukanya dan memberikan perintah.
"Prajurit siapkan panah serang Pasukan musuh yang mendekati benteng."
"Demi kuil Kegelapan Sirak siapkan serangan sihir hancurkan musuh kita."
"Panah..!!"
Tak butuh waktu lama sampai pertempuran akhirnya pecah pasukan yang bertahan di atas benteng kota Lopak langsung melakukan serangan dengan panah dan sihir terhadap barisan pasukan jendral Mariana yang datang menyerbu.
"Angkat perisai kalian kita harus dapat mencapai pintu gerbang dan mendobraknya.!!"
"Priest kuil Glaria rapalkan sihir pelindung anti panah, Cleric kuil Ayarama berikan dukungan serangan sihir ke benteng musuh dan Paladin Kuil Doronta kita harus menghancurkan gerbang itu dengan sihir bumi yang kalian miliki."
Pasukan milik Jendral Mariana bergerak dengan perlahan sambil mengandalkan sihir pelindung yang di buat oleh Para Priest kuil Glaria tapi meskipun sihir itu cukup efektif melindungi dari anak panah yang di tembakan oleh pasukan milik Jendral Cristian tapi itu belum cukup untuk menghentikan serangan sihir jarak jauh seperti Dark Javelin dan Cursed Thunder yang di kuasai Cleric kuil kegelapan Sirak.
Banyak korban yang berjatuhan saat setiap sihir yang di gunakan kuil Sirak menerjang kerumunan Pasukan yang di pimpin Jendral Mariana.
"Jendral Mariana kita mendapatkan cukup banyak kerugian serangan sihir dari pihak kuil Sirak mengikis kekuatan kita sedikit demi sedikit."
"Kapten Paladin Kuil Doronta aku tahu itu jadi kita harus segera mencapai gerbang itu agar kita bisa menyerbu ke dalam benteng dan melakukan pertempuran langsung."
"Tapi Pasukan kita..?"
"Kapten lihatlah para penduduk yang di gantung di atas benteng itu apa kamu tidak ingin menyelamatkan mereka kita harus segera bergegas agar lebih sedikit korban dari para penduduk sipil yang di jadikan sandera."
"Baik aku mengerti, Paladin Doronta kita harus lebih cepat bergerak."
Meskipun Mariana mengatakan itu ada begitu banyak serangan anak panah dan sihir dari pasukan yang di pimpin oleh Jendral Mariana mengenai penduduk yang di ikat dan di gunakan sebagai tameng hidup di atas benteng oleh kuil Sirak.
______________________________________
__ADS_1
"Kaarkkk..!!"
Tiba-tiba sebuah terompet panjang terdengar dan dengan segera ribuan pasukan Red Vivern terbang mendekat ke benteng kota Lopak dengan sangat cepat, membuat semua orang yang sedang melakukan pertempuran cukup terkejut dengan serangan tiba-tiba itu.
"Itu Pasukan Red Vivern Remaria."
"Remaria..?!"
"Pasukan udara Remaria mendekat dengan cepat, kita harus bertahan Cleric kuil Sirak gunakan sihir kalian serang targetkan Pasukan Remaria."
"Siapkan tombak pertahankan benteng ini."
Pasukan milik Jendral Cristian segera bersiap karena tidak menyangka kalau Pasukan Red Vivern Remaria yang dapat melakukan serangan langsung di atas benteng akan melakukan serangan juga, padahal mereka semua sedang sibuk dan fokus untuk menghadapi pasukan kerajaan Arfen.
Jendral Mariana juga terkejut dia tidak tahu akan apa yang terjadi kenapa Pasukan Remaria menyerang di saat seperti ini.
"Paladin kuil Doronta apa yang kalian lakukan cepat gunakan sihir kalian hancurkan gerbang kota sebelum kita terlambat, para Priest dan pemanah serang Pasukan kuil Sirak di atas benteng selagi mereka teralihkan oleh serangan udara Remaria."
"Siap Jendral Mariana..!"
Jendral Mariana benar-benar bingung dengan keadaan ini dan berpikir kemungkinan Pasukan Remaria baru menyerang setelah dirinya dan Pasukan Arfen melakukanya terlebih dahulu, Pasukan Remaria tidak akan mencoreng nama kerajaan mereka karena korban yang di sandera di bunuh oleh kuil Sirak karena serangan yang di lakukan Pasukan kerajaan Arfen yang melakukan lebih dulu.
"Cepat hancurkan gerbang sialan itu.!?"
Kemudian tak lama seorang Paladin dari kuil Doronta yang bertugas menghancurkan gerbang kota terlihat bergegas ke tempat Jendral Mariana.
"Lapor Jendral ada sesuatu yang aneh, dari balik gerbang kami mendengar seperti ada pertempuran tapi kami sangat tidak mengerti karena Pasukan Remaria yang datang harusnya masih belum dapat sampai kesana."
"Apa siapa yang bertempur di sana, ini sangat aneh harusnya Pasukan Red Vivern masih ada di atas benteng."
"Jendral Mariana lihatlah sebagian Pasukan Red menyelamatkan para sandera yang di gantung dari atas benteng, dan mereka juga menyelamatkan penduduk di atas benteng sambil terus melawan pasukan musuh."
"Jendral Mariana lalu apa perintah anda."
"Kapten Paladin sudah terlambat untuk kembali kalian harus segera menjebol gerbang itu agar kita bisa mengambil alih kota Lopak sebelum Remaria melakukanya lebih dulu."
Jendral Mariana mengatakan itu dia tidak peduli lagi dengan Pasukan Remaria yang melakukan pertempuran untuk menyelamatkan penduduk karena tugasnya adalah mengambil alih kota Lopak untuk kerajaan Arfen.
Di atas benteng Jendral Cristian juga mengalami kesulitan karena harus menghadapi serangan pasukan Red Vivern yang terkenal sangat tangguh sambil mencegah dan menahan Pasukan kerajaan Arfen yang bersama tiga kuil besar.
"Kuil Sirak terus bertahan, pasukanku bentuk barisan jangan sampai pasukan Red Vivern maju lebih jauh."
"Jendral Cristian Pasukan Red Vivern terlihat sibuk menyelamatkan para sandera kita beruntung sebagian dari mereka langsung pergi terbang menjauh ke dalam wilayah kota membawa para penduduk itu."
Jendral Cristian tahu itu cukup bagus kalau Pasukan Red Vivern sibuk menyelamatkan para penduduk serangan Remaria tidak akan banyak berpengaruh di atas benteng.
Jendral Cristian memang masih sedikit cemas tapi dia tidak mengerti kenapa Pasukan Udara Remaria membawa korban yang di sandera ke belakang benteng di mana seharusnya kota ini adalah markas musuh bagi mereka tapi seorang prajurit tiba-tiba datang dan memberikan laporan.
"Jendral Cristian ini gawat ada banyak pasukan yang menyerang kita dari belakang benteng."
"Apa tapi pasukan Arfen masih belum berhasil mendobrak benteng, apakah itu Pasukan Red Vivern Remaria lalu bagaimana dengan Uskup Karam."
"Kami tidak tahu Jendral tapi sepertinya Pasukan yang menyerang dari dalam kota adalah pasukan kota Lopak, penjaga kota yang sebelumnya menyerah pada kita dan di tambah Pasukan milisi dari penduduk kota."
"Pasukan Milisi bagaimana bisa tidak mungkin mereka bisa terbentuk Pasukan milisi tanpa adanya seseorang yang cukup hebat dan punya pengaruh besar untuk membuat penduduk berani melakukan gerakan untuk melawan kita."
"Jendral saat ini kita terjebak yang mulia uskup Karam tidak di ketahui keberadaanya lagi setelah pergi menyiapkan sihir ruang dimensi agar kita semua bisa kabur."
Jendral Cristian tidak tahu tapi kemungkinan Uskup Karam telah pergi meninggalkan dirinya begitu menyadari ada pasukan lain yang menyerang dari balik benteng.
__ADS_1
"Priest kuil Sirak dan Pasukan Kasmaldia cepat cari Cleric kuil Sirak yang bisa merapalkan sihir ruang dimensi kita juga harus cepat pergi dari benteng ini."
Jendral Cristian memberikan perintah itu karena kemungkinan masih ada yang dapat merapalkan sihir ruang dimensi dari para Cleric kuil Sirak yang tertinggal bersamanya.
"Ini tidak bisa di biarkan Pasukan kita harus mundur kita harus menahan serangan yang datang dari belakang benteng."
Jendral Cristian dan pasukanya bergegas menuju ke belakang benteng karena Pasukanya akan lebih unggul dari pada pasukan milisi kota Lopak dan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dapat mundur dan bertahan ke dalam kota dari pada tetap berada di atas benteng menghadapi serbuan dan serangan dari dua arah.
Sementara itu pasukan bawah tanah kota Lopak melakukan serangan dari dalam kota menyerbu ke arah benteng di mana Pasukan milik Jendral Cristian berada bersama para Paladin kuil Sirak.
Antonio memimpin langsung Pasukan kota Lopak itu untuk mengamankan para penduduk kota Lopak dari pasukan Paladin kuil Sirak dan untungnya tidak banyak pasukan kuil Sirak di dalam kota karena mereka sedang sibuk menghadapi serangan pasukan Arfen yang di pimpin oleh Jendral Mariana di benteng kota.
"Pasukan milisi cepat bantu yang terluka dan berikan dukungan dari belakang, Pasukan kapten Lopak perintahkan Prajuritmu untuk membuat formasi sepertinya Pasukan musuh di atas benteng sudah menyadari kita."
"Siap Pasukan Lopak bentuk barisan ikuti pangeran Antonio kita akan bertempur di belakang benteng."
"Yahhh...!?"
Pasukan Lopak terkenal lebih kuat dari pasukan di wilayah sekitarnya bahkan mereka lebih kuat dari pada pasukan Silmarin dan Lopak, Antonio bisa mengandalkan mereka semua dengan baik.
Pasukan milik Jendral Cristian sudah bersiap di belakang gerbang kota bersiap menghadapi serbuan pasukan milisi kota Lopak.
"Pasukanku bersiap kita hancurkan musuh kita sebagai prajurit sejati, Aku adalah Jendral dari kerajaan Kasmaldia akan memimpin kalian semua untuk terus bertempur sampai akhir."
Pasukan Jendral Cristian terlihat mengikuti perintah dari Jendral Cristian karena mereka semua memiliki nasib yang serupa setelah kekalahan Kekaisaran Hereven di benua barat.
Antonio berdiri di depan mendekati Pasukan milik Jendral Cristian dan Jendral Cristian terlihat cukup terkejut siapa yang telah memimpin pasukan milisi kota Lopak dan salah satu bawahan Jendral Cristian dari kerajaan Kasmaldia berbicara.
"Jendral itu adalah pangeran Antonio orang yang telah membuat kita dan kekaisaran Hereven kalah di benua barat."
Jendral Cristian tetap tenang mendengar itu karena dia tahu tidak mungkin bagi dirinya untuk bisa menang menghadapi Pangeran Antonio dan pasukan lain yang akan datang mengepungnya, tidak ada tempat untuk lari dan pangeran dari kerajaan Remaria orang yang di katakan sebagai pahlawan benua barat berbicara.
"Jendral Cristian sudah lama semenjak persidangan di kerajaan Arfen bagaimana kabar anda."
Jendral Cristian tersenyum mendengar sapaan dari pangeran Antonio yang terdengar cukup bersahabat.
"Hoh.. pantas saja semua rencana kami di sini bisa kacau, ternyata pangeran Antonio yang terkenal akan kejeniusan dan kebijaksanaanya yang telah merencanakan semua ini, mengumpulkan sisa pasukan Lopak dan para pemuda di belakang punggungku untuk membentuk pasukan milisi bawah tanah, aku tidak bisa mengatakan apapun selain luar biasa tidak ada yang akan bisa melakukan semua ini untuk menyusup ke dalam kota dan menyerang dari belakang."
Antonio juga tersenyum dia memang merasa kalau Jendral Cristian dari kerajaan Kasmaldia adalah orang yang sangat hebat hingga bisa mengumpulkan banyak sisa pasukan kekaisaran yang tertinggal di kerajaan Arka untuk mendukungnya.
"Jendral Cristian anda memang telah melakukan banyak kejahatan di benua barat dengan membantu kuil Sirak, tapi aku bisa memberikan sedikit harapan untuk Pasukanmu tetap hidup jadi sebaiknya anda segera menyerah."
Jendral Cristian memikirkan hal itu tapi tidak mungkin dia dan Pasukanya akan di maafkan setelah melakukan banyak kejahatan dan pembantaian kepada orang yang tidak bersalah.
"Terimakasih tawaran anda yang mulia Pangeran Antonio, yang mulia memang adalah pahlawan sejati, tapi maafkan hamba karena hamba dan pasukan hamba merasa tidak layak untuk menerimanya, jadi biarkan kami mati dalam peperangan untuk menyelamatkan sisa dari kehormatan kami sebagai prajurit."
Antonio mengerti hal itu Jendral Cristian merasa dirinya sudah terlalu jauh dan merasa tidak bisa untuk mengampuni dirinya sendiri, Antonio tahu perasaan itu saat dirinya memiliki penyesalan yang hampir serupa setelah terpaksa melakukan beberapa kali kejahatan di kehidupan dulu di dunia asalnya.
"Jendral Cristian aku paham aku akan mengabulkan keinginan anda."
Antonio mengambil sebuah pedang besar dari dalam tasnya dan Jendral Cristian juga melakukan hal yang sama.
"Kasmaldian dan semua prajurit yang mengikuti serta berjuang bersamaku, kita akan terus berjuang di medan perang sebagai prajurit sejati hingga kematian menjemput kita, kita adalah pejuang.."
"Kami Pasukan Kasmaldia akan mengikuti Jendral Cristian sampai mati."
Pasukan milik Jendral Cristian juga menarik pedang mereka untuk berjuang dan mati terhormat sebagai prajurit, Pasukan Milisi Lopak juga sudah bersiap, sedangkan sebagian Pasukan Red Vivern juga sudah mendarat di belakang pangeran Antonio untuk memberikan dukungan.
Tidak ada harapan untuk Pasukan milik Jendral Cristian dan kedua Pasukan itu bertempur di belakang gerbang kota Lopak.
__ADS_1
.